Minggu, 07 Mei 2017

MENGAPA SAYA TAKUT KAYA?

Tingkatan berpikir orang itu berjenjang seperti anak tangga, atau seperti kelas-kelas sekolahan, yang dimulai dari kelas 1, lalu naik kelas 2, lalu naik kelas 3, dan seterusnya. Tentu saja antara kelas berbeda tingkat "kebenarannya". Bagi kelas 1, tingkatan kebenarannya adalah hitungan 1 sampai 100. Bagi kelas 2, tingkatan kebenarannya adalah hitungan 100 - 1.000. Bagi kelas 3, tingkatan kebenarannya adalah hitungan 1.000 - 1.000.000, begitu seterusnya.

Dulu, ketika masih anak-anak, saya sukanya main-main, tidak suka mencari uang. Kalaupun butuh uang, kebutuhan saya hanya untuk jajan saja, dan itu bisa saya minta pada orangtua saya. Tapi ketika saya sudah lulus sekolah, pikiran saya berbeda. Saya sudah tidak suka main-main lagi, tapi saya bingung mencari pekerjaan. Saya masih mengutamakan pekerjaan sebagai kesibukan, masih belum berpikir untuk menjadi pemburu uang. Karena itu gaji berapa saja pasti saya sepakati. Yang penting kerja, daripada menganggur.

Proses berpikir saya masih berjalan terus, mengalami perubahan dari waktu ke waktunya. Dari sekedar bekerja saja, meningkat menjadi pemburu uang. Kini yang saya pentingkan adalah jumlah uangnya, sebab kebutuhan pribadi saya sebagai orang muda telah terjadi peningkatan. Saya mulai pacaran, mulai membutuhkan banyak biaya. Maka sekarang saya terpaksa harus pontang-panting, banting tulang mencari uang yang sebanyak-banyaknya.

Dan itu masih meningkat lagi, yakni ketika saya sudah berumahtangga dan mempunyai anak-anak. Kebutuhan saya semakin besar lagi untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak. Bahkan di tingkat ini pikiran saya sudah melayang ke masa depan. Saya mulai memikirkan target-target, memiliki rumah yang besar, memiliki mobil yang bagus, memiliki usaha yang mapan, memiliki tabungan yang banyak. Di sini saya sudah seperti mengendarai mobil di jalan toll, yang saya lihat di depan hanyalah jalanan yang sangat panjang, yang seolah-olah takkan ada putusnya. Di jalan toll tak mungkin saya memberhentikan mobil. Demikianlah saya ketika berumahtangga dibebani dengan pikiran tentang masa depan, rasanya tak mungkin saya bisa beristirahat dari bekerja, melainkan pasti akan bekerja terus sepanjang masa, seperti mobil yang remnya blong.

Saya yakin, setelah punya rumah besar dan mobil baguspun, itu pasti masih juga kurang. Jika rumah sebuah, pasti ingin menambah sebuah lagi. Dan jikapun sudah 2 buah rumah, pasti masih menambah lagi dan menambah lagi. Saya tak tahu berapa banyak batasannya saya boleh membeli rumah. Yang jelas Guiness World Records, mencatat Jack Schoff, seorang Amerika Serikat, memiliki koleksi jam sebanyak 1.500 buah. Mohammed Bello Abubakar, seorang Nigeria, tercatat mempunyai 170 anak dari 86 istri. Lha kalau istri saja boleh sampai 86 orang, apa larangannya saya membeli rumah yang lebih banyak lagi?

Saya pemburu uang adalah satu hal, dari hal lain tentang orang yang tidak memburu uang, tetapi memburu minuman keras, memburu perempuan, memburu ikan[hobby memancing], memburu burung, dan lain-lainnya. Ternyata memburu uang merupakan salah satu dari sekian macam kesenangan orang. Artinya, manusia hidup itu tidak wajib menjadi pemburu uang. Tidak ada pemerintahan dunia yang melarang orang menjadi pemburu minuman keras atau perempuan atau ikan, atau yang lainnya. Juga tidak ada anjuran pemerintah supaya semua orang menjadi pemburu uang.

Saya lanjutkan tentang tingkatan berpikir orang. Di Indonesia sendiri, tercatat ada banyak konglomerat yang tidak lagi memikirkan masalah uang, tapi beralih ke kekuasaan, seperti Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Prabowo Subianto, Hary Tanoe, Sandiaga Uno, dan lain-lainnya. Di sini mereka bukan lagi mengumpulkan uang, malah membagi-bagikan uang. Tampaknya tingkat kebutuhan mereka sudah "lebih tinggi" dari kelas uang. Mereka sudah tidak membutuhkan uang lagi, melainkan membutuhkan "kebahagiaan" atau "ketenteraman bathin". Dan mereka menduga kebahagiaan dan ketenteraman bathin itu ada pada kekuasaan, di mana mereka bisa mendapatkan penghormatan dan pemujaan.

Sebab dalam dunia ini ada 3 hal yang menjadi pencarian manusia, yaitu; harta, takhta dan wanita, yang diyakini bisa membawa pada kebahagiaan hidup duniawi. Banyak harta, punya kedudukan tinggi dan dikelilingi gadis-gadis kayak raja, itulah impian setiap orang. Karena itu para konglomerat itu berlomba-lomba menjadi calon presiden di tahun 2019 mendatang. Nggak ada yang mau menjadi gubernur, kecuali Sandiaga Uno yang masih terlalu ingusan di panggung politik.

Sekarang saya berbicara tentang tingkatan yang lebih tinggi dari masalah uang, yang kini menjadi konsep berpikir saya dalam hikmat ROH KUDUS;

Mat. 16:26           Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Memperoleh seluruh dunia kalau masuk neraka, ya nggak ada gunanya seluruh dunia itu. Sebab kekayaannya itu tak bisa dipakai untuk menebus nerakanya. Coba pikirkan berapakah uang yang diperlukan untuk menyogok TUHAN atau malaikat untuk membebaskan anda dari api neraka? Berapa trilyun yang harus anda sediakan? Apakah Bill Gate, yang jumlah hartanya 1.000 trilyun, bisa membebaskan dirinya dari neraka? Taruhlah itu bisa, bahwa TUHAN mau disogok sebesar 1.000 trilyun, dan Bill Gate bisa keluar dari neraka. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang hartanya tak sebanyak itu?

Bagaimana kalau memperoleh seluruh dunia tapi tidak sampai kehilangan nyawanya; tidak sampai masuk neraka? Ya kayaraya, ya masuk sorga. Apakah TUHAN melarang orang kaya masuk sorga? Tidak! Karena itu saya berkata kepada anda: "Jangan takut kaya, jangan takut memburu harta! Asal jangan sampai kehilangan nyawanya!" Bisakah anda menjadi orang kaya yang sukses akherat? Saya, terus terang saja tidak sanggup. Menjadi kaya seperti Bill Gate, mungkin saya masih bisa mengusahakannya. Setidaknya merampok 10 bank saja, masak nggak bisa mengumpulkan 1.000 trilyun? Tapi mengusahakan masuk sorganya, ini yang saya pikir merupakan kesulitan terbesar saya.

Sebab saya melihat banyak sekali orang kaya yang tersandung masalah kesombongan, kepelitan, arogan, gampang naik pitam, menilap pembayaran pajak, korupsi, menindas karyawannya, foya-foya, pelacuran, perselingkuhan, narkoba, munafik, menjauhi agama, menjauhi TUHAN, dan lain-lainnya. Semakin kaya semakin banyak tantangan dan godaannya, bahkan tidak jarang yang semakin memusingkan, semakin tidak tenang, semakin dihantui banyak kekuatiran, dan melenyapkan kebahagiaannya.

Kaya kalau bisa melenyapkan dosa, tak masalah. Tapi kalau justru semakin menambah dosa? Inilah yang menjadi perhitungan saya sekarang-sekarang ini. Sekalipun saya sudah mengenal kebenaran dan mempunyai JURUSELAMAT yang akan menyelamatkan saya, tapi masakan saya menjadi pabrik dosa yang terus-menerus memproduksi dosa? Masakan JURUSELAMAT itu saya perlakukan seperti tong sampah, yang menjadi penampungan dosa-dosa saya? Tak mungkin itu! Sebab ajaran JURUSELAMAT itu justru menuntut penutupan pabrik dosa. ELOHIM YESHUA datang bukan supaya kita semakin banyak dosanya, tapi supaya kita menutup keran dosa. Kita dituntut berhenti berbuat dosa!

Penyelamatan yang dilakukan oleh YESHUA ha MASHIA, salah satu sisinya adalah supaya kita mengikuti ajaranNYA yang memberantas dosa. Dosa yang kemarin diampuni, yang akan datang jangan diperbuat lagi;

Yoh. 5:14              Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."

Menurut anda, orang-orang seperti Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Prabowo Subianto, Hary Tanoe, Sandiaga Uno, adalah orang-orang yang enak, dan anda mengidam-idamkannya. Sebab nyata bahwa perut mereka pasti tak pernah kelaparan. Bahkan sampai 7 keturunan tak mungkin ada yang sampai kelaparan perutnya. Dengan AC di rumah dan di mobil, mereka tak pernah kepanasan terik matahari sampai 7 keturunan. Bahkan jika mereka masuk penjarapun, di dalam penjara mereka masih bisa bersenang-senang. Penjara bisa mereka sulap menjadi istana. Konglomerat Bob Hasan yang dipenjarakan di Nusakambangan, bahkan bisa bepergian ke mana-mana dengan helikopter. Jika sakit, ada dokter pribadi, ada rumahsakit bertaraf internasional yang siap melayani mereka dengan peralatan yang paling canggih. Tak ada bagian dunia ini yang bisa menyusahkan mereka. Begitu, bukan?!

Tapi bagi pemandangan saya, mereka bukanlah orang yang mengagumkan, melainkan justru orang yang sangat-sangat mengerikan sekali akhir hidupnya. Antara saya dengan mereka saling berbanding terbalik, seperti bumi dengan langit. Jika mereka aman di dunia ini, justru saya orang yang sangat tidak aman di dunia ini. Baik perut maupun nyawa sama-sama tak terlindung dari bahaya. Setiap waktu bisa saja perut ini kelaparan ataupun nyawa ini dihabisi orang. Tapi saya pikir, sayalah orang yang beruntung atau lebih beruntung daripada mereka. Saya melihat mereka itu seumpama orang yang membawa bungkusan yang tak mereka sadari adalah bom teroris. Mereka membawanya tenang-tenang saja karena tak tahu isinya. Tapi saya yang tahu isi bungkusan itu ngeri melihatnya.

1Tes. 5:3              Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput.

Karena saya tahu isi bungkusan kekayaan itulah maka saya ini takut kaya. Bahkan saya bertekad: "Jangan sampai saya kaya!" - "Jangan sampai saya menyimpan harta serupiahpun", sebab itu ngengat! Karena itu jika saya mempunyai uang tak pernah saya tahan untuk menolong orang lain. Menyimpan uang bagi saya seperti menyimpan bara api. Mempunyai uang merupakan kesempatan bagi saya untuk membeli "pahala", sekalipun Kristen tidak mengenal konsep pahala.

Bagi Kristen melakukan kebajikan adalah hal yang seharusnya, bukan hal yang istimewa atau hebat bagi manusia sehingga harus dikasih hadiah atau pahala. Melakukan kebajikan adalah kebenaran bagi seorang manusia, dan manusia adalah di Taman Eden tempatnya. Tapi tidak melakukan kebajikan adalah kesalahan bagi seorang manusia sehingga dia tidak layak ditempatkan di Taman Eden. Jika tidak melakukan kebajikan, yaitu mendiamkan saja ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan sudah merupakan kesalahan, betapa lebih salahnya orang yang melakukan kejahatan.

>> Menolong orang = manusia.

>> Tidak menolong orang = bukan manusia.

>> Berbuat jahat = iblis.

Ada orang membutuhkan pertolongan tidak anda tolong, itu kucing, bukan manusia. Sebab kucing dalam posisi tidak bisa memberikan pertolongan terhadap sesamanya. Biarpun sesamanya sakit, kucing yang lainnya diam saja, sebab memang tak bisa apa-apa. Lebih-lebih lagi jika anda itu perampok, maling, pencuri, koruptor, pembunuh, pezinah, dan lain-lainnya. Itu harimau namanya, kerjanya mencabik-cabik binatang lainnya.

Yakobus 2:14        Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
2:15        Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,
2:16        dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?
2:17        Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

1Yoh. 3:17           Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

Anda Kristen? Okeylah, tapi Kristen menurut siapa? Menurut dirimu sendiri atau menurut TUHAN? Sebab bakso kalau tanpa daging sapi, apakah masih disebut bakso? Kristen tapi tidak mengamalkan ajaran Kristen, apakah masih Kristen namanya?!

2Tim. 3:5              Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

Orang berjudi saja tak mungkin memasang taruhan yang tidak meyakinkannya. Orang berdagang juga tak mungkin menanamkan modalnya di usaha yang tidak jelas keuntungannya. Karena itu di dalam TUHAN-pun saya perlu memperhitungkan setiap langkah saya, supaya jangan sampai saya yang mengenal TUHAN tapi TUHAN tidak mengenali saya;

Matius 7:21        Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

1Kor. 9:27            Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Karena itu biarlah saya tetap begini saja, yaitu tak punya apa-apa tak apa, asalkan masih punya TUHAN. Jangan sampai sudah tak punya apa-apa, tak punya TUHAN pula.

Matius 5:3          "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Itulah ucapan pertama-tama ELOHIM YESHUA ketika mulai mengajar.

2Kor. 12:9            Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Ibr. 11:35             Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.

Biarlah saya seperti tukang parkir yang melepaskan kendaraan berjalan sementara dia tetap di tempatnya, atau seperti guru yang melepaskan murid-muridnya naik kelas sementara guru itu masih tetap di kelas itu. Biarlah anda berjalan mencapai sukses duniawi sementara saya tetap di sini saja.

Burulah uang, burulah kedudukan, burulah gaji yang lebih besar, burulah segala kesenangan, burulah hobby-hobby, burulah cewek-cewek, jika sekiranya itu bisa memberikan manfaat bagimu, mengapa tidak? Mengapa dilarang?

Tidak ada komentar: