Senin, 08 Mei 2017

MENGAPA SAYA TAKUT KAWIN?

Singkat cerita saja, hingga hari ini saya tak pernah membuat pernyataan menceraikan istri maupun melepaskan ke-3 anak saya. Tapi karena mereka yang maunya memisahkan diri dari saya, maka hal itu terpaksa saya setujui. Mulanya ke-3 anak itu membenci mamanya dan ikut saya. Tapi oleh sebab rayuan mautnya, maka satu-persatu anak akhirnya meninggalkan saya dan mengikut mamanya. Saya maklum bahwa anak-anak umumnya pasti lebih dekat ke mamanya daripada ke papanya. Lebih-lebih mamanya selalu memanjakan mereka, tak pernah memarahi mereka.

Jujur saja hal itu menyakitkan sekali dan kepahitan bagi saya. Tapi saya mencoba berpikir logis, daripada pihak perempuan[istri] yang merana, maka biarlah saya[laki-laki] yang merana dan menderita lahir-bathin. Saya besarkan jiwa ini dengan membayangkan istri-istri yang ditinggalkan suaminya dan saya mencoba menghibur diri bahwa tidak semua orang bisa beruntung hidup di dunia ini. Mungkin saya adalah salah satu orang yang tidak beruntung itu dan saya harus menerimanya.

Itu bukanlah pilihan saya, bukan cita-cita saya, dan bukan impian saya. Hanya itu kenyataan yang jelas, sehingga saya bisa sedikit terhibur bahwa itu adalah sebuah kecelakaan yang tidak diinginkan. Melihat ke masa depan, sebagai laki-laki yang merdeka dari istri dan anak-anak seperti seorang perjaka, saya melihat sebuah lapangan yang luas bagi masa depan saya. Masa depan itu tidaklah gelap, melainkan terang benderang. Saya mau berbuat apa saja, bebas. Saya bisa kawin lagi dan mempunyai anak-anak lagi, membuka lembaran baru hidup ini.

Kalau saya kawin lagi dan mempunyai 3 anak lagi, maka jumlah anak saya ya 3 itu saja. Tapi kalau istri saya yang kawin lagi dan mempunyai 3 anak lagi, maka jumlah anaknya adalah 6. Saya pikir, sayalah yang untung dalam "permainan" ini, sebagai keistimewaan seorang laki-laki. Jadi, mengapa saya harus sedih?!

Tapi saya adalah seorang Kristen sejak lahir dan sudah 7 kali membaca Alkitab. Masakan saya tidak hafal isi Alkitab? Di sini, dalam hal kerohanian saya juga lebih unggul daripada istri saya yang tak pernah membaca Alkitab secara rutin. Maka hal pertama-tama yang terbayang di benak saya adalah kejatuhan Hawa di Taman Eden, bahwa biangnya dosa ada pada diri perempuan, dan TUHAN menghukum perempuan lebih berat daripada terhadap laki-laki.

Kejadian 3:16        Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."

Perempuan, Hawa, yang membuat Adam ikut terseret ke dalam dosa. Dalam kisah Ayub, perempuan pula, yaitu istri Ayub, yang menghina kesalehan Ayub. Dalam kisah Abraham, Sarai, istrinya, yang menyebabkan Abraham mengawini Hagar, sehingga melahirkan Ismael, Ismael melahirkan Muhammad, Muhammad melahirkan Islam, dan Islam menghebohkan dunia. Dalam kisah raja Ahab, Izebel, istrinya, yang menjadi sumber penyembahan berhala Israel. Perempuan pula yang menyebabkan raja Daud, raja Salomo, dan lain-lainnya tersandung dalam dosa perzinahan.

Saya tidak mengatakan perempuan tidak baik. Tapi perempuan memiliki potensi besar dalam masalah dosa, sebab Hawa yang didekati oleh ular.

Kejadian 3:13        Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

Perempuan itu bak durian; enak tapi berduri tajam. Bukan tidak boleh dimakan, tapi berhati-hatilah terhadap durinya. Tapi perempuan bukan durian. Kalau durian biarpun berduri tapi tak bisa bergerak. Perempuan bisa menggelegar, bisa memberontak, bisa melawan. Perempuan mempunyai jalan pikiran sendiri, mempunyai prinsip sendiri. Dia bisa mendebat, bisa membantah, bisa memprotes, bahkan bisa melawan. Dia bisa tidak sependapat dengan kita, bisa tidak sehaluan dengan kita, bahkan bisa menguasai kita.

Kata orang cinta bisa memperdamaikan suami-istri. Tapi orang lupa bahwa setan bisa menghancurkan cinta. Sama seperti perekat adalah lem, tapi air bisa merusakkan lem. Jadi, yang lebih besar dari cinta adalah setan. Sama juga dengan ikan asin adalah enak, tapi kucing itu pemakan ikan asin, sehingga kalau ikan asinnya dimakan kucing, maka hilanglah keenakan kita. Karena itu yang harus ditaklukkan lebih dahulu adalah setannya. Ikatlah setannya maka kita bisa bercinta dengan istri kita.

Berumahtangga? Bagi orang yang belum pernah berumahtangga, mungkin di sanalah dibayangkannya sorga. Tapi saya sudah pernah ke sana dan saya dapati bahwa rumahtangga itu kantor pusatnya neraka atau pabriknya dosa.

Ams. 14:12          Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

Saya mempunyai musuh, tapi selama bertahun-tahun saya lupa memaki-makinya. Hanya sekali saja saya marah habis-habisan padanya. Tapi dengan istri, hampir setiap hari beradu mulut, berkata-kata kasar, dan memaki-makinya. Saya menyakiti istri, istri menyakiti saya. Kami saling terkam, melebihi harimau yang menerkam mangsanya. Dengan musuh belum tentu setahun sekali berantem, tapi dengan istri 365 kali berantem pertahunnya. Jadi, istri saya adalah 365 kali lipat musuh saya. Hah?!

Itu pertahun. Bagaimana kalau usia perkawinan saya 19 tahun? Tidakkah 19 x 365 = 6.935 kali?! Itu dengan istri saja. Bagaimana dengan 3 orang anak saya, sebut saja namanya: Ellen, Agnes dan Yonathan. Berapa dosa saya pada Ellen, berapa pada Agnes dan berapa pada Yonathan? Berapa total seluruhnya? Itu saya terhadap mereka. Bagaimana dengan dosa istri saya terhadap saya, dan dosa ke-3 anak saya terhadap saya? Itu baru dosa berkata-kata kasar. Bagaimana dengan dosa lain-lainnya, seperti melupakan TUHAN, melupakan hari Sabat, menyebut nama TUHAN secara sembarangan, berdagang tidak jujur, berdusta, mencuri, berzinah, dan lain-lainnya?!

Wouh, bagaimana saya bisa berharap masuk sorga dengan "pakaian" compang-camping seperti itu?!

Rasul Paulus mendasarkan ajarannya;

1Korintus 7:32        Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran.

Kalau hidup tanpa rasa kekuatiran, maka jiwa ini pasti damai dan tenteram. Bagaimana itu?

1Korintus 7:1          Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,

Bukan tidak boleh kawin seperti pemahaman Roma Katolik yang melarang para imamnya kawin, tapi kalau ingin hidup yang lebih baik adalah tidak usah kawin. Kalau kamu sanggup melihat alam perkawinan itu seperti itu, seperti dokter yang melihat virus dengan mikroskop, pasti kamu tidak akan menentang anjuran rasul Paulus itu.

Hasil gambar untuk gambar melihat dengan mikroskop


Mending tidak makan buah durian, daripada tangan terluka durinya. Tapi jika takut mati kelaparan, ya makanlah;

1Korintus 7:2          tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
7:3          Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.

Tapi jangan melupakan kewajibanmu. Sebab selain memberi nafkah, seorang suami wajib mengasihi istrinya. Sama seperti kalau anda membeli mobil, ingatlah bahwa anda harus memperhitungkan juga uang bensinnya, ganti olienya, ganti sparepartnya, bayar pajaknya, dan lain-lainnya. Sebab istri itu untuk disayangi, bukan untuk dimaki-maki. Karena itu kalau uang tak cukup, ya jangan membeli mobil.

1Korintus 7:7          Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.

Karunia adalah pemberian dari ELOHIM YAHWEH. Rasul Paulus menyatakan bahwa daya tahan tidak kawin itu merupakan karunia TUHAN. Kalau itu merupakan karunia, maka itu bisa diminta. Maksudnya, jika TUHAN tidak memberi, kita bisa memintanya;

Mat. 7:8               Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Mat. 7:9               Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,

1Korintus 7:15        Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.

Sebagaimana saya terangkan di atas bahwa saya tak pernah menyatakan menceraikan istri dan anak-anak, tetapi merekalah yang memiliki pilihan mereka sendiri, maka perceraian saya bukanlah dosa bagi saya. Sebab panggilan TUHAN adalah untuk hidup dalam damai sejahtera, bukan untuk perkawinan, sehingga jika tidak kawin bisa damai sejahtera, mengapa harus kawin?!

1Korintus 7:20        Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.

Di saat saya dibuang oleh istri dan anak-anak itulah TUHAN memanggil saya. Karena itu keputusan saya untuk tidak kawin lagi tepat berdasarkan ayat itu.

Mat. 21:42           Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Tukang bangunan membuang-buang batu itu aneh, sama seperti tukang roti membuang-buang tepung itu tidak mungkin. Begitulah istri dan anak-anak membuang-buang saya itu juga aneh, seperti TUHAN YESHUA yang dibuang-buang oleh orang Israel. Tapi batu yang dibuang oleh tukang bangunan itu dijadikan oleh TUHAN sebagai batu penjuru. ELOHIM YESHUA yang dibuang oleh bangsa Yahudi itu adalah JURUSELAMAT dunia. Saya yang dibuang istri dan anak-anak, di sini, di internet ini saya menjadi mempunyai banyak istri dan banyak anak-anak rohani.

Gal. 4:27               Karena ada tertulis: "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami."

Mat. 12:50           Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

1Korintus 7:32        Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya.
7:33        Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya,
7:34        dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.
7:35        Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.

Di saat hidup saya berada dalam persimpangan, inilah yang saya katakan kepada istri saya: "Jika kita tetap berumahtangga, saya tak mungkin melayani TUHAN sebagai penginjil. Sebab penghasilan seorang penginjil itu kecil, tidak cukup untuk berumahtangga. Tapi jika kita bercerai, saya memutuskan untuk menjadi penginjil. Biarlah sisa hidup ini saya dharmabhaktikan kepada TUHAN".

Pada waktu itu tahun 2004, umur saya 42 tahun. Artinya, telah 42 tahun lamanya saya menghabiskan waktu untuk kehendak atau kesenangan saya sendiri. Telah 42 tahun lamanya TUHAN bersabar dan melayani saya. Masakan saya akan terus-terusan hidup untuk diri saya sendiri? Masakan saya tidak membalas melayani TUHAN?

Yoh. 21:18           Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

Itu adalah nubuatan ELOHIM YESHUA tentang hidup rasul Petrus. Bahwa ketika rasul Petrus masih muda, dia masih melayani hawa nafsunya sendiri. Tapi setelah tua barulah dia akan sepenuh hati melayani TUHAN. Maka Puji TUHAN, saya bisa seperti rasul Petrus yang mempunyai 2 fase kehidupan; yaitu hidup sendiri dan hidup untuk TUHAN. Bukan sampai kakek-nenek masih berstatus jemaat terus;

Hasil gambar untuk gambar opa oma

Kapan kamu melayani TUHANmu?

Akhirnya, semakin hari saya semakin bersyukur oleh hidup saya sekarang ini yang sudah diamankan dari ribuan dosa. Ketika ingin memaki-maki istri, tak ada istri. Ketika ingin memaki-maki anak, tak ada anak. Ketika ingin mencicipi narkoba, tak ada uang. Ingin sombong, tak ada yang bisa disombongkan. Ingin korupsi tak punya jabatan. Tapi anda yang mempunyai mobil, kena serempet, marah-marah, kena macet, stress. Ribuan dosa menjadi deposito anda.

Hasil gambar untuk gambar orang merdeka

Tidak ada komentar: