Rabu, 07 Maret 2018

PERLUKAH MEMBICARAKAN AGAMA?

Saat ini kita sedang berada dalam situasi yang sensitif untuk membicarakan keagamaan. Korban membicarakan keagamaan yang terpopuler adalah kasus Ahok yang dipelintir oleh Buni Yani, yang menyebabkan ketegangan yang berlarut-larut, sampai pemerintah mengantisipasinya dengan memonitor segala gerak-gerik kita melalui registrasi kartu prabayar. Dengan dicatatnya Nomor Induk Kependudukan (NIK) kita, salah omong sedikit saja kita bisa dicokok polisi karena alamat kita ketahuan dengan jelas. Bagi orang-orang yang bernyali kecil tentu saja registrasi ini merupakan momok yang menakutkan, sehingga mengambil langkah mundur dari membicarakan keagamaan. Pilih posisi aman sekalipun sesungguhnya di negeri ini nggak ada yang aman. Nggak bicara agamapun kalau maling, ya dipenjara. Nggak bicara agama, mengeluhkan layanan rumahsakit yang burukpun, masuk penjara. Nggak bicara agama, ketubruk mobilpun malah lebih parah luka-lukanya. Nggak bicara agama, diserang penyakitpun malah lebih sengsara daripada di penjara. Nggak bicara agama, nyawa dicabut TUHAN, umurpun lebih pendek dari yang di penjarakan.

Jadi, kalau kita mau berpikir lebih luas, nggak perlu kita ketakutan membicarakan agama. Apapun ancamannya sikapi dengan biasa-biasa saja. Yang penting dalam segala hal kita melakukannya dengan positif, dengan niat baik.

Tapi sebenarnya, perlukah kita membicarakan agama? Kalau membicarakan agama sebagai organisasi atau kelembagaan, ya buat apa? Ngapain kita membicarakan organisasi yang abstrak, yang tidak berwujud, yang tidak bisa apa-apa, yang tak berkhasiat apa-apa? Ngapaian yang kita bicarakan agama Kristen, jika menurut Kristen yang bisa menyelamatkan itu TUHAN YESUS? Ngapain yang kita bicarakan agama Islam, jika menurut Islam yang bisa menyelamatkan itu AWLOH? Yah, harusnya yang kita bicarakan adalah TUHAN, bukan agama.

Lho, bukankah agama itu tentang KETUHANAN? Nggak mesti! Banyak agama-agama yang tak memiliki TUHAN dan tidak membicarakan KETUHANAN. Bukankah semua agama berasaskan Pancasila, KETUHANAN yang mahaesa? Katanya sih begitu. Tapi coba periksa di kitab sucinya apakah ada pembicaraan yang disebut firman TUHAN?

Bukankah TUHAN berbicara melalui agama? Bukan! TUHAN berbicara melalui perantaraan para nabi yang dituliskan ke dalam kitab suci. TUHAN berbicara kepada nabi, bukan kepada pak pendeta. AWLOH berbicara kepada Muhammad, bukan kepada pak ustadz. TUHAN berbicara di dalam Alkitab, bukan di dalam agama Kristen. AWLOH berbicara di dalam Al Qur'an, bukan di dalam agama Islam.

Mengapa TUHAN dengan agama perlu dipisahkan? Sebab kitab suci adalah satu, sedangkan agama itu banyak. Antara pendeta yang satu dengan pendeta yang lain, berbeda tafsirannya atas sebuah kalimat di Alkitab. Antara ustadz yang satu dengan ustadz yang lain, berbeda tafsirannya atas sebuah kalimat di Al Qur'an. Satu Alkitab, satu bahasa, satu kalimat, bisa menjadi ribuan tafsiran. Satu Al Qur'an, satu bahasa, satu kalimat, bisa menjadi ribuan tafsiran. Mana yang benar, antara pendeta yang satu dengan yang lainnya, antara ustadz yang satu dengan yang lainnya? Tentu saja yang benar adalah kitab sucinya. Bukan kata pak pendetanya yang kita dengar, tapi apa kata TUHAN-nya? Bukan kata pak ustadznya yang kita dengar, tapi apa kata AWLOH-nya?

Karena itu pertanyaannya saya ubah dari "perlukah kita membicarakan agama" menjadi "perlukah kita membicarakan KETUHANAN?"

Perlukah kita membicarakan KETUHANAN? Tergantung, jika kita berpikir bisa hidup dengan kekuatan sendiri, buat apa kita bertuhan? Sebab salah satu pekerjaan TUHAN itu adalah Penolong. Jika kita berpikir alam semesta ini terjadi dari ledakan Big Bang dan manusia berasal dari monyet, buat apa kita mencari TUHAN? Sebab yang disebut TUHAN itu adalah Sang Pencipta. Jika kita berpikir akhir hidup ini adalah kematian, buat apa TUHAN? Sebab salah satu yang ditawarkan TUHAN adalah keselamatan akherat. Jika kita berpikir semua TUHAN itu sama, buat apa kita mencari kebenarannya? Sebab Jalan TUHAN itu disebut sebagai kebenaran.

Tapi jika kita dibingungkan antara Kristen A dengan Kristen B, antara Islam A dengan Islam B, antara Kristen dengan Islam, kita perlu memastikan apakah kedua-duanya benar atau ada satu yang benar, ada satu yang salah. Sebab kemiripan sparepart yang asli dengan sparepart yang palsu memerlukan ketelitian untuk mendapatkan keasliannya.

Dan sebagai bukti kita telah menemukan kebenarannya, kita harus bisa menjelaskan yang sebaik-baiknya. Kita harus mempunyai argumentasi yang kuat, bukan argumentasi yang sempoyongan. Kita harus bisa menjawab semua pertanyaan yang menguji temuan kita itu, sama seperti petinju yang bisa meng-KO lawannya, dialah sang juara sejati.

Buat apa kita membeli sparepart yang palsu? Buat apa kita menggenggam dalil-dalil atau argumentasi yang konyol? Buat apa kita memelihara ayam jago yang tidak jagoan?

Hasil gambar untuk gambar menggenggam api
Posting Komentar