Jumat, 30 Juni 2017

LIBERALISME DENGAN KOMUNISME

Antara tahun 538 - 1798 Tarikh Masehi adalah tahun-tahun yang buruk bagi bangsa-bangsa di Eropa. Mereka menikmati permusuhan dan penganiayaan yang habis-habisan dari Roma Katolik terhadap orang-orang pengikut JALAN TUHAN yang berpegang teguh pada Alkitab. Pengikut JALAN TUHAN adalah penerus ajaran para rasul yang mula-mula, yang memelihara hari Sabat. Mereka bukan orang Kristen, sebab Kristen baru ada di zaman Martin Luther, tahun 1517 Tarikh Masehi, yaitu mereka yang ibadahnya di hari Minggu. Jadi, JALAN TUHAN berhari Sabat, sedangkan Kristen berhari Minggu. Kristen adalah sempalan/pecahan dari Roma Katolik.

Ibrani
4:9Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.

Penganiayaan yang hebat itu membuat banyak orang menyerukan adanya kebebasan dan kemerdekaan, tentang hak-hak asasi manusia. Tahun 1215, di Inggris lahirlah Magna Carta, sebuah naskah yang membatasi hak-hak raja dan menuntut raja dibatasi oleh hukum. Magna Carta adalah langkah awal bagi sebuah proses panjang bagi hukum konstitusional.

Isi Magna Carta sebagai berikut:
  1. Raja beserta keturunannya berjanji akan menghormati kemerdekaan, hak, dan kebebasan Gereja Inggris.
  2. Raja berjanji kepada penduduk kerajaan yang bebas untuk memberikan hak-hak.
  3. Para petugas keamanan dan pemungut pajak akan menghormati hak-hak penduduk.
  4. Polisi ataupun jaksa tidak dapat menuntut seseorang tanpa bukti dan saksi yang sah.
  5. Seseorang yang bukan budak tidak akan ditahan, ditangkap, dinyatakan bersalah tanpa perlindungan negara dan tanpa alasan hukum sebagai dasar tindakannya.
  6. Apabila seseorang tanpa perlindungan hukum sudah terlanjur ditahan, raja berjanji akan mengoreksi kesalahannya.
  7. Kekuasaan raja harus dibatasi.
  8. Hak Asasi Manusia (HAM) lebih penting daripada kedaulatan, hukum atau kekuasaan.
Magna Carta dianggap sebagai lambang perjuangan hak-hak asasi manusia, dan dianggap sebagai tonggak perjuangan lahirnya hak asasi manusia.

Tahun 1628, di Inggris lahirlah Petition of Right, yang isinya:

  1. Pajak dan pungutan istimewa harus disertai persetujuan parlemen.
  2. Warga negara tidak boleh dipaksakan menerima tentara di rumahnya.
  3. Tentara tidak boleh menggunakan hukum perang dalam keadaan damai.

Tahun 1679, lahirlah Hobeas Corpus Act, yang isinya tentang penahanan seseorang;

  1. Seseorang yang ditahan segera diperiksa dalam waktu 2 hari setelah penahanan.
  2. Alasan penahanan seseorang harus disertai bukti yang sah menurut hukum.

Tahun 1689 lahirlah Bill of Right, yang isinya;

  1. Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen.
  2. Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat.
  3. Pajak, undang-undang dan pembentukan tentara tetap harus seizin parlemen.
  4. Hak warga negara untuk memeluk agama menurut kepercayaan masing-masing.
  5. Parlemen berhak untuk mengubah keputusan raja.

Pada abad ke-20, Amerika Serikat memegang peran utama dalam pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan penyusunan Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia. Sebagian besar Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia mengambil model sebagian dari U.S. Bill of Rights.

Isi Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia, bahwa setiap orang mempunyai hak;

  1. Hidup
  2. Kemerdekaan dan keamanan badan
  3. Diakui kepribadiannya
  4. Memperoleh pengakuan yang sama dengan orang lain menurut hukum untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana, seperti diperiksa di muka umum, dianggap tidak bersalah kecuali ada bukti yang sah
  5. Masuk dan keluar wilayah suatu Negara
  6. Mendapatkan asylum
  7. Mendapatkan suatu kebangsaan
  8. Mendapatkan hak milik atas benda
  9. Bebas mengutarakan pikiran dan perasaan
  10. Bebas memeluk agama
  11. Mengeluarkan pendapat
  12. Berapat dan berkumpul
  13. Mendapat jaminan sosial
  14. Mendapatkan pekerjaan
  15. Berdagang
  16. Mendapatkan pendidikan
  17. Turut serta dalam gerakan kebudayaan dalam masyarakat
  18. Menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan

Bangsa-bangsa Eropa yang berdiaspora ke Amerika Serikat dan Australia, yang trauma dengan system kepausan yang sewenang-wenang, sangat gencar menyerukan Hak Asasi Manusia. Masalah Hak Asasi Manusia merupakan isu yang sangat sensitif bagi mereka. Mereka akan berdiri melawan dan menentang setiap bentuk penindasan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya.

Kelompok Amerika Serikat ini kita kenal sebagai blok Barat yang berpaham Liberalisme. Ketika mereka hendak meliberalkan seluruh dunia, mereka terhadang oleh blok Timur yang dikepalai oleh Uni Soviet(sekarang: Rusia) dan China yang berpaham Komunisme.

Apa itu Komunisme? Jika paham Liberalisme memberikan kebebasan bagi tiap-tiap orang untuk mengembangkan diri, sebaliknya, Komunisme membatasi kebebasan orang untuk mengembangkan diri. Jika Liberalisme membuka kesempatan kepada orang untuk maju, untuk mencapai cita-citanya, untuk menjadi semakin kaya, dan tidak mustahil seorang petani menjadi presiden, paham Komunisme menetapkan setiap orang berada pada tempatnya masing-masing. Jika dia rakyat, seumur hidupnya tetap rakyat, jika dia bangsawan, seumur hidupnya adalah bangsawan.

Konsekwensi dari paham Liberalisme adalah membiarkan harimau lebih besar daripada kucing; pedagang yang lebih cerdik mengalahkan pedagang yang bodoh, yang modern mengalahkan yang tradisional. Yang punya modal besar memiliki hak yang sama dengan yang punya modal kecil. Supermarket dan mall-mall berdiri bersama dengan pasar tradisional, Alfamart dan Indomart berdiri bersama dengan toko-toko tradisional, Gojek dan Grabbike berdiri bersama dengan ojek-ojek tradisional, taksi-taksi online berdiri bersama dengan taksi-taksi umumnya, Transjakarta berdiri bersama dengan angkutan-angkutan umumnya, calo-calo tiket disingkirkan digantikan dengan Alfamidi dan Indomaret yang berjualan tiket online.

Saya punya uang, saya bisa mendirikan Panti Asuhan, saya isi dengan anak-anak yatim, tidak saya kasih makan, mereka kurus-kurus, saya potret, saya postingkan di media sosial, mengalirlah sumbangan-sumbangan. Semakin kurus semakin menghasilkan banyak sumbangan. Karena itu saya tak perlu mengenyangkan mereka. Dengan kantor yang mewah, penampilan saya meyakinkan orang-orang kaya untuk menyumbang. Ada nomor telepon, ada nomor rekening bank, memudahkan orang mengirimkan uang, maka kalahlah pengemis yang di jalan-jalan, yang pakaiannya kumal dan bau. Jika pengemis asli dapatnya uang recehan, saya bisa mendapatkan ratusan juta dalam sekejap. Dan pemerintah jelas mendukung "pengemis" yang berijin dari kementerian sosial daripada pengemis-pengemis liar di jalanan itu. Karena itu mereka ditangkapi dan masyarakat dianjurkan menyalurkan sumbangannya ke lembaga-lembaga amal.

Apa yang saya bisa lakukan, boleh saya lakukan, berdasarkan paham Liberalisme. Perkampungan yang saya inginkan akan saya beli, saya gusur, lalu saya dirikan perumahan elite. Itulah konsekwensi dari paham Liberalisme. Indonesia telah menandatangani perjanjian AFTA yaitu persaingan bebas antar anggota Asean yang terdiri dari 10 negara, yang mulai berlaku tahun 2015. Dampaknya dirasakan sekali oleh Kapolri, jendral Tito, tahun 2016 terjadi peningkatan kejahatan: "Globalisasi membawa dampak jumlah kejahatan".

Bagaimana tidak menambah angka kejahatan, jika kemakmuran orang diusik sehingga orang menjadi miskin dan serba kekurangan. Ke mana larinya jika hidup semakin tertekan, kalau bukan ke kejahatan sebagai jalan pintasnya? Ada berapa banyak kasus pemukulan, penganiayaan dan pembunuhan driver Gojek oleh tukang-tukang ojek pangkalan?! Para tukang ojek tradisional itu marah dan menyesalkan pemerintahan Jokowi dan Ahok yang cenderung pro pada Gojek dan Grabbike.

Lalu, apakah paham Komunisme lebih baik? Yang pertama, Komunisme itu menganggap agama sebagai racun. Orang tidak diijinkan bertuhan, supaya jangan atas nama tuhan lalu melawan negara. Negara tidak mau dibikin repot oleh ulah ulama-ulama provokator. Setiap orang yang ketahuan beragama akan dihukum. Karena tidak bertuhan, jelas saja Komunisme kurang mengenal adanya kasih sayang. Komunisme melarang orang menggunakan perasaannya, tapi mengenalkan aturan-aturan pemerintah yang harus ditaati. Secara systematis Komunisme melenyapkan kasih

Tahun 1950, Vladimir Lenin, imam agung Komunisme, mempopulerkan slogan: “Agama adalah candu masyarakat. Ganyanglah kasih kepada sesama. Apa yang kita inginkan ialah kebencian. Kita harus belajar bagaimana membenci karena inilah yang memungkinkan kita menaklukkan alam semesta ini.”

Komunisme tidak mengijinkan rakyat mempunyai alat-alat produksi atau mesin-mesin. Karena itu jangan berharap ada rakyat yang mendirikan pabrik-pabrik. Dan rakyat harus melawan tuan tanah dan kapitalis. Orang-orang kaya harus dimusuhi, sebab semua orang harus berada dalam kelas yang sama, sama rata dan sama rasa. Tapi di masa Deng Xiaoping terjadi perubahan besar di mana banyak ajaran-ajaran Komunisme yang disingkirkan, terjadi pembaruan di segala bidang antara tahun 1982-1987. 

Kebaikan dari ideologi komunisme menganggap semua orang itu sama, sehingga dalam ajarannya komunisme memprogramkan tercapainya masyarakat yang makmur dan masyarakat komunis tanpa kelas dan juga mengajarkan teori perjuangan (pertentangan) kelas, misalnya proletariat melawan tuan tanah dan kapitalis.
           
Karena ajarannya itu, banyak rakyat jelata yang miskin sangat tertarik untuk menganut ideologi komunisme tersebut. Hal itu bukan disebabkan karena propaganda ajarannya saja, tetapi juga karena tindakan-tindakan nyata untuk mencukupi kebutuhan material mereka. Contohnya RRC. Rakyat Cina berjumlah lebih dari 1,1 milyar. Kita tidak pernah dengar kelaparan dan ketelanjangan di Cina. Karena komunisme disana mampu memenuhi janji memakmurkan rakyat, komunisme di Cina laku. Namun, supaya tetap laku, komunisme Cina mengalami liberalisasi. Secara fisik dapat mencermati busana pemimpin RRC sekarang, bukan jas tutup lagi seperti Mao Zedong dan Chou En Lai, melainkan jas buka seperti Bill Clinton atau Antony Blair. Dalam bidang ajaran, RRC juga mengadakan lilberalisasi, seperti merebaknya kebebasan beragama dan beribadah. Jadi komunisme asli tidak ada lagi.

Jika Liberalisme dan Komunisme sama-sama bukan ajaran yang baik, maka seperti apakah ajaran Kristen itu? Ajaran Kristen justru mirip dengan ajaran Komunisme. Kita harus membedakan antara Komunisme paham pemerintahan duniawi dengan Komunisme ajaran TUHAN. Bedanya, jika pemerintahan dunia untuk kekuasaan, sedangkan ajaran TUHAN merupakan pola hidup dari mempraktekkan Firman TUHAN.

Komunis itu dari kata komunitas, yaitu perkumpulan dari orang-orang yang sehati, sehingga mereka menjadi sejiwa, sepikir-sejiwa. Ada penyesuaian diri antara seorang terhadap orang yang lainnya. Yang kuat menolong yang lemah, yang besar melindungi yang kecil, bukan karena bisa besar sehingga semakin membesarkan dirinya, bukan karena bisa kuat sehingga semakin menguatkan dirinya. Dalam komunitas tidak ada perlombaan, yang ada keseimbangan;

Kisah
2:44Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
2:45dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
2:46Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
2:47sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Kisah
4:32Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
4:33Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
4:34Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Karena itu kalaupun saya mempunyai modal untuk mendirikan toko yang besar dan menjual barang dengan harga miring, itu takkan saya lakukan, melainkan saya akan membuka toko dengan menyesuaikan diri terhadap toko-toko yang ada di sekitar saya. Saya tidak akan menyaingi orang, tidak akan merampas rejeki orang.

Atau, kalau saya mempunyai kepandaian teknologi seperti Nadiem Makarim, pendiri Gojek, saya takkan membuat usaha Gojek, yang sekiranya menimbulkan polemik yang mengguncangkan pangannya tukang ojek pangkalan. Ilmu itu harus saya manfaatkan untuk bidang usaha yang lainnya, yang tidak merugikan orang lain, atau ilmu itu akan saya buang jika saya pandang jahat. Sebab kita harus menyadari bahwa tidak semua ilmu itu baik. Lebih baik bodoh berpahala daripada pintar menjadi penghuni neraka.

Dengan adanya contoh kehidupan para pengikut JALAN TUHAN sebagaimana di Kisah pasal 2 dan 4 di atas, jelas Kristen itu menentang paham Liberalisme. Kristen takkan membiarkan para tengkulak bahan kebutuhan pokok mempermainkan harga beras, harga gula, harga cabe, harga telor, dan hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak menaikkan harga semau-maunya sendiri. Pemerintahan Kristen pasti akan menjaga kestabilan harga dan menolak globalisasi jika globalisasi itu akan memelaratkan rakyatnya.

Satu bangsa, satu negara, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Takkan ada persaingan antar tetangga, yang satu makin kaya, yang lainnya makin miskin. Yang satu rumahnya mentereng yang lainnya rumahnya gubug derita. Yang punya anak banyak dengan yang punya anak sedikit gajinya sama, sehingga yang banyak anak hidupnya megap-megap sedangkan yang sedikit anak hidupnya berkelimpahan. Memangnya anak-anak itu titipan Siapa? Memangnya anak-anak itu tidak boleh hidup enak dan makan enak? Itulah model keadilan sama rata. Sama kedudukannya sama gajinya, mengabaikan jiwa-jiwanya. Orang dinilai dari kepandaiannya bukan dari kemanusiaannya. Yang pandai itulah yang manusia, yang bodoh itu kucing. Yang direktur itu manusia, yang tukang sapu itu anjing. Apakah seperti itu rancangan TUHAN?! Tidak! TUHAN justru sering memakai orang-orang kecil, para nelayan sederhana, untuk dijadikan nabiNYA. TUHAN bukan melihat orang dari penampilannya, melainkan dari hatinya. Tak guna penampilan necis jika korupsi, masih lebih bagus yang berjiwa sosial sekalipun penampilannya sederhana.

Sebab sebuah mobil itu dibangun dari berbagai bahan, ada plastik, ada karet, dan ada besi, tidak semuanya besi. Ada bagian yang besar, ada bagian yang kecil, semuanya penting. Demikian pula dalam sebuah perusahaan, apa artinya direktur jika tanpa buruh, apa artinya perusahaan itu jika tanpa tukang sapu. Jika tukang sapu bukan hal yang penting, jangan memakai tukang sapu, daripada tukang sapu digaji sedikit dan hidup serba kekurangan. Jangan sampai sama perut beda isinya. Perutnya direktur isinya ayam goreng, perut tukang sapu isinya nasi basi. Jangan sampai orang makan ayam, pengemis makan ikan asin. Apakah TUHAN membedakan orang seperti itu?

Saya mengucap syukur, sebab saya dengar tukang sampah sekarang ini sudah digaji standart UMR. Itu artinya mereka sudah mulai dihargai sebagai sesama buruh. Sebuah langkah maju. Tapi kapan giliran gelandangan dan pengemis dihargai sebagai manusia, bagian dari negeri ini?! Kapan semua jiwa di negeri ini menjadi manusia?!

Hasil gambar untuk gambar monyet


Tidak ada komentar: