Kamis, 06 Juli 2017

POLISI TIDAK MENGANGGAP JAHAT KAUM DHUAFA

Satpol PP memburu gelandangan, pengemis, pedagang asongan, pengamen, pedagang kaki lima, dan lain-lainnya sampai ngos-ngosan hingga adu jotos seolah-olah mereka itu bajingan. Bahkan Satpol PP menuntut dipersenjatai seperti polisi dan tentara untuk membinasakan fakir miskin?! Tapi jika mereka itu bajingan mengapa bukan polisi yang bertindak? Dan jika bukan bajingan mengapa dikejar-kejar dan dihukum tanpa persidangan pengadilan, melainkan dihukum seenak perutnya sendiri?

Pernahkah terjadi gelandangan, pengemis, pedagang asongan, pengamen dan pedagang kaki lima dimusuhi oleh polisi, Densus 88 antiteror, tentara, tokoh masyarakat, ulama, pendeta, orang kampung atau petugas Siskamling?

Mengapa Satpol PP berdiri sendirian melawan Pancasila, UUD 1945, ajaran agama, hukum kepolisian dan rasa perikemanusiaan? Bukankah itu ciri-ciri PKI?! Di sini saya akan menyajikan berbagai berita yang kontradiksi, bagaimana presiden Jokowi bagi-bagi Sembako ke tukang-tukang becak, sementara becak di DKI Jakarta dianggap haram oleh Satpol PP, bagaimana Polsek Pedurungan Semarang bagi-bagi Sembako ke pengemis, sementara Satpol PP Semarang mengejar-ngejar para pengemis, bagaimana Pemda Semarang merobohkan kios-kios namun beberapa waktu kemudian di tempat yang sama diberdirikan kios-kios, seolah-olah peraturan yang dibuatnya itu mainan yoyo? Masyarakat ini lagi-lagi hanya dibuat mainan oleh pejabat!

Mana yang lebih tinggi kedudukannya antara presiden dengan Satpol PP, dan antara polisi dengan Satpol PP? 

Tukang Becak Dikejar-kejar Satpol PP Jakut

http://poskotanews.com/2017/01/24/tukang-becak-dikejar-kejar-satpol-pp-jakut/ 

Petugas sedang mengangkat becak keatas truk untuk dibawa ke gudang. (wandi)

JAKARTA (Pos Kota) – Tukang becak terpaksa harus menghindari petugas Satpol PP yang akan menangkapnya. Mereka pun dikejar-kejar petugas Satpol PP dalam operasi becak di dua kecamatan di Jakarta Utara (Jakut). Para tukang becak berupaya membawa alat transportasi roda tiga itu untuk menghindari kejaran aparat yang akan menangkap dan membawa becaknya.
Samsul, 50, tukang becak yang sering mangkal di kawasan Jalan Gorontalo, Tanjung Priok, Jakarta Utara ini, mengaku berusaha kabur dengan sekuat tenaga menghindari kejaran petugas. Namun, karena jumlah anggota lebih banyak akhirnya pria asal Kebumen, Jawa Tengah becaknya berhasil diangkut petugas.
“Saat itu berusaha lari dan berusaha menghindari razia yang digelar petugas. namun, karena jumlah mereka lebih banyak dan akhirnya  tertangkap juga. Kalau sudah seperti ini saya harus cari kemana, padahal selama ini becak tersebut saya gunakan untuk usaha memberi nafkah keluarga,”kata bapak 3 anak tersebut.
Ia juga mengaku dirinya terpaksa menjadi tukang becak karena tidak punya pekerjaan lain. Makanya setelah becaknya ini diamankan dirinya minta kepada pemerintah untuk mencarikan solusi lagi agar dirinya tetap bisa bekerja.
Hal senada juga diungkapkan oleh, Tulus, 48, tukang becak lainnya. Ia mengaku kesal karena becak satu-satunya yang selama ini digunakan untuk mencari nafkah keluarga harus diamankan petugas.
“Kesal saya, tapi begimana lagi. Selama ini saya tidak memiliki keterampilan lain selain mengayun becak. Kalau sudah tertangkap seperti ini anak dan istri saya nanti mau makan apa,”terang Warga Tugu Selatan tersebut.
Sementara itu Kasatpol PP Jakarta Utara, Roni Jarpiko mengatakan razia becak yang dilakukan dua lokasi berbeda yakni kecamatan Tanjung Priok dan Kecamatan Koja. Dalam operasi ini sebanyak 20 becak yang selama ini mangkal dengan seenaknya di jalan-jalan yang ramai dilintasi kendaraan digaruk petugas.
“Operasi ini kami gelar di sepanjang Jalan Enim, Gorontalo Raya, Gadang dan lain sebagainya bahkan melintas di jalan protokol, yaitu Jalan RE Martadinata dan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sedangkan di Koja, sepanjang Jalan Bhayangkara, Kramat Jaya dan sejumlah lokasi lainnya,”terang Rony Jarpiko, Selasa (24/1).
Penertiban puluhan becak ini dilakukan demi penegakan Perda No 8 Tahun 2007, tentang ketertiban umum. Selain itu angkutan roda tiga ini juga dilarang beroperasi di wilayah DKI Jakarta.
Rony tidak menampik kalau keberadaan becak cukup marak di Jakarta Utara. Namun, demi memberikan efek jera serta membersihkan Jakarta Utara dari becak yang memang sudah dilarang beroperasi di DKI Jakarta, pihaknya terus gencar melakukan razia. (wandi/win)

Jokowi Bagi-bagi Sembako ke Tukang Becak di Tasikmalaya

https://news.detik.com/berita/d-3525579/jokowi-bagi-bagi-sembako-ke-tukang-becak-di-tasikmalaya

Jokowi Bagi-bagi Sembako ke Tukang Becak di Tasikmalaya

Tasikmalaya - Selama perjalanan di Tasikmalaya, mobil kepresidenan yang membawa Presiden Joko Widodo tiba-tiba berhenti. Rupanya, Presiden Jokowi ingin menyerahkan paket sembako kepada tukang becak yang tengah menanti penumpang.

Jokowi kemudian memanggil beberapa tukang becak yang sedang duduk-duduk di becaknya itu untuk mendekat ke mobilnya. Dia lalu menyerahkan bantuan paket sembako ke beberapa tukang becak. Paket itu sudah disiapkan Jokowi di dalam mobil.

Para tukang becak yang mendapat bantuan tersebut terlihat tersenyum. Bahkan, ada yang terlihat kegirangan menerima paket yang berisi beras, minyak goreng, gula dan teh.

Ahok Geram Satpol PP DKI Kasar Tertibkan Penjual Kopi
http://metro.news.viva.co.id/news/read/804681-ahok-geram-satpol-pp-dki-kasar-tertibkan-penjual-kopi

VIVA.co.id - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, tidak mendukung tindakan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI yang berupaya menertibkan pedagang kopi keliling, yang sedang melintas di Jalan Kebon Sirih, dengan cara menyergap sepeda yang digunakan untuk berjualan dari belakang.

Ahok, sapaan akrab Basuki, mengatakan Satpol PP memiliki prosedur dalam melakukan penertiban. Satpol PP tidak dibenarkan secara langsung berusaha menyita barang dagangan.

Apalagi, dalam kejadian yang berlangsung Selasa malam, 2 Agustus 2016, pedagang tidak sedang mangkal menjajakan dagangan. Ia menjajakan barang dengan cara berkeliling menggunakan sepeda.

"Kalau mereka (pedagang) bisa diajak ngobrol baik-baik, (Satpol PP) enggak berwenang ambil barang," ujar Ahok di Balai Kota DKI, Rabu, 3 Agustus 2016.

Ahok mengatakan, pedagang yang harus ditertibkan adalah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kegiatan berdagangnya menyebabkan kemacetan. PKL yang tidak menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya juga harus ditertibkan.

Cara penertiban yang diambil, adalah persuasif, bukan berusaha mengejar pedagang yang terkejut karena ketakutan akan ditertibkan.

"Biasanya ditegur dulu. Kalau ditegur enggak mau (pindah dari lokasinya berjualan), ya ditindak," ujar Ahok.

Sebelumnya diberitakan, dua anggota Satpol PP DKI ditemukan berusaha melakukan penertiban pedagang kopi keliling yang hendak melintas di perempatan Jalan Kebon Sirih dan Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat, dengan cara yang membahayakan.

Kedua anggota Satpol PP turun dari mobilnya, dan mengejar pedagang yang terkejut karena takut akan ditertibkan. Mereka mengejar dan memegangi dudukan termos di bagian belakang sepeda yang digunakan berjualan. Pedagang, berusaha kabur.
Namun, karena dipegangi, laju sepeda menjadi sempoyongan. Sepeda hampir menabrak taksi yang sedang melintas. Galon, termos es, sejumlah barang dagangan, termasuk 44 pak rokok senilai lebih dari Rp1.000.000 berjatuhan. Kedua anggota Satpol PP mengambil semua barang yang terjatuh sebelum meninggalkan lokasi.
(ren)


Video: Polsek Pedurungan Merazia Kaum Lemah Lalu Disantuni

http://bloghakekatku.blogspot.co.id/2017/07/polsek-pedurungan-merazia-kaum-lemah.html

Dirazia Anggota Polsek Pedurungan, Para Pengemis Malah Mendekat. Ini Sebabnya


http://jateng.tribunnews.com/2017/06/19/dirazia-anggota-polsek-pedurungan-para-pengemis-malah-mendekat-ini-sebabnya

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Jajaran Unit Lantas Polsek Pedurungan merazia pengemis, penjual koran, dan tukang becak yang biasa mangkal di traffic light simpang Fatmawati, Sabtu (17/6/2017). Bukannya lari, mereka malah menurut saat dibawa ke tepi jalan.
Razia kali ini memang berbedar dari biasanya. Aparat berseragam cokelat itu tak sedang melakukan pembinaan tetapi tengah bagi-bagi paket nasi kotak, air mineral, juga uang dalam amplop.
Tak sampai satu jam, nasi kotak yang disediakan di kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB itu ludes.
"Ini upaya kami peduli terhadap kaum duafa. Apalagi di bulan Ramadan, tentu harus diisi dengan kegiatan positif ," ujar AKP Wahyu, Kanit Lantas Polsek Pedurungan, kepada Tribun Jateng, Senin (19/6/2017) petang.
Selain pengemis, penjual koran, dan tukang becak, anggota juga membagikan nasi kotak dan air mineral kepada pengguna jalan yang tengah berhenti di lampu merah. (*)
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Polsek Pedurungan merazia para pengguna jalan. Selain itu pengemis, penjual koran, dan tukang becak yang biasa mangkal di traffic light simpang Fatmawati tak luput dari razia, Sabtu (17/6/2017).
Bukan malah berlari, para kaum pengguna jalan dan dhuafa itu malah mendekat kepada Polisi.
Razia kali ini berbeda dengan biasanya. Kaum lemah itu tidak dijaring kemudian dibina di Kantor Polisi. Para pengguna jalan tidak untuk diperiksa kelengkapan berkendara. Tapi malah diberi paket nasi kotak, air mineral, dan angpao.
"Itu sebagai upaya kami peduli terhadap kaum duafa," ujar AKP Wahyu, Kanit Lantas Polsek Pedurungan kepada Tribun Jateng, Senin (19/6/2017) petang.
Kegiatan sosial itu merupakan upaya peduli terhadap kaum lemah. (Tribun Jateng/Rifqi Gozali)

Satpol PP Kejar-kejaran dengan Pengemis dan Pengasong hingga Exit Tol Krapyak


http://jateng.tribunnews.com/2017/06/08/satpol-pp-kejar-kejaran-dengan-pengemis-dan-pengasong-hingga-exit-tol-krapyak

Satpol PP Kejar-kejaran dengan Pengemis dan Pengasong hingga Exit Tol Krapyak

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Satpol PP Kota Semarang sedang gencar menegakkan perda nomor 5 tahun 2014 tentang penanganan Pengemis Gelandangan serta Orang Terlantar (PGOT).
Kemarin, petugas pun harus kejar-kejaran dengan pengasong hingga exit tol Krapyak.
Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro PM mengatakan keberadaan anak jalanan (anjal) dan PGOT meningkat di bulan ramadan ini.
"Kami duga ada oknum yang mengorganisir anjal dan PGOT sehingga mereka banyak beraktivitas saat bulan puasa Ramadan. Kebanyakan mereka dari luar Kota Semarang," ujarnya, Kamis (8/6).
Satpol PP Kota Semarang menangkap orang yang diduga PGOT setelah terjadi kejar-kejaran hingga Exit Tol Krapyak, Rabu 7 Juni 2017

Mereka kadang beraktivitas di lampu lalu lintas. Bahkan berdasarkan laporan warga anjal dan PGOT beraktivitas di daerah timur Kota Semarang.
"Para pengemis ini juga mulai memasuki pemukiman warga dan masjid-masjid yang banyak jamaahnya," kata Endro.
Endro mengatakan anjal dan PGOT yang terjaring razia akan diserahkan ke panti rehabilitasi sosial di Among Jiwo Ngaliyan.
"Saya berharap masyarakat agar tidak memberikan uang ke pengemis ketika di jalan. Ini dilarang dalam perda, juga pemberian uang tersebut justru mendukung aksi pengemis tersebut," ujarnya. (*)

Disesaki Ratusan Orang, Pembagian Zakat di Malang Berjalan Tertib

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3534472/disesaki-ratusan-orang-pembagian-zakat-di-malang-berjalan-tertib

Disesaki Ratusan Orang, Pembagian Zakat di Malang Berjalan Tertib

Malang - Ratusan warga Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, berebut pembagian zakat yang digelar seorang warga setempat. Ada tujuh tempat dalam pembagian zakat ini, semua digelar secara bergiliran. Satu orang mendapatkan uang sebesar Rp 50 ribu.

Haji Moh. Zaini Ilyas adalah orang yang membuat warga sumringah melalui pemberian zakat mal-nya. Tahun ini, Zaini berencana membagikan zakat untuk 4 ribu orang. Besaran uang yang diberikan sama, yakni Rp 50 ribu per orangnya. Pembagian dimulai sejak pagi tadi, hingga sore nanti.

"Kami ingin berbagi, tidak ada niatan selain itu. Karena ini juga rutin setiap tahun," kata Zaini kepada detikcom di sela pembagian zakat di Yayasan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo Jalan Pahlawan, Dampit, Kabupaten Malang, Minggu (18/6/2017).

Dia mengaku, terpaksa membagi zakat berbeda dengan tahun lalu, lantaran tidak mendapatkan izin keamanan.

"Beda dengan dulu satu tempat, kini harus disebar. Karena polisi tidak mengijinkan di satu tempat, zakat harus disalurkan ke badan amil," kata Zaini.

"Jadinya, ada tujuh titik, di tempat penggilingan padi, Yayasan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo, serta di rumah-rumah tokoh, yang semuanya di wilayah Dampit," lanjut Zaini.

Menurut dia, aparat keamanan semestinya memberi ruang bagi warga yang ingin membagikan zakat secara langsung. Penambahan personel bisa memberikan jaminan keaman serta kelancaran pembagian.

"Mestinya jangan tidak boleh, tapi diberikan ruang dengan menambah personel," tuturnya.

Meski ada banyak yang berebut ingin mendapatkan zakat, namun semuanya berjalan tertib. Panitia dibantu polisi mengatur orang-orang yang ingin mendapatkan zakat.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengaku, punya alasan mengapa tidak memberikan ijin pembagian zakat secara langsung.

"Saya arahkan memang demikian. Daripada mengumpulkan orang banyak biasanya malah justru berdesak-desakan. Bahkan, ada yang pingsan, tidak tertib dan sebagainya,"

Kapolres menyarankan, pembagian zakat lebih baik disalurkan kepada lembaga resmi, seperti badan zakat.
(iwd/iwd)

Ini Alasan Jenderal Polisi Silaturahmi ke Rumah Penabrak Mobilnya

https://news.detik.com/berita/d-3550804/ini-alasan-jenderal-polisi-silaturahmi-ke-rumah-penabrak-mobilnya

Ini Alasan Jenderal Polisi Silaturahmi ke Rumah Penabrak Mobilnya

Jakarta - Irjen Umar Septono tidak memarahi warga yang menabrak mobil dinasnya. Kakor Sabhara Baharkam Polri ini malah mendatangi dan bersilaturahmi dengan penabraknya itu, lalu mminta maaf.

Awalnya, Umar enggan menceritakan kejadiannya kepada detikcom. Namun, akhirnya Umar bersedia dan menjelaskan alasannya kenapa justru menemui orang yang menabraknya.

"Jadi gini, saya kan muslim. Tidak ada satu pun daun jatuh tanpa kehendak Allah, tidak ada suatu peristiwa tanpa kehendak Allah. Dan pasti ada hikmahnya," ujar Umar saat berbincang dengan detikcom, Kamis (6/7/2017).

Insiden tabrak belakang yang dialaminya pada Rabu (21/6) lalu di Tol Cipali, dianggapnya sebagai musibah. Ia pun berpikir, penabrak mobilnya itu juga tidak menghendaki adanya musibah itu.

"Faktanya mobil saya ditabrak itu pahit. Tapi karena ini ketetapan Allah, saya tidak akan marah, maka dengan rendah hari saya mendatangi yang bersangkutan," ujarnya.

Pada saat kejadian penabrakan, Umar saat itu tidak turun dan menemui Suyatim, pemilik mobil yang menabraknya, karena sedang tergesa-gesa untuk melaksanakan tugas mengecek kondisi arus mudik ke Jawa. Dia saat itu hanya meminta kepada ajudannya untuk mengecek kondisi Suyatim dan berpesan agar tidak memarahi sopirnya yang belakangan diketahui bernama Manijan.

Setelah kejadian itu, Umar selalu teringat insiden itu. Ia kemudian meminta ajudannya untuk mengecek alamat pemilik kendaraan ke Samsat.

"Saya yakin dia dalam kondisi ketakutan. Karena yang ditabrak itu mobil polisi dan lebih ketakutan lagi dia difoto mobilnya, kan dicek itu di Samsat. Sepanjang hari saya ingat, kemudian saya minta ajudan cepat dicari alamatnya," ujarnya.

Umar lalu memutuskan untuk menemui Suyatim di kediamannya di Bojong Gede, Depok, pada Selasa (4/7) lalu. Setibanya di rumah Suyatim, dia tidak mendapati Suyatim di rumahnya karena sedang mengajar di Universitas Indonesia. Suyatim adalah dosen tetap di Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (STMKG).

Setelah agak lama menunggu, Suyatim pun tiba. Umar kemudian memperkenalkan diri dan menceritakan maksud kedatangannya. Umar juga meminta Suyatim untuk mempertemukannya dengan Manijan, sopirnya, yang kebetulan masih tinggal bertetanggaan dengan Suyatim.

Umar, Suyatim dan Manijan pun bercengkerama. Umar juga menyampaikan permintaan maafnya kepada Suyatim dan Manijan atas insiden itu.

"Saya meminta maaf kepada mereka, saya datang hanya untuk bersilaturahmi saja sekaligus ingin mengecek kondisinya, apakah ada yang terluka atau tidak. Karena saya punya pengalaman tabrakan, saat kejadian dia bilang enggak apa-apa, eh besoknya ternyata meninggal," lanjutnya.

Meski dirinya seorang polisi berpangkat jenderal, namun Umar tidak merasa berat hati untuk meminta maaf. "Semua ini kan amanat Allah. Tuhan saja maha pengampun, masa kita sesama manusia tidak saling memaafkan. Letakan dunia di tangan jangan di hati, pangkat, kedudukan dan materi itu hanya fana. Maka kalau misalnya pangkat diambil itu kita tidak perlu sakit hati," tuturnya.
(mei/fjp)


Cari Tambahan Halal, Polisi Penjual Sosis Ini Dikeroyok Satpol PP

 http://regional.liputan6.com/read/2541711/cari-tambahan-halal-polisi-penjual-sosis-ini-dikeroyok-satpol-pp

Hasil gambar untuk gambar Cari Tambahan Halal, Polisi Penjual Sosis Ini Dikeroyok Satpol PP

Liputan6.com, Semarang - Seorang polisi muda anggota Satlantas Polsek [Semarang] Barat berniat menambah pendapatannya secara halal. Untuk itu selepas piket ia berjualan sosis bakar di kaki lima Jalan Pahlawan Semarang.
Sayangnya, niat baik mencari rezeki halal itu tak selamanya berjalan mulus. Saat berjualan ia dikeroyok puluhan anggota Satpol PP Kota Semarang.

Polisi kreatif nahas itu bernama Brigadir Mahfud Wahyu Prasetya. Setiap hari, usai berdinas ia menggelar dagangannya dengan sebuah gerobak. Karena jadwal piket yang tak pasti, ia merekrut seorang anak muda sebagai karyawan. Sandi namanya.

Kejadiannya Minggu malam, 26 Juni lalu. Seperti biasa Brigadir Mahfud menemani Sandi berjualan di Jalan Pahlawan Semarang. Tak berapa lama setelah menggelar dagangannya, tiba-tiba ada satu truk petugas Satpol PP sedang menertibkan PKL. Tibalah para polisi pengawal perda ini ke lokasi gerobak Brigadir Mahfud.

Tanpa basa-basi atau memberi peringatan, puluhan  Satpol PP Kota Semarang itu langsung mengangkat gerobak Mahfud dan hendak dinaikkan ke atas truk. Saat itulah ketegangan terjadi.

Menurut Mahfud ia sudah berbicara baik-baik agar gerobaknya tak diangkat. Karena memang didesain dengan gerobak beroda agar bisa dipindah.

"Saya pilih gerobak, bukan tenda karena bisa digeser saat dinilai mengotori," kata Mahfud kepada petugas piket Polrestabes Semarang saat melaporkan kasus penganiayaan itu, Senin, 27 Juni 2016.

Permintaan Mahfud agar gerobaknya tak diangkat ternyata tak direspons. Justru beberapa Satpol PP langsung merebut dan menyerobot gerobak itu, kemudian menaikkannya ke atas truk. Brigadir Mahfud kesal dan berusaha menahan gerobak dagangannya.

"Kami sempat cekcok. Sampai tiba-tiba ada anggota Satpol PP yang memukul saya. Teman-temannya yang lain kemudian ikut memukuli. Saat kejadian itu ada komandan regu Satpol PP, tapi dia membiarkan saja tidak melerai," kata Mahfud.


Kapolrestabes Semarang Kombes Burhanudin membenarkan ada anggotanya yang dikeroyok. Pelakunya sepuluh anggota Satpol PP Kota Semarang.

"Ini masih dalam penyelidikan. Kalau memang terbukti ya pastinya kami proses. Namun pada dasarnya ini salah paham," kata Kombes Burhanuddin, selasa (28/6/2016).

Kepala Satpol PP Kota Semarang Endro P Martanto membenarkan bahwa anggotanya terlibat pengeroyokan terhadap anggota polisi saat bertugas. Saat ini pihaknya masih mengumpulkan informasi.

"Nanti akan kita panggil dan periksa. Setelah itu baru saya laporkan ke atasan," kata Endro.

Sebelumnya, Endro bersikeras Satpol PP tidak pernah mengeroyok, apalagi kepada sesama penegak hukum. Peristiwa minggu malam itu, kata dia, didramatisir dan dilebih-lebihkan.

"Anggota hanya berniat menertibkan saja. Tidak ada pengeroyokan. Itu yang luka karena anggota polisi itu terbentur mobil tanpa sengaja," kata Endro, sebelumnya, Senin (27/6/2016).

Akibat pengeroyokan itu, Mahfud menderita luka robek di pelipis kanan.




Salut, Polisi di Cianjur Ini Punya Kebiasaan Memandikan Orang Gila

https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3523841/salut-polisi-di-cianjur-ini-punya-kebiasaan-memandikan-orang-gila

Salut, Polisi di Cianjur Ini Punya Kebiasaan Memandikan Orang Gila


Cianjur - Bulan Ramadan adalah bulan di mana segala perbuatan baik mendapat pahala berlimpah dari Allah SWT, kesempatan ini tidak dilewatkan seorang anggota polisi yang bertugas di Polres Cianjur, Jawa Barat bernama AKP Benny Cahyadi. Aksi sosial yang dilakukan Benny terbilang 'anti mainstream'.

Benny yang merupakan Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) di Polres Cianjur ini, tidak hanya berurusan dengan pelaku kejahatan, namun juga kerap 'kukurusukan' mencari gelandangan dan penderita gangguan jiwa.

'Memanusiakan Manusia' begitu Benny menyebut aksi sosialnya itu. Menggunakan kendaraan patroli 'backbone', Benny mulai menyasar pasar dan jalanan ramai di sekitar Kota Cianjur. Ketika menemukan penderita gangguan jiwa, tanpa ragu Benny mengajaknya untuk naik ke atas kendaraan patroli yang ia kemudikan.

Berbekal gunting cukur, sikat dan shampo tanpa ragu Benny memandikan mereka. Setelah bersih ia berikan pakaian layak dan bekal makanan. "Sekedar panggilan sosial, ketika mereka kita perlakukan layak bukan tidak mungkin mereka bisa kembali hidup normal," kata Benny di sela aksinya kepada detikcom, Rabu (7/6/2017) siang.

Salut, Polisi di Cianjur Ini Punya Kebiasaan Memandikan Orang GilaAKP Benny Cahyadi (kemeja hitam) saat memandikan salah satu orang gila di Cianjur. Foto: Syahdan Alamsyah
Menurut Benny, penderita gangguan jiwa layaknya orang normal juga memiliki hak yang sama. "Mereka berhak mendapat kehidupan layak, dan apa yang saya lakukan mungkin tidak memberikan banyak perubahan namun minimal dengan kegiatan ini bisa sedikit membantu mereka dan memberikan contoh bagi masyarakat lain," lanjut Benny.

Benny mengaku sudah menjalani aktivitas tersebut hampir selama 5 bulan lamanya. Dua kali dalam satu minggu kegiatan itu dia lakukan bersama anak-anak buahnya.

"Sekali lagi saya hanya memberi sedikit kebaikan bagi mereka yang punya keterbatasan, bukan untuk ria apalagi sombong dan aksi yang saya lakukan tidak mengganggu kewajiban saya sebagai abdi negara," imbuh dia.


Salut, Polisi di Cianjur Ini Punya Kebiasaan Memandikan Orang GilaAKP Benny Cahyadi bersama anggotanya tengah memandikan orang gila di Cianjur. Foto: Syahdan Alamsyah

(ern/ern)

Ketika Pemkot Langgar Aturan Sendiri

http://jateng.tribunnews.com/2017/04/21/ketika-pemkot-langgar-aturan-sendiri

Ketika Pemkot Langgar Aturan Sendiri


TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Penertiban pedagang kaki lima yang berdagang di tempat tak semestinya oleh Satpol PP Pemerintah Kota Semarang tentu sudah sering kita dengar. Dengan tegasnya, aparat Pemkot Semarang menindak para pedagang yang dianggap nakal karena nekat menggelar dagangannya di jalan.
Alasan Satpol PP jelas, yakni menegakkan perda yang melarang para pedagang berjualan memakan badan jalan atau trotoar. Selain alasan perda, sudah jelas bahwa berjualan di jalan atau bahkan di trotoar tentu dilarang karena mengganggu pemakai jalan. Jalan dan trotoar dibuat bukan untuk berdagang.
Sering pula kita lihat bagaimana para pedagang kaki lima lari tunggang-langgang menyelamatkan dagangan mereka, saat melihat petugas Satpol PP turun dari truknya. Tak jarang ada ketegangan dan tangisan para pedagang dalam setiap penertiban yang dilakukan Satpol PP.
Namun dalam beberapa hari terakhir, pemandangan aneh justru terlihat di Jalan Simongan, depan Pasar Beka (Pasar Simongan). Beberapa pekerja dengan santainya membangun lapak pedagang tepat di pertigaan badan Jalan Simongan menuju Jalan WR Supratman. Tak satupun Satpol PP terlihat di sana.
Bagaimana tidak aneh? Beberapa bulan sebelumnya, ketika jalan tersebut dilebarkan, para pedagang yang berjualan di tepi jalan itu disingkirkan dengan alasan pelebaran jalan. Kini justru lapak-lapak baru berdiri kokoh nyaris di tengah jalan.
Lebih menggelikan lagi, lapak tersebut bukanlah lapak liar yang dibangun para pedagang kaki lima. Lapak tersebut adalah lapak resmi yang dibangun atas restu Pemkot Semarang.
Alasannya, Pasar Beka akan direnovasi, sehingga pemerintah membangun lapak sementara dengan ‘meminjam’ lahan jalan raya. Alasan lain adalah sulitnya mencari lokasi lain untuk mendirikan lapak sementara.
Apapun alasannya, apa yang dilakukan oleh Pemkot Semarang ini adalah bentuk pelanggaran atas aturan mereka sendiri. Alasan hanya untuk sementara, dan sulit mendapatkan lokasi lain seharusnya tak bisa melegitimasi adanya pasar di tengah jalan raya.
Kalau begini caranya, apa bedanya Pemkot Semarang dengan pedagang kaki lima? Bahkan para pedagang kaki lima yang sering dikejar-kejar Satpol PP, punya alasan lebih kuat lagi.
Para pedagang kaki lima terpaksa berjualan di tepi (bukan di tengah) jalan karena alasan perut yang lapar. Mereka tak punya pilihan lain untuk bertahan hidup. Sayang alasan mereka itu tak mempan di hadapan Satpol PP. Dengan berbekal pentungan, Satpol PP tetap mengejar para pedagang yang lari. Satpol PP tak segan mengangkut dagangan yang tertinggal ke atas truk.
Lalu akankah pembangunan lapak di tengah Jalan Simongan ini menjadi pembenaran bagi semua pedagang kaki lima di Semarang untuk berjualan di tengah jalan? Bukankah sudah ada contohnya?
Tentu saja ini akan tergantung dengan sikap Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang saat lapak-lapak ini dibangun di tengah jalan, sedang berada di Jakarta untuk melihat langsung Pilkada Jakarta. Kita tunggu saja. (*)

Tidak ada komentar: