Rabu, 12 Juli 2017

ANTARA PRIBADI DENGAN LEMBAGA

Jika Jokowi sebagai warga kampung biasa melakukan pencurian atau penipuan atau pembunuhan, saya takkan mencampurinya. Itu bukan urusan saya sebagai penginjil, sebab itu lingkupnya masalah pribadi. Saya pikir lumrah jika seorang manusia bisa tersinggung, bisa marah, bisa emosi, bisa khilaf dan bisa mata gelap. Biarlah masalah kesalahan atau dosa pribadi merupakan urusan pribadinya dengan TUHAN. Sebab perbuatan yang dilakukan secara pribadi dampaknya terbatas, yaitu sebatas pribadi itu sendiri.

Contoh lainnya; misalnya Jokowi berpikir dalam hatinya sendiri: "Tidak ada TUHAN", dan pikiran itu tidak dia ungkapkan ke orang lain, baik istri atau anak-anak atau teman-temannya, maka saya takkan mencampurinya. Tapi manakala dia katakan itu kepada istri atau anak-anak atau teman-temannya, maksudnya: ke orang lain, maka itu sudah termasuk pengajaran, yaitu suatu usaha mempengaruhi orang lain untuk sepikiran dengannya. Maka di sinilah saya berkewajiban mencampurinya, yaitu memberikan bantahan terhadap sesuatu yang bisa dibantah. Jika pemikirannya bisa saya bantah, wajib saya bantah. Jika saya anggap benar, saya aminkan.

Ef. 6:12karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Perjuangan orang Kristen bukanlah melawan darah dan daging, bukan melawan pribadi, bukan melawan secara fisik/tubuh, bukan menyerang tubuh, bukan memukul tubuh orang sebagaimana konsep kerja FPI, tapi yang harus kita lawan adalah pikiran orang, paham orang, ajaran-ajaran yang tidak benar, ajaran-ajaran yang menyesatkan, system-system kerja yang menciptakan ketidakadilan, dan lain-lainnya yang berkenaan dengan hajat hidup orang banyak.

Jika seseorang mempunyai pemikiran yang saya anggap salah, saya "datangi" orang itu untuk mendiskusikannya, supaya sebuah pemikiran itu ada pendampingannya, ada saingannya, tidak bermain tunggal yang tidak memberikan pilihan bagi orang. Supaya jika ada martabak biasa, ada martabak yang istimewa. Supaya barang yang palsu ada pendampingannya barang yang asli. Saya tidak menuntut orang yang saya ajak berdiskusi itu masuk ke pemikiran saya, tetapi saya mengharapkan para penonton yang menyaksikannya mendapatkan manfaat dari diskusi tersebut. Dengan gambaran, jika ada dua ekor anjing sedang berebut tulang, biarlah itu merupakan kesempatan bagi kucing untuk melarikan dirinya.

Sebab melepaskan perkataan ke udara itu dampaknya bisa luas sekali. Omongan suami ke istrinya, bisa menyebar ke seluruh jagat jika sang istri membocorkannya. Sama seperti kasusnya Buni Yani yang mengedit perkataan Ahok ketika di Kepulauan Seribu. Buni Yani hanya membuat satu langkah saja, yaitu melepaskannya ke Youtube, tapi oleh Youtube berita itu disebarluaskannya, sehingga perpolitikan di Indonesia mendidih seperti sekarang ini.

Di Tanah Israel, seorang Musa bisa menyebabkan 12 suku Israel beragama Taurat. Di Israel juga, Seorang YESHUA bisa menyebabkan bangsa-bangsa beragama Kristen. Di Tanah Arab, seorang Muhammad bisa menyebabkan banyak bangsa beragama Islam. Di India, seorang Siddharta Gautama bisa menyebabkan banyak bangsa beragama Buddha. Di Indonesia, seorang Jokowi ketika berkata: "aku rapopo", ucapannya bisa menjadi viral di seluruh Indonesia. Belum lagi, Kaesang, anaknya yang berkata: "ndeso", yang ucapannya sampai dilaporkan ke polisi.

Sampai ada ungkapan: "mulutmu harimaumu" dan kini berkembang menjadi: "jarimu harimaumu". Artinya, sebuah ucapan yang dilemparkan ke udara itu bisa mempunyai akibat yang sangat fatal. Karena itu supaya sebuah ucapan yang salah jangan sampai menjerumuskan orang kepada kesesatan atau kesalahan berpikir, itu perlu dilawan, dalam artian disanggah atau diimbangi, dipatahkan dengan dalil-dalil yang lebih kuat. Sebab

Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi pada zaman Hitler, mengatakan: "Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya." Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja. 

Sesuatu yang salah jika didengung-dengungkan secara berulang-ulang akan diterima oleh masyarakat sebagai suatu kebenaran. Sebagai contoh adalah pola pemerintah dalam menangani gelandangan dan pengemis serta para narapidana yang sangat tidak manusiawi, yang ketika di zaman rezim-rezim yang lalu pelanggaran serius terhadap Pancasila dan UUD 1945 itu dipaksakan dengan bedil polisi dan bedil tentara, maka kini hal begitu itu sudah dianggap lumrah, bukan pelanggaran lagi. Padahal penampakan penyimpangan itu kasat mata namun sudah tak ada lagi perlawanan dari masyarakat. 

Konyolnya, presiden Jokowi dikenal sebagai presiden yang prorakyat, dan mantan presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sangat mengagumi Pancasila. Bagaimana bisa terjadi presiden yang prorakyat bisa membiarkan terjadinya hal-hal yang tak manusiawi berada dalam jajaran kabinetnya? Bagaimana isi Pancasila yang mengagumkan itu bisa menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya? Padahal tak lebih dari bangkai tikus yang dibungkus kertas kado yang indah, atau seperti kuburan yang dikapur.

Agama-agama, para pendeta dan para ustadz dengan susah payah menanamkan jiwa sosial kasih sesama, bersedekah kepada fakir miskin, mendadak oleh pemerintah para pemberi sedekah dinyatakan sebagai pelanggaran hukum yang diancam dengan hukuman penjara selama 2 bulan. Ahok, ketika masih gubernur DKI Jakarta dengan enteng mengajarkan: "Jangan kasih uang ke pengemis maka takkan ada pengemis". Tega sekali hatinya? Kejam sekali ajarannya?! Firman TUHAN hendak dibatalkan oleh perintah manusia. Amanah Pancasila dan UUD 1945 hendak diinjak-injak oleh para penguasa di negeri ini?! Tidak bisa! Kita harus kembali pada ajaran-ajaran agama, Pancasila dan UUD 1945, yaitu menghargai kemanusiaan fakir miskin. 

Pemerintah menyarankan sedekah disalurkan ke lembaga-lembaga amal. Memangnya lembaga-lembaga itu bisa dipercayai? Memangnya menyerahkan uang ke lembaga amal sama dengan menyerahkannya ke fakir miskin? Perintah TUHAN itu yang manakah? Yang ke lembaga amal atau langsung ke fakir miskinnya? Jika anda menyuruh orang membayar utang ke seseorang, apakah itu sama dengan sudah membayar utang? Jika uang itu memang sampai ke tangan yang berhak, tak masalah. Tapi jika uang itu dibawa kabur oleh pesuruh anda, apakah bukan masalah?! Tidakkah sia-sia amalan sedekah anda yang anda pikir berpahala itu, jika si fakir miskin masih tetap kelaparan?! Jadi, memberi ke lembaga amal adalah pikiran alternatif manusia, bukan ajaran TUHAN.

Tahukah anda bahwa ketika anda membagi-bagikan bingkisan ke panti sosial dan anda bagikan sendiri ke fakir miskin yang ada di sana, tapi manakala anda meninggalkan panti itu para petugas panti itu merampasinya secara paksa?! Nah, apakah para fakir miskin itu menerima manfaat oleh kehadiran dan pengorbanan anda?! Sama sekali, tidak! Harta dan waktu anda terbuang sia-sia! Anda seperti tentara yang salah sasaran menembak. 

Seorang fakir miskin sedang enak-enaknya tidur malam, dibangunkan, dikasih nasi kotakan. Bisa jadi itu nasi ayam goreng KFC yang mahal. Tapi apa artinya jika fakir miskin itu sudah makan? Dan anda merasa sudah berbuat kebajikan, padahal itu sia-sia! Padahal di KFC itu anda membayar, bukannya gratisan. Nah, mengapa dalam jumlah yang sama tidak anda berikan berupa uang saja?! Sebab siapa tahu fakir miskin itu lebih butuh sabun daripada nasi, atau lebih butuh obat daripada ayam goreng?! Bahkan pernah fakir miskin itu dibagikan tikar yang mahal. Buat apa?! Mereka tak memerlukan itu! Dengan cara demikian anda masih memenjarakan mereka. Anda batasi mereka menurut selera atau pikiran anda. Berikanlah berupa uang supaya mereka bisa bebas menggunakan yang perlu menurut mereka. Sebab kebutuhan antara orang yang satu dengan yang lainnya itu tidaklah sama. 

Ahok-Djarot, pasangan gubernur DKI Jakarta mempunyai program "bedah rumah", yaitu membangunkan rumah yang bagus untuk fakir miskin yang rumahnya jelek. Sebuah program yang sangat bagus itu. Tapi sayangnya program itu menimbulkan masalah baru bagi mereka yang dibedah rumahnya. Sebab ketika rumah yang lama dibongkar dan dibangun, para penghuninya harus menyewa rumah untuk tinggal sementara. Nah, ini yang membuat fakir miskin itu pening kepalanya, sebab mereka tak mempunyai anggaran untuk itu. Dijanjikan sekian bulan selesai, namun janji itu meleset, maka semakin menumpuklah utang dadakan mereka. Setelah jadi rumah yang bagus, yang tadinya rumah itu terdiri dari 3 kamar tidur, kini tinggal 1 kamar tidur saja. Bagaimana ini? Sebagian anggota keluarga itu terpaksa harus tidur di ruang tamu. Pening berikutnya, mereka harus membayar pemasangan listrik Rp. 150.000,- ke PLN. 

Dan ketika mereka mengeluhkan itu semua ke Djarot, sang gubernur yang tak pernah melarat itu justru mencela mereka sebagai orang yang tak mengerti bersyukur. Bukannya mereka tidak mengerti bersyukur, Rot, tapi mereka memang fakir miskin yang tak punya uang sama sekali. Mereka orang yang tak siap untuk kehadiran anggaran baru, yaitu sewa rumah sementara dan pemasangan listrik. Duit dari mana, jika untuk makan sehari-hari saja susah?!

Pemerintah keluarkan uang, katakanlah Rp. 50 juta, katanya untuk bedah rumah fakir miskin. Tapi siapakah yang menerima uang itu? Bukankah kontraktornya menerima untung? Bukankah pabrik semen, batu bata, pasir dan kayu yang juga diuntungkan? Berapa rupiahkah yang jatuh ke tangan fakir miskin itu? Nol! Mereka hanya menerima rumah yang baru, rumah yang bagus, yang enak bagi pandangan mata, tapi yang memeningkan kepala. Suatu kebajikan yang sia-sia, yang akhirnya hanya dinikmati oleh fakir miskin yang nasibnya lebih baik, yaitu yang mempunyai uang tabungan. Fakir miskin yang palsulah yang menerima program-program pemerintah, sedangkan fakir miskin yang sejati masuknya di kerangkeng Departemen Sosial. 

Warung-warung, memang mempunyai sejarah kemiskinan. Bisa jadi tadinya adalah fakir miskin. Contohnya seorang pemilik warung bebek Madura, yang tadinya adalah pemulung. Kini warung bebeknya mempunyai omset puluhan juta semalam. Tapi warung tersebut masih menggunakan gas LPG yang 3 kiloan yang ada tulisannya: "Hanya untuk masyarakat miskin". Masak orang yang punya 2 rumah besar dan 2 mobil itu termasuk keluarga miskin?!

Coba periksa, apakah ada gelandangan dan pengemis yang mempunyai rumah atau dapur yang menggunakan kompor LPG? Memakai kayu bakar saja tidak, apalagi LPG?! Siapa di antara mereka yang menikmati subsidi BBM? Apakah ada di antara mereka yang punya motor atau mobil?! Oh, mereka hanya menerima perlakuan buruk dari pemerintah. Mereka seperti 10 ekor tikus bagi Ahok dan Djarot yang mempunyai program memburu tikus. Setiap tikus yang didapatkan masyarakat DKI Jakarta akan dibeli oleh Ahok-Djarot seharga Rp. 20.000,- perekor. Nah, para Satpol PP yang berhasil menangkap gelandangan dan pengemis akan diberi bonus Rp. 200.000,- perorang. Bahkan jika Ahok-Djarot memenangkan Pilkada DKI yang kemarin itu, bonusnya akan dinaikkan menjadi Rp. 300.000,- perorang. 

Untunglah TUHAN punya kehendak yang lain. Mereka kalah Pilkada juga Ahok dijebloskan ke penjara. Puji TUHAN! TUHAN adil bagi mereka yang tidak adil! Mereka yang tidak adil dimakan oleh ketidakadilan, seperti hukum karma. Ahok dimakan habib Rizieq Shihab, habib Rizieq Shihab dimakan polisi. Polisi dimakan teroris, teroris dimakan polisi. KPK makan DPR, DPR makan KPK. Jokowi bikin pusing masyarakat, kini Jokowi dipusingkan oleh masalah politik yang silih berganti. 

Itu sebabnya Jokowi pingin angkat kaki dari pulau Jawa, pindah ke Palangka Raya. Jika ibukota pindah ke luar Jawa, maka presiden akan bebas dari demo-demo anarkis. Demo-demo akan menyasar ke pemerintahan daerah, akan bikin pusing gubernur-gubernur. Sebab di Jawa-lah sumber demo. Di Jawa banyak fakir miskinnya yang bisa digerakkan untuk demo. Di sana presiden bisa membentuk benteng pertahanan yang lebih baik, sehingga presiden bisa membuat keputusan-keputusan yang lebih licin, yang lebih kejam, dan membentuk tirani kekuasaannya. 

Hasil gambar untuk kota palangkaraya

Tidak ada komentar: