Rabu, 26 Juli 2017

AHOK - MEREKA AKAN DIUSIR DARI RUSUN

"Pak Pengelola Rusun, Tunggu Saja Saya 3-5 Tahun Lagi Tutup Usia..." harap nek Mimi, 70 tahun yang tinggal di rumah susun Daan Mogot, Jakarta Barat, buah karya gubernur Ahok yang mengusir-ngusir fakir miskin dan rakyat terlantar yang menurut UUD 1945 pasal 34 wajib dipelihara oleh negara, bukan untuk dijadikan barang mainan pemuas nafsu ambisius mengejar popularitas murahan. 

Bersyukurlah Ahok kini bisa tinggal gratis di Mako Brimob, sebab orang-orang yang dibuang Ahok ke rumah susun-rumah susun pusing tujuh keliling karena kehilangan pekerjaan dan dikejar-kejar pembayaran uang sewa rusun. Kampung-kampung mereka yang lama yang telah mereka tinggalkan, mungkin sekarang tidak lagi banjir, tapi di rusun-rusun inilah terjadi kebanjiran air mata. 

Seorang penyanyi, Giring Ganesha, menyempatkan diri ke rusun-rusun yang dikabarkan penghuninya terancam diusir, mendapati bahwa mereka tidak sampai diusir oleh sebab Ahok yang membayari tunggakan mereka. Lho koq aneh? Mana boleh begitu? Ahok sebagai gubernur mengusir mereka, tapi sebagai pribadi menolong mereka membayari sewa rusun. Mengapa terjadi kepribadian ganda begitu? Apakah Ahok sedang menyesalkan kekejamannya sebagai gubernur? Apakah keputusan penggusuran itu sebuah emosi atau kekhilafan? Jika keputusan gubernur sebagai kekhilafan, itu harus diselesaikan secara hukum dan harus siap menghadapi sanksinya, sama seperti kekhilafan maling yang ada konsekwensinya dipenjarakan. Mana bisa diselesaikan secara rahasia seperti itu? - Sorry, saya terpaksa harus menyatakan bahwa AHOK BRENGSEK!

Kejutan yang kedua di hari ini; tentang dugaan korupsi di Sumber Waras. Dulu, ketika masih menjabat gubernur, Ahok menyatakan tidak ada kesalahan dengan pembelian lahan rumahsakit itu. Karena itu Ahok tidak mau disebut telah merugikan negara ratusan milyar. Tapi kini, Djarot, yang menggantikan kedudukannya, menyatakan siap mengganti kerugian tersebut. Hah?! Ada apa, ya?! Apa sebenarnya yang tengah terjadi di kalangan elite negeri ini? Mengapa Luhut sampai memperingatkan calon gubernur yang baru; Anies Baswedan supaya jangan membatalkan reklamasi? Kenapa? Ada apa? Apakah ada "gerombolan" di istana?

"Pak Pengelola Rusun, Tunggu Saja Saya 3-5 Tahun Lagi Tutup Usia..."

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/26/07002051/-pak-pengelola-rusun-tunggu-saja-saya-3-5-tahun-lagi-tutup-usia--

Siti Bunga atau Nek Mimi, penghuni rusunawa Pesakih yang hidup seorang diri, Selasa (25/7/2017).


JAKARTA, KOMPAS.com - Kesulitan membayar biaya sewa bulananrusun Pesakih, Daan Mogot, Jakarta Barat dirasakan oleh salah satu penghuni yaitu Siti Bunga (70). Wanita paruh baya yang akrab disapa Nek Mimi itu tinggal seorang diri.
Nek Mimi merupakan salah satu penghuni rusun imbas penggusuran di Muara Angke. Ia hidup sebatang kara di rusun Pesakih Blok B/210 dan telah menunggak biaya sewa rusun. 
"Nunggaknya sudah terhitung sejak Juni 2016, berarti ya sudah 13 bulan ini," ujar Nek Mimi saat ditemui Kompas.com di unitnya, Selasa (25/7/2017).
Ia merantau ke Jakarta sejak 1977 dengan membawa kedua anaknya. Sementara itu, sudah lebih dari 3 bulan kedua anaknya tidak ada yang menjenguk.

Nek Mimi mengaku tidak ada satu pun dari anaknya yang mengetahui dan mau mengurus tunggakan rusun yang dihuninya.
"Dari lebaran kemarin sudah enggak dikunjungi lagi, ke sini juga enggak nitipin uang," ujarnya.
Salah satu anaknya yang telah menikah sudah mengajaknya tinggal bersama, namun Nek Mimi segan merepotkan apabila harus tinggal di rumah keluarga menantunya.
Kini ia hidup sendiri dari penghasilan serabutan seperti membentuk kardus kue, membantu pekerjaan rumah tangga para tetangga hingga memijat.
"Tiap hari ada aja rejekinya kalau enggak lagi ngerjain kardus. Ada yang minta dipijet apa dibantu kupas-kupas bahan makanan," ujar Nek Mimi, sambil tersenyum.Nek Mimi mengaku tidak ada satu pun dari anaknya yang mengetahui dan mau mengurus tunggakan rusun yang dihuninya.
"Dari lebaran kemarin sudah enggak dikunjungi lagi, ke sini juga enggak nitipin uang," ujarnya.
Salah satu anaknya yang telah menikah sudah mengajaknya tinggal bersama, namun Nek Mimi segan merepotkan apabila harus tinggal di rumah keluarga menantunya.
Kini ia hidup sendiri dari penghasilan serabutan seperti membentuk kardus kue, membantu pekerjaan rumah tangga para tetangga hingga memijat.
"Tiap hari ada aja rejekinya kalau enggak lagi ngerjain kardus. Ada yang minta dipijet apa dibantu kupas-kupas bahan makanan," ujar Nek Mimi, sambil tersenyum.

Penghasilannya dalam 20 hari membentuk kardus kue sebanyak 8 karung hanya sebesar Rp 40 ribu saja.
Sementara untuk kesehariannya, Nenek Mimi kerap mendapatkan tawaran membantu pekerjaan rumah tangga dari sesama penghuni rusun.
Ingin Tinggal di Rusun hingga tutup usia
Harga sewa rusun sebesar 300 ribu rupiah per bulannya dirasa Nek Mimi terlalu besar untuk dirinya yang tinggal seorang diri dan tanpa pekerjaan serta pemasukan yang jelas.
Keringanan serta toleransi masih diberikan oleh pihak pengelola kepada Nek Mimi. Meskipun pintu unit rusunnya telah ditempeli stiker "disegel", Nek Mimi berharap untuk bisa terus ada di rusunawa Pesakih hingga tutup usia nanti.
"Saya sering minta tolong untuk diundur tempo bayar tunggakannya. Pak pengelola, tunggu saya saja paling 3-5 tahun lagi juga tutup usia. Kalau bisa saya mau tinggal disini hingga tutup usia," tutur Nek Mimi.
Sebelumnya Nek Mimi dikatakan akan menerima bantuan dari sebuah yayasan sosial berupa pelunasan tunggakan sewa rusun selama 9 bulan. Namun, hingga saat ini bantuan tersebut belum juga ia dapatkan.

Tunggakan Sewa Rusun Pesakih Mencapai Rp Rp 669 Juta

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/26/05320011/tunggakan-sewa-rusun-pesakih-mencapai-rp-rp-669-juta

JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah tunggakan penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa Daan Mogot atau Pesakih, Jakarta Barat, hingga Juni 2017 mencapai Rp 669.811.660. Angka itu berasal dari tunggakan 447 penghuni dari total 640 penghuni unit rusunawa Pesakih.
Kasubag Tata Usaha Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Kecamatan Tambora, Fauzi menyatakan bahwa maksimal toleransi tunggakan adalah tiga bulan. Jika hingga batas waktu yang ditetapkan tidak dilunasi, maka penghuni akan mendapatkan teguran tertulis.
"Setelah tiga bulan lewat masa tenggang, baru kami kasih surat teguran pertama, dan seterusnya ditegur," ujar Fauzi, di Kantor UPRS Rusunawa Pesakih, Selasa (25/07/2017).

Menurut Fauzi, kesadaran penghuni membayar biaya sewa rusun masih rendah dan beralasan kondisi di rusun dan sekitarnya membuat mereka sulit mencari penghasilan untuk membayar sewa.
"Kalau yang kerjanya serabutan atau buruh kan susah, beda ceritanya yang buka usaha," ujar Fauzi.
Dengan pertimbangan itu, Fauzi menyatakan belum ada rencana memberi sanksi pada penghuni keluar dari rusun kecuali terlibat kasus kriminal, berbuat asusila dan narkoba.

Cerita Cerobong Sampah di Rusun Pesakih 

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/21/16412431/cerita-cerobong-sampah-di-rusun-pesakih--

Ketua RT Blok B Rusun Pesakih, Jakarta Barat saat menunjukkan pintu cerobong sampah di lantai 3 gedung, Jumat (21/7/2017).

PELAJARAN JOROK DI RUMAH SUSUN:

JAKARTA, KOMPAS.com - Rusunawa ( Rumah Susun Sederhana Sewa) Pesakih yang terletak di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat terdiri dari delapan blok hunian yang masing-masing terdiri dari lima lantai ditambah satu lantai dasar sebagai lahan usaha warga.
Masing-masih blok rusun terdiri dari 80 unit hunian. Jadi jika dihitung secara keseluruhan, ada sebanyak 640 unit rumah hunian di Rusun Pesakih. Artinya sebanyak 640 KK dengan jumlah anggota keluarga yang bervariasi tinggal di kawasan ini.
Bisa dibayangkan berapa banyak sampah rumah tangga yang dihasilkan oleh warga rusun ini setiap harinya. Lalu bagaimana pula cara warga rusun membuang sampah rumah tangga tersebut, terutama yang tinggal di lantai atas?
Cerobong sampah
Untuk membuang sampah rumah tangga, warga rusun yang berada di lantai atas tak perlu repot-repot menuruni tangga dengan membawa sampah yang berat. Di setiap blok rusun ini sudah disediakan saluran pembuangan sampah atau sering disebut cerobong sampah.
"Setiap blok ada dua cerobong sampah di sisi kanan dan kiri bangunan rusun," ujar Koordinator kebersihan rusun, Waryono ketika ditemui Kompas.com, Jumat (21/7/2017).
Waryono mengatakan, di setiap lantai rusun disediakan pintu kecil untuk memasukkan sampah.
"Nanti dari lantai atas sampah-sampah itu akan langsung jatuh ke dasar cerobong. Di dasar cerobong juga ada pintu kecil untuk mengambil sampah nantinya," paparnya.
Ia mengatakan, dua kali dalam seminggu petugas kebersihan rusun akan membuka pintu pasar cerobong sampah dan mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir.

Tembok dasar cerobong sampah blok I Rusun Pesakih, Jakarta Barat yang jebol akibat kelebihan muatan. Foto diambil pada Jumat (21/7/2017).
 Tembok dasar cerobong sampah blok I Rusun Pesakih, Jakarta Barat yang jebol akibat kelebihan muatan. Foto diambil pada Jumat (21/7/2017).

Sempat jebol
Waryono mengatakan, tembok dasar cerobong sampah Rusun Pesakih sempat jebol beberapa kali. Ia menduga jebolnya tembok cerobong disebabkan karena beratnya beban sampah.
"Jadi saking beratnya, belum sempat buka pintu sampah eh temboknya udah jebol duluan," ujarnya.
Tembok sampah di blok I rusun merupakan salah satu tembok sampah yang jebol saat libur lebaran beberapa waktu yang lalu.
"Jadi karena waktu lebaran kan ngambil sampahnya cuma seminggu sekali, jadi numpuk sampahnya, jadinya jebol," kata dia.
Kejadian yang sama juga terjadi di tembok dasar cerobong sampah di blok B dan A rusun. Namun di kedua blok ini kerusakan tembok sudah diperbaiki.
"Nah untuk blok I ini belum diperbaiki, jadi untuk sementara di blok I cuma mengandalkan satu cerobong sampah saja," ucapnya.
Ia mengatakan, pihaknya telah mengusulkan kepada pihak UPRS (Unit Pengelola Rumah Susun) untuk mengatur ulang jadwal pengambilan sampah.
"Kami harap ini (sampah rumah tangga) bisa diambil 3 sampai 4 kali seminggu. Jadi enggak sampai keberatan nanti temboknya," ujarnya.

Kios Belum Tersedia, Warga Rusun Pesakih Berjualan di Dalam Hunian

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/21/13522341/kios-belum-tersedia-warga-rusun-pesakih-berjualan-di-dalam-hunian

Ketua RT blok B Rusunawa Pesakih, Rover (kiri) saat ditemui, Jumat (21/7/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski telah disediakan lahan usaha di lantai dasar, sejumlah warga rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Pesakih, Kalideres, Jakarta Barat, memilih berjualan di dalam huniannya.
Kondisi itu terlihat di sejumlah hunian yang terletak di blok B Rusun Pesakih. Ruang hunian semakin terlihat sempit karena banyaknya barang dagangan.
"Jadi sebenarnya yang ruang hunian begini enggak boleh dipakai buat jualan. Tapi gimana, mereka kalau jualan di bawah takut barang dagangannya hilang kalau malam," ujar Ketua RT Blok B Rusun Pesakih, Rover, saat ditemui Kompas.com, Jumat (21/7/2017).
Di lantai dasar setiap blok rusun tersebut, terdapat sejumlah lapak pedagang tanpa penyeka. Barang dagangan digelar di meja-meja dan etalase, lengkap dengan meja dan bangku untuk melayani pembeli.
"Kalau malmm barang-barang kami cuma ditutup terpal. Kalau saya tinggalnya di lantai tiga," ujar seorang pedagang di lokasi tersebut, Ros.
Seorang pedagang lain, Lin, pun menggelar dagangannya dengan cara yang sama meski sempat terjadi peristiwa kehilangan barang dagangan.
"Ya ada kabar-kabar hilang dagangannya begitu. Ya kurang merasa aman juga sih, apalagi saya tinggalnya di atas, dagangan di bawah," kata dia.
Menurut Lin, sejauh ini pengelola rusun telah menjanjikan pembangunan kios-kios dengan pintu gulung di area tersebut.
"Sudah di petak-petak mau dibangun. Tapi enggak tau mulainya kapan. Sebenarnya kalau ada kios lebih enak jualan di bawah begini daripada di atas," ucapnya.

Warga Rusun Pesakih Keluhkan Pembagian Modal Usaha

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/21/13143061/warga-rusun-pesakih-keluhkan-pembagian-modal-usaha

JAKARTA, KOMPAS.com - Rover, warga sekaligus ketua ketua RT blok B Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) Pesakih, Kalideres, Jakarta Barat, mengatakan, banyak penghuni yang tak mampu membayar uang sewa rusun. Ia mengatakan, ketidakmampuan penghuni membayar sewa membuat warga tersebut tak mendapatkan modal usaha dari Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) DKI.
"Kalau begini kan yang terpuruk semakin terpuruk. Kalau yang bisa lancar bayar kan udah lumayan ekonominya," ujar dia ketika ditemui Kompas.com, Jumat (21/7/2017).
Ia menilai, pemberian modal usaha sebesar Rp 2 juta untuk warga rusunawa saat ini belum tepat sasaran.
"Ada warga yang sekeluarga sudah jadi PHL (Pekerja Harian Lepas) semua justru dapat modal. Tapi ada yang janda tua enggak bisa bayar sewa malah tidak dapat modal," kata dia.
Ia mengatakan, ketidakmampuan sejumlah warga membayar biaya sewa rusun bukan tanpa alasan. Setelah dipindahkan dari bantaran Kaliapuran, Kapuk, Cengkareng sebagian warganya kehilangan mata pencaharian.
"Jadi warga bingung, kalau pas di Kapuk kan masih ada yang bisa kerja bongkar muat, di sini mau kerja apa, belum dipikirkan. Yang laki-laki lulusan SD mau kerja apa di sini," kata dia.
Dia menambahkan, sebenarnya sudah ada berbagai pelatihan kerja yang dilakukan Dinas Koperasi dan UMKM. Namun sayangnya pelatihan tersebut tak ada kelanjutannya.
"Ada latihan jahit, ada bantuan etalase. Tapi gak ada modal usahanya. Ada latihan nyetir tapi lulusannya cuma SD, susah cari kerja. Bagaimana mau dijadikan sumber penghasilan," kata dia.
Ia berharap pemerintah provinsi memikirkan berbagai keluhan perekonomian warga rusun dan lebih bijak dalam membuat kebijakan.

Tunggakan Sewa Unit di 3 Rusun Wilayah Jakbar Capai Rp 1 Miliar Lebih

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/24/20084821/tunggakan-sewa-unit-di-3-rusun-wilayah-jakbar-capai-rp-1-miliar-lebih

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasubag Tata Usaha Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Tambora, Fauzi, menyampaikan, hingga Juni 2017, tunggakan penghuni tiga rusun yang dikelola UPRS Tambora mencapai Rp 1.779.132.145.
"Rinciannya, Rusun Tambora Rp 961.686.085, Rusun Daan Mogot atau Pesakih Rp 669.811.660, dan Rusun Flamboyan Rp 147.634.390," kata Fauzi kepada Kompas.com, Senin (24/7/2017).

Menurut dia, kesadaran penghuni rusun akan kewajibannya, terutama terkait pembayaran sewa unit rusun masih kurang.
Terkait masalah ini, kata Fauzi, UPRS Tambora telah menjalin komunikasi dengan para warga rusun yang menunggak pembayaran. "Komunikasi itu berupa komunikasi lisan dan teguran tertulis," ucap dia.
Selain kurangnya kesadaran untuk membayar sewa, Fauzi mengatakan bahwa kesadaran warga rusun dalam menjaga kebersihan masih kurang. Hal ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi pihak pengelola rusun.
"Untuk hal ini kami telah berkoordinasi dengan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) untuk memberikan pendampingan berupa sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat," kata dia.


7 Unit di Rusun Cipinang Muara Disegel

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/20/20373551/7-unit-di-rusun-cipinang-muara-disegel-

JAKARTA, KOMPAS.com - Pihak Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Cipinang menyegel tujuh unit di Rusun Cipinang Muara karena penghuni unit menunggak pembayaran retribusi.
Mereka yang unitnya disegel menunggak pembayaran mulai dari tujuh bulan hingga 20 bulan.

Kepala UPRS Cipinang Septalina Purba mengatakan, walaupun melakukan penyegelan, pihaknya tidak mengusir penghuni.
Pihaknya akan menelusuri terlebih dahulu penyebab penghuni menunggak retribusi. "Kita akan lihat apakah mereka benar-benar tidak mampu atau sengaja menunggak," kata Septalina, Kamis (20/7/2017).
Ia menyampaikan, berdasarkan aturan, penyegelan akan dilanjutkan pemberian peringatan pertama. 

Sepekan kemudian, akan dilayangkan peringatan dua dan tiga hari setelahnya bisa dilakukan penggembokan.
"Nanti akan kita evaluasi dulu lanjutannya. Yang disegel enam di Blok Pengajaran dan satu di Blok Pendidikan dengan total nilai tunggakan sekitar Rp 31 juta," kata dia.

Heboh Kabar Penghuni Rusun Nunggak Sewa Diusir, Giring Nidji ke TKP dan Tahu Fakta Bahwa Ahok. . .


http://style.tribunnews.com/2017/01/20/heboh-kabar-penghuni-rusun-nunggak-sewa-diusir-giring-nidji-ke-tkp-dan-tahu-fakta-bahwa-ahok

Heboh Kabar Penghuni Rusun Nunggak Sewa Diusir, Giring Nidji ke TKP dan Tahu Fakta Bahwa Ahok. . .


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyanyi Giring Ganesha mengisahkan dirinya sempat bertandang ke Rusun Jatinegara Barat, Jakarta.
Hal itu dilakukan vokalis grup band Nidji tersebut setelah mendengar kabar mengenai penghuni rusun yang diusir lantaran tak mampu membayar sewa.
"Waktu itu, saya pernah ke Rusun Jatinegara Barat. Saya datang ke sana iseng karena saya baca di Facebook, katanya, warga yang nggak mampu, lansia, pada di-kick out semua. Saya datang, dong. Itu, di Facebook, teman saya maki-maki pemerintah. Saya nggak mau komentar, nggak mau apa, saya mau lihat langsung," tuturnya mula-mula ketika ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Demi memenuhi keingintahuannya akan kebenaran kabar tersebut, setelah tiba, Giring pun menanyakan pada petugas di sana mengenai nasib penghuni rusun yang kediamannya disegel lantaran belum membayar sewa.
"Saya datang langsung. Saya tanya, 'Memang benar?' 'Ya benar, kalau nggak bayar, dikasih segel bahwa belum bayar.' 'Terus, kalau nggak bisa bayar, gimana?' 'Yang muda-muda pasti bisa bayar karena kerja.' 'Terus, yang tua-tua, lansia, yang udah nggak bisa kerja, gimana?'" ucap Giring menirukan pembicaraannya dengan si petugas saat itu.
Tak disangka, petugas tersebut memberi tahu bahwa Gubernur DKI Jakarta nonaktif alias Ahoklah yang membayar sewa bagi para lansia yang tak lagi mampu bekerja.
"Tahu, nggak, siapa yang biayai? Pak Ahok. Pakai duitnya sendiri. Itu orang dinas yang lagi jaga di situ yang bilang," ujar Giring.
Sayangnya, Giring memilih untuk tak menyebarluaskan apa yang diketahuinya tersebut melalui media sosial untuk mengklarifikasi kabar yang beredar.
"Nggak. (Kalau posting untuk klarifikasi), nanti makin panas. Jadi mendingan, ya, udahlah, mendingan saya tahu secara pribadi saya aja," kata Giring.
Setelahnya, ia pun menunjukkan foto-foto yang sempat diambilnya ketika bertandang ke Rusun Jatinegara Barat.
"Mending saya kasih lihat fotonya ajalah. Bayangin, dikasih dokter gigi gratis, kesehatan gratis. Di sini, orang beli daging Rp 30 ribu. Bersih. Lantai dua nanti dipakai untuk jualan. Ada perpustakaan, ini gratis, nih," papar Giring sambil menunjukkan foto-foto terkait.
Kembalikan Kerugian Sumber Waras, Djarot Gali Kuburan Buat Ahok

http://www.teropongsenayan.com/67211-kembalikan-kerugian-sumber-waras-djarot-gali-kuburan-buat-ahok

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Pernyataan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat, yang akan mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 191 miliar dalam kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras (RSSW), menuai polemik baru.
Orang nomor satu di Ibu Kota itu dinilai tengah 'menggali kubur' untuk mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Alasannya karena dengan mengembalikan kerugian Negara tersebut, dapat diartikan Djarot mengakui ada penyimpangan yang dilakukan pendahulunya, saat membeli lahan seluas 36.441 meter persegi tersebut.
"Pernyataan Djarot yang akan membayar kerugian pembelian lahan Sumber Waras bisa membuka terang kasus ini," ujar Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) ‎Sugiyanto di Jakarta, Senin (24/7/2017).
Sugiyanto mengatakan, Djarot telah berani membangkang terhadap Ahok. Karena selama ini, Ahok dalam berbagai kesempatan menegaskan tidak merasa bersalah dalam pembelian lahan RSSW, dan yang bersangkutan juga enggan mengakui hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta menolak mengembalikan kerugian negara.
"Sejujurnya saya tidak menyangka ternyata Djarot berani membangkang pada Ahok," kata SGY, sapaan akrab Sugiyanto.
Kendati begitu, SGY menilai pernyataan Djarot sesungguhnya benar adanya. Karena menurut laporan BPK ada indikasi kerugian Rp 191 miliar dan diperkuat audit investigasi yang terbukti ada kerugian sebesar Rp 173 miliar dalam pembelian lahan RSSW.
Hanya saja, kata dia, pernyataan Djarot tidak boleh berhenti pada pengembalian kerugian saja, namun harus berlanjut pada penyelidikan tindakan korupsinya mengingat telah terjadi kerugian negara yang jumlahnya tidak sedikit. ‎
Penyelidikan tersebut wajib dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berdasar Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 pasal 2 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
Dalam pasal tersebut disebutkan, setiap orang yang melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun.
Dan pada pasal 4 UU tersebut ditegaskan bahwa pengembian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara tidak menghapus dipidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimakaud pada pasal 2 dan pasal 3.
"Jadi, dugaan tindak pidana korupsi itu akan menjadi nyata, dan besar kemungkinan Ahok diproses lanjut karena kasusnya dapat diusut kembali. Ini bukan kerugian kecil, ini ratusan miliar kerugiannya. Di sini bukan masalah mengembalikan atau tidak, tapi harus diungkap dugaan tindak pidana korupsi yang telah merugikan keuangan negara, dimana saat itu Ahok menjabat Plt Gubernur dan mendisposisikan langsung pembelian lahan RSSW," bebernya.

Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan melanjutkan pembangunan Rumah Sakit Sumber Waras. Mekanisme pembiayaan untuk pembangunan rumah sakit khusus kanker itu sudah disiapkan.

"Sudah ada mekanisme penganggarannya dan diusulkan melalui perjanjian PKBU bersama badan usaha milik pemerintah dan tanpa didanai APBD. Itu sudah kita rapatkan dua kali. Semuanya sudah disusun, tinggal desainnya seperti apa," kata Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat di Balai Kota, Jakarta, Jumat (21/7/2017).‎

Sebelumnya, BPK RI mengizinkan DKI Jakarta melanjutkan pembangunan di lahan tersebut.
‎Hanya saja Pemprov DKI tetap harus mengganti rugi kepada negara terkait pembelian lahan. Terkait hal ini, Djarot sudah setuju untuk membayar ganti rugi. ‎
"Kami akan kirim surat kepada yayasan (Sumber Waras). Itu juga untuk memberikan jawaban, klarifikasi. Kalau betul merugikan negara ya harus dikembalikan prinsipnya," tandasnya.

Tidak ada komentar: