Kamis, 03 Agustus 2017

BULAN-BULAN SIALAN FAKIR MISKIN

Setidaknya ada 2 bulan dalam setahun yang dikeramatkan oleh pemerintah RI, yaitu bulan ramadhan dan bulan Agustus, bulan kemerdekaan RI. Begitu tanggal 1 Agustus, maka 2 buah truk Satpol PP berjalan pelan-pelan diiringi oleh belasan prajurit Satpol PP yang gagah perkasa, lalu disikatlah segala bendera-bendera, spanduk-spanduk, baliho-baliho, warung-warung, pangamen, pengemis, gelandangan, fakir miskin dan rakyat terlantar. Mereka dianggap penjajah, musuh utama pemerintah RI. Mereka disebut sebagai Pekat - penyakit masyarakat, sehingga harus disingkirkan dari muka bumi.

Sebab, apa gunanya Jokowi berutang hingga 3.600 trilyun untuk membangun jalan-jalan toll, membangun kota-kota, gedung-gedung pencakar langit, jika kota-kota dirusakkan pemandangannya oleh kaum fakir miskin dan rakyat terlantar? Daripada mata melihat gelandangan dan pengemis, lebih baik mata melihat gedung-gedung pencakar langit, bukan?!

Karena itulah fakir miskin dan rakyat terlantar harus disikat habis. Mereka harus dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi untuk sewaktu-waktu di holokaus.

Kalau dalam sehari mereka bisa menghancurkan 10 warung, maka sebulan = 300 warung. Jika diskalakan secara nasional yang berjumlah 514 kota, maka ada 154.200 warung seluruh Indonesia. Jika dihitung pertahun; 154.200 x 2 bulan sialan fakir miskin, maka dalam setahun pemerintah berhasil memiskinkan 308.400 orang atau keluarga. Jika dihitung dalam 1 periode pemerintahan presiden yang 5 tahunan; 308.400 x 5 tahun = 1.542.000 orang atau keluarga.

Itulah sebabnya Jokowi menyebut pemerintahannya: INDONESIA HEBAT!

Selain warung-warung, di Jakarta, dikabarkan pemerintah memusnahkan ratusan bemo, diganti dengan Bajaj roda empat. Lho, mengapa koq Bajaj, bukannya Rolls Royce? Sebab kalau cuma Bajaj, ntar tahun depan akan dianggap kurang baik, diganti roda lima, roda enam, dan roda tronton. Harusnya sekalian dengan yang terbaik. Kasihan sopir-sopir bemo itu, jika seumur hidupnya dihantui cicilan mobil dengan alasan peremajaan.

Dengan mengoperasikan bemo-bemo tua, bemo-bemo haram, yang tanpa beban angsuran saja para sopir bemo sudah pusing dengan gugatan dapur istri-istrinya. Duuh, betapa pusingnya jika punya Bajaj baru tapi tak ada penumpangnya? Betapa enaknya para pejabat yang mendapatkan komisi dari lakunya Bajaj, ya?!

Pasar lama, bakar, biar bisa korupsi dari anggaran bikin pasar baru. Akh, lagu klasik itu!

Di Makasar, diberitakan ratusan driver Gojek dan Grabbike bikin aksi anarkis memerangi ojek pangkalan. Jokowi dan Ahok pasti senang mendengar berita itu, berita modernisasi. Indonesia harus maju, harus mendunia. Kota-kota di Indonesia harus semodern kota-kota di Jerman. Segala yang tradisional, sikat habis!

Dilarang Mengambil Penumpang, Ratusan Driver Ojek Online Mengamuk

https://video.tempo.co/read/2017/08/02/7393/dilarang-mengambil-penumpang-ratusan-driver-ojek-online-mengamuk

TEMPO.CO, Makassar: Aksi kejar-kejaran oleh ratusan driver online ini terjadi di depan rumah sakit Wahidin Makassar Sulawesi Selatan Rabu siang tadi. Beruntung para driver ojek konvensional atau pangkalan tidak berada di pangkalannya, hingga membuat ratusan driver online melampiaskan amarahnya dengan merusak salah satu motor yang diduga milik oknum tukang ojek pangkalan.

Tak hanya itu, kericuhan terus berlanjut hingga ke pangkalan ojek di jalan Lanraki Makassar. Petugas bahkan sampai kewalahan, hingga melepaskan tembakan peringatan untuk melerai aksi para driver online tersebut.

Aksi ini merupakan buntut dari pelarangan ojek online, grab dan Gojek, untuk mengambil penumpang dan masuk ke dalam lorong melalui spanduk yang di pasang pada setiap pangkalan ojek di berbagai lorong di kota Makassar.

Hasil gambar untuk gambar Dilarang Mengambil Penumpang, Ratusan Driver Ojek Online Mengamuk


Tidak ada komentar: