Sabtu, 13 Januari 2018

BOLEHKAH KRISTEN BERCERAI?

Seperti orang yang berjalan sambil membawa barang berat, pada akhirnya akan berhenti dan menjatuhkan barang bawaannya itu karena kelelahan, demikianlah akhir-akhir ini media massa dihebohkan dengan berita gugatan cerai Ahok, mantan gubernur DKI Jakarta, terhadap istrinya; Veronica Tan.

Hasil gambar untuk gambar orang membawa barang berat kecapaian

Dulunya sebagai pejabat tentunya dituntut untuk menampilkan kehidupan rumahtangga yang harmonis. Jika tidak demikian maka gugurlah cita-cita Ahok dalam karier politiknya. Tidak mungkin bisa menduduki jabatan gubernurnya. Karena itu Ahok berusaha sedemikian rupa menahan gejolak hati dan rumahtangganya. Sebab selain untuk keperluan cita-cita, sebagai orang beragama, sebagai suami dan laki-laki yang bertanggungjawab, tentu tidaklah mudah untuk memutuskan perceraian. Dalam Kristen ada "hantu" yang melarang perceraian. Terlebih Roma Katolik sangat menentang terjadinya perceraian. Gereja tak mungkin menerbitkan surat cerai sekalipun nabi Musa bisa menerbitkan surat cerai;

Mat. 19:7Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"

Publik, khususnya para pendukung Ahok merasa kaget dan seperti disambar petir mendengar gugatan cerai Ahok tersebut. Sebab mereka tidak bisa membedakan antara pejabat dengan manusia biasa, antara Ahok sebagai gubernur dengan Ahok sebagai manusia biasa. Mereka hanya melihat satu sisi saja, yaitu penampilan-penampilan Ahok di luar rumah sebagaimana yang diliput media massa, tanpa melihat sisi lain yang tidak mungkin dipublikasikan, yaitu ketika Ahok sebagai manusia biasa, di rumahtangganya.

Menjadi pertanyaan adalah apakah kalau gubernur itu nggak ada masalahnya? Nggak ada pusingnya? Nggak ada godaannya? Nggak ada salahnya? Nggak ada kelemahannya? Nggak ada negatifnya? Nggak ada setannya? Yah, gubernur dan istrinya adalah manusia-manusia biasa, sama seperti kita.

Tapi kalau pertanyaannya: Bolehkah gubernur bermasalah? Bolehkah gubernur pusing? Bolehkah gubernur digodai? Bolehkah gubernur bersalah? Bolehkah gubernur lemah? Bolehkah gubernur negatif? Bolehkah gubernur kesetanan? Tentu saja jawabannya adalah: Tidak boleh! Undang-undang mengamanahkan seorang pejabat itu tidak boleh bercacat-cela.

Undang-undang pasal 6, nomor 23, tahun 2003, huruf j;

j.    tidak pernah melakukan perbuatan tercela;

Baik gereja Roma Katolik, gereja-gereja Kristen maupun pemerintah sangat anti terhadap perceraian. Pengetahuan masyarakat mengatakan orang Islam boleh cerai, orang Kristen tidak boleh cerai. Tapi apakah itu realistis, gereja melarang perceraian, apakah gereja melihat sisi-sisi kehidupan seorang manusia secara menyeluruh? Dan apa benar Alkitab, sebagai buku pedoman umat Kristen itu melarang perceraian? Mari kita lihat suara Alkitab.

Yang pertama adalah ELOHIM YAHWEH sendiri; DIA menganggap Israel sebagai "istri"-NYA, namun DIA tidak segan-segan menceraikan Israel;

Yer. 3:8Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai; namun Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu tidak takut, melainkan ia juga pun pergi bersundal.

Yang kedua adalah peraturan nabi Musa;

Ulangan 24:1

"Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,
24:2dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain,
24:3dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati,
24:4maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.

Menurut peraturan nabi Musa, jika seorang istri kedapatan berzinah, suami boleh menulis surat cerai, dan jika sudah bercerai tidak boleh dijadikan istri kembali. Itu adalah suatu kebijaksanaan bagi aturan TUHAN yang melarang perceraian;

Mat. 19:6Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Larangannya memang ada, tapi kebijaksanaannya juga ada, yaitu dengan pengecualian karena zinah; ELOHIM YESHUA ha MASHIA sendiri menetapkannya begitu;

Matius 19:9Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Jadi, Alkitab tidak seperti gereja yang hanya mempunyai satu pintu saja, yaitu: Tidak boleh! Alkitab membolehkan, mengapa gereja tidak membolehkan? Bukankah Alkitab lebih tinggi kedudukannya daripada gereja manapun? Lebih lanjut rasul Paulus mengatakan;

1Korintus 7:10

Kepada orang-orang yang telah kawin aku--tidak, bukan aku, tetapi Tuhan--perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
7:11Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
7:15Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.

Rasul Pauluspun masih mempunyai pintu untuk perceraian. Dan sebenarnya sama saja pertanyaan: "bolehkah bercerai" dengan "bolehkah membunuh atau mencuri?" Jawabannya sudah pasti: "Tidak boleh!" Tidak mungkin TUHAN mengijinkan perceraian, sama juga tidak mungkin TUHAN mengijinkan seorang berbuat dosa. Tapi 'kan TUHAN tidak menutup mata dengan terjadinya pelanggaran, melainkan selalu memberikan jalan keluar, yaitu pengampunan?! Peraturannya: "Jangan berbuat dosa!" Tapi jika ada dosa ada pengampunannya. Ada sakit, ada obatnya! Jangan membuat jalan buntu!

Gereja jangan memeluk perampok yang bertobat, tapi hanya gara-gara jemaatnya bercerai lalu dikucilkannya. Sama-sama salahnya, ya harus sama-sama penerimaannya.

Jadi, yang membuat aturan melarang perceraian itu gereja, bukan Alkitab. Manusia, bukan TUHAN!

Kis. 5:29Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

Tidak ada komentar: