Rabu, 26 Juli 2017

MAKA TITOPUN PUSING

Ini merupakan tambahan dan lanjutan dari:

MENGINGAT KEMBALI SANG JENDRAL

http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2017/07/mengingat-kembali-sang-jendral.html


Dibatalkannya Budi Gunawan sebagai Kapolri, membuat Megawati mencak-mencak dan memaki-maki Jokowi sebagai "anak yang durhaka". Hati mama Mega sakitnya tuh di sini ....... sebab pejabat setanah air tak ada yang tak menghormatinya, tak ada yang berani padanya. Tapi Jokowi, anak yang baru gede sudah berani membantahnya. Hubungan merekapun kabarnya sempat pasang surut; "benci tapi rindu".

Namun ketika Budi Gunawan dijadikan kepala BIN, hati Megawati lega. Maka sebagai tanda kegembiraannya, disambutlah pencalonan Ahok, si anak emas Jokowi, sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Dia yang semula tidak suka dengan Ahok, kini menjadi suka dan membela Ahok mati-matian. Sebab Jokowi masih memperhatikan posisi Budi Gunawan. Jadi, Ahok yang semula kebingungan antara masuk jalur independen melalui Teman Ahok atau melalui jalur partai, akhirnya merasa puas ketika Megawati memutuskan memilihnya, berdampingan dengan Djarot.

Itu tambahan untuk kemarin. Sekarang tentang penyiraman air keras ke muka Novel Baswedan. Polisi sempat menangkap dan menahan beberapa orang yang dicurigai melakukan penyiraman air keras itu. Namun beberapa kali juga terpaksa semuanya dilepaskan, sebab berdasarkan alibinya tidak terbukti. Mereka adalah "mata elang" yaitu orang-orang yang pekerjaannya mengintai motor-motor yang nunggak kreditannya.

Kecepatan penangkapan mereka sebenarnya sudah menyamai kecepatan polisi menangkap pelaku teroris, pelaku perampokan di Pulomas, perampokan di Daan Mogot dan pembacokan terhadap ahli IT; Hermansyah, yaitu hanya beberapa hari saja, berdasarkan rekaman CCTV. Nah, jika CCTV di jalanan saja bisa diandalkan untuk mengungkapkan pelaku kejahatan, harusnya CCTV di perumahan tempat peristiwa penyiraman air keras itu bisa lebih diandalkan. Sebab luputnya di sekitar rumah Novel Baswedan, siapa tahu bisa didapatkan dari CCTV yang ada di jalanan di sekitar TKP - Tempat Kejadian Perkara itu. Tapi kenapa peristiwa penyiraman air keras Novel Baswedan itu begitu sulit diungkapkan? Itu keanehan yang juga dirasakan dan dipikirkan oleh Novel Baswedan. Bagi Novel, melalui sebuah wawancara, kesulitan itu nyaris mustahil. Pekerjaan mengungkapkan kasusnya itu harusnya sangat gampang sekali. Apa lagi telah dibentuk tim khusus. Hanya satu saja kekecualiannya, yaitu membentur "tembok".

Misalnya, orang-orang yang ditangkap itu mengaku disuruh ......... yang kata Novel Baswedan kepada majalah Time: "seorang jendral", maka pusing tujuh kelilinglah polisi. Kata Tito, Kapolri, jabatan Kapolri itu membikin pusing kepala, stressfull. Karena itu dia memutuskan akan pensiun dini.

Nah, itu baru masuk akal. Tabrakan, stressfull, pensiun dini.

Jadi, begini, semua ini adalah "praduga tak bersalah". Sebelum ada jawabannya yang pasti, harusnya boleh para penonton berpendapat. Nyatanya polisi juga memanfaatkan haknya menangkap dan menahan orang selama 3 x 24 jam, yaitu orang-orang yang dicurigainya sekalipun belum berbukti. Orang itu ditahan berdasarkan rekaman CCTV, lalu setelah dinyatakan tidak terbukti, tokh mereka dilepaskan kembali. Dan hukum itu tidak memandang bulu, entah "mata elang" entah jendral, harusnya diperlakukan secara sama.

Harusnya polisi tidak boleh gusar ketika Novel Baswedan berpikir adanya jendral, dan berniat mempermasalahkan perkataan Novel tersebut. Sebab jika bukan jendral, lalu siapa? Itu harus dijawab secara proporsional dan profesional. Temukanlah pelakunya, maka Novel Baswedan akan dipermalukan oleh perkataannya yang terbukti tidak benar. Jawablah dalil dengan dalil pula. Bungkamlah isu-isu yang berkembang di masyarakat dengan pembuktian kebenaran, bukan dengan teror ancaman memenjarakannya.

Seperti kasus pembacokan Hermansyah, ahli IT yang menyatakan video porno habib Rizieq Shihab itu palsu, bukankah berkembang tudingan pelaku pembacokan itu polisi? Tapi setelah polisi berhasil menangkap semua pelakunya, bukankah masyarakat angkat topi pada kinerja polisi yang begitu cepat dan tanggap?!

Hasil gambar untuk novel baswedan

Dalam Rekaman, Megawati Disebut Memaki Jokowi Karena Tolak Budi Gunawan

http://www.terasbintang.com/dalam-rekaman-megawati-disebut-memaki-jokowi-karena-tolak-budi-gunawan/

TERASBINTANG.com – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sempat memaki-maki Presiden Joko Widodo lantaran menolak pengangkatan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Kejadian itu berlangsung di Solo. Turut hadir juga elite parpol Koalisi Indonesia Hebat (KIH) saat kejadian tersebut. Hal ini terungkap dalam rekaman yang diputar di sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Suara itu diduga milik pengusaha minyak Riza Chalid.
Di Solo ada… ada Surya Paloh, ada si Pak Wiranto, pokoknya koalisi mereka. Dimaki-maki, Pak, Jokowi itu sama Megawati di Solo. Dia tolak BG,” demikian suara yang diduga Riza seperti dalam rekaman yang diperdengarkan di sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), Rabu (2/12).
Presiden Jokowi memang sempat mengusulkan Budi Gunawan sebagai Kapolri pada Februari lalu. Namun gagal dilantik lantaran Budi dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meskipun Komisi III meloloskan Budi dalam fit and proper test.
Jokowi lebih memilih mengusulkan Badrodin Haiti sebagai calon kepala Polri yang baru. Menurutnya, pencalonan Budi Gunawan sebagai kepala Polri telah menimbulkan perbedaan pendapat di masyarakat.
Dalam rekaman itu, suara yang diduga Riza itu juga mengaku heran dengan keberanian Jokowi melawan Megawati.
Gila itu, sarap itu. Padahal, ini orang baik kekuatannya apa, kok sampai seleher melawan Megawati,” ucap suara yang diduga Riza. (wp)

Terungkap, Ini Alasan Tito Karnavian Ingin Pensiun Dini

http://www.gemarakyat.id/terungkap-ini-alasan-tito-karnavian-ingin-pensiun-dini/#

Gema Rakyat – Peluang jadi Kapolri terlama, tidak menjadi impian Jenderal Tito Karnavian (52). Meski masih memiliki lima tahun lagi waktu pensiun, Tito memilih untuk pensiun dini dari Korps Bhayangkara.
“Saya sampaikan. Kalau saya boleh pilih, saya tidak ingin selesai sampai tahun 2022. Kenapa? Terlalu lama, tidak baik bagi organisasi, tidak baik bagi saya sendiri. Bayangin, saya jadi Kapolri 6 tahun, anggota organisasi bosen,” ungkap Tito usai upacara HUT Bhayangkara di Monas, Jakarta Pusat, Senin (10/7).
Organisasi Polri, kata Tito, butuh penyegaran. Artinya, perlu calon pemimpin baru. Amanah sebagai Kapolri, lanjutnya, memberikan tekanan yang berat. Sehingga memicu tingkat stres yang tinggi (stressfull).
“Saya katakan, jadi Kapolri itu penuh dengan kehidupan stressfull. Banyak persoalan-persoalan. Nah, saya juga punya hak menikmati hidup bersama keluarga dalam kehidupan less stress full,” ungkap peraih Adhi Makayasa lulusan Akpol 1987 itu.
Pensiun dini, kata Tito, masih awam bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, Jadi bahan tertawaan. Mengingat, banyak pihak yang justru ingin memperpanjang masa pensiun.
Namun, lanjut jenderal asal Palembang itu, di luar negeri merupakan hal yang diinginkan banyak orang.
“Di luar negeri justu kalau dia sudah kerja keras, dia pengen menikmati sisa hidupnya. Banyak yang pensiun dini dan itu tidak masalah. Bagi saya yang pernah sekolah di luar negeri, melihat kultur pensiun dini itu biasa,” papar mantan Kepala BNPT itu.
Meski berkeinginan untuk pensiun dini, Tito mengaku tidak tertarik untuk terjun ke dunia politik. Alasannya, berkecimpung di ranah politik hanya akan menambah stres. Apalagi, tidak ada riwayat politikus dalam keluarga besar mantan Kapolda Metro Jaya itu.
“Saya tidak tertarik pada politik, tak memiliki gen politik. Politik itu banyak tarik-menarik. Bahkan timbul musuh-musih baru dan makin tambah stres,” timpal jenderal yang memimpin operasi Tinombala itu.
Lalu, kapan Tito akan memutuskan untuk pensiun dini? Menurutnya, dirinya akan memutuskan pensiun dini jika telah menemukan momen yang tepat. Dirinya bahkan, sudah menyiapkan aktifitas setelah memutuskan pensiun dari institusi kepolisian.
“Kemungkinan pada saat waktu yang saya anggap tepat mungkin saya akan pensiun dini. Saya ingin lari ke dunia pendidikan, jadi pembicara,” demikian Tito. [GR / psi]

Novel Baswedan Nilai Polri Membangkang Perintah Presiden!

http://www.rmoljabar.com/read/2017/07/23/49189/Novel-Baswedan-Nilai-Polri-Membangkang-Perintah-Presiden!-

RMOLJabar. Hingga kini polisi belum berhasil mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan. Penyidik senior KPK itu mempertanyakan kinerja kepolisian.

Kepada wartawan Jawa Pos Agus Dwi Prasetyo dan Imam Husein, Novel yang kini dirawat di Singapore General Hospital membeberkan sejumlah kejanggalan penanganan perkara yang dilakukan polisi. Berikut petikannya.
 
Sampai sekarang polisi belum berhasil mengungkap pelaku kasus penyerangan terhadap Anda. Seperti apa sebenarnya yang terjadi? 

Coba sekarang cara berpikir kita dibalik. Kewajiban saya adalah melakukan tugas sebagai aparatur negara. Itu sudah saya lakukan dan ke depan saya akan tetap lakukan. 

Saya tetap fokus melakukan itu dengan sekuat dan sekeras mungkin saya bisa. Kejadian ini tidak membuat saya gentar. Tidak membuat saya takut.

Lalu apa korelasinya dengan cara berpikir terbalik itu? 
Soal ada permainan (di balik kasus penyiraman, Red) dan ada hal yang tidak diungkap (polisi), itu masalahnya bukan di saya. Itu masalahnya harus dipandang dari sisi yang lebih besar.

Ini negara. Negara punya aparatur, di antaranya saya. Dan saya diserang. Sekarang yang seharusnya marah siapa? Negara. Presiden mewakili negara sudah marah dan perintahkan ungkap kasus ini. Tapi tidak diungkap.
Maksud Anda, kepolisian tidak mengindahkan perintah presiden?

Secara manusiawi semestinya (penyerangan) ini tidak boleh dibiarkan. Karena kalau dibiarkan, efeknya adalah (tindakan teror terhadap aparatur negara) akan terulang. Bagi saya, ketika presiden memerintahkan untuk diungkap, tapi ternyata tidak diungkap, adalah pembangkangan yang harus dilihat sebagai masalah serius.

Kok beraninya presiden menyuruh mengungkap, tapi tidak dilaksanakan. Perspektif kita mestinya dibelokkan ke sana (pembangkangan).

Lalu bagaimana kalau pembangkangan tetap dilakukan? 
Kalau saya ya terserah. Apakah ingin (pembangkangan) ini menjadi sejarah bahwa ada presiden memberikan perintah kepada aparatur, tapi tidak dilaksanakan? Ada aparatur yang bekerja benar, terus diserang (teror), tapi sekarang dibiarkan.

Bahkan, ditutup-tutupi pelakunya. Apakah ingin ada sejarah seperti itu? Sekarang zaman keterbukaan, tidak bisa lagi ditutup-tutupi.

Anda kecewa dengan pengungkapan kasus penyerangan ini? 
Kalau dibilang saya kecewa, secara manusiawi mestinya kecewa. Tapi, saya berpikirnya positif. Saya hanya mengambil sisi saya, di mana saya akan tetap melakukan apa yang menjadi kewajiban saya. Ketika orang punya kewajiban, tapi tidak melaksanakannya, saya hanya kasihan dan prihatin.

Kok bisa ya ada aparatur punya kewajiban, tapi tidak melaksanakan. Saya tidak mau seperti dia (polisi). Saya berdoa semoga saya tidak menjadi orang seperti dia (polisi).

Anda lebih senior daripada tim penyidik kepolisian yang tengah mengungkap kasus Anda. Apakah memang sedemikian sulit mencari pelaku penyerangan Anda?

Ini perkara mudah, sangat mudah. Kalau dibilang sulit, saya tidak paham sulitnya di mana. Karena hal-hal ini sudah dijelaskan semua dan bukti-bukti. Langkah-langkah yang dilakukan tim Polri untuk mengungkap kasus ini saya lihat sudah cukup bagus. Tapi, saya nggak tahu kenapa kok berhenti prosesnya.

Janji Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang akan memeriksa Anda di Singapura bagaimana kejelasannya? 
Tidak ada kejelasan. Sampai sekarang belum ada. Cuma, yang mau saya tegaskan dalam kesempatan ini, sejak pertama kali kejadian, saya sudah memberikan keterangan. Hari pertama, polsek datang, dari polres datang, dari polda datang, dari Bareskrim dan densus pun ada.

Dan saya selalu memberikan keterangan. Langsung saya berikan, tidak pakai nanti. Jadi, kalau saya dibilang tidak memberikan keterangan, saya kira humas (Polda Metro Jaya dan Mabes Polri) tidak tahu. Karena saya memberikan keterangan bukan ke humas.

Humas Polri menyatakan, keterangan Anda mestinya masuk dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Bagaimana terkait itu?

Kalau terkait dengan diperiksa, saya kira memberikan keterangan tidak selalu dalam BAP. Penyidik itu mengetahui adanya interview, ada interogasi, dan lain-lain. Jadi, kalau dibilang tidak memberikan keterangan, dia (Humas Polri) lupa barangkali dan tidak paham teknis.

Apa lagi kejanggalan penanganan perkara Anda selama ini? 

Ada lagi penyampaian yang saya dapat itu informasinya bahwa rencana penyidik Polri ingin memperlihatkan kepada saya sketsa wajah yang mereka buat. Menurut saya, ini kekonyolan yang perlu dipublikasikan. 

Karena sejak awal kejadian saya bilang tidak melihat langsung pelakunya. Ini berkali-kali saya sampaikan secara jelas dan lugas. Jadi, kalau dibilang akan ditunjukkan sketsa wajah pelaku kepada saya, berarti dia tidak paham dengan penyampaian (keterangan) saya. Saya nggak lihat pelakunya, kenapa ditunjukkan kepada saya? 

Apakah itu membuat Anda semakin yakin memang benar ada aktor intelektual yang pernah Anda sebut bahwa seorang jenderal polisi ada di balik penyerangan ini?
 
Jadi begini sebenarnya, pandangan publik sudah jelas. Jadi, kalau ditanya ke saya lagi, saya kira tidak pas lagi lah. Karena apa, semua orang sudah tahu bahwa itu (penanganan perkara penyerangan) sudah membingungkan dan meragukan. Ini sudah menjadi hal yang masalah. [jar/jpnn.com] 

Tidak ada komentar: