Selasa, 22 Agustus 2017

3 PENGALAMAN DEJA VU

"Deja Vu" dari bahasa Perancis yang artinya "pernah dilihat". Saya mempunyai 3 pengalaman deja vu, yaitu suatu perasaan seolah-olah saya pernah ke tempat itu dan pernah melakukannya, yang ketika dicek oleh kesadaran dan nalar sehat itu tak mungkin atau mustahil sekali. Beberapa teori ilmiah telah mencoba menganalisa misteri deja vu tersebut, namun hingga kini masih menjadi perdebatan apakah itu ilmiah atau supranatural. Hanya saja saya tertolong bahwa kasus itu dialami banyak orang dan telah mempunyai istilah ilmiahnya, sehingga saya tidak disebut berkata yang mengada-ada dengan 3 pengalaman yang tak masuk akal itu. Dan yang menyebutkan itu namanya deja vu adalah murid saya, setelah 14 tahun saya mempertanyakan dalam hati: "kapan saya pernah ke sini dan kapan saya pernah melakukan ini?"

Rumah tangga saya berantakan tahun 2004, lalu saya menjadi penginjil seperti sekarang ini, maka orangpun berkata bahwa saya menjadi penginjil karena stress, karena rumahtangga saya berantakan. Maaf, itu dugaan yang sangat keliru dan sangat terbalik. Justru rumahtangga saya yang berantakan itulah yang menguatkan rencana saya menjadi penginjil. Artinya, rencana menjadi penginjil itu sudah ada beberapa tahun sebelum rumahtangga saya berantakan.

Tahun 1998 saya dibaptis di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Surabaya. Di waktu itu hubungan saya dengan istri baik-baik saja, sedangkan bisnis saya juga lancar-lancar saja. Saya berteman dekat dengan seorang Advent yang ahli nubuatan bernama: Jimmy Senduk. Saya diberinya buku-buku nubuatan tulisan Ny. Ellen G. White, yang antara lainnya adalah Alfa dan Omega, yang terdiri dari 8 buku. Buku ke-8: "Kemenangan Akhir" saya baca sampai 2 kali, dan itulah yang menggelorakan jiwa saya untuk menanggalkan keduniawian dan berencana menjadi penginjil secara totalitas. Isi buku itu membuat saya gelisah, tidak tenteram dengan kehidupan keduniawian yang sedang saya jalani ketika itu. Kehidupan keduniawian ini saya pikir hanyalah perjalanan di lapangan neraka. Saya sudah tak tertarik dengan keduniawian. Nafsu berdagang menjadi lesu sehingga itulah yang menyebabkan saya bangkrut. Maaf, baru kali inilah saya menyatakan yang sejujurnya penyebab kebangkrutan saya adalah hilangnya semangat kerja saya.

Tahun 1999 saya utarakan rancangan saya menjadi penginjil totalitas tersebut kepada Jimmy Senduk. Jimmy Senduk mendukung, tidak melarang sedikitpun. Cuma saya disarankan mencari pengalaman lebih dahulu melalui program gereja: TSPM - Tenaga Sukarela Pengembangan Masyarakat, yaitu sebuah metode penginjilan terselubung melalui program-program kemasyarakatan. Honorariumnya hanya Rp. 250.000,- sebulan. Mana cukup? Untuk hidup sendiri saja tak mungkin cukup. Hidup tanpa rokok 2 bungkus seharipun tak mungkin cukup. Lebih-lebih untuk menghidupi keluarga. Gila?! Tapi saya mata gelap, saya masuki saja itu setelah ada persetujuan dari istri. Sebab kebetulan waktu itu istri saya ada bisnis, sehingga itulah yang saya harapkan untuk menghidupi anak-anak.

Tahun 2000 - 2002 saya ditugaskan di kota Ponorogo, Jawa Timur. Ketika hendak membuka pintu gereja yang sekaligus tempat tinggal saya, hati saya berdebar-debar. "Saya pernah ke sini dan saya paham sekali dengan ruang-ruangnya", kata saya dalam hati. Tapi kapan? Saya mencoba mengingat-ingatnya, tapi jawabannya selalu: "Tak mungkin" - mustahil!

Tahun 2002 - 2003 saya dipindahkan ke Ngawi, Jawa Timur juga. Di sini juga terbersit ingatan: "Saya pernah ke sini dan hafal dengan ruang-ruangnya". Tapi kapan? Ngapain saya ke sini?

Tahun 2004 rumahtangga saya berantakan. Istri menuntut cerai. Maka dengan hati gundah gulana dan hancur lebur berantakan, dalam keputusasaan saya terpaksa memasuki rancangan saya semula, yaitu menjadi penginjil totalitas.

Menjadi penginjil totalitas seperti ini hati saya girang seperti orang tercapai cita-citanya. Tapi yang saya gugat pada kehidupan ini adalah mengapa saya harus berantakan dari istri dan anak-anak? Jelas saya protes itu! Mau saya adalah kedua-duanya jalan, ya rumahtangga, ya penginjil, tidak sebatangkara seperti sekarang ini. Tapi rancangan saya bukanlah rancangan TUHAN. Kini saya mengerti bahwa TUHAN lepas tangan membiarkan saya dibinasakan oleh iblis seperti Ayub. Sebab suatu peristiwa takkan terjadi tanpa seijinNYA.

Jadi, TUHAN biarkan saya dimakan iblis supaya hancur jasmani saya, barulah dari debu TUHAN membentuk saya menjadi ciptaan yang baru. Sebab tidak mungkin duniawi dibersamakan dengan rohani.

Kol. 3:5Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

Gal. 6:15Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.

Yak. 4:4Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.

"Tanggalkan kasutmu, sebab tempat kamu berdiri itu kudus"

Kel. 3:5Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

Dan manakala saya memasuki kehidupan pengembaraan ini, kembali untuk ketiga kalinya saya dikejutkan bahwa saya sudah tidak asing dengan kehidupan seperti ini. Kehidupan ini adalah sudah biasa, tak ada yang aneh. Karena itu saya enjoy saja. TAPI KAPAN SAYA PERNAH SEPERTI INI?

Semua pengalaman itu di tahun 2014 saya ceritakan kepada murid-murid saya, dan salah seorang murid nyeletuk: "Itu namanya deja vu, pak guru". Oh, ada namanya? Ada istilah ilmiahnya? Banyak orang yang mengalaminya? Berarti saya tidak bohong, donk! Berarti saya bukan mengada-ada. Dan dunia ilmiah masih belum bisa menjelaskan secara ilmiah hal itu. Itu bagus bagi saya, memberikan legitimasi bagi kehidupan saya yang sekarang ini, bahwa semua ini adalah JALAN TUHAN, bukan jalan saya sendiri;

Yl. 2:28"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.

Nubuatan nabi Yoel itu dijadikan dasar oleh rasul Petrus;

Kis. 2:17Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.

Nah, jika semua ini adalah JALAN TUHAN, bagaimana orang seperti saya bisa menolaknya? Dan bagaimana kamu hendak menolak keadaan saya? Bukankah sama dengan kamu menolak TUHAN?

Galatia 1:15

Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,
1:16berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;

Déjà vu

https://id.wikipedia.org/wiki/D%C3%A9j%C3%A0_vu

Déjà vu, (Speakerlink-new.svgaku/ˌsʒɑː ˈv/; Perancis pronunciation: [de.ʒa.vy])  dari bahasa Perancis, secara harfiah "pernah dilihat", adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.[1][2][3][4] Déjà vu adalah suatu perasaan telah mengetahui dan déjà vécu (perasaan "pernah hidup melalui" sesuatu)[5] adalah sebuah perasaan mengingat kembali.[6]
Pendekatan ilmiah menolak penjelasan bahwa déjà vu adalah "prekognisi" atau "ramalan". Pendekatan ilmiah menjelaskan bahwa déjà vu adalah anomali ingatan, yang membuat kesan berbeda bahwa suatu pengalaman "diingat kembali".[7][8] Penjelasan ini didukung oleh fakta bahwa arti dari "mengingat" pada waktu itu sangat kuat dalam banyak kasus, tetapi keadaan pengalaman "sebelumnya" (kapan, di mana, dan bagaimana pengalaman sebelumnya terjadi) tidak pasti atau diyakini tidak mungkin. Dua jenis déjà vu yang diperkirakan ada adalah jenis patologis dari déjà vu yang biasanya berhubungan dengan epilepsi dan non-patologis yang merupakan sebuah karakteristik dari orang yang sehat dan fenomena psikologis.[9][10][11][12]
Sebuah survei tahun 2004 menyebutkan bahwa sekitar dua pertiga populasi pernah mengalami déjà vu.[13] Studi lain menguatkan bahwa déjà vu adalah pengalaman yang umum dialami oleh individu-individu yang sehat, dengan antara 31% dan 96% individu melaporkan pernah mengalaminya. Pengalaman déjà vu yang terjadi berkepanjangan atau sering (merupakan hal yang tidak umum), atau berhubungan dengan gejala lain, seperti halusinasi, mungkin menjadi indikator penyakit neurologis atau psikiatris.[14]

Hubungan dengan gangguan

Peneliti-peneliti awal mencoba membangun hubungan antara déjà vu dan gangguan mental, seperti kecemasan, gangguan kepribadian terpecah, dan skizofrenia, tetapi mereka gagal menemukan korelasi penilaian diagnosis.[15] Tidak terlihat hubungan istimewa antara déjà vu dan skizofrenia.[16][17]
Patologis terkuat terkait dengan déjà vu adalah epilepsi lobus temporal.[18][19][20][21][22][23] Korelasi ini menyebabkan para peneliti berspekulasi bahwa pengalaman déjà vu mungkin adalah sebuah anomali neurologik terkait dengan luahan listrik yang tidak wajar dalam otak. Kebanyakan orang mengalami kejadian-kejadian epileptik ringan (non-patologi) secara teratur (e.g. suatu sentakan hipnagogik, sentakan tiba-tiba yang sering, tetapi tidak selalu, terjadi sesaat sebelum tertidur), sehingga diduga kelainan neurologis (ringan) yang serupa terjadi saat mengalami déjà vu, menyebabkan sensasi ingatan yang keliru. Para ilmuwan bahkan telah meneliti genetika saat mempelajari déjà vu. Meskipun saat ini tidak ada gen yang terkait dengan déjà vu, gen LGII pada kromosom 10 sedang diteliti lebih lanjut yang mungkin ada hubungannya. Beberapa bentuk tertentu dari gen berhubungan dengan epilepsi ringan, meskipun tidak pasti, déjà vu terjadi cukup sering selama kejang, sehingga para peneliti memiliki alasan untuk mencurigai adanya keterkaitan.[24]
Sebuah studi tahun 2008 menyatakan bahwa pengalaman déjà vu tidak diyakini sebagai pengalaman disosiatif patologis.[25]

Misteri Dejavu, ini 7 Fakta tentang Dejavu

http://www.terseram.com/2016/12/misteri-dejavu-ini-7-fakta-tentang.html


Terseram.com- Dejavu adalah fenomena batin yang dialami seseorang. Di mana orang akan mendadak merasa ingat akan suatu hal, tempat, dan kejadian, padahal belum pernah mengalami kejadian tersebut.
Dejavu erat kaitannya dengan mindpower dalam menyimpan memori jangka panjang. Orang yang sering mengalami Dejavu biasanya memang tergolong orang yang memiliki daya ingat tinggi. Mereka bisa mengingat berbagai hal secara sangat detail. Hingga hal-hal remeh temeh misalnya seperti warna baju orang yang melintas di didekatnya saja sampai hafal.
Namun, fenomena Dejavu pada hakikatnya tergolong jenis pengalaman supranatural yang ajaib. Dejavu juga mengindikasikan tentang adanya kekuatan batin luar biasa yang terpendam di dalam diri manusia. Kekuatan ini adalah sebuah kekuatan untuk merekam kejadian-kejadian yang pernah dialami seseorang pada kehidupan pastlife, nya. Sebuah kehidupan di mana seseorang dulunya pernah alami reinkarnasi.
Mengapa Dejavu dekat dengan reinkarnasi? Karena apa yang membuat seseorang merasa pernah mengalami kejadian serupa atau pernah melihat realitas serupa adalah fakta bahwa di masa lalu, orang itu memang pernah mendapatkan pengalaman macam itu. Di pastlifenya memang pernah alami
 Di masa sebelum dirinya reinkarnasi pernah mengalami.
Berikut adalah 7 fakta tentang Dejavu:
1. Dejavu adalah salah satu fenomena supranatural yang menyangkut dengan daya ingat manusia akan hal-hal detail dalam kehidupannya. Baik kehidupan sekarang atau masa lalu (pastlife).
2. Orang yang mengalami Dejavu akan merasa dirinya pernah mendapatkan pengalaman hidup serupa. Ia merasa mendapatkan 2 kali bahkan lebih kejadian yang sama.
3. Dejavu biasanya meliputi dejavu terhadap realitas ruang dan waktu. Dejavu ini biasanya menyangkut segala hal pada dimensi ruang dan waktu.
4. Orang yang mengalami Dejavu Biasanya terkejut dan muncul rasa takut. Seolah dia akan bisa menebak hal-hal yang bakal terjadi.
5. Meski tergolong kemampuan spiritual, Dejavu sebetulnya bisa dialami oleh semua orang tanpa memandang dia siapa.
6. Dejavu bisa menjadi alat bantu dalam mengambil sikap. Dejavu membuat seseorang menjadi lebih jeli melihat hukum deterministik dan kausalitas alam.
7. Ketika seseorang mengalami Dejavu, maka jiwanya sedang dalam kondisi terbuka. Dejavu seakan menjadi tanda dari aktivitas batin. Semakin sering Dejavu, maka semakin tajamlah firasat batin seseorang.


Posting Komentar