Selasa, 27 Juni 2017

DEPARTEMEN SOSIAL HARUS DIBUBARKAN

Alkitab mengenalkan tentang 2 perjanjian ELOHIM, yaitu: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama berbicara tentang ALLAH, Perjanjian Baru berbicara tentang BAPA. Berbicara tentang ALLAH, kita berbicara tentang hubungan formal antara hamba dengan tuan, antara umat dengan TUHAN, kita berbicara tentang penegakan hukum. ALLAH itu untuk disembah! Tapi berbicara tentang BAPA, kita berbicara tentang hubungan mesra antara anak dengan bapak, kita berbicara tentang keutamaan kasih sayang.

Hukum dengan kasih adalah 2 hal yang saling bertentangan, sebab hukum tidak mengenal belas kasihan, sedangkan kasih sifatnya mengabaikan hukum. Hukum berkata: siapa saja yang bersalah harus dihukum, tapi kasih berkata: siapa saja yang berdosa akan diampuni. Hukum menuntut adanya kebenaran dan kesucian. Setiap yang kotor/najis akan ditendang. Tapi kasih menuntut adanya dosa. Tanpa dosa takkan keluar kasih. Jadi, dosa harus ada baru kasih ada, seperti dokter baru berfungsi jika ada orang yang sakit;

Markus 2:17    Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Berbicara tentang artinya, hukum itu adalah peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan atau ketetapan-ketetapan. Dalam hukum ada keteraturan, ada ketentuan, ada ketepatan, ada ketetapan. Hukum menuntut akurasi, seperti kerja mesin atau seperti kerja komputer yang berdasarkan program-program. Karena itu hukum menunjuk kepada benda mati yang daya kerjanya berdasarkan ketentuan untuknya. Jika kayu seperti apa kerja kayu, jika besi seperti apa kerja besi itu. Kayu tak mungkin seperti besi dan besi tak mungkin seperti kayu.

Tapi kasih tidak memiliki keteraturan. Kasih itu fleksibel, lentur, bisa begini bisa begitu, dan itu menunjuk ke benda atau makhluk hidup. Contohnya: malaikat atau manusia bisa suci juga bisa berdosa, yang kerjanya berdasarkan pertimbangan akal pikirannya. Mau jadi orang baik atau orang jahat, itu pilihan kita. Demikianlah ilmu pengetahuan mengenalkan pembagian menjadi 2 bagian, yaitu ilmu pasti dengan ilmu sosial.

Di zaman saya SMA, masing-masing murid disuruh memilih jurusan: IPA atau IPS. IPA - Ilmu Pengetahuan Alam, IPS - Ilmu Pengetahuan Sosial. Jika seorang murid cenderung berbakat dalam hal hitung-menghitung, dia akan pilih jurusan IPA, sedangkan yang tidak suka matematika akan pilih IPS. IPA akan berurusan dengan benda-benda mati, seperti: fisika dan kimia, sedangkan IPS akan berurusan dengan kemasyarakatan, seperti: sarjana hukum, ekonomi, kesusastraan, kebudayaan, psikologi, dan lain-lainnya.

Nah, berbicara tentang pekerjaan Departemen Sosial yang mengemban misi kemanusiaan, sila ke-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan pasal 34 UUD 1945 yang keseluruhannya bertujuan untuk memanusiakan manusia, bukannya membinatangkan manusia, maka Departemen Sosial tidak benar jika diurus oleh hamba atau budak atau karyawan, yakni pegawai negeri. Sebab pegawai negeri, setinggi apapun kedudukannya tetaplah budak atau robot yang bergantung pada perintah atasan. Sekalipun menteri sosial jabatannya, namun dia masih bergantung dari presiden.

Jika presiden memberikan anggaran sekian untuk Departemen Sosial, maka hanya sebatas itulah yang bisa dilakukan oleh menteri sosial. Jika presidennya macam Hitler yang berkata: racuni saja fakir miskin yang ada di panti-panti sosial itu, maka sang menteri pasti akan segera melakukannya. Sebab jiwanya adalah pegawai, bukan jiwa kemanusiaan. Berbeda dengan orang yang berjiwa kemanusiaan, dia akan membela mati-matian orang-orang yang dibawah tanggungjawabnya. Dia akan seperti suster Theresia atau seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya. Siapapun yang hendak menyakiti anak-anaknya pasti akan dilawan dengan taruhan nyawanya.

Tahun 2004 ketika Tsunami Aceh, Jusuf Kalla adalah wakil presidennya SBY. Mendengar bencana Aceh tersebut, Jusuf Kalla memerintahkan supaya semua obat-obatan yang ada di gudang dibawa ke Aceh. Namun pejabat kementerian kesehatan menjawab bahwa itu tidak mungkin, sebab sudah malam sementara tak diketahui siapa yang membawa kuncinya. Itulah pegawai, mati inisiatifnya. Tengah malam dan kunci sudah mematikan segala langkahnya. Tapi Jusuf Kalla yang mendengar jawaban itu gusar dan memerintahkan untuk mendobrak pintu gudang itu: "Tembak gemboknya!" Tengah malam dan gembok tidak boleh menjadi penghambat, sebab dia Boss! Sebab dia wakil presiden yang berkuasa.

Mental pegawai mati oleh rumus-rumus, oleh ketentuan-ketentuan, oleh protokoler. Hukum-hukum itulah yang lebih ditinggikan dari perikemanusiaan yang adil dan beradab. Tapi kasih merobohkan semua dalil-dalil mati itu.

Sekalipun jujur seorang pegawai tidak bisa diserahi tugas kemanusiaan. Lebih-lebih negeri ini dihuni oleh pejabat-pejabat yang korup, sebagaimana tekad Jokowi untuk melakukan revolusi mental. Sebab uang untuk pengadaan Al Qur'an saja dikorupsi. Hal yang berkaitan dengan ALLAH saja dia berani, lebih-lebih hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Sudah 2 menteri agama yang dipenjarakan karena kasus korupsi. Menteri agamanya saja macam begitu, apa pula macam menteri sosialnya?Dana bantuan untuk tsunami Acehpun tak jelas pertanggungjawabannya! Semakin ada bencana semakin senang para koruptor, sebab yang ada di otaknya hanya uang, bukan manusianya.

Jadi, karena itu bubarkan saja Departemen Sosial. Pemerintah kalau tak becus mengemban amanah Pancasila dan UUD 1945 lebih baik tak usah mendirikan kantor korupsi dengan kedok kemanusiaan. Sebab kehadiran kantor-kantor sosial itu lebih menyengsarakan fakir-miskin. Mereka akan dijadikan objek untuk mengeruk uang dan demi kesenangan mereka. Orang-orang di panti sosial dipaksa mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lucu-lucu, laki-laki disuruh mengenakan rok, lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Kejahatan di sini tak mungkin terlacak dunia luar, berbeda dengan kejahatan para polisi terhadap tahanan, masih bisa diungkapkan ke sidang pengadilan. Di sini, di panti sosial ini markasnya iblis! Jadi, jahat dan biadab sekali jika presiden Jokowi tidak berbuat apa-apa! Tak ada gunanya blusukan jika tak bisa mengendus kejahatan di sini.

Tentang fakir miskin biarlah merupakan usaha pribadi-pribadi masyarakat terhadap perintah agamanya masing-masing. Tak usah dilembagakan! Karena lebih baik kelaparan di luar panti sosial daripada makan kenyang di panti sosial. Terkutuklah Satpol PP dan Departemen Sosial! Demi TUHAN mereka itu Anjing dan setan busuk! Kasihan sekali fakir miskin di Indonesia ini!


Kasus Cak Budi: Akhirnya Fortuner dijual dan donasi Rp1,7 milyar disalurkan


@cakbudi_ / Instagram


Aktivis sosial yang dikenal sebagai Cak Budi akhirnya menyalurkan semua donasi sebesar Rp1,7 miliar ke lembaga amal setelah dicerca dengan tudingan menyalahgunakan sumbangan untuk membeli mobil dan ponsel mewah.
Cak Budi yang banyak mengunggah kegiatannya di media sosial ini, diketahui membeli iPhone dan mobil Fortuner dengan menggunakan uang donasi yang diberikan para donatur untuk membantu orang-orang yang kurang mampu.
Hal ini terungkap awal pekan ini setelah sebuah akun Instagram mengatakan bahwa aktivis sosial itu sering mentrasfer donasi ke rekening pribadi.

Namun Cak Budi, yang nama aslinya Budi Nur Ikhsan ini mengatakan bahwa pembelian itu dilakukan untuk menunjang kegiatan amal yang dilakukan di berbagai tempat yang sulit dijangkau, dan tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
"Tapi kenapa harus iPhone 7 dan Fortuner?" tanya satu pengguna Instagram dengan geram. "Harusnya Anda malu," kata yang lain. "Sebagai seorang yang peduli pada fakir miskin, Anda membeli barang mewah."
Berbagai komentar juga mengajak pengguna media sosial untuk menyalurkan donasinya ke lembaga amal saja, bukan ke individu agar penyaluran dana lebih transparan.

Tidak dikelola baik

Setelah dihujani banyak kritikan, Cak Budi dalam akun Instagramnya (@cakbudi_) mengatakan telah menjual mobil Fortuner dan menyalurkan seluruh donasi ke lembaga amal Aksi Cepat Tanggap dengan total Rp1,7 milyar.
Uang itu mencakup donasi netizen yang diterima melalui rekening pribadi sebesar Rp560 juta, penyaluran dana lewat situs kitabisa.com Rp814 juta, dan hasil penjualan mobil Rp400 juta.
Dia juga meminta maaf karena 'telah mengecewakan banyak pihak.'
Kepada BBC Indonesia Lina Yusi Anggrawati, istri Cak Budi yang ikut membantu aktvitas sosialnya mengakui bahwa segala pencatatan donasi tidak dilakukan dengan rapi.
@cakbudi_ / InstagramHak atas foto@CAKBUDI_ / INSTAGRAM
"Sangat disayangkan, saya sebagai ibu rumah tangga memang agak kesulitan mencatat, memang seharusnya ada yang mengelola," katanya saat ditanya jumlah total warga yang dibantu dan uang yang telah disalurkan.
Lina mengatakan mobil Fortuner selalu digunakan suaminya untuk akvititas sosial dan tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi.
"Ada banyak informasi datang ke kita (dari akun Instagram), tentang orang yang butuh bantuan di Malang, Kediri, dan kota lain. Jadi dia sering pergi, dua hari pulang, besoknya pergi lagi. Sekali jalan bisa bertemu 10 orang untuk memberi donasi."
Untuk sumbangan, Lina mengatakan Cak Budi bisa memberi sekitar Rp2-3 juta per orang sesuai kebutuhan dan sekitar Rp10-15 juta untuk bedah rumah.
"Ada yang bilang kita beli dua Fortuner, itu tidak benar. Kita punya mobil Innova tetapi kemudian ada kebutuhan untuk keperluan (penyaluran) donasi," tambahnya.

Campur Anjal dengan Orang Gila Termasuk Pelanggaran HAM Berat

PALEMBANG – Kasus dugaan anak jalanan (anjal) yang tertangkap dicampur sekamar bersama orang gila di Panti Sosial Rehabilitasi Dinas Sosial yang terletak di daerah Kenten memasuki babak baru. Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Palembang, Ahmad Romy Afriansyah dengan tegas mengatakan, jika benar ada tindakan seperti itu maka hal tersebut sudah merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.
Hal tersebut disampaikan kepada Simbur saat mengikuti acara Coffee Morning di Aula Catur Cakti Mapolda Sumsel, Selasa (7/2). “Apabila anjal itu masih sehat maka tidak dibenarkan apabila mereka dicampur sekamar dengan orang gila. Apalagi jika anak-anak maka itu sudah pelanggaran berat,” tegasnya.
Romy menyatakan, miris dengan kondisi itu tersebut apalagi saat ini sudah ada Undang-Undang yang menjamin perlindungan terhadap anak. “Jika ada laporan yang masuk ke KPAID, kami siap untuk menindak lanjuti laporan tersebut,” lanjutnya.
Diketahui, Plt Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel, Belman Karmuda membantah jika tidak benar adanya anjal yang sekamar dengan orang gila di Panti sosial yang ada di daerah Kenten. Menurutnya, memang ada beberapa Rumah Sakit (RS) Jiwa yang sudah dinyatakan sembuh tetapi belum dijemput atau tidak lagi diterima oleh keluarganya sehingga dititipkan dulu di panti sosial. “Selain itu, Panti Sosial yang ada saat ini sudah over kapasitas sehingga mau tidak mau, ada yang digabung bersama penghuni lainnya.
Ditambahkan Belman, kendala yang dihadapi oleh dinas sosial kota sebagai pihak yang memiliki wewenang yaitu kondisi dimana lingkungan di panti sosial tidak senyaman di RS Jiwa, maka biasanya mantan pasien tersebut kambuh lagi sehingga hal itulah yang mungkin dikatakan anjal sekamar dengan orang gila.
“Per Januari 2017, kewenangan tersebut sudah diberikan ke Dinsos provinsi sehingga saya bersama kepala RS Jiwa Dr Ernaldi Bahar mencoba  merancang sebuah Memorandum of Understanding (MoU) dalam hal penanganan pasien yang sudah dinyatakan sembuh oleh dokter melalui pengobatan intensif. Jika sudah sembuh dan tidak ada keluarga yang menjemput maka akan kami titipkan di panti sosial tetapi tidak lagi digabung dengan penghuni yang lain,” pungkasnya.
Terkait adanya dugaan oknum yang meminta uang terhadap anjal, Belman juga mendapatkan info tersebut dan jika memang ada maka dirinya selaku pihak yang bertanggung jawab saat ini akan menindak tegas oknum yang kedapatan melakukan tindakan pemerasan tersebut. “Semua biaya yang ada itu sudah ditanggung oleh negara dan tidak benar jika ada pungutan atau biaya saat ingin keluar dari panti. Jika memang ada oknum, saya akan laporkan secepatnya agar diberikan sanksi tegas,” tegasnya.
Sebelum Januari 2017 semua adalah kewenangan dinsos kota Palembang maka tentu dirinya tidak terlalu mengetaui apa yang terjadi, hanya saja Belman menegaskan mulai dari Januari 2017, jika ada oknum yang melakukan pemerasan tersebut maka segera laporkan agar bisa dilaporkan ke Gubernur dan BKD agar diberikan sanksi sesuai dengan tindakannya
Diwartakan sebelumnya, anjal yang terjaring tersebut akan diinapkan terlebih dahulu di Panti Sosial Rehabilitasi Dinas Sosial yang terletak di daerah Kenten. Hal tersebut dilakulan sampai ada keluarga yang datang menjemput. Sekilas langkah tersebut sangatlah manusia, tetapi ada dugaan jika anjal ini justru dikumpulkan sekamar dengan orang gila di panti sosial tersebut. Tidak sampai disitu saja, dari informasi yang diperoleh Simbur, ternyata ada oknum yang meminta sejumlah uang kepada anjal yang ingin keluar dari Panti Sosial sebesar 300 ribu.
Berdasarkan laporan warga, Herman (45), anjal bersama gelandangan dan pengemis terus dirazia. Apabila tertangkap, mereka ditahan di panti rehabilitasi sosial Kenten dengan situasi yang mengerikan. “Bukan hanya anjal, ada juga pengamen  yang kena dirazia. Jika tertangkap Dinsos, mereka dikurung bercampur orang gila di panti sosial Kenten. Namanya juga orang gila, makan dan berak ya di sana. Kalaupun ada keluarga yang menebus harus menyiapkan uang Rp300 ribu,” ungkap pria yang menjajakan dagangan di lapak kawasan Pasar Cinde, Jl Jenderal Sudirman.(mrf)
KESAKSIAN PENGHUNI PANTI NERAKA : Sudah 32 Orang Meninggal Selama 10 Tahun

KESAKSIAN PENGHUNI PANTI NERAKA : Sudah 32 Orang Meninggal Selama 10 Tahun

TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU - Selama sepuluh tahun hidup di dalam panti jompo, lansia dan orang gila yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa, Andi menyaksikan hal mengerikan.

Andi satu dari 19 orang penghuni panti jompo di Kilometer 20, Jalan Lintas Timur, Tenayan Raya, Kota Pekanbaru Riau. Ia pernah mendapat siksaan selama sepuluh tahun hidup di sana.

Selain pernah ditendang dan punggungnya disiram petugas panti menggunakan air panas bercampur cabai rawit, Andi mengetahui sudah 32 orang meninggal di sana diduga salah urus.

"Orang yang meninggal itu dibiarkan sekarat. Tidak dibantu," Andi membeberkan cerita itu kepada rombongan Dinas Sosial Riau dan Lembaga Perlindungan Anak Riau, Minggu (29/1/2017) siang.

Dikatakan dia, semua penghuni yang meninggal dikuburkan di Palas, Pekanbaru.
Ia begitu fasih menceritakan kondisi yang dialami penghuni selama menetap di sana. Alih-alih hidup diperhatikan justru panti tersebut tak ubahnya neraka bagi mereka. 
Cerita kekejaman lain yang Andi beberkan terkait pengelola panti yang sengaja mengambil perempuan hamil dengan iming janji-janji.

"Perempuan hamil yang dikatakan gila di bawa ke sini. Ditunggu sampai melahirkan. Anaknya diambil sedangkan yang perempuan dikurung di panti," kata dia.

Wajah Andi diliputi ketakutan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada petugas panti yang mendengar dan memelototinya.

Emosinya sempat meledak kala Andi mengingat penyiksaan yang dialami dirinya dan kawan-kawan di panti tersebut.
Pantauan Tribunpekanbaru.com, bangunan tersebut terdiri sepuluh kamar yang masing-masing berukuran 3x3 meter, berpintu teralis besi. Tiap kamar diisi dua sampai tiga orang.

Di tiap-tiap kamar terdapat satu toilet yang sama sekali tidak bersekat. Di sana tersedia air seember berkeruh dan berminyak untuk minum, mandi, dan cuci kakus penghuni.


BUBARKAN DEPARTEMEN SOSIAL!

Tidak ada komentar: