Jumat, 21 September 2018

ASIAN GAMES - MAHKAMAH AGUNG - BERAS

Perhelatan Asian Games 2018 yang barusan berakhir telah mengibarkan nama Indonesia dan sangat mencengangkan masyarakat. Sebab dari target 12 medali emas berhasil dilampaui 2,5 kali lipat menjadi 30 medali emas, membuat Indonesia berada di peringkat ke-4 setelah China, Jepang, dan Korea.

Itu terjadi di tanggal 2 September 2018. Dan sekalipun Jokowi adalah presiden, bukan atlet Asian Games, namun prestasi itu telah mengharumkan namanya sebagai pengendali negara Indonesia, termasuk menempatkan Imam Nahrawi sebagai menteri pemuda dan olahraganya. Artinya, dibawah kepemimpinan presiden Jokowilah Indonesia berprestasi di bidang olahraga.

Namun pada tanggal 13 September 2018, tepat di angka sial: "13", sial bagi Indonesia. Mahkamah Agung Republik Burung Garuda ini memutuskan membatalkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum(PKPU) nomor 20 tahun 2018 tentang pencalonan legislatif mantan terpidana kasus korupsi. Artinya, mantan koruptor berhak dipilih menjadi anggota legislatif. Kita lihat dulu nomor peraturan itu yang juga berjumlah 13: nomor 20 tahun 2018 = 2 + 2 + 1 + 8 = 13. Nomornya nomor sial, tanggalnya tanggal sial pula.

Mungkin Mahkamah Agung berpikir bahwa kejahatan korupsinya sudah dibersihkan melalui pemidanaannya sehingga setelah bebas dari penjara maka dia bukanlah koruptor. Dia orang baik seperti bayi yang suci. Kayaknya secara hukum itu kebenaran. Tapi apa betul itu kebenaran jika pemidanaannya adalah berdasarkan kasusnya, bukan berdasarkan tabiat atau mentalnya? Bahwa yang dihakimi atau ditebus dengan penjara itu hanya peristiwanya. Misalnya, Setya Novanto divonis 15 tahun penjara karena korupsi e-KTP senilai Rp. 108 milyar. Vonis itu dibuat berdasarkan peran dan besaran nilai korupsinya, bukan untuk menetralkan mentalnya yang korupsi. Vonis itu merupakan upaya "balas dendam" negara terhadap orang yang merugikan negara, bukan merupakan upaya negara mempertobatkan seorang penjahat.

Karena itu yang sudah diselesaikan oleh Setya Novanto ketika ia bebas dari penjara kelak adalah kasusnya. Setya Novanto dijamin tidak akan diungkit-ungkit soal kasus e-KTP itu lagi. Mahkamah Agung harusnya bisa memahami perasaan masyarakat dan tuntutan reformasi yang menginginkan pemerintahan yang bersih yang terbebas dari mental-mental korupsi. Harusnya mendukung kinerja KPK yang begitu giat memberantas korupsi di negeri ini. Tapi Mahkamah Agung yang sekarang ini: Muhammad Hatta Ali adalah ketua Mahkamah Agung yang ke-13, telah membuat keputusan "setan" yang mengecewakan banyak pihak. Mantan narapidana kasus korupsi, kasus bandar narkoba dan kasus seksual pada anak diperbolehkan menjadi anggota legislatif. Apa memang di Indonesia ini sudah kehabisan orang bersih sehingga bekas comberan dianggap bersih?

Mau tak mau keputusan setan itu bisa menurunkan citra Indonesia di mata internasional, dan mungkin akan berpengaruh pada elektabilitas Jokowi. Sebab jika di bidang atletik bisa mengharumkan nama Jokowi, betapa buruknya pemerintahan Jokowi ini di bidang hukum. Jika dunia hukum seperti ini betapa jauhnya dari cita-cita kemerdekaan untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tanggal 2 Indonesia diharumkan oleh Asian Games, tanggal 13 dibusukkan oleh keputusan Mahkamah Agung, kini tanggal 19-nya dikagetkan oleh kemarahan Budi Wasesa, direktur utama Badan Urusan Logistik(Bulog), yang menolak keras impor beras.

Menurut Budi Wasesa, Indonesia mempunyai stok beras yang cukup sampai bulan Juni 2019 untuk mengenyangkan Burung Garuda Pancasila. Negara agraris yang dilambangkan dengan padi dan kapas ini ngapain harus import beras? Malu-maluin! Di mana prestasi presiden Jokowi jika lagi-lagi harus melanggar janji-janji kampanyenya di tahun 2014? Masak negara agraris yang dibangga-banggakan ini harus mengimport beras, mengimport kedelai dan jagung? Keterlaluan sekali.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan, Indonesia merupakan negara besar dengan sektor pertanian yang menjanjikan. Hal itu pun membuat negeri ini dikenal sebagai negara agraris. Sayangnya, kata dia, Indonesia masih saja bergantung pada impor.
"Beras, dua tahun berturut-turut kita impor, jagung pun begitu. Dulu kita impor, maka sekarang kita kerjakan satu-satu," kata Amran di Makassar, Kamis, (15/2).
Untuk mengatur ekspor dan impor, Kementan pun mencoba mengeluarkan berbagai kebijakan di nasional. Pasalnya, kata dia, kementerian bertugas untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat.
Ia mengatakan, beberapa waktu lalu Presiden memintanya ke Taiwan, Korea Selatan, Jerman, dan sebagainya, demi melihat kondisi pertanian di masing-masing negara tersebut. "Lalu presiden tanya, apa beda di sana dan di sini. Saya bilang dia hanya satu bedanya yaitu di teknologi. Soal lahan, kita lebih besar," tutur Amran.
Di beberapa negara tersebut, matahari bersinar hanya sekitar enam bulan, sedangkan Indonesia bersinar hampir 12 bulan. "Justru mereka lakukan ekspor dan kita impor. Merekanya terlalu rajin dan kita terlalu malas," kata Amran.
Ia pun bercerita, saat di Taiwan sempat bertemu dengan salah satu petani. Petani itu mengaku berpendapatan Rp 3 miliar per bulan. "Padahal hanya tanam bayam organik," ujarnya.
Amran menegaskan, tahun ini presiden telah meminta Kementan siapkan bibit untuk petani Indonesia. "Kita akan kembalikan kejayaan petani Indonesia seperti 500 tahun lalu," ujarnya.


Budi Waseso blak-blakan soal impor beras hingga gudang Bulog penuh

https://www.merdeka.com/uang/budi-waseso-blak-blakan-soal-impor-beras-hingga-gudang-bulog-penuh.html

Merdeka.com - Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), Budi Waseso meminta agar persoalan impor beras jangan dijadikan polemik untuk mencari popularitas, tetapi bagaimana sama-sama mencari jalan keluar lewat koordinasi dan komunikasi yang baik.

"Kita harus berhitung betul, membiasakan cinta dalam negeri, produk negeri sendiri, memanfaatkan seefisien mungkin produk-produk dalam negeri, jiwa nasionalisme dibangun. Bagaimanapun untuk kepentingan bangsa ini, jangan mencari popularitas, yang dikerjakan untuk kepentingan negeri," kata Buwas di Kota Bogor seperti ditulis Antara, Rabu (19/9).
Buwas menjelaskan, izin impor sebanyak 1,8 juta ton merupakan izin yang diterbitkan dan dikeluarkan sebelum dirinya menjabat sebagai Dirut Bulog. Terkait yang 2 juta ton adalah perintah baru, yang belum ada izinnya.
"Itu ada perintah baru untuk kita impor 2 juta ton, tapi menurut saya tidak perlu karena kita punya stok 2,4 juta," katanya.
Dia berkeyakinan sampai tahun depan Indonesia tidak membutuhkan impor beras, berdasarkan analisis yang dilakukan oleh tim ahli yang berasal dari berbagai bidang ilmu yang dilakukan Bulog. Tim ini melibatkan ahli dari pertanian, ahli perekonomian, dari Bulog, Kepolisian dan BIN.
Menurutnya, keterlibatan BIN karena sesuai dengan bidangnya menganalisis bagaimana kemungkinan apabila stok beras betul-betul kurang dan apa dampaknya. "Itukan harus dianalisis berdasarkan beberapa situasi," katanya.
Hasil analisis tim tersebut menyatakan, produksi beras di Indonesia dalam prediksi cuaca kering, musim tanam yang kecil, bahkan hasil panen kecil, masih bisa menghasilkan antar 11 sampai 12 juta ton. Sementara kebutuhan nasional 2,4 juta ton. Berarti, lanjutnya, ada kelebihan berdasarkan hitungan riil, sehingga tidak harus impor.
Sementara itu, stok beras yang ada di Bulog yakni beras impor tidak bergerak karena tidak bisa diserap. "Kalau memang kenyataannya perlu impor ya kita impor. Benar-benar dibutuhkan, jangan sampai mengganggu petani, mengganggu pasar, mengganggu konsumen. Jadi Bulog terbebani, karena Bulog harus betul-betul berhitung secara riil," katanya.
Buwas juga mengklarifikasi data yang mengatakan setiap bulan dilakukan impor. Hal tersebut tidak benar, impor yang masuk adalah barang yang sudah diimpor sebelum dirinya menjadi Dirut Bulog yakni sebanyak 1,8 juta ton. Kedatangan beras impor tersebut dibuat bertahap, karena mengatur pasokan, selain itu beras impor yang masuk juga belum terserap semuanya.
"Kenapa saya atur bertahap, supaya tidak mengganggu produksi petani, situasi harus kita amankan jangan sampai gejolak," katanya.
Bulog saat ini sedang mencari gudang untuk menyimpan beras yang kualitasnya sudah menurun, dengan meminta bantuan TNI AU meminjamkan gudang sebagai tempat penyimpanan. Dia menyebutkan, untuk menjaga kualitas, beras yang ada di gudang harus dihabiskan terlebih dahulu. Tetapi belum habis karena tidak dibutuhkan mengingat produksi nasional masih ada. Oleh karena itu beras tersebut menjadi cadangan untuk beras pemerintah yang digunakan untuk beras sejahtera, bantuan sosial ketika ada bencana, dan operasi pasar.
"Tapi Operasi Pasar kita masih menggunakan beras dalam negeri," katanya.
Secara nasional produksi normal yakni 15 sampai 16 juta ton. Jika di musim kering menjadi 11 sampai 12 juta ton. Kebutuhan masyarakat Indonesia 2,4 juta ton. [idr]


Cerita Budi Waseso sering 'semprot' para pejabat

https://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-budi-waseso-sering-semprot-para-pejabat.html

Merdeka.com - Budi Waseso kerap kali membuat gebrakan di setiap tugas yang dijalankannya. Tak jarang, gebrakan-gebrakannya itu bertentangan dengan pejabat lainnya.

Meski begitu, mantan kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) tetap dengan pendiriannya. Bahkan dia tak segan 'menyemprot' para pejabat yang tak sejalan dengannya. Berikut pejabat yang kena 'semprot' Budi Waseso:

1. Budi Waseso sampai bilang: Matamu
Merdeka.com - Perum Bulog tidak akan melakukan impor beras hingga akhir tahun lantaran stok beras milik BUMN tersebut masih melimpah. Bahkan gudang penyimpanan beras telah penuh dan terpaksa menyewa gudang milik TNI AU.
Namun demikian, Kemendag yang memberi izin impor beras menyebut tidak mau mengurus soal gudang penyimpanan beras tersebut. Mengetahui hal itu Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengaku heran pada Kemendag yang seolah lepas tangan. Padahal tingginya pasokan beras yang masuk ke gudang akibat Kemendag mengizinkan beras impor masuk.
"Saya bingung ini berpikir negara atau bukan. Coba kita berkoordinasi itu samakan pendapat, jadi kalau keluhkan fakta gudang saya bahkan menyewa gudang itu kan cost tambahan. Kalau ada yang jawab soal Bulog sewa gudang bukan urusan kita, mata mu! Itu kita kan sama-sama negara," kata Budi Waseso.


2. Budi Waseso: Jangan jadi pengkhianat bangsa
Merdeka.com - Mantan Dirut Bulog Djarot Kusumayakti pernah mendorong Perum Bulog untuk melakukan impor beras. Padahal sangat jelas jika Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso tidak akan melakukan impor beras hingga akhir tahun lantaran stok masih melimpah.
Atas hal itu, Budi meminta mantan bos bulog tidak jadi pengkhiantan sehingga ikut campur soal impor beras. "Ada yang menyampaikan kalau Bulog itu harus impor, dia tidak mengerti. Ironisnya, ini mantan orang Bulog. Jangan jadi pengkhianat bangsa ini, darimana perhitungan itu?" katanya di Kantor Perum Bulog, Rabu (19/9)

3. Petugas lapas
Merdeka.com - Ketika menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Budi Waseso sempat murka dengan petugas lapas. Hal ini karena masih ada anggota lapas yang bersengkongkol dengan bandar narkoba di dalam penjara.
Menurutnya, petugas seperti itu adalah pengkhianat bangsa. Sehingga harus ditindak tegas oleh Kemenkum HAM.
"Kalau saya, saya cincang-cincang (petugas lapas). Kenapa? Itu penghianat negara loh. Jangan main-main. Dia aparat negara, tetapi mengkhianati negara," katanya beberapa waktu lalu.




Senin, 17 September 2018

LEMBU YANG SEDANG MENGIRIK

ELOHIM YAHWEH menyampaikan Firman kepada nabi Musa;

Ul. 25:4Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik."

Singkatnya saya artikan sebagai larangan untuk memberangus mulut lembu yang sedang makan. Lembu yang sedang makan jangan diganggu. Di Perjanjian Lama Firman itu memang berlaku secara harafiah, yaitu untuk lembu atau binatang. Tapi di Perjanjian Baru rasul Paulus mempertanyakan;

1Korintus
9:9Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!" Lembukah yang Allah perhatikan?
9:10Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.

Jadi, lebih dalam lagi itu mempunyai arti janganlah kita mengganggu makanan orang atau mata pencarian orang atau pekerjaan orang. Saya sangat gusar sekali jika melihat gubernur Ahok main gusur, main usir orang dari kampung yang sudah ditinggalinya selama puluhan tahun. Sebab rumah tinggal seringkali berkaitan erat dengan pekerjaan orang atau mata pencarian orang, sehingga ketika ia harus pindah rumah maka itu akan menggoyangkan pekerjaannya juga. Dan itu terbukti dari pedagang-pedagang kecil yang rumahnya dipindahkan ke rumah susunnya Ahok, mereka akhirnya menjadi pengangguran karena lokasinya jauh dan tak terjangkau angkutan umum. Terhadap orang-orang kaya saja saya tak setuju jika masalah pekerjaan mereka diganggu, apalagi terhadap orang-orang miskin. Dan fakta membuktikan Ahok sekarang kena kutukan perbuatannya sendiri, harus dipenjarakan sekalipun tidak terlalu bersalah.

Itu sebabnya semua korban gusuran marah dan mati-matian mempertahankan rumahnya. Mereka yang biasanya takut terhadap petugas menjadi berani menantang seperti bunyi peribahasa: "semutpun akan menggigit kalau diinjak".

Saya sedih dan gusar ketika menyaksikan SATPOL PP merazia pedagang dan mengangkuti modal dagangan mereka ke atas truknya karena dianggap melanggar peraturan daerah. Iya, jika dikenakan peraturan daerah mereka memang melanggar aturan. Mereka memang orang-orang berdosa. Tapi semua itu mereka lakukan semata-mata demi uang, demi membiayai hidup mereka. Mereka sebenarnya bukan ingin melanggar hukum tapi ingin mendapatkan uang untuk makan. Demi uang apa saja akan mereka lakukan. Jangankan yang halal, yang harampun akan dijalani orang.

Mencuri, maling ayam, jualan narkoba, curi motor, merampok, membunuh, melacur, berjudi, atau apapun akan dijalani demi uang. Itu sebabnya penjara selalu penuh ketika semua hotel kesepian. Jangankan cuma untuk berjualan di atas trotoar atau di badan jalan, bahkan di atas rel keretaapipun dijalani orang. Seperti di Thailand, ada pasar yang lokasinya di atas rel keretaapi yang masih aktif;

Hasil gambar untuk gambar pasar di atas rel


Apa sebabnya? Sebab ada pembelinya. Sebab ada kesepakatan tak tertulis antara penjual dengan pembelinya. Sebagaimana ungkapan "pembeli adalah raja", maka seperti apa selera pembeli itulah yang berusaha diusahakan pedagangnya. Coba seandainya sepi pembeli, para pedagang itupun pasti akan buyar dengan sendirinya tanpa menunggu peraturan daerah dan kedatangan SATPOL PP. Tapi jika semakin hari semakin ramai, semakin banyak pengunjungnya, maka para pedagangnya juga akan semakin banyak, seperti gula yang mengundang semut.

Para pedagang di pasar yang bersaing ketat, tanpa SATPOL PP-pun di antara mereka sudah biasa berantem. Hampir setiap hari antara pedagang dengan pedagang saling berantem, saling bermusuhan. Sebab mereka berebut pelanggan, berebut penglarisan, berebut uang. Di sana, di pasar, sekalipun semrawut, sekalipun berdesakan, sekalipun jalanannya becek, sekalipun bau sampah, namun nyatanya semakin hari semakin banyak orang yang ke pasar. Sejak dulu hingga sekarang tak pernah ada ketertiban di pasar. Segala usaha penertiban selalu gagal, selalu kembali semrawut. Tapi nyatanya baik penjual maupun pembelinya sama-sama menyukai keadaan demikian dan mereka bisa hidup, bisa mendapatkan uang.

Apa sebab orang lebih menyukai ketidaktertiban daripada ketertiban? Sebab dosa. Jiwa semua orang adalah jiwa berdosa. Jiwa yang sudah rusak ini sama seperti mesin rusak yang tak mungkin bisa bekerja normal sebagaimana mesin baru. Selama masih di dunia ya akan seperti ini selamanya. Manusia masih tetap manusia belum berubah menjadi malaikat;

Yer. 13:23Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?

Roma
3:10seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
3:11Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
3:23Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

Sebelum pemerintah melarang orang membunuh, ELOHIM YAHWEH sudah lebih dahulu mengeluarkan hukum: "Jangan membunuh". Tapi nyatanya semakin hari juga semakin banyak kasus pembunuhan. Demikian juga dengan semua larangan-larangan yang berbau kejahatan, semuanya tak ada gunanya. Sebab bagi TUHAN semua larangan-larangan itu bukan dimaksud untuk mengubah perilaku manusia tapi sebagai penanda dosa;

1Yoh. 2:1Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.

ELOHIM YAHWEH tidak menutup mata bahwa semua ajaranNYA akan dilanggar. ELOHIM YAHWEH tidak mensyaratkan keselamatan berdasarkan perbuatan, tapi membukakan jalan buat pengampunan melalui pekerjaan JURUSELAMAT; YESHUA ha MASHIA. Itu sebabnya ELOHIM YAHWEH melarang sesama manusia saling menghakimi. Sebab baik aku maupun kamu sama-sama berdosanya.

Memangnya kamu itu siapa? Bukankah kamu itu dulunya adalah murid yang bodoh di kelas? Bukankah kamu itu dulunya lontang-lantung pengangguran dan masuk menjadi pegawai negeri karena menyuap ratusan juta? Lalu untuk kenaikan jabatanmu, kamu menyogok ratusan juta lagi. Kamu, demi pekerjaan dan demi uangpun berkelakuan sebusuk itu. Apa saja kamu lakukan; baik kamu pegawai negeri sipil maupun polisi. Lebih-lebih lagi seorang bupati atau walikota atau gubernur atau presiden atau DPR yang dipilih melalui pemilihan umum. Berapa milyar atau bahkan trilyun biaya yang kamu keluarkan untuk kedudukan itu? Kedudukan yang kamu raih itu adalah karena uang bukan karena prestasi. Jika kamu adalah seperti itu, bagaimana kamu hendak menghakimi rakyatmu yang tidak tertib?

Polisi merazia kendaraan bermotor, memangnya pelanggaran lalulintas tidak berbau uang? Ratusan milyar hasil denda tilangan masuk ke kas negara. Semakin banyak pelanggaran semakin kaya negara. Jadi, bagaimana dilematis negara ini? Menegakkan disiplin atau mencari kekayaan untuk membayar utang negara? Apa yang dikehendaki negara sebenarnya? Mudah-mudahan bukan sebuah kemunafikan.

Memang peraturan dibuat untuk mengatur ketidakteraturan, sebab yang sudah teratur tidak memerlukan peraturan. Contohnya di kuburan. Hanya di kuburan saja yang tidak ada tata tertibnya, sebab semua penduduk kuburan sudah bisa tertib. Di kuburan tak ada mayat yang teriak-teriak, tak ada kasus pencurian, tak ada kasus pembunuhan dan lain-lainnya. Di sana sudah mencapai kemakmuran. Tapi di dunia orang hidup inilah yang bergejolak terus-menerus, dari sejak zaman Adam dan Hawa hingga zaman sekarang ini masih belum ada metode yang jitu untuk menertibkan makhluk hidup.

Semua orang menyebalkan bagi orang lainnya. Suami menyebalkan istri, istri menyebalkan suami. Anak-anak menyebalkan orangtua, orangtua menyebalkan anak-anak. Di sinilah pemerintah masuk mengambil peran sebagai orang yang mengatur. Pemerintah memposisikan dirinya sebagai orang-orang yang lebih baik dari orang-orang lainnya.

Yesaya
28:9Dan orang berkata: "Kepada siapakah dia ini mau mengajarkan pengetahuannya dan kepada siapakah ia mau menjelaskan nubuat-nubuatnya? Seolah-olah kepada anak yang baru disapih, dan yang baru cerai susu!
28:10Sebab harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini, tambah itu!"

ELOHIM YAHWEH mengejek orang-orang yang sok kuasa, yang menganggap dirinya lebih baik dan orang lain sebagai kanak-kanak. Jika pemerintah membedakan dirinya dengan masyarakat berdasarkan pedang atau senjata, itu namanya perampok. Jika sifatnya seperti perampok yang menang sendiri, ya jangan sebut-sebut Pancasila, jangan sebut-sebut Ketuhanan, jangan sebut-sebut keadilan.

Dan kalau mau jadi pahlawan, ya perangilah orang-orang jahat yang mengganggu keamanan masyarakat. Masyarakat membayar pajak seperti membayar tukang pukul, supaya pendekar melawan pendekar, jagoan melawan jagoan. Musuhilah para penjahat itu, jangan memusuhi orang-orang yang tidak jahat, yang mencari makan secara halal. Jangan mengusik mata pencarian orang.

Pedagang dikejar-kejar kayak maling. Mengapa tidak mengejar-ngejar maling? Memburu maling belum tuntas, mengapa pemerintah menambah permusuhan dengan masyarakat?! Saya salut dengan gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang berani menghidupkan becak beroperasi di Jakarta. Memangnya kenapa fakir miskin tidak boleh bekerja mengayuh becak jika itu masih bisa dijadikan uang dan kehidupan keluarganya? Memangnya Jakarta hanya untuk orang kaya? Memangnya Jakarta hanya untuk orang yang bekerja, sedangkan orang yang mencari-cari pekerjaan di Jakarta dilarang? Memangnya hidup di desa bisa hidup? Memangnya desa menarik? Memangnya hasil pertanian sudah bagus? Jika hasil pertanian bagus, petani bisa kaya, masih adakah orang yang lari ke kota-kota besar?! Pakai akal sehat, donk! Sebab semut itu mencari gula bukan mencari ibukota.

Ibu-ibu masih banyak yang membutuhkan keberadaan becak untuk belanjaan yang banyak atau untuk mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Kalaupun penghasilan becak minim sekali, biarlah para tukang becak itu sendiri yang memikirkan nasibnya, entah tetap membecak atau putar haluan kerja lainnya, biar itu terjadi secara alamiah bukan oleh paksaan pemerintah. Sebab nyatanya kalau musim kampanye tukang-tukang becak dibutuhkan untuk dibagikan kaos dan diajak pawai. Bahkan walikota Surabaya mengajak tamu-tamunya yang pejabat dari luar negeri naik becak keliling Surabaya. Becak-becak malah dihiasi bukannya dilemparkan ke laut.

Hasil gambar untuk tamu-tamu naik becak surabaya


Hasil gambar untuk tamu-tamu naik becak surabaya


Bagi pemerintah para tukang becak hanyalah bahan tontonan fakir miskin. Tapi bagi tukang becak uangnya bisa untuk menghidupi keluarganya. Jika "take and give"-nya seperti itu, ya udahlah! Jika musim kampanye fakir miskin disebut-sebut dan dijadikan "brand" sedangkan setelah jadi pejabat diuber-uber kayak maling, ya udahlah diterima saja nasibmu.

Jumat, 14 September 2018

MAKIN TUA KOQ MAKIN SEHAT?

Sampai dengan umur 40-an kondisi penglihatan mata saya jauh dan dekat sangat baik sekali. Baru di saat saya menjadi penginjil di tahun 2004-lah saya mulai berkacamata baca. Tapi melihat jauhnya masih tajam. 

Kalau tidak salah tahun 2015 ketika bangun tidur tiba-tiba mata ini kabur seperti tertutupi selaput tebal. Saya kaget dan panik juga ketika itu. Kayaknya selama beberapa hari saya menikmati keadaan itu sampai saya teringat pada khasiat air ludah untuk membersihkan penglihatan mata. Saya usapi air ludah sekitar 5 kali, baik yang kiri maupun yang kanan, maka keluarlah semacam lendir yang banyak sekali. Tapi ajaibnya penglihatan bisa terang benderang. Maka sejak saat itulah (2015) saya mulai melepaskan kacamata baca hingga tahun 2017. Kayaknya mata yang kiri sudah buta untuk membaca. Waktu itu saya bisa membaca koran dan internet tanpa kacamata. Tapi di pertengahan tahun 2017 hingga sekarang saya mulai memakai kacamata baca kembali tapi ukurannya menurun; dari plus 2,5 menjadi 2,25 dan terakhir plus 2.

Saya baru menyadari dan mengucapkan syukur pada TUHAN tadi malam setelah kurang-lebih sebulan ternyata saya sudah tidak perlu kacamata lagi. Malahan semula saya pikir saya perlu mengganti kacamata yang lebih besar karena pusing kalau menggunakan kacamata. Saya biasa membeli kacamata murahan yang Rp. 20.000,- an. Tapi menemukan pedagangnya yang sulit sehingga tanpa sadar sebenarnya saya sudah bisa melepaskan kacamata. Mula-mula saya paksa membaca tanpa kacamata dan kelihatan remang-remang sehingga itulah saya tidak menyadari kesembuhan mata saya tersebut. Baru tadi malam saya menyadari dan saya mengucap syukur pada TUHAN.

Dan sekitar semingguan yang lalu, waktu subuh ketika saya sedang tertidur pulas di depan garasi mobil, saya merasa tubuh ini seperti dipijati sehingga saya semakin terlelap sampai seorang ibu menjerit mengira saya mati karena dilindas ban depan mobilnya. Ibu itulah yang menyetir dan tidak melihat saya tidur di situ apalagi dilindas mobilnya. Dia baru tahu setelah turun dan bermaksud membuka rolling door garasinya. Rupanya tubuh saya sempat terdorong sampai setengah meteran dari tempat semula. Ibu itu ketakutan dan bersyukur mendapati saya tidak apa-apa. Saya dikasihnya Rp. 200.000,- Lumayan! Mau lagi, akh!

Hua..ha..ha.......

SEMBUH DARI AMBEIEN

http://bloghakekatku.blogspot.com/2015/10/sembuh-dari-ambeien.html
Hasil gambar untuk gambar orang berkacamata

Senin, 10 September 2018

SUMBER KEJAHATAN ITU PEMERINTAH

Pemerintah yang terdiri dari pegawai negeri sipil, polisi dan tentara itu adalah anak-anak kita yang mendurhaka. Sebab kalau dari antara kita sekalipun kita tahu bapak kita maling atau jambret atau penipu atau pembunuh atau pemabuk, tak mungkin kita akan menangkap bapak kita ataupun memenjarakannya. Tapi si Udin, anak kita yang pertama, yang tadinya pengangguran lalu aktif di partai politik, mencalonkan diri sebagai calon presiden dan akhirnya terpilih, kini lagaknya adalah sebagai penegak hukum yang menegakkan hukum secara tidak pandang bulu. Semenjak jadi presiden memposisikan dirinya sebagai pengatur masyarakat. Bapak ibunya dibuatkan aturan-aturan dengan sanksi hukuman yang berat-berat.

Si Umar, anak kita yang nomor dua, mendaftar di kepolisian dan diterima, kini menjadi jendral, bapak-ibu, paman dan bibinya ditangkapi dan dimasukkan penjara semuanya. Menganggap dirinya sebagai malaikat dan dicari-carilah kesalahan masyarakat yang adalah nenek-moyangnya. Begitu pula dengan si Ali, yang mendaftar di ketentaraan, diterima, kini menjadi jendral juga. Semua anak-anak kita itu kini menjadi kelompok masyarakat yang asing, yang merasa dirinya lebih baik dan berada di atas masyarakat derajatnya.

Setiap hari yang mereka kerjakan adalah mencari-cari kesalahan. Melalui operasi Yustisi dicarilah orang yang tak mempunyai KTP. Melalui razia polisi dicarilah orang-orang yang melanggar aturan lalulintas. Dicarilah pemabuk, preman, jambret, copet, narkoba, dan lain-lainnya. Dan yang diobok-obok adalah masyarakat, seolah-olah masyarakat ini adalah sumbernya kesalahan atau tong dosa.

Kita bukannya tidak senang dengan tindakan polisi atau pemerintah menertibkan masyarakat. Justru kita dukung polisi memburu para bandit yang meresahkan masyarakat. Tapi pihak pemerintah janganlah menjadi mesin pencipta bandit-bandit baru. Pemerintah jangan menjerumuskan orang menjadi bandit baru atau justru menjadi guru bandit, lalu setelah orang berhasil dibanditkan ditembak mati. Itu sama seperti ibu kejam yang melahirkan anak, setelah lahir anaknya dicekik.

Sebab kalau soal dosa, memangnya orang-orang di pemerintahan tidak ada yang maling, menipu, merampok, narkoba, korupsi, Pungli dan teroris? Kota Malang adalah kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Namun semua pejabatnya terlibat korupsi dan ditahan KPK. Baik walikotanya hingga seluruh anggota DPRD-nya sehingga kota tersebut menjadi kota yang lumpuh. Kota yang tak berpejabat atau tak berpemerintahan. Dan jika perkataan sang ketua MPR; Zulkifli Hasan benar bahwa jika KPK terus-menerus menangkapi pejabat, maka Indonesia akan kehabisan pejabat, bukankah para pejabat ini merupakan guru-gurunya masyarakat?

Sebuah peribahasa mengatakan: "guru kencing berdiri murid kencing berlari" dan peribahasa itu terkenal di antara kita, maka bukankah kita sudah bisa menebak apa jadinya dengan masyarakat ini. Menjadi apakah masyarakat yang setiap 17 Agustus berlomba balapan karung ini jika semua gurunya adalah koruptor? Apa tidak wajar jika para muridnya adalah jambret dan maling motor? Jika demikian mengapa polisi masih memburui maling yang dilahirkan oleh para koruptor itu?!

Di antara para polisi, sekalipun di mana-mana dipasangi kamera pengawasan CCTV, memangnya para polisi tidak mempunyai akal untuk memakai warung-warung untuk melakukan transaksi tilangan kendaraan bermotor? Rasanya pembicaraan di tengah masyarakat tentang perilaku polisi yang tidak terpuji ini masih ada saja. Bahkan barusan saja tim Sapu bersih (SABER PUNGLI) MABES POLRI berhasil membongkar kasus Pungli di POLRES Kediri yang melibatkan Kapolresnya. Memangnya hanya di POLRES Kediri saja yang kotor? Nah, jika penegak hukumnya masih seperti ini bagaimana polisi begitu getolnya mengubek-ubek masyarakat? Masak bandit makan bandit? - "Sesama buskota dilarang saling mendahului".

Saya senang dengan tekad Kapolri yang sekarang melakukan bersih-bersih di internal Kepolisian. Tapi ini 'kan masih suatu proses yang belum usai? Yah, jangan galak-galaklah terhadap masyarakat. Sesuaikanlah kegalakan polisi dengan tingkat pencapaiannya. Jika kebersihan polisi meningkat 10% tingkatkan kegalakannya 10% juga, biar kelihatan adil dan objektif. Sebab saya harus menyampaikan keberatan jika masyarakat hanya dijadikan bulan-bulanan kesalahan saja. Masyarakat yang harus dilindungi, diayomi dan dibina ini jangan dijadikan musuh. Berikanlah contoh, bukannya menghukum saja.

Saya mau tanya; seandainya anda menganggur, tak punya uang tapi kebutuhan dan tanggungjawab keluarga seabreg, maka apakah yang akan anda perbuat? Jika anda berpikir untuk merampok, maka mengapakah anda menangkapi para perampok? Saya mendukung polisi menangkapi para pelaku kejahatan. Tapi polisi perlu mencegah munculnya penjahat-penjahat baru juga yang melakukan kejahatannya oleh alasan ekonomi. Tuntaskan masalah pengangguran dan masalah perekonomian yang diduga ikut andil dalam menambah kejahatan di negeri ini.

Polisi menangkapi penjahat dan memasukkan mereka ke penjara. Dulu namanya penjara, artinya tempat untuk menyimpan para pelaku kejahatan. Tapi kini istilah penjara sudah diganti menjadi Lembaga Pemasyarakatan, artinya sebagai tempat memasyarakatkan orang. Negara bertanggungjawab untuk membina para penjahat supaya ketika mereka bebas, mereka bisa menjadi masyarakat yang baik. Tapi nyatanya Lembaga Pemasyarakatan justru membuat penjahat semakin jahat, semakin profesional dalam kejahatannya.

Akibat para petugas Lembaga Pemasyarakatan yang tidak beres sehingga di dalam penjarapun orang bisa tetap melakukan berbagai kejahatannya. Para bandar narkoba masih bisa begitu leluasanya sebagai bandar narkoba, bahkan secara besar-besaran pula. Dan itu terjadi di semua penjara. Ini adalah kegagalan pihak pemerintah sehingga kwantitas dan kwalitas kejahatan semakin meningkat terus. Pemerintah bukan saja gagal dalam keteladanan, lapangan kerja dan perekonomian, namun gagal pula di dalam membina narapidana.

Di saat ini disebut sebagai tahun-tahun politik sebab di tahun 2018 dan 2019 ada acara Pilkada, Pilpres dan Pileg; Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif. Bermunculanlah calon-calon kepala daerah, calon presiden dan calon anggota DPR. Ketiga pilar pemerintahan ini bukannya memunculkan suasana yang kondusif, yang memamerkan kebagusan, tapi justru memunculkan permusuhan dan fitnah-fitnah keji yang menimbulkan perpecahan masyarakat. Mereka bukannya mempertontonkan kelayakan untuk dipilih sebagai pimpinan, justru mempertontonkan hal-hal yang tidak patut dipertontonkan. Bagaimana kita harus memilih di antara tikus, kecoa dan cacing tanah untuk menjadi pemimpin kita?!

Kalau bangsa yang setiap tahun mengadakan lomba makan kerupuk ini ternyata hanya terdiri dari tikus, kecoa dan cacing tanah, bagaimana akan muncul kelinci, kupu-kupu dan ular kobra? Bagaimana pemerintah hendak menuntut masyarakatnya baik?

ELOHIM YESHUA memprotes ketidakadilan itu;

Mat. 7:3Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Mat. 7:5Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Bagaimana bapak maling hendak menghukum anaknya yang maling? Bagaimana pemerintahan yang jahat ini hendak menghukum para penjahat?

Yoh. 8:7Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Bukankah Al Kitab mengakui keberadaan pemerintah sebagai hamba TUHAN yang harus kita taati? Benar! Tapi Al Kitab juga menyampaikan kritikan-kritikan terhadap ketidakbenaran pemerintah.

Rm. 13:4Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

Kalau kita jahat, takutlah pada pemerintah. Tapi kalau kita benar, kita berhak mengecam pemerintah sebagaimana nabi-nabi menegor para raja.

Sakit perut jangan dikasih obat mata. Pemerintah perlu melihat kebutuhan mendesak bangsa ini yaitu moral, maka janganlah pemerintah membanggakan pembangunan infrastruktur.

Pemerintah selalu salah obat. Balapan karung dipakai sebagai obat kerukunan warga. Padahal kerukunan warga akan terjadi kalau utang tetangga dibayar tepat waktu, tidak menggosipkan tetangga, tidak membuat omongan yang menyinggung perasaan tetangga, tidak menabrak mobil tetangga dan tidak mencuri HP tetangganya.

Begitu pula dengan lomba makan kerupuk tidak akan merukunkan warga kalau yang satu pro Jokowi sedangkan satunya pro Prabowo. Yang bisa merukunkan adalah jika semua penduduk Indonesia memilih Jokowi........ Hua..ha..ha..........

Hasil gambar untuk gambar neraca keadilan

Jumat, 07 September 2018

KABINET JOKOWI KABINET YOYO

Yoyo adalah permainan saya ketika kecil, yaitu kayu berbentuk bulat dikasih benang yang dimainkan berputar naik-turun. Naik-turun, naik-turun itulah mainan yoyo. Dan pemerintahan Jokowi seperti sedang bermain yoyo; presiden yang paling sering melakukan reshuffle kabinet. Empat tahun memerintah 4 kali melakukan reshuffle para menterinya, 4 kali memainkan dirjen pajak, 3 kali mengganti Kapolri, 3 kali mengganti panglima TNI, dan terakhir yoyo-nya adalah Mahfud MD yang ditukar dengan Ma'ruf Amin. Mungkin menurut Jokowi semua orang adalah buah catur yang bisa semau-maunya dilangkahkannya. Itulah ciri khas 3 tokoh pejabat yang merasa dirinya bersih dari korupsi, yaitu: Jokowi, Ahok dan Tri Risma, walikota Surabaya. Tukang copot dan gusur.

Tanggal 3 September 2018 saya menuliskan tentang burung Murai Batu yang dimasukkan sebagai satwa yang dilindungi:

MURAI BATU MENGANCAM PULUHAN RIBU ORANG


Eeh, tanggal 5 September diberitakan sudah dicabut. Burung-burung itu kini sudah tidak lagi dimasukkan sebagai satwa yang dilindungi. Saya senang mendengar kabar pencabutan itu. Cuma ini menyisakan suatu fenomena tentang kegegabahan seorang menteri, yang konon sudah dilengkapi dengan staf ahli nyatanya masih juga bisa melakukan kekhilafan. Sebentar dibuat peraturan yang meresahkan masyarakat pecinta burung, tapi kemudian dicabut. Betapa sederhananya arti sebuah peraturan? Seperti mainan yoyo!

Harusnya peristiwa seperti ini bisa dijadikan modal untuk mempertanyakan aturan-aturan yang dibuat pemerintah. Setiap aturan yang dibuat pemerintah tidak mutlak kebenaran yang harus dipertahankan. Jangan mengkultuskan suatu peraturan seolah-olah sudah pasti benarnya. Dan pemerintah perlu berhati-hati dalam mengeluarkan sebuah statement agar jangan menimbulkan gejolak dalam masyarakat.

Untunglah menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanannya yang sekarang ini berhati lunak, mau mendengarkan aspirasi masyarakat. Bagaimana jika kita kelak menjumpai seorang menteri yang bebal, yang berkepala batu, yang merasa gengsi untuk mundur atau mencabut kebijaksanaannya yang tidak bijaksana?

Hasil gambar untuk gambar anak bermain mainan yoyo


FKMI: Murai Batu, Cucak Rowo dan Jalak Suren Dikeluarkan dari Daftar Satwa Dilindungi

https://kumparan.com/trubus-id/fkmi-murai-batu-cucak-rowo-dan-jalak-suren-dikeluarkan-dari-daftar-satwa-dilindungi-1536155030192357385

Trubus.id -- Para penghobi burung berkicau atau kicau mania kini bisa sedikit bernafas lega. Pasalnya kini beberapa burung berkicau yang sebelumnya masuk dalam daftar satwa dilindungi dalam Permen LHK Nomor 20 tahun 2018, sudah dikeluarkan dari daftar tersebut.
Bang Boy, salah satu perwakilan dari Forum Kicau Mania Indonesia (FKMI) mengatakan, tiga jenis burung berkicau yang dikeluarkan dari daftar satwa dilindungi itu adalah burung jalak suren (Gracupica jalla), kucica hutan (Kittacincia malabarica) atau yang dikenal dengan nama murai batu dan cucak rowo. Keputusan itu sendiri dikeluarkan saat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pertemuan dengan perwakilan FKMI di Hotel Padjajaran Suite, Bogor, Selasa (4/9) malam.
"Hasilnya 3 jenis burung dari nota keberatan yang disampaikan saat audiensi 14 Agustus 2018 di kantor KLHK, murai batu, jalak suren dan cucak rowo dikeluarkan lampirannya dari Permen 20 2018 dari dilindungi jadi tidak dilindungi," jelas Bang Boy dalam pesan tertulisnya kepada Trubus.id, Rabu (5/9) malam. 
Bang Boy menambahkan, keputusan itu sendiri dikeluarkan setelah diserahkannya nota keberatan dan kajian sosial ekonomi yang disampaikan FKMI. Patut diketahui, FKMI sendiri adalah forum yang berisi gabungan 9 organisasi perburungan di Indonesia.
Sebenarnya, sejak tanggal 27 Agustus lalu, sesuai dengan audiensi dengan FKMI, KLHK telah mengeluarkan 2 jenis burung berkicau dari daftar satwa dilindungi. Kedua burung itu adalah burung jalak suren dan burung murai batu. Untuk perubahan terbaru terkait penambahan burung cucak rowo, berkasnya diakui masih berada di Kemenhumkam. 
"Masih di Menhumkam. Dalam waktu dekat sudah keluar. Sebenarnya tanggal 27 Agustus sudah keluar, tapi hanya murai dan jalak suren," jelas Bang Boy.
Bang Boy menambahkan, di surat keputusan yang baru nantinya, nama burung cucak rowo tidak akan ada lagi di dalam daftar satwa dilindungi dalam Permen LHk Nomor 20/2018.
"Terbaru keluar, yang tanggal 27 Agustus gugur," tukar pembina yayasan BnR tersebut.
Menanggapi sejumlah burung lain yang kerap dipelihara masyarakat, Bang boy mengatakan, FKMI masih tetap akan membuat kajian yang kemudian akan diserahkan ke KLHK untuk ditinjau lagi. Ia berharap, burung lain seperti pleci dan cucak hijau juga dikeluarkan dari lampiran dalam Permen LHK Nomor 20/2018 dari dilindungi jadi tidak dilindungi.
Sementara itu, untuk membantu pemerintah, dalam hal ini KLHK, FKMI sendiri juga sudah berkomitmen untuk membantu memerangi peredaran burung tangkapan hutan. Dari segi lomba, beberapa regulasi yang mengatur keikutsertaan burung tangkapan hutan juga akan diperketat.
"Ya kita kan buat aturan seperti akan kita wajibkan lomba burung hasil penangkaran. Kemudian kita juga sosialisasikan ke pedagang untuk tidak memperjualbelikan burung-burung tangkap hutan. Kita harus komit," terangnya lagi.

Terkait pendataan penangkar, Bang Boy menjelaskan, organisasi burung berkicau memang membutuhkan data tersebut. Karenannya, pendataan akan terus dilanjutkan.
"Tujuan pendataan (penangkar) tidak jelek dan gratis," tegas Bang Boy.
Terakhir, Bang Boy berharap agar seluruh pecinta burung berkicau termasuk sektor lain yang mendukungnya tetap ikut membantu pemerintah dalam menyelamatkan burung di alam dari kepunahan.
"Dunia burung milik semua. Banyak rantai yang terkait dari mulai penghobi, penangkar ataupun pedagang. jadi, jalin kesatuan sesamanya. Tetap selamatkan burung di alam ini dan ini wajib bagi kicaumania," tutup Bang Boy. [RN]

Rabu, 05 September 2018

ARTI SELEMBAR HARI INI

Sebuah rumah tembok itu didirikan dari satu batubata ke satu batubata yang lainnya. Itu bukan satu tembok saja melainkan terdiri dari susunan batubata. Seperti susunan batubata demi batubata itulah hidup kita ini disusun dari hari ke hari. Sehari disusun dari jam ke jam sebanyak 24 jam. Tumpukan hari-hari yang berjumlah 7 hari itulah seminggu. Jika terkumpul 30 hari itulah sebulan, sedangkan jika terkumpul 365 hari itulah setahun. Dan saya mempunyai kumpulan tahun sebanyak 56 tahun atau 20.440 tumpukan hari.

ELOHIM YAHWEH memulai pengajaranNYA adalah tentang susunan hari-hari. Dari sehari ke sehari IA mengerjakan penciptaan alam semesta ini. Setiap hari ada batasannya; petang dan pagi atau malam dan siang dengan kata-kata penutupannya: "Itulah hari pertama", "Itulah hari kedua", dan seterusnya.

Kejadian 1:5Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Di dalam kehidupan kita, kitapun membagi 2 aktifitas rutin kita, yaitu bekerja di siang hari dan tidur di malam hari. Setiap hari kita tutup dengan tidur. Di jam bangun itulah merupakan kesempatan bagi kita untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Secara alamiah di malam hari tubuh ini mengalami kepenatan dan menuntut diistirahatkan; tidur! Wouh, persoalan sebesar dan seberat apapun menjadi "selesai" ketika kita tidur. Segala masalah terlupakan oleh: tidur. Uang segepok di meja, Handphone di genggaman tangan tak ada lagi harganya. Ketika mata mengantuk berat kita lupakan semuanya itu. Itu sebabnya para pencuri selalu menggunakan waktu malam hari untuk mencuri. Sebab orang yang sedang tidur terlalu mahal untuk bangun.

Harga yang termahal di dunia adalah tidur! Biarpun rumah digerayangi pencuri atau terbakar habis, tidur melupakan segala-galanya. Polisi dan Satpam yang bertugas jaga malampun jika mengantuk berat tak peduli lagi dengan resiko jabatannya dipecat. Orang yang sedang mengemudikan mobilpun ketika rasa ngantuk menyerangnya tak peduli lagi mobilnya hendak menabrak apapun.

Yah, TUHAN merancang tubuh kita seperti itu supaya kita tahu bahwa waktu itu ada batasannya. Batasan setiap hari adalah jam tidur. Sama seperti lembaran kertas di buku-buku. Setiap tulisan dibatasi oleh selembar halaman. Kita tidak mungkin memasukkan tulisan dalam sebuah buku ke dalam selembar kertas saja. Nggak muat. Tulisan yang berlebih harus kita pindahkan ke halaman berikutnya. Dari lembar ke lembar itulah sebuah buku dibentuk.

"Buku" saya hari ini sudah memuat cerita 20.440 halaman. Itupun rasanya masih akan bertambah terus dari waktu ke waktu. Luar biasanya, setiap hari mempunyai kisahnya sendiri. Yah, saya mempunyai 20.440 kisah dan itu berbeda dengan kisah-kisah anda. Setiap orang mempunyai kisah sendiri-sendiri setiap harinya.

Selembar hari adalah seperti selembar kertas putih. ELOHIM YAHWEH bagaikan Guru yang membagi-bagikan selembar kertas kepada setiap orang. Setiap orang diberinya selembar hari 24 jam. Nah, apakah yang hendak anda perlakukan terhadap lembaran kertas-kertas putih itu? Merobek-robeknya seperti orang-orang yang mengambil pilihan bunuh diri, yang tidak mau lagi melihat hari-harinya? Mencorat-coretnya dengan gambaran ngawur seperti orang-orang yang mengisi hidupnya dengan kehidupan yang tidak jelas? Berusaha membuat lukisan tapi hasilnya jelek karena tidak bakat melukis, seperti para pejabat yang berusaha jujur tapi gagal seperti semua anggota DPRD kota Malang yang diringkus KPK? Atau, siapakah yang berhasil membuat lukisan yang maha indah seperti Yohanes Andigala, bocah SMP di Belu yang memanjat tiang bendera?

Ketika bangun tidur, matahari bersinar, itulah selembar hari yang bagaikan kertas putih yang TUHAN berikan ke kita. Jika kita mengerti maksudnya, kita pasti akan sangat mensyukuri selembar hari yang diberikan kepada kita itu. Justru selembar hari yang baru itulah yang selalu kita nanti-nantikan dan merupakan kasih karunia TUHAN yang terbesar. Sebab melalui selembar hari itu kita diberikan kesempatan untuk memperbarui diri, memperbaiki kelakuan. Apa yang gagal di hari kemarin bisa kita coba lagi di hari yang baru ini. Hari ini adalah hari pembuktian pertobatan kita. Ketika semalam kita berdoa dengan menangiskan dosa-dosa kita, doa permohonan ampun kita masih digantung oleh ELOHIM YAHWEH, menunggu bukti di hari ini. Apa benar anda telah bertobat? Seperti KPK untuk menetapkan status tersangka seseorang harus mempunyai 2 alat bukti bahwa orang tersebut melakukan korupsi. TUHAN-pun menunggu bukti atas setiap pernyataan pertobatan kita. Sebab Fariz RM, musikus terkenal di era 80-an terbukti masih belum benar-benar bertobat dari narkobanya. Beberapa hari yang lalu ditangkap polisi lagi untuk keduakalinya.

Setelah tidur semalam menemukan matahari terbit kembali, itulah selembar harapan baru kita yang TUHAN berikan yang patut kita syukuri. Sebab banyak orang yang tertidur dan nasibnya terhenti selama-lamanya karena serangan jantung. Tak sempat dia baca berita koran hari ini, ketika presiden mengumumkan membagikan uang semilyar setiap orang. Dia menjadi orang yang tidak beruntung. Sebab setiap hari TUHAN membagikan peruntungan.

"Hari ini" bagi Habel adalah dibunuh Kain sebagai orang yang benar. "Hari ini" bagi Abraham adalah ketika ELOHIM YAHWEH menjumpainya. "Hari ini" bagi Lot adalah ketika diselamatkan dari api Sodom-Gomora. "Hari ini" bagi Musa adalah ketika diangkat TUHAN sebagai pemimpin Israel. "Hari ini" bagi bangsa Israel adalah ketika dibebaskan dari perbudakan Mesir. "Hari ini" bagi Naaman adalah ketika disembuhkan dari penyakit kustanya. "Hari ini" bagi Petrus adalah ketika ELOHIM YESHUA menjadikan muridNYA. "Hari ini" bagi Kornelius adalah ketika menerima pemberitaan Injil dari rasul Petrus. "Hari ini" bagi Saulus adalah ketika dihadang TUHAN di perjalanannya ke Damsyik. "Hari ini" bagi Sida-sida dari Etiopia adalah ketika Filipus membaptiskannya. "Hari ini" bagi saya adalah ketika TUHAN menggiring saya sebagai penginjilNYA.

Semua peristiwa besar dalam hidup kita adanya adalah di "hari ini". Di dalam waktu sehari itulah sesuatu yang ajaib bisa terjadi, entah baik ataupun tidak baik seperti peristiwa gempa bumi di Lombok. Dalam sehari saja nasib orang bisa berubah drastis. Ketika kemarin masih bisa tidur di kamar ber-AC, "hari ini" harus tidur di tenda-tenda pengungsian. "Hari ini" bagi Fariz RM adalah tidur di tahanan polisi. "Hari ini" bagi anggota DPRD kota Malang adalah harus tidur di tahanan KPK. Tapi "hari ini" bagi Lalu Muhammad Zohri dan Yohanes Andigala serta para artis pemenang medali emas Asian Games adalah hari bertabur kesenangan.

ELOHIM YESHUA mengajarkan untuk menyelesaikan permasalahan secara harian. Apapun masalahnya harus selesai dalam sehari;

Mat. 6:34Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Jangan menumpuk-numpuk permasalahan. Segala pertengkaran atau permusuhan harus ada perdamaian sebelum matahari terbenam;

Ulangan
24:12Jika ia seorang miskin, janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya;
24:13kembalikanlah gadaian itu kepadanya pada waktu matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan memakai kainnya sendiri dan memberkati engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN, Allahmu.

Peraturan Perjanjian Lama, jika seseorang memberikan pinjaman gadai pada seorang miskin tidak boleh menagih masuk ke rumah orang itu melainkan harus menunggu di luar supaya orang miskin itu yang menyampaikan pembayaran utangnya. Jika sampai magrib belum sanggup menebus gadaiannya, barang gadaian itu harus dikembalikan ke orang miskin itu. Orang kaya jangan sampai tidur bersama barang gadaian fakir miskin.

Di zaman dulu orang miskin menggadaikan pakaian atau selimut yang dikenakannya sehari-hari, yaitu barang keperluannya sehari-hari. Jika di zaman ini bisa jadi itu sepedamotor yang digunakannya untuk berdagang. Apa jadinya jika sepedamotor itu anda sita karena utang-utangnya? Jangan kejamlah! Jangan seperti Satpol PP yang merampasi barang dagangan orang tanpa perikemanusiaan.

Ef. 4:26Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

Oh, mengapa kamu menyimpan amarah, bukannya menyimpan uang? Mengapa jiwa ini dibiarkan dikotori oleh hal-hal yang salah?!

"Hari ini" marah-marah pada istri atau pada suami, marah-marah pada anak atau tetangga. Sudahkah anda melepaskan pengampunan atau mengajukan permohonan ampun baik kepada sesama maupun kepada TUHAN? Sudahkah anda mendaftar dosa-dosa di sepanjang hari ini dan memohonkan pengampunan pada TUHAN.

TUHAN memang MAHAPENGAMPUN tapi kita perlu menyebutkan dosa-dosa kita secara terperinci sebagai tanda bahwa kita mempunyai pengetahuan, yang mana yang berdosa dengan mana yang tidak berdosa. Sebab kalau kita sudah mengetahui akan lebih dekat dengan kesadaran dan pertobatan kita daripada kita tidak mengenalinya. Tentulah TUHAN prihatin jika suatu dosa justru anda anggap kebenaran sehingga tidak memerlukan pertobatan.

Tahu selingkuh itu salah dan mengandung resiko besar. Adakah anda menghentikannya pada "hari ini" atau malah bangga untuk melanjutkannya sampai perbuatan itu ketahuan dan muka anda bonyok?! Betapa bodohnya itu! TUHAN mengajak kita keluar dari kebodohan-kebodohan seperti itu.

Bila kita melihat matahari terbit di pagi hari; "hari ini", apakah yang akan kita torehkan di sepanjang hari yang suci itu?

Hasil gambar untuk gambar kertas

Senin, 03 September 2018

MURAI BATU MENGANCAM PULUHAN RIBU ORANG

Fakir miskin semakin banyak, pengangguran semakin banyak, perekonomianpun bukannya semakin baik. Nilai Rupiah terus-menerus ditenggelamkan oleh dolarnya Donald Trump dan harga-harga kebutuhan hiduppun semakin meningkat. Namun demikian pemerintah tak pernah kapok, tak pernah merasa bersalah untuk terus-menerus meneror kehidupan rakyatnya dengan seabreg peraturan. Sekalipun barusan saja seorang menterinya, menteri sosial pula; Idrus Marham ditahan KPK. Menteri yang mengurusi fakir miskinpun mentalnya korupsi. Lalu bagaimana dengan nasib bantuan-bantuan untuk bencana alam Lombok?! Memangnya dari APBN-nya dianggarkan berapa, lalu diterimakan para pengungsinya berapa? Apakah KPK masih mempunyai waktu untuk meneliti keuangan bencana Lombok ini?!

Harga telor, harga ayam, harga cabe, harga LPG diberitakan pernah melambung tinggi. Ketika harga melambung tinggi maka datanglah sang Sinterklas yang berlabel: "Operasi Pasar" untuk menurunkan harga. Khasiat  "Operasi Pasar" memang terasa sekali seperti segelas air panas yang dimasuki es batu, langsung dingin. Tapi seturun-turunnya harga ya masih tetap saja lebih tinggi dari harga sebelumnya. Misalnya: harga semula Rp. 18.000,- lalu tiba-tiba naik menjadi Rp. 50.000,- setelah pemerintah turun tangan harganya diredakan di posisi Rp. 20.000,- Apakah itu bukan "politik" namanya?!

Menunggu pemerintah membuka lowongan kerja? Sampai kiamatpun tak mungkin semua pengangguran tertampung. Maka masyarakatpun berusaha menciptakan lapangan kerja sendiri. Ada yang menjadi tukang becak, ada yang membuka warung, ada yang menjadi pedagang kakilima, ada yang menjadi pedagang asongan, ada yang menjadi pengamen, ada yang jualan koran, ada yang menjadi pemulung, dan lain-lainnya. Namun oleh pemerintah mereka diuber-uber dan diobrak-abrik mengatasnamakan ketertiban.

Mulai dari zaman Orde Baru, masuklah supermarket-supermarket yang meresahkan para pengusaha toko dan pasar-pasar tradisional. Gulungtikarlah ribuan toko dan pasar-pasarpun menjadi berkurang pengunjungnya. Menjadi kaya melalui usaha toko menjadi mustahil karena kalah bersaing dengan supermarket-supermarket modern. Belum puas dengan langkah pemiskinan ribuan orang, masuk pulalah Alfamart dan Indomaret. Maka tumbanglah ratusan ribu toko-toko tradisional. Jika dulu mencari kios atau toko rokok begitu gampangnya, kini sangat sulit sekali menemukan kios atau toko rokok. Yang ada di mana-mana adalah Alfamart dan Indomart. Dulu sih harga di Alfamart dan Indomart memang lebih murah dibanding dengan toko-toko biasa. Tapi setelah semua toko mampus, kini harga barang di kedua toko itu sungguh-sungguh sangat mahal. Yah, namanya juga "politik", siapa bodoh akan mati, siapa pinter akan survive.

Kini masuk lagi gerombolan modernisasi di bidang transportasi, yaitu ojek-ojek system online; ada GOJEK, ada GRAB, dan lain-lainnya, yang menawarkan ongkos lebih murah untuk membumihanguskan ojek-ojek tradisional dan angkutan umum. Angkutan umum dan ojek-ojek tradisional benar-benar dibuat gigit jari. Padahal amanah undang-undang adalah supaya pemerintah membawa masyarakat pada adil dan makmur, bukannya mengamanahkan supaya menjadi negara yang modern. Lebih baik tidak modern tapi makmur daripada modern tapi banyak masyarakat yang kelaparan. Tapi nyatanya pemerintah lebih suka Indonesia terkenal di even Asian Games sebagai penyelenggara yang mewah, tak mau kalah dengan negara-negara kaya, sekalipun ada musibah bencana alam Lombok.

Sekalipun propinsi Nusa Tenggara Barat diluluhlantakkan oleh gempa bumi ribuan kali, namun anggaran yang disiapkan pemerintah hanya Rp. 4 trilyun. Masih lebih kecil dibandingkan dengan Asian Games yang Rp. 6,5 trilyun. Jika dijumlahkan artinya pemerintah memiliki kekuatan Rp. 10,5 trilyun. Bagaimana dengan anggaran untuk fakir miskin yang Rp. 270 trilyun dibandingkan dengan untuk infrastruktur yang Rp. 409 trilyun? Padahal yang diamanahkan undang-undang adalah fakir miskin, bukan memfasilitasi orang-orang kaya.

Sudah lelahkah dalam kejahatannya? Ternyata masih belum lelah! Koran Jawa Pos hari ini dalam head lines-nya memberitakan: "KETIKA MURAI BATU, CUCAK HIJAU DAN JALAK SUREN MASUK SATWA DILINDUNGI".

Rupanya pemerintah barusan mengeluarkan peraturan baru tentang hewan peliharaan, bahwa Murai Batu, Cucak Hijau dan Jalak dimasukkan sebagai satwa yang dilindungi. Peraturan itu dibuat berdasarkan hasil penelitian LIPI - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, bahwa burung-burung itu telah terjadi penurunan populasinya sebesar 50%.

Misal saja, di sebuah hutan semula didapati ada 1.000 ekor Murai Batu, kini tinggal 500 ekor saja. Lalu LIPI menyimpulkan bahwa burung itu telah punah 500 ekor. Apa analisa LIPI itu benar? Saya pikir analisa LIPI itu kurang teliti dan kurang cerdas. Sebab burung-burung itu diburu dari hutan bukan untuk disembelih, bukan untuk dimakan, tapi untuk dipelihara. Kalau diburu untuk dimakan memang akan musnah, akan habis, maka pemerintah perlu mengambil langkah melindunginya. Tapi burung-burung itu diburu justru dimaksudkan supaya hidup selama-lamanya.

Burung-burung itu diperjualbelikan dengan harga mahal untuk didengarkan suara merdunya. Semua orang yang memiliki burung itu pinginnya burung itu sehat, makan cukup gizi, dijaga pikirannya supaya jangan sampai stress, bisa berkembangbiak dan bisa awet hidup. Orang memburu dari hutan berharap burung itu bisa tetap hidup dan ketika dijual laku mahal, uangnya untuk makan sekeluarga. Maka jika dilihatnya burung itu kelaparan ketika ditangkap, pemburu itu pasti akan membelikannya pakan yang cocok buatnya. Jika sakit dicarikannya obat. Pemburu itu baru lega setelah burung itu berpindah tangan, terjual.

Pecinta burung yang berpikiran bisnis, otaknya berpikir keras untuk memperbanyak stok dengan cara mengembangbiakkannya. Dia tidak mungkin membawa burungnya ke kantor Keluarga Berencana untuk dipasang alat kontrasepsi, tapi justru disuntik hormon-hormon yang menyuburkan supaya bertelur banyak. Semakin banyak burungnya semakin kaya. Bertentangan dengan analisa LIPI yang berpikir bahwa burung itu semakin musnah. Burung-burung itu dijamin justru semakin banyak. Bukannya punah tapi berpindah alamatnya.

Sekalipun burung-burung itu tidak lagi merdeka di hutan, melainkan terkurung dalam sangkar, namun nasib burung-burung itu masih jauh lebih baik dari nasibnya fakir miskin yang ditangkap SATPOL PP lalu dimasukkan ke Panti Sosial. Burung-burung itu lebih terhargai daripada fakir miskin yang dianggap sampah masyarakat. Burung-burung itu diburu untuk dimanjakan, bukan seperti SATPOL PP yang memburu pedagang untuk mengobrak-abrikkan dagangan orang. Burung-burung itu dihidupkan, bukannya seperti burung Garuda yang dipatungkan.

Di saat pemerintah tak sanggup memberikan lapangan pekerjaan, burung-burung itu membuka lowongan pekerjaan. Ada banyak bidangnya: ada bagian pemburu, peternak, pedagang burung, perajin kurungan, pedagang kurungan, calo-calo, pabrik pakan, pedagang pakan, dokter burung, panitya perlombaan, warung-warung makanan yang berada di sekitar pasar burung, dan lain-lainnya.

Jika di setiap pasar ada pasar burungnya, maka ada berapa pasar burung di seluruh Indonesia? Kalikan dengan jumlah orang yang terlibat diperburungan. Berapa juta orang itu dan meliputi berapa nyawa di keluarganya? Hati setan manakah yang tega mengobrak-abrik mata pencaharian orang? Lagi-lagi orang yang bekerja mencari makan yang diteror!

Undang Undang Dasar 1945 pasal 33 berbunyi: "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat". Bahwa burung-burung itu sekalipun punah adalah untuk menghidupi bangsa Indonesia sendiri, bandingkan dengan tambang emas PT. Freeport di Papua. Jika tambang itu habis, untuk siapakah hasilnya?


Pernah Ditawar Jokowi Rp 600 Juta, Murai Batu Kini Dilindungi

https://news.detik.com/berita/4144177/pernah-ditawar-jokowi-rp-600-juta-murai-batu-kini-dilindungi

Jakarta - Sejumlah burung kicau kini masuk daftar satwa yang dilindungi menurut Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018. Salah satu burung kicau yang termasuk dilindungi adalah murai batu.

Murai batu memiliki nama lain kucica hutan (Kittacincla malabarica). Jenis burung itu masuk daftar satwa dilindungi mulai tahun ini.

Murai batu termasuk dalam famili Turdidae atau burung pengicau. Banyak pencinta burung kicau yang memelihara murai batu.

Presiden Jokowi bahkan pernah naksir burung jenis tersebut. Namun sang pemilik menolaknya waktu itu.

Jokowi menggelar kontes burung kicau di Istana Bogor pada 11 Maret 2018. Waktu itu juaranya adalah burung murai batu milik warga Brebes, Muhammad Nur Alamsyah. Sedangkan burung Jokowi kalah.

"Kalah, gimana lagi? Berarti jurinya jujur," kata Jokowi waktu itu.

Setelah perlombaan, Jokowi berniat membeli burung bersuara merdu itu. Namun tawarannya ditolak.

"Sudah (menawar), tapi pemiliknya ngomong nggak dijual," ujar Jokowi.

Murai batu yang membuat Jokowi jatuh hati itu bernama Kitaro. Jokowi menawar dengan harga Rp 600 juta.

"Melalui sekpri Presiden menawar Rp 600 juta, tapi saya tidak mau melepasnya. Saya akan rawat sendiri dan rencana nanti bila tidak ikut kontes akan dibudidayakan," ungkap Nur Alamsyah atau yang akrab disapa Dede saat ditemui di kediamannya, Selasa, 13 Maret 2018.

Membudidayakan burung kualitas bagus, tambah dia, memiliki nilai ekonomis yang tinggi daripada harus menjualnya seharga Rp 600 juta. Kitaro akan dikawinkan untuk menghasilkan keturunan berkualitas tinggi.

Kitaro dibeli Dede pada 2016. Murai batu ini berasal dari Lampung yang dibelinya seharga Rp 200 juta.

"Memang Kitaro ini bagus dan sudah sering menjadi juara. Mentalnya sudah mental juara, jadi harganya mahal," ungkap dia.
(bag/tor)


Kitaro, burung murai batu yang bikin Jokowi jatuh hati.

Sabtu, 01 September 2018

KEUANGAN NEGARA NGERI-NGERI SEDAP

Ketika tahun 2014 mencalonkan dirinya sebagai presiden Indonesia tentulah Jokowi merasa dirinya mampu atau sanggup mengemudikan Indonesia ke terminal kemakmuran atau Indonesia yang lebih baik. Tentu artinya adalah siap memperbaiki kekurangan-kekurangan dari presiden masa lalu. Kekurangan-kekurangan dari presiden masa lalu itulah yang menjadi PR - Pekerjaan Rumah bagi Jokowi yang sekarang ini memegang kekuasaan. Bukannya berusaha mencuci tangan dengan membuat pemisahan antara pekerjaan presiden SBY dengan pekerjaan dirinya. Jika ada yang nggak beres dibilang sebagai pekerjaan presiden terdahulu sedangkan jika bagus dibilang sebagai pekerjaannya. Itu bukan orang yang bertanggungjawab namanya. Sebab rakyat tahunya kenegaraan ini terbagi dalam 2 golongan, yaitu pemerintah dan rakyat. Rakyat hanya melihat pada pejabatnya bukan melihat nama-nama pejabatnya. Entah itu Soekarno, Soeharto, Megawati, Gus Dur, SBY atau Jokowi, semuanya adalah pihak pemerintahan. Maksudnya, "sesama bus kota jangan saling mendahului". Sesama presiden jangan saling menjatuhkan, tapi buktikan bahwa pemerintahan yang sekarang sudah memperbaiki.

Kepahlawanan Jokowi takkan hilang jika berkata: "Luka yang dibuat oleh presiden SBY sekarang sudah saya sembuhkan". Utang-utang di zaman presiden SBY yang sebesar Rp. 2.700 trilyun itu sekarang sudah dilunaskan oleh Jokowi. Itu hebat namanya. Tapi jangan malah berkilah dengan membuat perbandingan utang SBY Rp. 2.700 trilyun, sedangkan dirinya hanya berutang Rp. 2.300 trilyun. Sebab, baik negara pemberi utang maupun rakyat Indonesia tahunya pada jumlahnya yang Rp. 5.000 trilyun, bukan tentang siapa-siapanya yang berutang. Presiden masa depan pasti akan mencak-mencak dan pusing tujuh keliling melihat angkanya yang sebesar itu.

Kalaupun presiden masa lalu yaitu si SBY ada dosa, bukankah ada KPK dan jalur hukum yang bisa ditempuh selain dari menuding-nuding saja?! Sebab masalah utang ini larinya adalah menggerogoti kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Mau tak mau melalui perpajakanlah sumber keuangan utama negara dan itu pasti merupakan beban rakyat. Rakyat miskin membeli barang bikinannya orang kaya dengan harga mahal oleh sebab perpajakannya berat. Maka rakyat miskin sekalipun dibantu dengan ini-itu hidupnya sama seperti kuda. Dikasih makan kenyang tapi juga dicambuki. Rakyat kecillah yang tertindas, bukan konglomeratnya.

Berapapun sumbangan pemerintah untuk fakir-miskin tetap saja tak ada artinya jika biaya hidup semakin berat. Dan sekalipun Jokowi berhati emas 24 karat terhadap fakir miskin serta jujur, tidak korupsi, namun jika tidak bijaksana dalam pengelolaan uang negara, negara ini bisa hancur, sama seperti keuangan sebuah perusahaan atau sebuah keluarga, jika lebih besar pasak daripada tiang, jika lebih besar pengeluaran daripada pemasukan, maka akan bangkrut. Perekonomian yang memburuk bisa menjadi penyebab kehancuran rumahtangga.

Tanda-tanda memburuknya perekonomian negara sudah bisa kita lihat bersama. Maraknya dan sadisnya begal-begal di berbagai daerah adalah tanda-tanda yang riil, yang juga diakui oleh kepolisian bahwa kondisi perekonomian berpengaruh besar terhadap maraknya kejahatan. Masyarakat lapisan bawah ketika sudah tidak tahan dengan kemiskinannya dia akan memberontak menjadi nekat.

Jokowi ketika membutuhkan uang dilihatnya ada belanja APBN yang besar di subsidi BBM yang dibuat oleh presiden Soeharto, baru seminggu pemerintahannya sudah langsung mencabut subsidi BBM itu sehingga muncullah berbagai demo yang menentang kenaikan harga BBM itu. Nah, bagaimana kelak presiden masa depan ketika melihat belanja APBN untuk subsidi fakir miskin yang mencapai Rp. 41 trilyun sedangkan belanja pegawai negeri, polisi dan TNI yang gajinya dinaikkan berlipat menjadi Rp. 270 trilyun di tahun 2017 yang lalu?! Apa akibatnya jika keadaan memaksa untuk memangkas anggaran itu?! Bukankah bikin ribut negara?!

Para atlit yang berlaga di Asian Games seharusnya hanya mentargetkan medali emas dan namanya terkenal, kini oleh presiden Jokowi dimanjakan dengan bonus Rp. 1,5 milyar belum termasuk para pelatihnya. Bagaimana jika kelak nilai itu dianggap berlebihan dan kemudian dipangkas? Anggaran untuk mengharumkan nama Indonesia di even Asian Games sebesar Rp. 6,5 trilyun. Sekalipun acaranya memang "waah" tapi anggarannya juga keren. Dengan uang kita memang bisa memindahkan planet Mars ke sini. Apakah kita akan memindahkan planet Mars ke sini?!

Dari target penerimaan negara yang sekitar Rp. 2.000 trilyun, yang Rp. 500 trilyun adalah untuk cicilan utang. Sementara itu infrastruktur-infrastruktur yang dibangun dan dibanggakan oleh Jokowi, bukankah semakin banyak aset juga semakin membengkak biaya perawatan dan pemeliharaannya?! Lalu, bagaimana pula jika di setiap tahunnya pemerintah terdesak dan terpaksa harus berutang?! Bagaimana jika negara terjebak pada gali lobang tutup lobang?! Bagaimana jika negara kita terjebak pada jebakan "jalur sutera" Tiongkok, yaitu iming-iming utang untuk menguasai aset negara?! RRC dalam 5 tahun ini setiap tahunnya menyiapkan anggaran gila-gilaan sebesar Rp. 2.000 trilyun untuk dipinjam-pinjamkan ke berbagai negara dan sudah 8 negara yang terjebak, yaitu: Pakistan, Maladewa, Montenegro, Laos, Mongolia, Djibouti, Kyrgyzstan, dan Tajikistan.

Dari tahun 2014 sejak Jokowi menjadi presiden, 4 tahun memerintah sudah 4 kali mengganti jabatan direktur jendral pajak. Setiap tahun dibuat bongkar pasang untuk jabatan sebagai penggali sumber keuangan negara dari perpajakan. Mereka ditekan dengan target yang berat untuk memenuhi ambisi Jokowi. Ibaratnya, tangan kanan Jokowi membelai-belai fakir miskin sedangkan tangan kanannya menempeleng Dirjen Pajak. Maka akibatnya mabuklah Dirjen Pajaknya. Jalan-jalan toll dikenai pajak. Rumah-rumah kost dikenai pajak selain Pajak Bumi dan Bangunan(PBB).

Ken Dwijugiasteadi adalah Dirjen Pajak yang ke-3 di zaman Jokowi. Di bulan Mei 2017 di depan DPR menyatakan keberatan dibebani kenaikan 13%. "Kenaikan itu memberatkan, kuatirnya akan ngawur dan memeras rakyat", maka di bulan Desember dia harus menyerahkan jabatannya kepada Robert Pakpahan sebagai Dirjen Pajak yang ke-4.

Jokowi memang tidak korupsi. Itu sih, baik. Tapi jika anggaran belanja negara diboros-boroskan dan mengedepankan jalan pintas utang dan menekan perpajakan, kepala rakyat juga pusing tujuh keliling sekalipun bukan dipukul dengan pentungan kayu. Lihat saja, di jalanan dan di kampung-kampung sekarang ini sudah semakin banyak orang yang stress dan dipukul penyakit stroke.

Ambisius yang besar jika 2 tangan mengerjakan 10 pekerjaan secara bersamaan. APBN dibuat terkaget-kaget oleh BPJS kesehatan yang tekor Rp. 20 trilyun, pembangunan infrastruktur yang besar-besaran, biaya keluyuran ke sana ke mari, pemberian hadiah atlit, penyelenggaraan Asian Games yang keren, bencana alam di berbagai tempat, Dana Desa yang sebesar Rp. 70 trilyun pertahun, kenaikan bantuan fakir miskin, gaji pegawai negeri, polisi, TNI dan pensiunan, plus pembentukan lembaga-lembaga baru hingga menggaji Megawati sebesar Rp. 100 juta perbulannya.

"Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai". Keringat fakir miskin janganlah dipakai untuk menjadi Sinterklas, untuk menaikkan elektabilitas.

Penerimaan Pajak Diminta Naik 13 Persen, Dirjen Pajak: Nanti Saya Ngawur, Meras

http://www.tribunnews.com/bisnis/2017/05/31/penerimaan-pajak-diminta-naik-13-persen-dirjen-pajak-nanti-saya-ngawur-meras

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pandangan 10 fraksi partai politik saat Rapat Paripurna di DPR, menyimpulkan penerimaan pajak harus meningkat 13 persen tahun depan.
Adapun asumsi pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2 persen di 2018

Terkait itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan Ken Dwijugiasteadi mengungkapkan target penerimaan pajak 13 persen di 2018 tidak mungkin dilakukan.

Jika hal tersebut ditetapkan, Ken takut Direktorat Jenderal Pajak akan melakukan pemerasan kepada masyarakat.
"Kalau tax ratio 13 persen, nanti saya ngawur, meres (rakyat)," ujar Ken di gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Selasa (30/5/2017).
Ken menjelaskan jika penerimaan pajak 13 persen, maka harus disertai dengan pertumbuhan ekonomi.
Jika mengacu pada target pemerintah pertumbuhan 5,2 persen tahun depan, Ken menilai penerimaan pajak tidak bisa dicapai pada angka 13 persen.
"Kalau 13 persen, harusnya pertumbuhan tidak segitu dong, kan cuma 5,2 persen," ungkap Ken.
Ken menambahkan jika pertumbuhan ekonomi di 2018 sebesar 5,2 persen, maka penerimaan pajak maksimal yang didapatkan hanya mencapai 11 persen.
"Kalau mau cari pertumbuhan tax ratio ya itu narik pajaknya tidak sembarangan. Yang benar itu ya tax ratio 11 persenan itu," kata Ken.

Hasil gambar untuk gambar orang memanggulbeban berat

Jumat, 31 Agustus 2018

Kemenag: Salat 5 Waktu dan Khotbah Jumat Dilarang Pakai Toa

https://www.suara.com/news/2018/08/30/202735/kemenag-salat-5-waktu-dan-khotbah-jumat-dilarang-pakai-toa

Suara.com - Kementerian Agama RI akhirnya menerbitkan surat edaran mengatur penggunaan pelantang suara masjid, setelah vonis penjara bagi Ibu Meiliana yang dianggap menistakan agama karena memprotes kebisingan azan menjadi polemik.
Surat tersebut, seperti yang didapat Suara.com, Kamis (30/8/2018), ditandatangani Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI Muhammadiyah Amin, tertanggal 24 Agustus 2018.

Dalam surat edaran bernomor B.3940/DJ.III/Hk. 00.7/08/2018 tersebut, diatur tata cara penggunaan pelantang suara di masjid.
Pertama, surat edaran itu memerintahkan semua masjid memunyai dua pelantang suara. Satu pelantang suara di menara atau luar masjid, sedangkan satu lagi berada di dalam.

“Pelantang suara di menara luar, diminta hanya digunakan untuk azan sebagai penanda waktu salat, tidak boleh untuk menyiarkan doa atau zikir,” demikian tertulis dalam surat edaran tersebut.
Sementara untuk pelantang suara dalam, digunakan untuk doa. Namun syaratnya, doa tidak boleh meninggikan suara.

Dalam imbauan itu juga diminta kepada pengurus masjid mengutamakan suara merdu dan fasih saat menggunakan mikrofon.
Kemenag RI meminta semua masjid menaati surat edaran tersebut. Sebab, dalam surat itu juga tertulis, pelanggaran terhadap aturan-aturan tersebut, “Bukan menimbulkan simpati, melainkan keherenanan bahwa umat beragama senditi tidak menaati ajaran agamanya.”
Selanjutnya, dalam surat itu juga diatur terperinci penggunaan pelantang suara untuk waktu salat Subuh, dan salat lainnya.
Khusus Subuh, diminta hanya menggunakan pengeras suara paling awal 15 menit sebelum waktunya.

Lalu, pembacaan ayat suci Alquran hanya menggunakan pengeras suara keluar, sedangkan azan Subuh juga menggunakan pengeras suara keluar.
Namun untuk salat Subuh, kuliah subuh, dan sebagainya menggunakan pelantang suara ke dalam saja.
Sementara untuk Salat Magrib, Isya, dan Asar, diimbau agar 5 menit sebelum azan membaca ayat Suci Alquran. Sesudah azan, hanya menggunakan pelantang suara di dalam masjid.
Selanjutnya untuk Zuhur dan salat Jumat, diminta 5 menit sebelum Zuhur dan 15 menit sebelum Jumat digunakan untuk membaca ayat Suci Alquran menggunakan pelantang suara keluar, begitu pula azan.
Sedangkan saat salat, doa, pengumuman, khotbah Jumat menggunakan pelantang suara ke dalam, bukan di menara.
Berdasarkan edaran itu, juga diminta pengurus masjid untuk menghindari mengetuk-ngetuk pengeras suara, termasuk kata-kata seperti "tes", "percobaan", "satu-dua", batuk melalui pengeras suara, membiarkan suara kaset, serta memanggil orang.
Untuk diketahui,  surat edaran itu sendiri diterbitkan Kemenag RI setelah seorang ibu bernama Meiliana divonis bersalah dalam kasus penodaan agama Meiliana di Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara, Selasa (21/8).

Majelis hakim yang dipimpin Wahyu Prasetyo Wibowo menyatakan Meiliana terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 156 KUHP.
Pasal ini tentang penghinaan terhadap suatu golongan di Indonesia terkait tas, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.
Kasus Meiliana bermula saat dirinya menyatakan keberatan terhadap pengeras suara azan dari Masjid Al Maksum Tanjungbalai, Sumatera Utara pada 29 Juli 2016. Hal itu berujung pada amukan massa yang merusak sejumlah rumah penduduk dan vihara setempat.
Vonis terhadap Meiliana itu dikritik dan dikecam banyak pihak, baik dalam maupun luar negeri. Bahkan, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, mau menjadi saksi pembela dalam sidang banding Meiliana.
Penegasan Menteri Agama itu diutarakan melalui tulisan yang diunggah ke akun Twitter resmi miliknya, @lukmansaifuddin, Kamis (23/8/2018).
Pernyataan Lukman itu adalah jawaban saat dipertanyakan Saiful Mujalni, konsultan politik sekaligus pendiri lembaga  Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), mengenai upaya banding yang diajukan kuasa hukum Meiliana.
Awalnya, Saiful Mujani menyatakan persetujuannya atas sikap Lukman maupun Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menilai Meiliana tak layak dipenjara dalam kasus penistaan agama.
“Seribu persen setuju pak mentri dan pak wapres. Tapi, supaya tidak dibilang intervensi sebaiknya banding saja, dan pak mentri mungkin bisa menjadi pihak terkait atau saksi ahli yang meringankan. please pak @lukmansaifuddin,” tulis Saiful Mujani.
Tak lama, permintaan Saiful Mujani itu dijawab oleh Lukman Hakim melalui akun Twitternya yang ditautkan kepada sang konsultan politik.
 “Replying to @saiful_mujani Saya bersedia bila diperlukan,” tulis Lukman.
Sebelumnya, Presiden Jokowi juga mendukung upaya banding Meiliana, warga Tanjung Balai, Sumatera Utara, yang divonis 1,5 tahun penjara dalam kasus penistaan agama.
Meiliana divonis penjara 1 tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Medan, hanya karena meminta tetangganya mengecilkan volume pelantang suara masjid dekat rumah saat mengumandangkan azan.
"Ya itu kan ada proses banding," ujar Jokowi di kantor Konferensi Waligereja Indonesia, Jalan Taman Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/8/2018).
Meski begitu, Jokowi tidak mau mencampuri urusan vonis yang telah dijatuhi Hakim Pengadilan Negeri Medan terhadap Meiliana.
"Ya saya tidak bisa mengintervensi hal-hal yang berkaitan di wilayah hukum pengadilan," kata dia.

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag


Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag


Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag



Baca:

SPEAKER TOA MELIANA



Kemenag: Salat 5 Waktu dan Khotbah Jumat Dilarang Pakai Toa