Sabtu, 06 Mei 2017

AGAMA

Apakah dan seperti apakah agama itu?

Katolik, agama. Kristen, agama. Islam, agama. Hindu, agama. Buddha, agama. Khong Hu Chu, agama. Yang menyembah TUHAN, agama. Yang menyembah dewa-dewa, agama. Yang menyembah patung, agama. Semuanya sama-sama disebut agama, sehingga TUHAN sejajar dengan dewa-dewa, sejajar pula dengan patung-patung. Maka terlintaslah dalam pikiran kita bahwa agama itu seperti menu masakan; ada capjay, ada nasi goreng, ada soto, ada bakso, ada mie ayam, dan lain-lainnya. Anda suka yang mana, silahkan dipilih; agama Hindu? Buddha? Kristen? Islam? Dan seterusnya.

Tapi, pernahkah anda meraba bagaimana perasaan TUHAN, perasaan dewa-dewa dan patung-patung, ketika mereka disejajarkan?! Mereka senang atau cemburu?! Bagaimana perasaan anda sendiri, jika oleh kekasih anda dipersamakan dengan laki-laki yang lainnya? Senang atau cemburu dan gusar sekali?! Kalau saya, saya pastikan akan marah sekali jika kekasih saya menganggap saya sama saja dengan laki-laki lain. Lebih-lebih, jika di depan saya dia memuji-muji si Tono yang lebih ganteng dan lebih berduit.

Tentang hal itu Alkitab menuliskan perasaan ELOHIM YAHWEH;

Keluaran 20:1        Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
20:2        "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

20:3        Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Keluaran 20:4        Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
20:5        Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

Yes. 40:18            Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?

Yes. 40:25            Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.

Jika ELOHIM YAHWEH tidak berkenan disamakan dengan yang lainnya, maka yang lain-lainnya harus kita singkirkan, atau kita yang harus cabut dari antara mereka. Mereka yang kita singkirkan, atau kita yang menyingkir dari antara mereka.

2Raja-raja 18:3        Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.
18:4        Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.

Hizkia disebut raja yang benar oleh perbuatannya yang merobohkan kuil-kuil berhala. Raja Hizkia menyingkirkan yang lain-lain, atau seperti yang suka dilakukan oleh ELOHIM YAHWEH, yaitu memanggil keluar orang-orang pilihanNYA. Abraham dipanggil keluar dari kampung halamannya, bangsa Israel dikeluarkan dari negeri Mesir.

Jika Kekristenan atau JALAN TUHAN tidak mau dipersamakan dengan agama-agama yang lainnya, maka biarlah hanya Kristen saja yang disebut agama, sedangkan yang lainnya tidak boleh disebut agama. Atau, jika tidak mungkin menyingkirkan agama-agama yang lainnya, seperti yang dilakukan oleh raja Hizkia, maka biarlah Kekristenan jangan disebut agama, supaya tidak serupa dengan agama-agama yang lainnya. Dan saya lebih suka menyebutnya: JALAN TUHAN atau JALAN YAHWEH, daripada disebut agama Kristen. Kekhususan atau pengasingan diri yang seperti itulah yang disebut sebagai kekudusan.

Kudus, dari bahasa Arab: al Quds, artinya diasingkan atau disendirikan;

Im. 27:28              Akan tetapi segala yang sudah dikhususkan oleh seseorang bagi TUHAN dari segala miliknya, baik manusia atau hewan, maupun ladang miliknya, tidak boleh dijual dan tidak boleh ditebus, karena segala yang dikhususkan adalah maha kudus bagi TUHAN.

Kitab Perjanjian Baru tak pernah menyebutkan JALAN TUHAN sebagai agama, melainkan sebagai KEBENARAN;

Matius 6:1          "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

LAI Terjemahan Baru menggunakan kata-kata: "kewajiban agamamu", bagaimana dengan LAI Terjemahan Lamanya?

"Ingatlah baik-baik: Jangan kamu berbuat segala ibadatmu di hadapan orang hendak menunjukkan kepada mereka itu; jikalau demikian, tiadalah kamu mendapat pahala daripada Bapamu yang di surga".

LAI Terjemahan Lama menggunakan: "segala ibadatmu", bukan "kewajiban agamamu".

Matius 23:15     Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

Bagaimana dengan versi FAYH?

"Celakalah kalian, hai orang munafik! Karena kalian bersusah payah mentobatkan satu orang, tetapi kemudian kalian menjadikan dia anak neraka yang dua kali lebih jahat daripada kalian sendiri".

Versi FAYH lebih suka menggunakan kata-kata: "mentobatkan" daripada "penganut agamamu".

Mat. 5:20             Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

LAI menggunakan "keagamaanmu", bagaimana dengan versi Terjemahan Lamanya?

"Karena Aku berkata kepadamu: Jikalau tiada kebenaranmu terlebih daripada kebenaran segala ahli Taurat dan orang Parisi, sekali-kali tiada dapat kamu masuk ke dalam kerajaan surga".

Versi Terjemahan Lama menggunakan "kebenaranmu", bukan: "keagamaanmu".

Kisah 6:15        Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.

"Mahkamah Agama" Yahudi, disebut apakah dalam versi Terjemahan Lamanya?

"Lalu sekalian orang yang duduk di dalam Majelis itu menatap Stepanus, dan mukanya kelihatan kepada mereka itu seolah-olah muka malaekat rupanya".

Versi Terjemahan Lama menyebutnya: "Majelis" untuk "Mahkamah Agama".

Dari adanya perbedaan versi terjemahan ini menyatakan adanya masalah untuk sebutan: "agama" jika diberlakukan terhadap JALAN TUHAN. Sepertinya sebutan itu kurang pas, dipaksakan untuk memenuhi pemahaman orang-orang zaman sekarang ketika JALAN TUHAN disejajarkan dengan agama-agama yang lainnya. 

Jadi, kalau JALAN TUHAN disebut agama, jangan lupa bahwa di dunia ini ada agama-agama yang lainnya. Dan jangan sekali-sekali menganggap TUHAN kita lebih tinggi atau lebih besar atau lebih benar dari agama-agama yang lainnya, melainkan sama tinggi, sama besar dan sama benarnya. Sebab agama-agama yang lainnya bisa protes;

"Enak aja kamu bilang agama Kristen yang benar. Sebab Hindu juga agama!" - "Buddha juga agama" - "Khong Hu Chu juga agama". Bisa-bisa anda akan dilaporkan ke polisi seperti kasus Ahok; menghina agama-agama yang lainnya. Maka benarlah himbauan presiden Jokowi dan para pejabat: "Kita harus menghargai dan menghormati agama-agama yang lainnya, sebab Indonesia ini Bhineka Tunggal Ika. Kita harus toleransi, jangan intoleran".

Itu problem jika JALAN TUHAN disebut agama. Tapi jika tetap disebut JALAN YAHWEH[teks aslinya], maka kita menjadi suatu umat yang khusus. Sebab Islam tidak mau menyembah Allahnya bangsa Yahudi, sedangkan agama-agama yang lainnya tak ada yang mengenal nama YAHWEH. Kita menjadi berdiri tunggal, satu, esa, sama seperti ELOHIM YAHWEH yang esa.

Kita menjadi seperti kereta api yang mempunyai jalan sendiri, yang sejak awal Sesembahan kita hanya pada ELOHIM YAHWEH. Taurat mengajarkan menyembah ELOHIM YAHWEH, Injil juga mengajarkan menyembah ELOHIM YAHWEH. Tak ada perubahan sekalipun Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perubahannya di Perjanjian Baru, Sesembahan kita bertambah satu, yaitu: ELOHIM YESHUA ha MASHIA.

Mengapa Perjanjian Baru ditambahkan ELOHIM YESHUA?

Why. 5:12            katanya dengan suara nyaring: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!"

Luk. 24:26            Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"

Filipi 2:6          yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7          melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8          Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9          Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10        supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11        dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Matius 28:18     Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

Maka siapa yang mau menyembah pada ELOHIM YAHWEH dan ELOHIM YESHUA, dia adalah saudara seiman kita. Bangsa Yahudi yang menolak ELOHIM YESHUA takkan masuk di Perjanjian Baru dan bukan saudara seiman kita.

Yohanes 3:16        Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Yang kedua, agama menurut pemahaman pemerintah adalah yang didaftarkan ke kementerian agama, lalu mendapatkan surat perijinannya, maka itulah agama yang sah, yang resmi, yang dilindungi hukum. Yang tidak terdaftar dan tidak mendapatkan ijin dari kementerian agama, maka itu bukanlah agama dan dilarang melakukan kegiatan di wilayah Indonesia. Itu agama liar dan dikategorikan menyesatkan.

Maka pikiran waras kita akan bertanya-tanya: "Masakan JALAN TUHAN didaftarkan dan dimintakan ijin kepada manusia, seolah-olah pemerintah itu kedudukannya di atas TUHAN?"

Nabi Musa pernah melakukan itu kepada Firaun, raja Mesir, yaitu memohon bangsa Israel diijinkan keluar dari Mesir untuk beribadah kepada ELOHIM YAHWEH di gunung Sinai;

Kel. 8:20               Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Bangunlah pagi-pagi dan berdirilah menantikan Firaun, pada waktu biasanya ia keluar ke sungai, dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku;

Tapi apakah ELOHIM YAHWEH bergantung pada ijin Firaun? Tidak! ELOHIM YAHWEH tidak mau tunduk pada Firaun, justru Firaunlah yang harus tunduk kepadaNYA. Kita semua tahu cerita itu, bagaimana ELOHIM YAHWEH memaksakan kehendakNYA, dengan tangan yang keras menghajar dan membinasakan Firaun.

ELOHIM YESHUA ketika memunculkan ajaranNYA, ajaran Perjanjian Baru, juga tidak mendaftarkan ajaranNYA ke pemerintahan Romawi, melainkan langsung muncul;

2Tim. 4:2              Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Pemberitaan Injil tidak perlu menunggu suasana kondusif atau tidak kondusif, entah situasi tenang ataupun situasi mencekam. Entah ada kasus Ahok ataupun tidak ada. Rasul Paulus tetap memberitakan Injil dengan berani di tengah situasi huru-hara;

Kisah 19:23     Kira-kira pada waktu itu timbul huru-hara besar mengenai Jalan Tuhan.

Kisah 5:27        Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka,
5:28        katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami."
5:29        Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

Rasul Paulus ketika memutuskan diri menjadi rasul YESHUA, sesaatpun dia tak mau meminta pertimbangan pada manusia;

Gal. 1:16               berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;

Rasul Paulus tidak mau tunduk pada manusia;

Gal. 2:5 Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu.

Jadi, jika yang disebut agama itu adalah yang didaftarkan ke kementerian agama, maka JALAN TUHAN tak terlalu perlu untuk disebut agama. Disebut bidaat-pun okey;

Matius 10:16     "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
10:17     Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.
10:18     Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Selain itu ada pula yang mengartikan agama itu sebagai ajaran kebaikan. Tapi JALAN TUHAN mengajarkan kebenaran, lebih tinggi derajatnya daripada kebaikan.

Ajaran kebaikan menuntut orang menjadi orang yang baik. Tapi TUHAN justru memanggil dan mengampuni orang-orang yang tidak baik;

Mrk. 2:17             Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Maling harus dihajar babak-belur, kata orang. Tapi TUHAN sanggup mengampuninya. Maling harus dipenjarakan, kata orang. Tapi TUHAN sanggup melepaskannya dari hukuman.

Kebaikan mengajarkan bagi-bagi duit. Tapi TUHAN merasa perlu menambahkan dengan kasih. Bagi-bagi duit saja dianggap masih kurang;

1Kor. 13:3            Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Kebaikan mengajarkan supaya kita tidak mencubit atau merugikan orang lain. Kebaikan mengajarkan tentang orang yang tidak pernah dipenjarakan, orang yang namanya bersih dan harum di masyarakat. Kebaikan mengajarkan orang yang jujur, bersih dari korupsi seperti Ahok. Tapi TUHAN sanggup mendahulukan orang-orang jahat masuk ke sorga;

Mat. 21:31           Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?"* Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: /"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kebaikan mengajarkan keselamatan dengan cara tidak melanggar hukum. Tapi kebenaran mengajarkan pengenalan akan TUHAN itulah yang menyelamatkan orang;

Yohanes 17:3        Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Kebaikan mengajarkan pola hidup keduniawian bukanlah kejahatan. Tapi TUHAN mengajak kita meninggalkan keduniawian;

Yak. 4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.

Kebaikan mengajarkan menyembah patung bukanlah kriminal. Kebaikan tidak melarang orang pergi ke dukun-dukun. Tapi TUHAN mengutuk penyembahan patung dan ke dukun-dukun;

Keluaran 20:3        Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Kebaikan tidak mempersalahkan orang bekerja di hari Sabtu. Tapi TUHAN akan menghukum orang yang melanggar kekudusan hari Sabat;

Keluaran 20:8        Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

Kebaikan tak mempersalahkan orang yang tidak Kristen. Tapi TUHAN mengancam orang-orang yang tidak Kristen;

Yohanes 3:18        Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Jadi, kita melihat di sini bahwa apa yang baik belum tentu benar, tapi apa yang benar sudah pasti yang terbaik. Dengan begitu JALAN TUHAN kelasnya diatas agama yang mengajarkan kebaikan.

Agama juga dipahami sebagai ajaran beribadah kepada Allah, sebagai pengamalan sila pertama dari Pancasila. Tapi JALAN TUHAN mengajarkan ibadah kepada ELOHIM YAHWEH dan ELOHIM YESHUA. Sebab di dunia ini ada banyak yang disebut allah, sedangkan ELOHIM YAHWEH adalah ALLAH yang spesifik; ALLAH yang mempunyai nama, dan ALLAH yang mempunyai asal-usul, yaitu bangsa Israel.

Dengan demikian kebenaran menuntut Kristen cabut dari keagamaan, apapun resikonya!

Tidak ada komentar: