Sabtu, 24 Juni 2017

SAYA BUKAN INDONESIA, BUKAN PANCASILA

Ketika ada selentingan dari masyarakat yang menuding Jokowi PKI, Jokowi langsung bereaksi dengan berkata: "Saya Indonesia, saya Pancasila!" Maka kata-kata "saya Indonesia, saya Pancasila"-pun akhirnya menjadi viral di berbagai media massa. Tapi, apakah PKI bukan Indonesia dan bukan Pancasila, jika kelahirannya malah mendahului Indonesia dan Pancasila, yakni lahir tahun 1914, sementara Indonesia dan Pancasila baru lahir di tahun 1945. Bukankah ada kata-kata "Indonesia"-nya di singkatan PKI itu - Partai Komunis Indonesia?! Karena termasuk Indonesia, maka PKI juga Pancasilais, sebagaimana partai-partai politik lainnya yang ada di Indonesia ini. Cuma masalahnya pada tanggal 12 Maret 1966, sehari setelah munculnya surat "misterius": SUPERSEMAR, Surat Perintah Sebelas Maret, yang mengesankan seolah-olah presiden Soekarno memberikan mandat kepada Soeharto untuk membubarkan PKI, maka pada hari itulah PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang.

Tapi itu 'kan masalah politik, bukan kebenaran?! PKI dianggap setan, seolah-olah Indonesia dan Pancasila lebih malaikat. Padahal saat ini ada 190.000 orang Indonesia yang dipenjarakan karena berbagai macam kasus. Ada kasus pembunuhan, ketika dilihat KTP-nya, KTP Indonesia. Ada kasus copet, maling ayam, perkosaan, perampokan, hingga korupsi, yang semuanya dilakukan oleh orang yang ber-KTP Indonesia. Bahkan barusan ada bom teroris Kampung Melayu, ada perampokan sadis di Pulomas yang memakan korban 6 jiwa, ada gubernur Bengkulu bersama istrinya yang ditangkap KPK karena kasus suap, dan semua pelakunya adalah orang-orang Indonesia.

Dan yang lebih menghebohkan lagi, Novel Baswedan, seorang yang gigih memberantas korupsi mukanya disiram air keras, lalu anggota DPR-RI yang terlibat kasus e-KTP kini ramai-ramai membentuk Pansus hak angket untuk menggembosi KPK, lembaga antikorupsi termegah di Indonesia. Juga ada Ahok yang dihukum karena dianggap menghina Islam, selain dari seorang habib FPI yang sedang melarikan diri karena kasus porno. Dengan kata lain orang Indonesia adalah orang-orang yang tidak semuanya baik. Malah kebanyakannya adalah orang-orang yang tidak baik dan tidak bijaksana, yang bisa kita lihat dari tingkah laku anggota DPR-nya yang merupakan pilihan rakyat.

Kalau rumput habis tandanya dimakan kambing, kalau jagung habis tandanya dimakan ayam, demikianlah anggota DPR yang amburadul menyatakan amburadulnya para pemilihnya. "Orang begitu koq dipilih menjadi anggota DPR?" Itu tandanya nggak pandai memilih.

Apakah saya orang Indonesia? Kebenaran menyatakan bahwa saya bukan orang Indonesia. Saya orang dunia, bukan orang Indonesia. Artinya, semua orang, semua bangsa, semua negara adalah sesama saya. Orang Malaysia, orang Australia, orang Jepang, orang Amerika, orang Negro hingga orang Etiopia adalah sesama saya. Siapa saja yang memerlukan pertolongan saya wajib saya tolong tanpa memandang muka, apakah dia bermuka Indonesia atau bermuka Argentina. Jika orang Indonesia salah, ya salah, jika orang Belanda benar, ya benar. Kebenaran berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan kewarganegaraannya.

Itulah ajaran yang saya terima dari TUHAN saya, yang lebih baik, lebih mulia dan lebih benar dibandingkan dengan ajaran "saya Indonesia, saya Pancasila". Bahwa manusia jangan dibeda-bedakan berdasarkan kewilayahannya. Dan manakala ada gas LPG yang lebih baik dari kompor minyak tanah, maka kompor minyak tanah sudah tidak berlaku lagi. Jika ada ajaran yang lebih baik, maka ajaran yang kurang baik harus ditinggalkan, tidak dipakai lagi.

Bukankah saya lahir di Indonesia? Bukan! Saya lahir di kota Surabaya, bukan di Indonesia. Indonesia itu anak ingusan yang baru lahir tahun 1945, sedangkan kota Surabaya sudah ada sejak tahun 1293 berdasarkan UU Nomor 12/1950. Negara Indonesia mengakui keberadaan kota Surabaya itu sejak tanggal 31 Mei 1293. Di tahun itu kota Surabaya termasuk wilayah kerajaan Singasari, bukan Indonesia.

Jika temuan prasasti tertua menunjukkan angka tahun 1293, itu artinya ada sejarah yang hilang selama 1293 tahun, dihitung dari tahun 0. Kebenaran harus berpusat pada titik awalnya sebagaimana sebuah mobil selalu disertai dengan kronologis pembeliannya, siapa pembeli pertamanya. Dan kebenaran menyatakan bahwa Pemilik asli kota Surabaya adalah ELOHIM YAHWEH, Pencipta sekalian alam.

Tahun 1293 Surabaya dikuasai oleh kerajaan Singasari, tahun 1595 dikuasai oleh Belanda, tahun 1926 Belanda menetapkan Surabaya sebagai ibukota propinsi Jawa Timur. Jadi, sebelum Indonesia menguasai Surabaya pada tahun 1945, Surabaya adalah milik Belanda. Artinya, ada peristiwa pergantian penguasanya, sehingga Surabaya tidak mesti milik Indonesia. Siapa tahu kelak ada negara Jawa Timur, sebagaimana Xanana Gusmao yang berhasil melepaskan Timor Timur dari NKRI atau Hasan Tiro yang memperjuangkan kemerdekaan Aceh, atau Filep Karma yang memperjuangkan kemerdekaan Papua? Itu artinya daerah-daerah itu memiliki anggapan bahwa Indonesia adalah penjajah mereka sebagaimana Belanda, Inggris dan Jepang yang suka kita sebut penjajah.

Pemerintah Belanda yang tidak rela meninggalkan Indonesia sempat membentuk Negara Jawa Timur pada tanggal 26 November 1948, sesuai dengan kesepakatan Konferensi Meja Bundar di mana disarankan supaya Indonesia tidak menjadi negara kesatuan sebagaimana sekarang ini, tapi berbentuk Republik Indonesia Serikat(1949-1950), sebagai bagian dari Republik Otonomi Belanda. Dan Republik Indonesia Serikat itu dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1950. Artinya, Soekarno secara mati-matian mengusahakan Indonesia republik yang berdaulat.

Jadi, Surabaya adalah milik ELOHIM YAHWEH yang dikuasai oleh Indonesia, sebuah negara yang tidak berbangsa(tidak mempunyai kebangsaan). Bandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki kebangsaan sendiri, seperti Jepang berbangsa Jepang, China berbangsa China. Tapi Indonesia terdiri dari berbagai macam suku. - Bhineka Tunggal Ika. Berbagai macam suku itu disatukan menjadi bangsa Indonesia. Bangsa apakah itu? Apakah bangsa yang berkulit macan?

Kalau terjadi perkawinan campur, seperti Jawa dengan Batak, atau Ambon dengan Minang, barulah lahir bangsa Indonesia - Bhineka Tunggal Ika. Itulah anak-anak Indonesia, yaitu anak-anak hasil perkawinan campur. Tapi sayangnya, umumnya masing-masing suku berkeberatan mengikat perkawinan dengan suku lainnya. Bhineka masih sulit ditunggalika-kan.

Karena penggalian kebenaran memberikan kenyataan bahwa kota Surabaya itu bukan milik kerajaan Singasari, bukan milik Belanda maupun Indonesia, melainkan milik ELOHIM YAHWEH, maka saya adalah warga negara Kerajaan ELOHIM YAHWEH. Kepada DIA saja saya ini berbhakti dan melaksanakan ajaran-ajaranNYA. Tanah ini adalah tanahNYA. DIA-lah yang melahirkan saya, membesarkan saya dan menghidupi saya.

Saya tidak mungkin menerima Indonesia dan Pancasila, sebab Indonesia mengajarkan bahwa semua agama dan semua tuhan adalah sama, sejajar! Indonesia tidak mengakui YESHUA ha MASHIA sebagai satu-satunya JALAN dan KEBENARAN dan HIDUP, tidak mengakui KEJURUSELAMATAN dan KETUHANANNYA. Falsafah hidup saya berdasarkan DASASILA, bukan Pancasila; 10 Hukum ELOHIM YAHWEH, bukan 5 hukum Pancasila.

Hukum yang ke-1: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Hukum yang ke-2: Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

Hukum yang ke-3: Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Hukum yang ke-4: Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat

Hukum yang ke-5: Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Hukum yang ke-6: Jangan membunuh.

Hukum yang ke-7: Jangan berzinah.

Hukum yang ke-8: Jangan mencuri.

Hukum yang ke-9: Jangan bersaksi dusta.

Hukum yang ke-10: Jangan menginginkan milik orang lain.

Saya tidak mungkin Indonesia dengan kewajiban membela dan mempertahankan NKRI, sebab semua bangsa adalah sesama manusia yang berdiri sejajar yang harus saya kasihi sekalipun mereka memusuhi saya. Saya tidak mungkin berperang melawan Malaysia, sekalipun Malaysia melakukan kejahatan terhadap Indonesia. Saya tidak mungkin membenci Belanda atau Jepang, yang disebut penjajah. Jangankan untuk angkat senjata terhadap mereka, mencubit atau merugikan merekapun jangan sampai saya lakukan.

Matius
5:43Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Saya tidak mungkin seperti orang Indonesia, yang ketika menjadi presiden menekan perekonomian rakyatnya dengan menaikkan harga-harga dan mencabut subsidi-subsidi. Saya tidak mungkin seperti orang Indonesia, yang ketika menjadi anggota DPR membuat kegaduhan nasional, yang ketika menjadi gubernur melakukan suap, yang ketika menjadi hakim memutuskan perkara secara tidak adil, yang ketika menjadi habib melakukan chat porno lalu kabur sebagai buronan, yang ketika menjadi polisi menjual surat tilang, atau ketika menjadi tentara main tembak sembarangan.

Jika mobil  rusak saja dibawa ke bengkel untuk diperbaiki, bagaimana seorang presiden membiarkan penjara yang disebut dengan Lembaga Pemasyarakatan, yang harusnya memperbaiki akhlak manusia yang rusak, malah menjadikan orang semakin jahat?! Penjara malah merupakan sekolah kejahatan yang memproduksi setan-setan. Orang keluar penjara harusnya menjadi orang yang lebih baik, seperti mobil yang keluar dari bengkel. Tapi pemerintah memperlakukan penjara sebagai tong sampah, tempat manusia buangan. Tak ada perhatian, tak ada anggaran yang baik. Anggaran untuk penjara minim, sedangkan untuk pembangunan infrastruktur diperjuangkan sekalipun harus melanggar janji kampanyenya yang takkan berutang.

Dalam 2,5 tahun pemerintahan Jokowi telah timbul utang senilai 3.600 trilyun, setara dengan 5 tahun pemerintahan SBY atau lebih mengerikan dari pemerintahan Orde Baru selama 30 tahun. Itu artinya rakyat harus siap menanggung kenaikan pajak, kenaikan cukai rokok, kenaikan harga BBM, kenaikan harga pupuk dan kenaikan tarip listrik, sebab itulah sumber pendanaan pemerintah yang paling efektif, paling gampang.

>> Utang Orde Baru Rp. 1.723 Trilyun.

>> Utang SBY Rp. 2.532 Trilyun.

>> Utang Jokowi Rp. 3.466 Trilyun.

Melawan kenaikan harga, tembak di tempat!

Hasil gambar untuk utang jokowi

Tidak ada komentar: