Senin, 17 Juli 2017

MEMERIKSA HATI NURANI

Ketika ada maling yang dihajar babak belur, maka timbullah pro dan kontra. Ada yang setuju maling itu dihajar babak belur dan ada juga yang tidak setuju. Kedua pendapat yang saling bertentangan tersebut tidak boleh dibiarkan mengambang sehingga tidak menjelaskan kebenarannya, mana yang salah dengan mana yang benar, juga jangan diselesaikan secara voting, suara terbanyak. Sebab suara terbanyak itu berkaitan dengan selera orang, bukan suatu kebenaran.

Untuk negara Indonesia, kita mempunyai perangkat kebenaran yaitu Pancasila dan UUD 1945, plus kitab-kitab suci berbagai agama. Kita yang mengagung-agungkan Pancasila dan UUD 1945 harusnya mempunyai keyakinan bahwa falsafah dan dasar negara itu sudah dibuat berdasarkan pertimbangan hati nurani bangsa Indonesia. Tapi bilamana suatu masalah tidak tersediakan di Pancasila dan UUD 1945, kita harusnya menengok pada kitab-kitab suci yang kita akui keabsahannya sebagai petunjuk hidup.

Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, manakah yang berperikemanusiaan, manakah yang adil dan manakah yang beradab antara menghajar maling hingga babak belur dengan menyerahkannya ke pihak yang berwajib? Lebih-lebih ada lembaga kepolisian yang disebut sebagai pihak yang berkewajiban menyelesaikan secara hukum, maka bagaimanakah kita mengijinkan main hakim sendiri?

Dalam undang-undang penyelesaian hukum atas orang yang bersalah adalah hukuman penjara dan denda, bukan hukuman fisik seperti pada syariah Islam. Dan seorang maling yang dihajar babak belur diberikan hak untuk menuntut balik orang-orang yang menganiayanya. Itulah hukum hati nurani bangsa Indonesia. Karena itu orang-orang yang setuju pada model hukuman menghajar maling, maka mereka inilah yang bersalah, yang tidak memiliki hati nurani.

Antara orang-orang yang menghajar maling dengan penonton yang memberikan penilaian, itu harus kita bedakan. Untuk orang-orang yang menghajar maling, mereka melakukannya secara emosional. Itu manusiawi sekalipun melanggar hukum dan terkena konsekwensi hukum. Disebut manusiawi, sebab emosional itu bisa terjadi pada siapa saja. Bisa jadi kita emosi terhadap istri atau anak-anak kita sendiri, bukan hanya terhadap maling saja. Termasuk perilaku maling itu juga manusiawi, artinya kitapun suatu kali bisa mata gelap dan melakukan maling. Tapi penonton adalah juri. Penonton adalah hakim. Bahwa tontonan orang memukul orang itu juga merupakan ujian bagi kita yang menonton. Justru hukum itu ada di tangan kita, penonton. Kita adalah hakim di hadapan TUHAN, bukan hakim bertoga di gedung pengadilan. Apa penilaian kita tentang fenomena orang memukul orang itu akan dinilai oleh TUHAN. Kalau hakim bertoga keputusannya akan dinilai oleh masyarakat, apakah hakim itu bijaksana atau zalim, tapi penilaian kita akan dinilai oleh TUHAN.

Kesalahan menilai menjadi dosa, kebenaran menilai akan menjadi kebenarannya. Nah, sekarang kita mencoba memikirkan sebuah ayat dalam sebuah kitab suci;

Im. 19:18Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Ayat itu berbunyi kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Itu artinya kita perlu mengambil posisi sebagai maling itu, bahwa seandainya maling itu adalah kita sendiri. Maukah kita dipukuli orang seperti itu?

Untuk penjabaran perbuatan maling itu mari kita lihat ayat yang lain;

Yohanes 8:4

Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Mungkin kita bukan maling, tapi korupsi. Mungkin bukan korupsi tapi menipu orang. Mungkin bukan menipu orang tapi berzinah dengan istri orang. Mungkin bukan berzinah tapi motor kita menabrak orang. Mungkin bukan menabrak orang, tapi berkata-kata kasar yang membuat orang marah. Mungkin bukan berkata-kata kasar tapi dianggap menghina agama FPI. Mungkin bukan menghina agama FPI, tapi tak bisa membayar utang, dan lain-lainnya. Bukankah ada banyak perbuatan yang selain maling yang bisa membuat orang emosional pada kita? Nah, dari sini kedapatanlah bahwa orang-orang yang menyetujui main hakim sendiri itu tidak benar dan terlihat bodoh, kurang berpikir secara luas.

Lebih jauh lagi akan terlihat sebagai orang yang tidak bertuhan. Sebab orang yang bertuhan akan berkaitan erat dengan masalah ampun-mengampuni. Di mana ketika dirinya berdosa pada TUHAN, tidakkah dia sangat mengharapkan kemurahan hati TUHAN?! Maukah dirinya tidak diampuni dan dihajar TUHAN babak belur?!

Matius 18:21

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Jadi, orang yang setuju dengan main kekerasan adalah orang yang jiwanya sangat jahat, bukan berasal dari TUHAN, tidak memiliki belas kasihan, egoisme, merasa benar sendiri, tidak berperikemanusiaan, tidak berkeadilan dan tidak beradab. Inilah orang-orang yang memberatkan dan bikin repot Indonesia. Terhadap orang demikian justru TUHAN mengambil tindakan pemusnahan. Maling dan orang-orang yang emosional bisa diampuni dosanya, tapi penonton yang menyetujui hukum kekerasan tidak bisa diampuni dosanya. Sebab dia itulah pecundang bangsa.

TUHAN saja benci dengan orang-orang yang seperti itu, maka kita juga harus membenci orang-orang yang seperti itu. Jika TUHAN melemparkan orang itu ke api neraka, maka dalam budaya Yahudi orang-orang seperti itu akan dikucilkan, sebab itu wabah penyakit masyarakat. Dari dia menilai sesuatu kita bisa mengenali jati dirinya;

Matius 7:15

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
7:16Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
7:17Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
7:18Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
7:19Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
7:20Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Mat. 12:37Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Hasil gambar untuk gambar melihat orang dihajar orang

Tidak ada komentar: