Minggu, 23 Juli 2017

KAMU JUGA PURA-PURA

Suatu kali rumah Jokowi kedatangan seorang pengemis. Ketika dilihat ada yang aneh dari pengemis itu, maka ditegurlah pengemis itu oleh Jokowi: "Kamu pura-pura lemas, ya, biar dikasihani orang?"

Maka menjawablah pengemis itu: "Benar, pak, saya pura-pura sakit, pura-pura lemas, sebab kalau sakit atau lemas beneran, bagaimana saya bisa berjalan-jalan dan mendapatkan uang?! Mengapa bapak suka melihat saya sakit dan lemas benaran?! Mengapa bapak baru memberi uang kalau orang sudah sakit dan sudah lemas benaran?! Memangnya orang sehat tidak butuh uang, tidak butuh uang, pak?! Memangnya kalau saya jujur, tidak pura-pura lemas dan tidak pura-pura sakit, bapak mau kasih saya?! Jadi, pengemis juga harus menguasai trik dan managemen pemasaran, pak, yaitu apa yang diminati pasar. Jika pasar mintanya dibohongi baru mau memberi uang pada pengemis, sedangkan jika jujur hancur, maka apa boleh buat saya terpaksa harus mengikuti selera pasar, seperti promosi produk makanan dan minuman: "Tidak mengandung bahan pengawet!"

"Bapak sendiri juga pura-pura prorakyat, pura-pura berkemeja kotak-kotak, pura-pura blusukan, pura-pura naik mobil Esemka, pura-pura tidak mau naik pesawat kepresidenan, pura-pura tidak mau naik mobil kepresidenan, pura-pura tidak akan menaikkan BBM, dan pura-pura yang lainnya, sehingga bapak berhasil mendapatkan simpati masyarakat dan berhasil menjadi presiden."

"Ketua DPR, Setya Novanto, juga mendirikan perusahaan pura-pura di Amerika Serikat untuk menampung uang 500 milyar dari anggaran e-KTP. Beliau juga pura-pura mewakili rakyat ketika berkata kepada PT. Freeport: "Papa minta saham". Dimas Kanjeng juga pura-pura sakti, bisa menggandakan uang ketika mempedayai ratusan orang dengan kerugian milyaran rupiah. Polisi juga pura-pura menilang ketika ada motor yang melanggar, padahal ketika dikasih uang cepek urusan bisa selesai. Anggota DPR juga banyak yang menggunakan ijasah S2 pura-pura. Para pengusaha juga banyak yang pura-pura usahanya bagus, padahal curang. Para pelamar pekerjaan juga banyak yang pura-pura pintar, pura-pura jujur. Orang kaya banyak yang pura-pura miskin untuk mendapatkan kartu KIP, BPJS dan KIS, mendapatkan gas LPG subsidi dan bensin subsidi. Habib Rizieq Shihab pura-pura suci, para pendeta pura-pura saleh. Orang miskin pura-pura kaya dengan banyak utang, motor kreditan, rumah kreditan, tahunya tak sanggup membayar angsurannya. Orang perempuan juga suka pura-pura wangi dengan minyak wanginya, pura-pura cantik dengan bedak dan lipstiknya, maka antrilah perjaka dan duda. Artis cantik pura-pura menjadi pembantu rumahtangga, padahal itu dilakukannya demi mendapatkan honorarium jutaan. Para penyanyi pura-puranya menyanyi, padahal itu dilakukannya demi honorarium jutaan dan popularitas."

"Pengemis itu akting hanya untuk uang recehan, untuk sesuap nasi dan untuk istri dan anak-anaknya. Tak mungkin pengemis itu mengharapkan jutaan. Mengapa ini bapak masalahkan? Ada tertulis bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, untuk hidup di tengah-tengah serigala buas."

Mat. 10:16"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Begitulah percakapan Jokowi dengan seorang pengemis di hari itu. Esok harinya datang seorang pengemis lainnya lagi. Karena dilihat masih muda, maka Jokowi menganjurkan supaya pengemis itu bekerja, tidak meminta-minta begitu; "Ayo, kerja, kerja, kerja. Ini zaman rezim Kabinet Kerja."

Pengemis itu mengerutkan keningnya: "Kerja? Kerja apaan? Di saat orang sedang berjalan melamar kerjaan, saya mengemis sudah mendapatkan Rp. 10.000,- Di saat orang itu menunggu jawaban lamarannya, saya mengemis sudah bisa menghidupi keluarga selama seminggu. Di saat orang itu menerima jawaban ditolak, kepalanya pening, saya sedang menghisap sebatang rokok. Setahun, dua tahun, tiga tahunpun orang itu hanya mondar-mandir menenteng map tak membawa uang sepeserpun, anak saya sudah berumur 3 tahun. Orang itu bukan mencari uang, melainkan mencari pekerjaan. Tapi saya mencari uang, bukan mencari pekerjaan. Karena itu kerja apa saja saya jalankan, sekalipun mengemis".

Kata Jokowi: "Saya ada pabrik meuble. Kerjalah di sana saja. Tapi karena pabrik baru operasi, saya belum sanggup menggaji besar". Berkatalah pengemis itu: "Oh, gaji ala kadarnya, ya pak?! Baik, nggak apa-apa, asalkan hidup ini juga bisa dibuat ala kadarnya. Jika makan bisa sesendok saja, sekeluarga makan seorang saja, listrik bayar ala kadarnya, sewa rumah bayar ala kadarnya, bensin bayar ala kadarnya, maka gaji ala kadarnya nggak masalah."

"Asal kerja, tak memperhitungkan penghasilannya, kapan hidup ini bisa tenang, kapan perut ini bisa kenyang, kapan duit bisa segudang, kapan bisa bebas dari utang? Kalau mengemis pusing, bekerja juga pusing, mengemis tidak dibentak-bentak majikan, tidak diperintah-perintah majikan, saya pilih mengemis".

Di zaman Soeharto. pegawai negeri, polisi dan tentara digaji kecil sekali. Gaji tidak realistis dengan standart kehidupan, maka akibatnya pegawai negeri, polisi dan tentara korupsi, belat-belit surat perijinan, main tilang, dan memeras pengusaha. Naik bus nggak mau bayar, ditugaskan komandan sangunya minta ke toko-toko China. Ya, semua orang pasti mencari jalan keluar, donk.

Itu sebabnya banyak orang memilih bekerja di luar negeri. Sebab sekalipun cuma menjadi sopir atau pembantu rumahtangga, tapi pulang kampung bisa kayaraya. Di sini, mana ada buruh yang bisa kayaraya sekalipun bekerja seabad. Di sini masih lebih bagus nasibnya anjing daripada nasibnya fakir miskin.

Di dunia ini tak ada yang buruk, sebab semuanya berasal dari ELOHIM YAHWEH. Asal semuanya digunakan secara bijaksana, tidak secara berlebih-lebihan. Air putih; kekurangan maupun kelebihan air putih sama-sama tak baiknya. Nasi, bagi orang diabetes juga jahat. Pisau bisa untuk membunuh orang tapi juga bisa untuk hal-hal yang berguna. Tahi sekalipun menjijikkan, nyatanya bisa untuk pupuk. Sampah, nyatanya bisa didaur ulang. Ganja, morpin, dan lain-lainnya, jika digunakan secara tepat juga berkhasiat untuk kedokteran dan kesehatan anti kanker.

Fakta Ganja: Obat Kanker Masa Depan!



 

Demikian halnya dengan pekerjaan mengemis, tidaklah selalu buruk asalkan kita mau keluar dari kerangkeng kepicikan. Mengemis bisa menghidupi keluarga masih lebih baik daripada pengangguran yang menyengsarakan keluarganya.



Kisah Gadis Pemulung Yang Menjadi Dokter
http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2016/02/kisah-gadis-pemulung-yang-menjadi-dokter.html



Tapi karena yang memberinya nasehat seorang presiden, maka pengemis muda itu mencoba menurutinya. Dia harus mendukung rezim "Ayo, kerja, kerja, kerja!" Sekalipun tak jelas mau kerja apa, modalnya dari mana dan berapa gajinya. Pengemis muda itu membuka tabungannya, ada sekian juta, maka berdaganglah dia menjadi pedagang sayur kelilingan. Dia masuk ke komplek-komplek perumahan yang dihuni oleh orang-orang kaya.

Ketika mantan pengemis itu sedang duduk-duduk di bawah sebatang pohon, sedang beristirahat, lewatlah mobil kepresidenan dan berhenti di depan pedagang sayuran itu. Menyapalah Jokowi dari balik jendela mobilnya: "Hai, bagus, sekarang sudah bekerja jualan sayur, ya?! Bagus, bagus!" Tapi pedagang sayuran itu menggeleng-gelengkan kepalanya: "Apanya yang bagus, pak? Tambah parah keadaan perekonomian saya, pak. Saingan banyak, sepi pembeli dan terlalunya ibu-ibu kalau menawar dagangan saya. Dagangan ditawar murah-murahan, di bawah modalnya. Memangnya saya disuruh menyumbang dapurnya ibu-ibu itukah?! Mengemis disuruh kerja. Setelah kerja ditekan-tekan supaya rugi, supaya bangkrut. Pedagang sayur nggak boleh untung, nggak boleh kaya. Jualan sayur malah tambah pusing, pak".

Hasil gambar untuk gambar mobil jokowi

Posting Komentar