Senin, 24 April 2017

SULITNYA MERUBAH KEBIASAAN

Manusia adalah makhluk yang berada di pertengahan antara binatang dengan TUHAN. Itu terefleksikan dari keberadaan otak kita yang terdiri dari 2 bagian, yaitu otak/pikiran sadar dan otak/pikiran bawah sadar. Proses kerjanya seperti filter air, di mana hal-hal yang baru akan dianalisa oleh otak sadar, setelah itu dilemparkan ke otak bawah sadar, disimpan sebagai memori/ingatan.

Misalnya, kalau kita melihat nasi, kita tidak perlu menganalisanya lagi, melainkan langsung kita makan begitu saja. Sebab nasi sudah kita kenali dengan baik. Tapi sesuatu yang asing, yang masih baru pertama kali kita melihatnya, misalnya: hamburger, kita pasti menganalisanya lebih dahulu. Apakah ini? Makanan atau barang mainan? Terbuat dari apa, dan seterusnya. Apa yang sudah kita kenali tak memerlukan kerja pikiran tapi merupakan pekerjaan pikiran bawah sadar yang bekerja secara otomatis seperti mesin yang bekerja menurut system atau rumus-rumus tertentu.

Binatang, seperti anjing, dia kerjanya berdasarkan ingatan. Apa yang kita ajarkan tak sanggup dia cerna apakah itu baik atau buruk tapi langsung masuk ke memorinya dan dijadikan kebiasaannya. Jika misalnya dia anda perintahkan untuk menyerang orang sebagaimana latihannya, maka siapapun orang itu pasti akan diserangnya, entah orang baik atau orang jahat. Tapi kita 'kan tidak seperti itu? Perintah komandanpun kita analisa, apakah perintahnya sesuai dengan undang-undang atau melanggar undang-undang.

Nah, tujuan TUHAN memberikan otak sadar kepada kita tentu saja untuk menyeleksi hal-hal yang baik dengan hal-hal yang tidak baik. Bahkan termasuk hal-hal yang sudah membiasa di dalam hidup kita, yaitu kebiasaan-kebiasaan kita perlu dikontrol ulang oleh pikiran sadar kita. Itulah yang disebut koreksi atau introspeksi, yaitu mencermati apa yang tadinya kita anggap baik, apakah sekarang atau hari ini masih tetap baik, atau sudah menjadi usang?!

Jadi, otak sadar dimaksudkan untuk menggiring manusia untuk mencapai kemajuan, mencapai sesuatu yang lebih tinggi, hal-hal yang baru yang belum ada, sehingga pada akhirnya menjadi seperti TUHAN, yaitu mencapai kesempurnaan. Contohnya di bidang teknologi selalu ada perkembangannya yang meningkat terus. Hal-hal yang kemarin menjadi kuno digantikan oleh hal-hal yang baru. Itu hasil kerja otak sadar.

Tapi pemerintahan berusaha menjadikan semua rakyatnya seperti robot, yang tahunya tunduk dan patuh begitu saja pada pemerintah. Pemerintahan jangan sekali-sekali dikoreksi atau ditentang, sebagaimana konsep hirarki kepemimpinan di pemerintahan, baik yang sipil, lebih-lebih yang militer. Semua anak buah harus patuh pada komandan atau pimpinannya. Jika tidak mau patuh, dipecat! Itu sebabnya mereka menjadi seperti robot yang sering kali kehilangan rasa perikemanusiaannya. Mereka berjalan di atas rel hukum; bagaimana hukumnya bukan bagaimana baiknya.

Pekerjaan berpikir itu berat, menguras energi tidak sebagaimana bekerja secara kebiasaan. Tapi itu sesuai juga dengan nilai-nilai pencapaiannya, yaitu memberikan kepuasan, sebagaimana perjuangan berat seseorang yang mencapai kejuaraan dengan hadiah besar sebagai upahnya. Itulah sebabnya upah atasan selalu lebih besar dari upah bawahannya, upah orang pandai lebih besar dari upah orang bodoh, upah pekerja dengan pikiran lebih tinggi daripada upah pekerja yang dengan tenaga saja.

Tapi sayangnya kebanyakan orang mencari yang enteng-enteng, yang gampang-gampang, dan selalu berusaha menghindari tantangan. Mereka sulit diajak maju. Maunya apa yang sudah menjadi kebiasaan saja yang dijalankannya.

Itulah orang-orang Farisi dan Saduki yang menjadikan kebiasaan-kebiasaan mereka sebagai standart kebenaran. Berbeda dengan Nikodemus, salah seorang pemimpin mereka. Ketika mendengar ada pembaruan yang disampaikan YESHUA, dia menyempatkan diri mendatangi dan bertanya-jawab dengan YESHUA. Demikian juga dengan Natanael yang disebut YESHUA sebagai orang Israel sejati, yang tidak ada kepalsuan di dalam dirinya, yang bersemangat menyambut kedatangan YESHUA dengan pertanyaan: "Mungkinkah dari desa kecil Nazaret ini ada sesuatu yang baik?"

Orang Yahudi yang tinggal di kota Berea juga begitu. Ketika mendengar ada pembaruan yang disampaikan oleh rasul Paulus, mereka tidak antipati, melainkan menggunakan pikiran sadar mereka untuk menganalisa ajaran baru rasul Paulus itu; apakah semuanya itu benar demikian?

Kisah 17:11Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

Ayat di atas membandingkan mereka yang di Berea dengan yang di Tesalonika, seolah-olah membandingkan antara otak sadar dengan otak bawah sadar, antara orang-orang yang mau berpikir dengan orang-orang yang malas mikir. Alkitab sebagai standart atau ajaran nenek moyang yang dijadikan standart.

Sulitnya merubah kebiasaan adalah karena malas mikir!

Hasil gambar untuk gambar otak

Tidak ada komentar: