Rabu, 05 Juli 2017

YANG LEBIH BESAR DARI NERAKA ADALAH TERPAKSA

1. PANTI SOSIAL DAN PENJARA UNTUK MEMBUAT JERA;

Pemerintah sengaja mendisain panti sosial dan penjara sebagai tempat yang tidak enak dan tidak nyaman mungkin dengan maksud supaya para gelandangan dan para penjahat itu jera. Tapi bagaimana para gelandangan itu akan jera jika masalah sandang pangan atau nafkah hidupnya masih belum terpecahkan? Pekerjaan lain belum ada, modal tak punya, biaya hidup semakin tinggi. Maka, apa boleh buat untuk kembali mengemis sekalipun dengan resiko dimasukkan ke dalam panti sosial yang tidak manusiawi. Begitu pula dengan para narapidana. Jika masih belum mendapatkan mata pencarian lain yang lebih baik, maka apa salahnya jika kembali mencopet, maling ayam, maling motor, berdagang narkoba ataupun merampok?!

Sebagai masyarakat, sebagai anak bangsa, maka tugas dan kewajiban siapakah untuk memecahkan masalah lapangan kerja?! Bukankah tugas dan kewajiban bapak untuk menata masa depan anak-anaknya?! Apa gunanya pemerintah dikelilingi oleh para pakar dan para penasehat?! Jika pemerintah yang ada ahli dan ada modal saja tak punya akal, bagaimana seorang pak Parno yang buta huruf dituntut untuk memecahkan masalah yang tak terpecahkan oleh pemerintah?!

Jika pemerintah tidak bersedia melayani, mendandani, memelihara dan mengenakkan para gelandangan, ya lepaskan saja mereka, bubarkan keberadaan Departemen Sosial. Sebab setiap manusia itu kehendaknya adalah ingin enak. Oleh rasa enak itulah orang mengemis, menggelandang, mencopet, maling, mengisap narkoba, dan merampok, bahkan korupsi. Karena itu jika ada yang lebih enak, maka kebiasaan-kebiasaan itu pasti akan dilepaskan dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa dengan peraturan apapun. Jika di panti sosial dan di penjara suasananya bisa seperti hotel St. Regis Bali Resort, tempat raja Salman menginap ketika di Bali, saya yakin semua orang akan senang ditangkap Satpol PP dan dimasukkan ke panti sosial yang seperti itu.

Bob Hasan dan Tommy Soeharto yang dipenjarakan di Nusakambangan saja hidupnya seperti raja Salman. Bisa merasakan kasur empuk, AC dan naik helikopter pulang ke rumahnya. Karena itu mereka enjoy saja di penjarakan di Nusakambangan, yang bagi fakir miskin adalah neraka jahanam. Dan jika Bob Hasan yang kroninya Soeharto, serta Tommy yang anak kesayangannya Soeharto saja bisa dipenjarakan, maka apakah anda pikir anda tidak bisa dipenjarakan? Jabatan apakah yang tidak bisa dipenjarakan di negeri ini, jika anak dan kroni presiden mahadiktator, gubernur, menteri, ketua MA, anggota DPR, ketua umum partai, semuanya bisa dipenjarakan?! Nah, jika anda yang tukang tangkap para gembel itu sekali waktu kedapatan berbuat salah lalu dijebloskan ke dalam penjara, maukah anda dimasukkan ke dalam neraka jahanam?!

Kalaupun harta anda banyak, apakah anda tidak bisa menjadi miskin? Harta habis, jual rumah, tinggal di rumah kontrakan. Tak mampu mengontrak rumah, apakah anda tidak tinggal di tempat kos? Dan kalau membayar kospun juga tak mampu, apakah anda tidak menjadi gelandangan yang tidur di emper toko?!

Itulah sebabnya TUHAN saya mengajarkan: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Sebab saya adalah kamu, dan kamu adalah saya. Saya bisa seperti kamu, dan kamu bisa seperti saya. Yang miskin bisa mendadak kaya, yang kaya bisa mendadak miskin.

Apa yang kamu perbuat terhadap orang bisa memantul pada dirimu sendiri. Anas Urbaningrum, ketua partai Demokrat baru saja beriklan: "Katakan tidak, pada korupsi", tak berapa lama dirinya sendiri diciduk KPK karena kasus Hambalang. Habib Rizieq Shihab yang getol menyerbu tempat-tempat maksiat, kini malah tersandung kasus chat porno. Ahok yang ketika gubernur hobynya mengusir-usir orang, kini dirinya juga menjadi orang yang terusir. Ahok kini berkumpul menjadi satu dengan lawan-lawannya, senasib! Malah nasibnya lebih buruk, sebab kalau orang lain dipenjarakan karena bersalah, Ahok dipenjarakan hanya karena masalah politik. Dan tak lama lagi Ahok akan bersatu dengan habib Rizieq; yang memenjarakan bertemu dengan yang dipenjarakannya.

Karena itu hanya orang bodoh saja yang merasa dirinya benar, yang merasa dirinya kuat, dan yang merasa dirinya lebih dari orang lainnya. Tapi orang cerdas akan meresapi ajaran TUHAN YESHUA ha MASHIA, dan menjadi orang yang rendah hati.

2. YANG LEBIH BESAR DARI NERAKA ADALAH TERPAKSA;

Tak ada siksaan yang bisa mengalahkan keadaan terpaksa. Tak ada hukum yang bisa mencegah perbuatan orang yang terpaksa. Gunung tinggi akan kudaki, laut luas akan kuseberangi, adalah peribahasa yang disetujui kebanyakan orang dari generasi ke generasi. Semutpun kalau diinjak pasti akan melawan. Orang takutpun bisa mendadak menjadi berani jika tertekan.

Ratusan tahanan nekat kabur dari Rutan Pekanbaru, karena kapasitas 360 orang dimuati 1.800 orang, dan serba kekurangan air. Ketika perikemanusiaan sudah dihilangkan, maka merekapun akan benar-benar menjadi binatang. Tahun 1998 rakyat Indonesiapun tidak lagi takut terhadap presiden Soeharto.

Ul. 25:4Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik."

Firman TUHAN Semesta Alam: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik." Janganlah kamu mengganggu orang yang sedang bekerja. Jangan mengganggu, jangan merampas nafkah orang. Jangan mengusik urusan perut!

Orang marah kalau rumahnya digusur, kalau diusir-usir, kalau modal dagangannya dirampas. Memangnya kamu mau diperlakukan seperti itu?! Lebih-lebih orang merasa itu halal, bukan haram, bukan suatu kejahatan. Kalau polisi menangkap dan memusuhi orang jahat dan pekerjaan yang haram, Satpol PP menangkapi dan memusuhi orang yang tidak jahat dan yang bekerja halal. 


3. FASILITAS PRIBADI LEBIH PENTING DARI FASILITAS UMUM:

Fasilitas umum itu seleranya orang kaya. Karena untuk kebutuhan primer dirinya sudah tercukupi, maka dia melihat ke masalah umum. Tapi bagi orang-orang miskin yang dibutuhkannya adalah fasilitas untuk dirinya, untuk hidupnya yang masih serba kekurangan.

Orang miskin tidak butuh mesjid, tidak butuh jembatan, tidak butuh jalan toll. Yang dibutuhkan yang pertama-tama adalah makanan. Makan kenyang dulu baru sholat ke mesjid, baru jalan-jalan ke Kalijodoh dan naik mobil lewat jalan toll.

Kepentinganku di atas kepentingan  umum, bukannya kepentingan umum di atas kepentinganku. Bagaimana aku hendak menolong tetangga jika aku sendiri tak tertolong?! Ini soal dua sudut pandang, yaitu antara sudut pandang orang kaya dengan sudut pandang orang miskin. Jangan abaikan sudut pandang orang miskin!

Tak ada gunanya kotaku indah jika hidupku berantakan. Tak ada gunanya gedung-gedung bagus jika rumahku gubug derita. Tak ada gunanya kotaku bersih dan mendapatkan piala Adipura, jika masyarakatnya melarat dan banyak pengangguran. Hargailah jiwa-jiwa bukan bangunan-bangunan!

Ajaran TUHANku: "Jangan menghiasi tubuhmu melebihi hatimu!"

Mantan presiden yang berjiwa korup saja sanggup menasehati presiden Jokowi: "Jangan habiskan APBN untuk infrastruktur, tapi untuk fakir miskin." Sayang, justru untuk infrastruktur, presiden Jokowi yang prorakyat itu harus melanggar janji kampanyenya yang tidak akan berutang, menjadi berutang 3.600 trilyun. Dan menteri keuangan yang ternyata tak bermutu itu berkata: Jika tak berutang 3.600 trilyun maka pajak harus dinaikkan. Memangnya siapa yang menyuruh Jokowi membangun jalan-jalan toll? Yang UUD 1945 amanahkan adalah memelihara fakir miskin dan rakyat terlantar, bukan membangun jalan-jalan toll.

4. TAK MAU DIGUSUR KARENA SUDAH MAPAN;

Siapakah yang tidak marah jika sedang enak-enak tidur dibangunkan? Orang sudah terlanjur membangun di sini, terlanjur mempunyai pekerjaan di sini, lalu disuruh ke luar dari sini. Memangnya kamu mau dibegitukan?! Kalau pindah ke tempat lain bisa lebih enak, buat apa orang berkacak pinggang. Kalau pindah ke rumah susun masih bisa tetap bekerja, buat apa orang melawan Satpol PP?! Tapi karena tempat kerja dibongkar, rumah digusur, kehilangan pekerjaan dan masa depan kelihatan suram, maka orangpun terpaksa bertaruh jiwa melawan sebisa-bisanya.

Pada mulanya mereka adalah gelandangan yang membangun gubug-gubug dari kertas dan plastik bekas, dan menempati pinggiran sungai. Ketika ada rejeki, dibuatlah rumah yang lebih layak. Dan ketika ada rejeki lagi, dibangunlah rumah-rumah yang lebih baik. Lalu sebagian ada yang menjual rumahnya pindah ke tempat lain, maka bergantilah penghuni-penghuni baru. Yang asalnya gelandangan sudah pergi, kini orang-orang dari berbagai profesi yang menempati.

Karena tak pernah ada yang mempermasalahkan, maka mereka menganggap rumah itu beres sekalipun tanahnya milik pemerintah. Mereka menyadari bahwa sewaktu-waktu pemerintah memiliki hak untuk mengusir mereka. Tapi yang menjadi masalah bagi mereka adalah masalah sandang pangan, masalah pekerjaan.

Kalaupun ada ganti rugi, jika kehilangan pekerjaan, buat apa uang itu?! Kalaupun ada rumah susun, jika menjadi pengangguran, buat apa rumah bagus-bagus?! Untuk pencari kebutuhan perut itu yang dibutuhkan adalah pekerjaannya, bukan rumah bagusnya. Rumah jelek dan setiap tahun kebanjiran bukan masalah asalkan bisa cukup makan.

Dan semua kekuatiran mereka kini menjadi kenyataan. Di rumah susun mereka menganggur, bahkan tak mampu lagi membayar sewa, sehingga terancam diusir dari rumah susun itu. Ada 6.516 penghuni rumah susun atau 46% dari total 13.896 penghuni rumah susun terancam diusir.

Di zaman Soeharto mereka bisa tinggal di situ, kini, di zaman Ahok mereka diusir. Bukankah bagi mereka Soeharto itu menghidupi sedangkan Ahok itu membinasakan mereka? Apa gunanya Ahok jujur bagi mereka? Apa gunanya Ahok bersih bagi mereka?

Kalau ada maling yang memberi saya uang satu juta, masakan saya berterimakasihnya ke pendeta?!

5. FAKTA PEMERINTAH ADALAH TUKANG TIPU;

Apa namanya kalau kenyataan tak sesuai dengan omongan? Apa namanya sebuah janji kalau bukan utang? Apa namanya kalau utang tak dibayar? Tidakkah itu gombal?! Jika Dimas Kanjeng menipu ditangkap, ditahan dan kini menghadapi tuntutan hukuman mati, bagaimana dengan presiden demi presiden, gubernur demi gubernur, walikota demi walikota, bupati demi bupati, yang mengingkari janji-janji kampanyenya?!

Ada 11 janji kampanye Jokowi yang nyatanya ditabrak hancur. Bukan cuma diserempet, tapi dilumat habis semua janji-janji itu. Padahal orang tertarik memilihnya karena janji-janjinya itu. Tapi sekalipun janji-janji itu tak ditepati, para pendukungnya malah menganggap pahlawan. Mereka yang menganggap Jokowi pintar, serupa dengan memberikan kepintaran mereka kepada Jokowi, sehingga menyisakan kebodohan. Mereka menjadi miskin karena memberikan uang kepada Jokowi.


6. PEMERINTAH MELAWAN AGAMA-AGAMA;

Pasal 40 Perda DKI Jakarta 8/2007
Setiap orang atau badan dilarang:
a.    menyuruh orang lain untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
b.    menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan pengelap mobil;
c.    membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang atau barang kepada pengemis, pengamen, dan pengelap mobil.

Ancaman hukuman bagi orang yang memberi uang kepada pengemis, pengamen dan pengelap mobil adalah kurungan 60 hari atau denda 20 juta. Orang bersedekah dihukum hampir sama dengan maling sandal jepit, yaitu 3 bulan.

Kalau begitu ada berapa juta orang yang harus ditangkap oleh Satpol PP, yaitu orang-orang yang memberi uang kepada pengemis, pengamen dan pengelap mobil? Berapa juta orang yang memberi dan berapa juta orang yang menerima yang harus dikurung?

Bandingkan dengan Kornelius, seorang kafir bangsa Romawi yang bersedekah kepada orang-orang Yahudi;

Kisah 10:1

Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia.
10:2Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.
10:3Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!"
10:4Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.

Sedekah Kornelius menjadi perhatian TUHAN Semesta Alam.



Kamu Pasti Tidak Menyangka Gelandangan Cantik Ini Dulunya Ternyata Orang Kaya

http://palingseru.com/54100/kamu-pasti-tidak-menyangka-gelandangan-cantik-ini-dulunya-ternyata-orang-kaya

han-biyao-pengemis-cantik-yang-punya-ki-67413a-800x400

Gelandangan cantik ini dulunya merupakan orang yang kaya raya, namun tak disangka jika dirinya bisa jatuh miskin bahkan sampai membuatnya harus menjadi seorang pengemis.
Kisah miris ini dialami oleh gadis yang bernama Han Biyao. Dulunya Han Biyao merupakan anak dari orang kaya raya di Tiongkok, namun saat ini nasib malang telah menimpanya.
Han menjadi orang miskin setelah ayahnya meninggal dunia, dan ibunya sering sakit-sakitan. Han tak hanya diwarisi harta kekayaan ayahnya tetapi juga hutang yang malah melebihi harta kekayaan ayahnya.

SBY: APBN Jangan Dihabiskan untuk Infrastruktur

http://nasional.kompas.com/read/2015/05/14/00295491/SBY.APBN.Jangan.Dihabiskan.untuk.Infrastruktur

Ia menuturkan, biaya pembangunan infrastruktur harus berasal dari perpaduan antara anggaran pemerintah, anggaran BUMN dan kucuran dari swasta. Menurut SBY, harus ada jaminan anggaran yang cukup dari APBN dan APBD untuk peningkatan kesejahteraan dan program pengurangan kemiskinan.

Utang Tembus Rp 3.600 Triliun, Sri Mulyani: Kalau Ingin Kurangi, Maka Pajak Harus Dinaikkan

http://news.beritaislamterbaru.org/2017/07/utang-tembus-rp-3600-triliun-sri.html



Opini Bangsa - Utang negara per Mei 2017 tembus Rp 3.672,33 triliun. Meski utang sudah menggunung, pemerintah sering sekali menyampaikan bahwa utang negara masih aman. Rakyat diminta tak khawatir dengan kondisi ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak ingin besarnya utang pemerintah bikin masyarakat ketakutan.

Per Mei 2017, pemerintah mencatat nilai utang sebesar Rp 3.672,33 triliun. Angka ini naik Rp 4,92 triliun dibanding bulan sebelumnya yang sebesar Rp 3.667,41 triliun. Ini juga naik Rp 201 triliun dibandingkan posisi Desember 2016.

"Kami akan tetap menjaga ekonomi Indonesia dan pengelolaan utang secara hati-hati, transparan. Kami terus jaga secara hati-hati. Kalau ingin kurangi utang maka penerimaan pajak harus dinaikkan. Itu kami lakukan dengan reform perpajakan," ungkap Sri Mul di Kantor Kementerian Kuangan, kemarin.

Tak Mampu Bayar Sewa, 6.516 Penghuni Rusun Bakal Diusir
http://www.teropongsenayan.com/50660-tak-mampu-bayar-sewa-6516-penghuni-rusun-bakal-diusir

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Prabowo Soenirman mengatakan, saat ini sebanyak 6.516 warga atau sekitar 46 persen dari total 13.896 penghuni rusun pemerintah terancam diusir oleh pengelola karena menunggak pembayaran sewa lebih dari tiga bulan.
"Masalah penghuni Rusun yang terancam diusir ini membuktikan ada yang salah dalam relokasi korban gusuran ke rusun. Sehingga perlu ada evaluasi menyeluruh," kata Prabowo kepada wartawan, Jakarta, Rabu (26/10/2016).
Karenanya, Prabowo meminta Pemprov DKI tidak membiarkan korban penggusuran kehilangan tempat tinggal dan sekaligus memikirkan juga nasib pekerjaan.
"Mereka ini warga Jakarta, rakyat Indonesia yang harus difasilitasi oleh pemerintah (Negara). Pendapatan mereka sebelumnya juga harus dikembalikan, jangan diperlakukan kayak mindahin barang dong. Mereka ini kan tetap butuh penghasilan buat bayar sewa rusun," ujar politisi Gerindra ini.

11 (sebelas) FAKTA KEBOHONGAN JANJI JANJI KAMPANYE JOKOWI setelah di LANTIK menjadi PRESIDEN

https://id-id.facebook.com/notes/faizal-muhammad/11-sebelas-fakta-kebohongan-janji-janji-kampanye-jokowi-setelah-di-lantik-menjad/1004296979597204/


Tidak ada komentar: