Jumat, 21 Juli 2017

PEREKONOMIAN HARI LIBUR

Presiden Jokowi yang bersemboyan: "Ayo, kerja, kerja, kerja!" ternyata berbanding terbalik dengan kenyataannya sebagai presiden yang paling gemar membuat hari libur nasional. Dan sebagai presiden yang berlatar belakang pengusaha meubel, patut disayangkan jika segala kebijaksanaannya tidak memperhitungkan dampaknya secara teliti, terutama yang menyangkut keekonomian rakyat.

Tanpa adanya hari besar nasional, liburan kantor pada hari Sabtu dan Minggu saja sudah berjumlah 100 hari pertahun. Kini ada 20 hari libur nasional, sehingga berjumlah 120 hari dibandingkan dengan 365 hari pertahun. Itu artinya orang harus bisa menutup target kebutuhan setahun dalam waktu 240 hari kerja. Kalau bagi orang yang bergaji bulanan tak masalah. Tak ada yang kurang dengan penghasilannya, malah hari libur mungkin bisa lebih irit. Tapi bagi warung-warung, pedagang bakso, pedagang siomay, pedagang batagor, pedagang rujak buah, pedagang es cendol, toko-toko, kios-kios rokok, tukang becak, tukang ojek, sopir Angkot, pedagang asongan, pedagang koran, dan lain-lainnya, tentu saja harus gigit jari dan siap-siap puasa. Sebab penghasilan mereka harian dan amat bergantung dari aktifitas kantoran.

Cobalah melihat ke jalan-jalan protokol yang dihuni oleh gedung-gedung perkantoran. Di hari kerja hitunglah ada berapa banyak pedagang yang menggantungkan rejekinya di sekitaran jalan itu. Bandingkan dengan sunyi-sepinya jalanan itu di saat hari libur. Tak ada satu warungpun yang berani buka. Bukan karena takut dengan Satpol PP atau preman, tapi takut dagangannya tak laku kalau hari liburan. Jadi, setiap hari para pedagang fakir miskin itu dihantui ketakutan dan kekuatiran. Kalau hari kerja takut dengan Satpol PP, kalau hari libur takut dagangannya tak laku.

Padahal di hari kerja, setiap hari mereka hanya mempunyai waktu sekitar 8 jam kerja kantoran, dari pagi sampai sore, harus bersaing dengan sesama pedagang. Sebab jika orang sudah kenyang dengan siomay tak mungkin dia akan membeli bakso juga. Praktis ketika si siomay untung, si bakso buntung. Beberapa juta dari sangu uang makan para pegawai itu diperebutkan oleh para pedagang itu untuk menafkahi keluarga mereka.

Menurut data ada 130 juta orang bekerja. Jika setiap orang setiap hari membelanjakan uang makannya sebesar Rp. 20.000,- maka nilai perputaran uang yang diperebutkan oleh para pedagang itu setiap harinya adalah Rp. 2,6 trilyun?! Dan jika dalam setahun ada 120 hari libur x Rp. 2,6 trilyun, coba hitung berapa nilai ekonomi yang hilang dalam setahun.

Oh, mereka setiap hari harus bersaing dengan sesama pedagang, mereka harus makan dan menanggung biaya hidup setiap hari sekalipun hari libur, mereka harus membayar rekening listrik yang semakin mahal, biaya sekolah atau kuliah anak, bayar utang sana-sini, dan lain-lainnya. Jika hari kerja saja belum tentu untung banyak, betapa pahitnya jika ditambah dengan hari libur. Pening, deh!

Zaman makin maju masakan hidup semakin sulit? Banyak ahli, banyak pakar, masakan makin sengsara? Gedung-gedung berdiri megah, jalan-jalan padat dengan mobil, masakan fakir miskin semakin banyak?

Orangpun mengecam saya: "Kamu bisanya cuma mengkritik." Saya jawab: "Itu sebabnya saya tak berani mencalonkan diri sebagai presiden. Tapi Jokowi bilangnya bisa menjadi presiden, tapi lha koq seperti ini hasil kerjanya????"

Soto nggak ada garamnya masak saya bilang enak? Soto enak masakan saya muntah-muntah?

Hasil gambar untuk gambar warung-warung di perkantoran

Posting Komentar