Selasa, 09 Mei 2017

MENGAPA SAYA LEBIH SUKA MENDERITA?

Seandainya tidak ada peristiwa dosa di Taman Eden, penderitaan adalah racun yang tidak mungkin dimakan orang. Tapi oleh adanya dosa Adam dan Hawa itu, ELOHIM YAHWEH menjadikan penderitaan sebagai obat yang menyembuhkan.

Penderitaan itu semacam ganti rugi atau pembayaran utang. Jika musuh sudah kita pukul, legalah hati kita. Jika pencuri sudah dipenjarakan, puaslah hati korbannya. Jika Ahok sudah dipenjarakan 2 tahun, sebagaimana vonisnya hari ini, legalah FPI. Jika utang sudah dilunasi, senanglah hati kita. Di saat sehat makanan kita yang manis-manis sebagai penanda kesenangan. Tapi di saat sakit, makanan kita adalah obat yang pahit-pahit sebagai penanda penderitaan.

Dan karena manusia diciptakan dengan maksud untuk dimuliakan, dibahagiakan, bukan untuk disiksa, maka tubuh manusia dibuat dari darah dan daging, yang jika kena gores akan terluka, bukan dibuat dari besi yang tahan bantingan. Sama seperti roti kita buat dari tepung, bukan kita buat dari pasir, adalah supaya bisa kita makan. Sama seperti gelas yang dibuat dari kaca, sebab gelas bukan untuk banting-bantingan. Seandainya untuk banting-bantingan pasti akan dibuat seperti bola voli. Jadi, karena itulah manusia secara alaminya tidak tahan menderita. Darah dan daging ini mintanya disenang-senangkan terus. Tubuh manusia berbeda dengan tubuhnya kucing yang fleksibel, yang jika dibanting tulang-tulangnya tak sampai patah, seperti orang yang terjatuh dari motor tulangnya patah.

Hasil gambar untuk gambar orang jatuh dari motor

Logika saya dulu berbeda dengan logika saya sekarang. Kalau dulu, saya sama seperti kebanyakan orang, yaitu takut sekali dengan penderitaan. Saya maunya yang enak-enak, dan benci sekali dengan kesusahan. Bisa jadi perkataan rasul Paulus yang mengatakan: "terlebih suka aku menderita" ketika itu saya ketawakan, saya anggap sesuatu yang mustahil, semacam cerita dongeng Cinderela. Tapi kini, bukan berarti penderitaan telah menjadi martabak istimewa, perkataan itu saya aminkan kebenarannya, saya renungkan dan saya persiapkan diri saya untuk memasukinya.

Konsepnya begini; kebutuhan itu tergantung dari situasinya. Jika di kutub utara yang dingin, yang dibutuhkan adalah alat pemanas, nggak mungkin orang di kutub membutuhkan AC. Sebaliknya, orang yang tinggal di daerah tropis, yang dibutuhkan adalah AC, nggak mungkin membutuhkan alat pemanas. Ketika sakit yang dibutuhkan adalah obat, nggak mungkin orang sehat makan obat. Bagi pedagang keuntungan yang diperhitungkannya adalah berupa uang. Bagi pemancing ikan keuntungan yang diperhitungkannya adalah berupa ikan. Bagi petinju keuntungan yang diperhitungkannya adalah kemenangannya di atas ring.

Demikian halnya bagi saya, dulu saya menganggap remeh masalah dosa. Bahkan saya melakukan kejahatanpun tak merasakan sebagai dosa yang harus saya takuti. Dosa saya anggap biasa, bukan sesuatu yang mengerikan. Sebab waktu itu dosa masih tersembunyi seperti virus yang tak kelihatan. Tapi sekarang sebagai rohaniawan, sebagai penginjil, saya seperti seorang analis laboratorium yang melihat dengan mikroskop, mikroskop Alkitab, sehingga dosa kelihatan begitu jelas, begitu besar dan begitu mengerikan;

Rm. 6:23               Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Nah, jika upah dosa adalah maut, buat apa saya menjadi penginjil jika nasib saya berakhir di neraka seperti maling ayam?! Buat apa setiap hari saya berlatih tinju, jika pada akhirnya saya menjadi penari? Buat apa saya sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya saya menjadi pengangguran? Buat apa Ahok susah-susah kampanye mencalonkan diri menjadi gubernur jika nasibnya berakhir di penjara 2 tahun? Semua contoh-contoh itu memang tentang nasib yang tak kita ketahui dari awal. Tapi tentang keselamatan akherat, bukankah semua ketentuannya ada tertulis di Alkitab, sehingga jika semua persyaratan itu kita penuhi, maka keselamatan adalah kepastian, bukan termasuk nasib?!

Alkitab, sebagai Firman TUHAN, perkataan SANG KHALIQ yang pasti benarnya, membentangkan 2 hal yang saling bertentangan;

Lukas 6:21        Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Lukas 6:25        Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Matius 7:13        Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
7:14        karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Dalam peribahasa yang kita sudah tidak asing lagi, dikatakan: "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian" - bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Menanam dengan airmata, memanen dengan tertawa. Sepertinya kesusahan adalah sebuah jalan untuk mencapai kesenangan atau kebahagiaan, sehingga itu memang harus kita lalui kalau kita ingin mencapai tujuan.

Sejak zaman Adam dan Hawa, ELOHIM YAHWEH telah menetapkan kebahagiaan itu di Taman Eden, sedangkan penderitaan di luar Taman Eden. Karena itu di dunia ini tak mungkin kita jumpai kebahagiaan, kecuali kebahagiaan "made in" manusia, yaitu kebahagiaan palsu;

Kejadian 3:17        Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
3:18        semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
3:19        dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Selama 2.500 tahun dari zaman Adam ke zaman nabi Musa, ELOHIM YAHWEH membiar-biarkan manusia menempuh jalannya sendiri untuk mengusahakan kebahagiaan, dan didapati bahwa segala kepintaran manusia tak sanggup mendapatkannya, maka TUHAN turun kepada nabi Musa untuk memberitahukan tentang JalanNYA. TUHAN memberitahukan bahwa kunci kebahagiaan ada pada tanganNYA;

Ul. 30:15               Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,

Untuk mencapai kebahagiaan yang sejati, ikutilah petunjuk TUHAN! Dan itu memang berbeda dengan jalan manusia. Jika JALAN TUHAN sama dengan jalan manusia, maka buat apa membuat persaingan. Jika jalan manusia sudah mencukupi, buat apa harus ada JALAN TUHAN?! Karena berbeda maka TUHAN menawarkan pilihan JalanNYA.

Gal. 5:17               Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

Mengajari JALAN TUHAN sama seperti mengajari harimau makan sayur kangkung, sesuatu yang tidak biasanya, yang berlawanan dengan alamiahnya. Ajaran TUHAN pasti menimbulkan peperangan batin, membuat kita harus berperang melawan diri sendiri. Sama seperti kalau kita berkelahi melawan musuh; menendang, memukul dan membunuh, demikianlah kita harus menendang, memukul dan membunuh diri sendiri;

Kol. 3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

Mat. 16:24           Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Menyangkali diri artinya tidak mengakui kebenaran dari dirinya sendiri. Kebenaran bukan menurut perasaan kita, tapi berstandart pada Firman TUHAN. Bukan apa yang menurut kita baik, tapi apa yang berdasarkan Firman TUHAN itulah yang benar. Orang yang biasanya merasa benar sendiri atau menang sendiri harus ditaklukkan ke dalam Alkitab, sehingga sekalipun diri sendiri jika bersalah ya tetap bersalah. Kita tidak harus membela diri sendiri, tidak harus menyayangi diri sendiri.

Mencuri, dijatuhi hukuman, ya harus kita terima itu. Jangan karena banyak uang, bisa menyogok, juga bukan karena adanya fasilitas naik banding, sehingga kita mengusahakan pembebasan dari konsekwensi. Diri sendiri ini harus dididik bukan dimanjakan. Kita harus melihat diri sendiri sebagai orang lain yang harus dihakimi atau introspeksi diri.

Tanpa Firman TUHAN, tanpa Alkitab kita tak mungkin bisa melihat diri ini ada dua. Kita pasti berpikirnya diri ini satu. Tapi adanya Firman TUHAN barulah kelihatan bahwa diri kita ini ada dua. Diri kita yang pertama adalah yang memiliki keinginan-keinginan manusia, di mana kita sama seperti orang-orang lainnya. Tapi manakala kita melakukan kehendak atau perintah TUHAN, maka itulah diri kita yang kedua, yang menang, yang telah mengalahkan diri yang pertama.

Roma 7:22        Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,
7:23        tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

Rm. 8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

Saya sih maunya menjadi pengusaha, bukan menjadi penginjil. Tapi nyatanya saya sekarang menjadi penginjil, maka nyatalah dalam diri saya ini ada dua kehendak, yang pertama adalah pengusaha, sedangkan yang kedua adalah penginjil. Bagaimana dengan anda yang sekarang ini menjadi pengusaha? Di saat anda tahu adanya perintah untuk menjadi penginjil, di saat itulah anda terpecah menjadi dua. Di saat itulah anda mulai menyadari atau melihat adanya dua kehendak yang bercokol di dalam diri anda. Bukankah timbul pergumulan dalam batin anda untuk menuruti atau tidak menuruti Firman itu?!

Kalau pergumulannya tentang hal yang sama-sama keduniawiannya, misalnya menjadi pengusaha atau menjadi guru, itu masih satu jiwa. Itulah sebabnya kita menerima baptisan ROH KUDUS dan disebut sebagai kelahiran yang baru. Itulah jiwa bayi yang dilahirkan dari ROH KUDUS;

1Yoh. 2:29           Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.

2Ptr. 1:4               Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.

Tidak ada komentar: