Kamis, 17 Agustus 2017

ARTI 17 AGUSTUS

Arti 17 Agustus bagiku adalah "pusing juga". Barusan sebulan habis-habisan uang buat merayakan Lebaran. Utang-utang untuk Lebaran belum lunas, aku harus membeli tiang bendera. Terpaksa aku puasa supaya bisa membeli tiang bendera. Esoknya puasa lagi untuk membeli kain bendera merah putih. Repot, di zaman Orde Baru kalau tidak memasang bendera merah-putih pasti akan dijemput orang Koramil lalu diinterograsi, dicurigai PKI.

Barusan puasa hari kedua untuk membeli bendera, datanglah pemuda Karang Taruna menenteng sebuah map, menyodorkan proposal sumbangan untuk acara Agustusan. Katanya untuk hadiah lomba panjat pinang. Aku manggut-manggut mendukungnya, sebab kupikir para pejuang zaman dulu juga berlomba panjat pinang untuk mengalahkan Belanda. Pantas saja banyak sekali pejuang yang gugur karena panjat pinangnya licin sekali, sehingga mereka terjatuh dan gegar otak sebelum sempat menembak tentara Belanda.

Hasil gambar untuk gambar panjat pinang

Itulah sulitnya mengalahkan tentara Belanda, sebab pejuang kita harus lomba panjat pinang sebelum menembak mereka.

Terpaksa aku puasa lagi untuk menyumbang Agustusan di kampungku. Baru selesai puasaku di hari yang ketiga, datang lagi pemuda-pemuda dari sebuah Ormas yang sedang terancam Perppu-nya Jokowi, mereka membawa sebuah map juga, dan isinya juga meminta sumbangan untuk organisasi mereka yang mengadakan acara gerak jalan. Aku manggut-manggut lagi mendukungnya, sebab kupikir para pejuang kita dulu juga melakukan lomba baris-berbaris ketika berperang melawan penjajah Belanda. Pantaslah jika pejuang kita banyak yang gugur sebab di saat mereka berbaris dengan gagah perkasanya, pasukan Belanda menembaki mereka.

Hasil gambar untuk gambar baris-berbaris

Kupikir ini kesalahan fatal panglima perangnya. Harusnya perang, ya langsung main serang musuh saja, nggak usah baris-berbaris dan karnavalan. Terlalu rumit acara peperangan yang bergaya kesultanan begitu itu.

Hasil gambar untuk gambar karnavalan

Tirulah orang-orang yang sedang tawuran yang nggak usah baris-berbaris dan nggak usah karnavalan;

Hasil gambar untuk gambar tawuran

Ormas yang satu selesai kusumbang, datang Ormas yang lainnya lagi. Membawa sebuah map lagi, minta sumbangan lagi. Bilangnya untuk acara lomba makan kerupuk. Aku manggut-manggut lagi mendukungnya, sebab dadaku merah-putih harga mati.

Hasil gambar untuk gambar lomba makan kerupuk

Pantaslah kalau para pejuang kita dulu itu kurus-kurus, sebab cuma kerupuk makanannya. Harusnya minum Kuku Bima Energi, biar menangan kalau perang.

Setelah nonton karnaval, nonton pidato kenegaraan presiden Jokowi yang memaparkan hasil-hasil kerjanya sebagai presiden selama setahun ini, di mana perekonomian sudah berhasil ditingkatkan menjadi semakin sulit di tahun 2017 ini. Harga barang-barang berhasil dinaikkan, fakir miskin semakin meningkat, pengangguran semakin banyak, utang negara meningkat, kriminalitas semakin meningkat baik kwantitas maupun kwalitasnya, bom teroris makin banyak, pelanggaran hak asasi manusia para jendral berhasil ditutupi rapat-rapat, serta suhu perpolitikan di dalam negeri juga sudah semakin panas.





Hasil gambar untuk gambar pidato kenegaraan jokowi


Cuma ada 2 pilihan: MERDEKA ATAU MATI. Kamu yang merdeka, aku yang mati. Kamu bisa seenak-enaknya membuat kebijaksanaan, maka akulah yang mati.

Dalam hati aku bertanya: "Mengapa pak Soekarno tidak memutuskan satu pilihan saja, yaitu: Merdeka saja, supaya nggak ada yang mati?" Mengapa harus "merdeka atau mati?"

Tidak ada komentar: