Minggu, 28 Mei 2017

MEMBACA APAKAH MENGERTI?

Tanggal 21 Oktober 1962, lahirlah saya di kota Surabaya, dalam keluarga Kristen GKI. Tanpa suatu proses, tanpa suatu pertimbangan tahu-tahu saya sudah menjadi orang Kristen, sama seperti orang-orang suku Lewi yang tahu-tahu menjadi imam. Tanpa tawar-menawar sejak kecil sudah dimasukkan ke gereja, lalu semua ajaran pak pendeta saya telan begitu saja, sama seperti orang yang sedang bertamu, suka atau tidak suka dia harus memakan makanan yang dihidangkan tuan rumahnya. Saya seperti katak dalam tempurung, tak tahu apa-apa selain tembok tempurung itu, atau seperti kuda yang dikasih kacamata kuda.

Dibaptis percik, okey! Ke gereja hari Minggu, okey! Dikasih Yesus yang rambutnya gondrong, okey! Disuruh merayakan natal, okey! Semuanya saya aminkan sebagai kebenaran. Justru yang tidak seperti itu saya anggap sesat. Katolik, sesat! GPdI, sesat! HKBP, sesat! Pendek kata hanya GKI saja yang benar. Itu sial namanya. Untung umur saya masih panjang sehingga ada kesempatan untuk belajar dan menemukan "kebenaran yang lebih baik". Coba, seandainya di usia muda saya mati, bukankah tahu-tahu saya sudah berada di neraka dicampur dengan maling, koruptor dan teroris, kayak Ahok sekarang ini yang tahu-tahu dipenjarakan?!

Betapa banyaknya di dunia ini yang "dianggap" kebenaran dan yang "dianggap" kesalahan. Masing-masing orang berada di dalam rumah atau kandangnya dan merasa benar, lalu menganggap para tetangganya salah. Wayan yang lahir di Denpasar, Bali, menganggap agama Hindunya yang benar, yang lainnya salah. Bayu yang lahir di keluarga Buddha, menganggap agama Buddhanya yang benar, yang lainnya salah. Ahok yang lahir di Tiongkok, menganggap agama Khong Hu Chunya yang benar, yang lainnya salah. Umar yang lahir di Arab Saudi, menganggap agama Islamnya yang benar, yang lainnya kafir. Christine yang lahir di Inggris, menganggap agama Kristennya yang benar, yang lainnya sesat. Yamaha yang lahir di Jepang, menganggap agama Shintonya yang benar, yang lainnya salah. Musa yang lahir di Yerusalem, menganggap agama Yahudinya yang benar, yang lainnya salah. Betapa sialnya jika lahir di dunia ini sebagai "tamu"-nya ayah-bunda kita, sebab kita tak ada pilihan selain daripada mengikuti agama mereka.

Namanya anak lulusan SMA, bisa bahasa Inggris sedikit saja, saya sudah mengoleksi lagu-lagu Barat. Membaca bahasa Inggris, sih, lumayan kayaknya, nggak kalah sama pangeran Charles. Banyak syair lagu-lagu Barat yang saya hafal dan bisa menyanyikannya. Tapi giliran ditanya: "apa artinya semua yang kamu ucapkan itu?" Pasti saya akan gelagapan, sebab memang tak pernah tahu arti-artinya. Membacanya bisa, tapi tak mengerti artinya, rupanya itu juga merupakan penyakitnya Umar, Ali, Husein, Abdul, Ikhsan, Siti, Maisaroh dan Maimunah; membaca atau mengaji ayat-ayat Al Qur'an bahasa Arabnya, mereka mahir banget. Tapi coba giliran ditanyakan: "Apa artinya ayat-ayat yang kamu baca itu?"

Ketika orang Inggris berbicara, saya dengar. Namanya saya punya telinga, ya pasti dengar. Tapi apakah saya mengerti dengan apa yang saya dengar itu? Itu masalahnya. Namanya orang pernah sekolah, ya pasti bisa membaca. Tapi apakah saya mengerti dengan apa yang saya baca? Itu masalahnya. Jadi, mendengar dan membaca itu belum berarti mengerti.

Mat. 13:13Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.

Hasil gambar untuk gambar orang membaca al qur'an

Tidak ada komentar: