Jumat, 31 Agustus 2018

Kemenag: Salat 5 Waktu dan Khotbah Jumat Dilarang Pakai Toa

https://www.suara.com/news/2018/08/30/202735/kemenag-salat-5-waktu-dan-khotbah-jumat-dilarang-pakai-toa

Suara.com - Kementerian Agama RI akhirnya menerbitkan surat edaran mengatur penggunaan pelantang suara masjid, setelah vonis penjara bagi Ibu Meiliana yang dianggap menistakan agama karena memprotes kebisingan azan menjadi polemik.
Surat tersebut, seperti yang didapat Suara.com, Kamis (30/8/2018), ditandatangani Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI Muhammadiyah Amin, tertanggal 24 Agustus 2018.

Dalam surat edaran bernomor B.3940/DJ.III/Hk. 00.7/08/2018 tersebut, diatur tata cara penggunaan pelantang suara di masjid.
Pertama, surat edaran itu memerintahkan semua masjid memunyai dua pelantang suara. Satu pelantang suara di menara atau luar masjid, sedangkan satu lagi berada di dalam.

“Pelantang suara di menara luar, diminta hanya digunakan untuk azan sebagai penanda waktu salat, tidak boleh untuk menyiarkan doa atau zikir,” demikian tertulis dalam surat edaran tersebut.
Sementara untuk pelantang suara dalam, digunakan untuk doa. Namun syaratnya, doa tidak boleh meninggikan suara.

Dalam imbauan itu juga diminta kepada pengurus masjid mengutamakan suara merdu dan fasih saat menggunakan mikrofon.
Kemenag RI meminta semua masjid menaati surat edaran tersebut. Sebab, dalam surat itu juga tertulis, pelanggaran terhadap aturan-aturan tersebut, “Bukan menimbulkan simpati, melainkan keherenanan bahwa umat beragama senditi tidak menaati ajaran agamanya.”
Selanjutnya, dalam surat itu juga diatur terperinci penggunaan pelantang suara untuk waktu salat Subuh, dan salat lainnya.
Khusus Subuh, diminta hanya menggunakan pengeras suara paling awal 15 menit sebelum waktunya.

Lalu, pembacaan ayat suci Alquran hanya menggunakan pengeras suara keluar, sedangkan azan Subuh juga menggunakan pengeras suara keluar.
Namun untuk salat Subuh, kuliah subuh, dan sebagainya menggunakan pelantang suara ke dalam saja.
Sementara untuk Salat Magrib, Isya, dan Asar, diimbau agar 5 menit sebelum azan membaca ayat Suci Alquran. Sesudah azan, hanya menggunakan pelantang suara di dalam masjid.
Selanjutnya untuk Zuhur dan salat Jumat, diminta 5 menit sebelum Zuhur dan 15 menit sebelum Jumat digunakan untuk membaca ayat Suci Alquran menggunakan pelantang suara keluar, begitu pula azan.
Sedangkan saat salat, doa, pengumuman, khotbah Jumat menggunakan pelantang suara ke dalam, bukan di menara.
Berdasarkan edaran itu, juga diminta pengurus masjid untuk menghindari mengetuk-ngetuk pengeras suara, termasuk kata-kata seperti "tes", "percobaan", "satu-dua", batuk melalui pengeras suara, membiarkan suara kaset, serta memanggil orang.
Untuk diketahui,  surat edaran itu sendiri diterbitkan Kemenag RI setelah seorang ibu bernama Meiliana divonis bersalah dalam kasus penodaan agama Meiliana di Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara, Selasa (21/8).

Majelis hakim yang dipimpin Wahyu Prasetyo Wibowo menyatakan Meiliana terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 156 KUHP.
Pasal ini tentang penghinaan terhadap suatu golongan di Indonesia terkait tas, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.
Kasus Meiliana bermula saat dirinya menyatakan keberatan terhadap pengeras suara azan dari Masjid Al Maksum Tanjungbalai, Sumatera Utara pada 29 Juli 2016. Hal itu berujung pada amukan massa yang merusak sejumlah rumah penduduk dan vihara setempat.
Vonis terhadap Meiliana itu dikritik dan dikecam banyak pihak, baik dalam maupun luar negeri. Bahkan, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, mau menjadi saksi pembela dalam sidang banding Meiliana.
Penegasan Menteri Agama itu diutarakan melalui tulisan yang diunggah ke akun Twitter resmi miliknya, @lukmansaifuddin, Kamis (23/8/2018).
Pernyataan Lukman itu adalah jawaban saat dipertanyakan Saiful Mujalni, konsultan politik sekaligus pendiri lembaga  Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), mengenai upaya banding yang diajukan kuasa hukum Meiliana.
Awalnya, Saiful Mujani menyatakan persetujuannya atas sikap Lukman maupun Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menilai Meiliana tak layak dipenjara dalam kasus penistaan agama.
“Seribu persen setuju pak mentri dan pak wapres. Tapi, supaya tidak dibilang intervensi sebaiknya banding saja, dan pak mentri mungkin bisa menjadi pihak terkait atau saksi ahli yang meringankan. please pak @lukmansaifuddin,” tulis Saiful Mujani.
Tak lama, permintaan Saiful Mujani itu dijawab oleh Lukman Hakim melalui akun Twitternya yang ditautkan kepada sang konsultan politik.
 “Replying to @saiful_mujani Saya bersedia bila diperlukan,” tulis Lukman.
Sebelumnya, Presiden Jokowi juga mendukung upaya banding Meiliana, warga Tanjung Balai, Sumatera Utara, yang divonis 1,5 tahun penjara dalam kasus penistaan agama.
Meiliana divonis penjara 1 tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Medan, hanya karena meminta tetangganya mengecilkan volume pelantang suara masjid dekat rumah saat mengumandangkan azan.
"Ya itu kan ada proses banding," ujar Jokowi di kantor Konferensi Waligereja Indonesia, Jalan Taman Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/8/2018).
Meski begitu, Jokowi tidak mau mencampuri urusan vonis yang telah dijatuhi Hakim Pengadilan Negeri Medan terhadap Meiliana.
"Ya saya tidak bisa mengintervensi hal-hal yang berkaitan di wilayah hukum pengadilan," kata dia.

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag


Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag


Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag

Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kemenag



Baca:

SPEAKER TOA MELIANA



Kemenag: Salat 5 Waktu dan Khotbah Jumat Dilarang Pakai Toa

Selasa, 28 Agustus 2018

SPEAKER TOA MELIANA

Meliana, seorang perempuan dari Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada tanggal 21 Agustus 2018 kemarin divonis hakim 18 bulan karena dianggap menista agama Islam, memprotes suara speaker mesjid yang terlalu keras. Tentang kronologisnya ada 3 versi; ada versi pengacara Meliana, ada versi masyarakat dan versi kejaksaan.

Hasil gambar untuk gambar meliana tanjungbalai

Versi pengacara Meliana, pada tanggal 22 Juli 2016 ketika belanja di warungnya Kak Uwo, Meliana mengeluhkan suara speaker mesjid yang akhir-akhir ini suaranya semakin keras: "Kak, dulu suara Masjid kita tidak begitu besar ya, sekarang agak besar ya," kata Ranto menirukan ucapan meliana. Konon oleh Kak Uwo kata-kata keluhan itu diubah menjadi: "kak tolong bilang sama uak itu. kecilkan suara Masjid itu kak. Sakit kupingku, ribut," kata Meliana dalam tuntutan. Itu versi yang diungkapkan jaksa di persidangan. Sedangkan versi lain yang berkembang, ketika rumah Meliana didatangi para pengurus mesjid, Meliana marah-marah, berkata-kata kasar sambil menuding-nuding: "Lu...lu....ya (maksudnya kamu, sembari menunjuk dengan telunjuk ke arah muka Haris Tua Marpaung), kita sudah sama-sama dewasa ini negara hukum. Itu Masjid bikin telinga gua pekak, sakit kuping saya, hari-hari ribut, pagi rebut, siang rebut, malam ribu, bikin gua tidak tenang," kata Meliana seperti yang ada di surat pernyataan.

Kalau soal mengomentari vonis 18 bulan itu sudah banyak yang berkomentar. Wakil presiden Jusuf Kalla berpendapat bahwa masalah itu bukan termasuk intoleransi. PBNU menilai itu bukan penodaan agama. Din Syamsuddin berpendapat vonis itu terlalu berat. Komisi Yudisial berkomentar: harusnya hakim tidak buta keadilan. Bahkan ada yang membuat petisi untuk membebaskan ibu Meliana itu yang didukung oleh 48.000 orang lebih. Sedangkan pengacara Meliana sedang mengupayakan banding.

Tapi yang jelas hakim yang memvonis Meliana, Wahyu Prasetyo Wibowo, yang merupakan wakil ketua Pengadilan Negeri Medan, pada tanggal 27 Agustus 2018 kemarin ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan(OTT) KPK. Hakim yang bermental korupsi dijadikan hakim? Mungkinkah ayam bertelor bebek atau bebek bertelor ayam?!

Hasil gambar untuk gambar wahyu prasetyo wibowo


Kalau soal keadilan, sudahlah, jangan kecewa. Ini negara Indonesia yang Pancasilanya sedang digondol burung Garuda. Kasus Tanjung Priok, kasus mahasiswa Trisakti, kasus kematian Munir, kasus penyiraman air keras Novel Baswedan, kasus yang memenjarakan Ahok, kasus BLBI yang belum dilanjutkan oleh KPK, kasus rekening gendut Budi Gunawan yang juga macet total gara-gara "buaya"-nya marah pada "cecak". Dan masih banyak lagi. Lebih-lebih yang menyangkut fakir-miskin dan rakyat terlantar. Namun sekalipun demikian elektabilitas presiden Jokowi terus naik. Para pendukungnya makin kuat. Karena itu anggap saja ketidakadilan ini sebagai tumbal keselamatannya Jokowi. Sebab nyatanya sekalipun jabatannya sebagai presiden itu merupakan kepala negara, yaitu yang mengepalai segala aspek kehidupan bangsa ini, Jokowi sudah angkat tangan kalau soal keadilan. Beliau tidak mau intervensi soal hukum, katanya.

Padahal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sila ke-5 Pancasila merupakan salah satu amanah bangsa yang harus diembannya. Tapi Jokowi tidak seperti Yohanes Andigala, bocah SMP yang di kabupaten Belu, yang tersigap terhadap suatu kebutuhan. Jokowi mendiamkan saja ketika ada seorang perempuan sedang dianiaya di depan matanya, sama seperti masyarakat pada umumnya yang takut menghadapi resiko disangkutpautkan. "Tidak mau ikut campur, takut direpotkan jadi saksi".

Ketika masuk warung pingin ayam goreng, tapi yang ada hanya tahu dan tempe, ya saya nggak jadi beli. Begitulah sikap saya di pemilihan presiden nanti.

Tentang Meliana yang mau saya bahas hanya masalah speakernya. Sebab Islam sejak kenabian Muhammad hingga tahun 1876 ketika Alexander Graham Bell menemukan speakernya, praktis selama 1300 tahun Islam tanpa speaker. Kalau soal speaker di arahkan ke dalam mesjid, itu bukan masalah. Tapi jika suaranya diarahkan ke luar mesjid, ke udara bebas, itu adalah udara Indonesia, bukan udara Islam lagi. Ada 6 kelompok agama yang berhak atas udara Indonesia, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khong Hu Chu. Harusnya pihak mesjid mengantongi ijin dari masyarakat seputaran mesjid itu jika hendak mengudarakan suara adzannya, sama seperti ijin masyarakat setempat kalau hendak mendirikan gereja. Sebab masalahnya jelas bahwa Islam selama 1300 tahun tanpa speaker. Karena itu speaker bukanlah tanda Keislaman sebagaimana kitab suci Al Qur'an.

Memaksa orang mendengarkan sesuatu yang tidak diinginkannya apakah bukan termasuk penganiayaan dan pemerkosaan? Karena itu ijinkan orang-orang yang beragama lain merasa keberatan dengan speaker mesjid yang telah "menjajah" telinga masyarakat selama kurang lebih 150 tahun sejak 1876. Di saat situasi kemasyarakatan kita sedang kondusif, di saat pendidikan masyarakat sudah baik, di saat persatuan dan kesatuan di sini dalam situasi terbaik, mari kita bahas secara musyawarah perihal speaker ini. Sebab ini bukan berkenaan dengan keagamaan Islam. Kita bukan mengkritisi Al Qur'an, bukan mengkritisi sholat 5 waktu, bukan melarang orang beragama Islam, bukan melarang Islam berdakwah dan mensyiarkan agamanya.

Suara speaker keras jika perangkat sound systemnya bagus, penyetelannya bagus sehingga menghasilkan suara yang bersih dan jernih, lalu suara orang yang mengumandangkan adzannya merdu, saya yakin semua orang tak keberatan untuk mendengarkannya. Sebab percakapan bahasa Arab yang dilantunkan seperti lagu itu memiliki nilai-nilai seni yang enak didengar seperti kebiasaan orang Minang berpantun, atau seperti logat Madura. Saya sendiri, seorang penginjil Kristen kalau di kota Pekalongan suka sekali mendengarkan suara merdu orang Arab yang melantunkan ayat-ayat Al Qur'an. Bahkan di warnet tak jarang saya menyetel videonya Nissa Syaban, penyanyi gambus yang suaranya merdu itu. Tapi kebanyakan mesjid saya pikir sangat sembrono membiarkan sound system rusak yang suaranya kemresek, lalu suara adzannya suara anak-anak yang kadang-kadang dipakai senda-gurau. Bahkan tak jarang jantung saya sampai berdebar-debar karena kaget mendengar suara adzan yang dadakan. Lebih-lebih ketika sedang asyik membicarakan bisnis, suara orang di depan kitapun sampai tak kedengaran. Terganggu sekali. Dan gangguan demikian itu bukan semenit dua menit, tapi berjam-jam merampas pembicaraan orang.

Saya gusar sekali ketika sedang semangatnya memarahi anak atau mengomeli istri, mendadak dihantam oleh suara speaker mesjid itu. Orang marah menjadi tidak tuntas. Dongkol sekali rasanya. Saya yakin ini bukan hanya masalah Meliana saja, tapi masalah orang-orang beragama lainnya. Sebab kaum Muslim juga menuntut jika pembangunan gedung gereja harus dilengkapi dengan peredam suara supaya suaranya jangan sampai bocor ke luar. Tapi mengapa Islam justru secara sengaja mengumbar suaranya keras-keras kayak konsernya Iwan Fals? Dan jika semakin keras semakin banyak pahalanya, mengapa tidak menggunakan speaker yang besar seperti di pesta-pesta perkawinan?

Hasil gambar untuk gambar salon speaker gede untuk konser musik


Maksud saya, kalau niatnya publisitas mengapa tidak memperhatikan mutu, tetapi begitu sembrononya sehingga memancing komentar negatif orang? Coba seandainya berbobot siapakah yang tidak akan berdecak kagum, sebagaimana peribahasa ditakuti lawan, disegani kawan. Atau seperti slogan di kampung-kampung: "Anda sopan, kami segan".

Kalau Islam itu memikirkan kwalitas harusnya bukan hanya menuntut ketakutan orang tapi menginginkan disegani orang. Ketakutan itu hanya ada di lahiriah seperti ketakutan terhadap setan, terhadap teroris, terhadap perampok, sedangkan di dalam hatinya adalah kebencian. Tapi keseganan itu di dalam batin adanya. Ketakutan itu menipu tapi keseganan itu sejati.

Orang takut itu akan menikam dari belakang. Contohnya, ketika seorang istri tertekan oleh kegalakan suaminya, suatu ketika bisa jadi pembunuh suaminya itu. Ketika yang ditakuti lengah, maka ketakutannya menjadi hilang, menjadi berani. Tapi keseganan yang di dalam hati itu tak terbantahkan. Dulu Ali Mochtar Ngabalin, Hary Tanoesoedibjo, Tuan Guru Bajang, bahkan Deddy Mizwar dan Farhat Abbas yang dulunya lawan Jokowi, kini pro Jokowi. Nah, siapa tahu Fahri Hamzah, Fadlizon, Akhmad Dhanny dan Ratna Sarumpaet tak lama lagi bakal mendeklarasikan dirinya pro Jokowi? Apakah masih ajaib?!

Kapitra, pengacaranya habib Riezieq Shihab, yang diagendakan untuk menghabisi PDIP, kini malah masuk barisan PDIP untuk menjadi calon DPR-RI. Gimana?!

Jumat, 24 Agustus 2018

PAITE KOPI RASANE LEGI

Di warnet saya mendengar syair lagu yang bunyinya: "Yen wis trisno paite kopi rasane legi". Arti syair bahasa Jawa itu: jika sudah jatuh cinta maka kopi yang pahit bisa terasa manis. Karena tertarik saya cari di Google ternyata judul lagunya: "Prei Kanan Kiri", dinyanyikan oleh Eny Sagita. Tentu saja saya tergelitik mendengar ada kopi pahit yang bisa menjadi manis oleh sebab cinta, bukan oleh sebab gula. Apa iya cinta bisa merubah rasa pahit menjadi manis, atau ada kekurangtepatan peribahasanya?

Rasa kopi jika tidak ditambah dengan gula pasti pahit. Kita semua tahu itu. Maka jika ingin manis ya harus dikasih gula yang cukup untuk menguburkan rasa pahitnya. Tidak semua orang suka kopi pahit kecuali mereka yang takut kena diabetes. Nah, orang yang tidak suka kopi pahit ketika sedang jatuh cinta pasti mau-mau saja jika disuruh minum oleh pacarnya. Itu sebagai bentuk dari pengorbanan tanda cintanya. Tapi bukan berarti rasa kopi itu menjadi manis. Yang benar adalah sekalipun berasa pahit akan diminumnya. "Yen wis trisno paite kopi rasane legi" mungkin harusnya adalah "Yen wis trisno paite kopi tetep tak ombe" - Jika sudah cinta kopi pahitpun saya minum".

Rasanya syair lagunya Gombloh: "Kalau cinta melekat tai kucing rasa coklat" juga perlu diluruskan untuk ketepatannya dalam berperibahasa. Sebab peribahasa-peribahasa itu memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan keagamaan kita di kala kita sedang menghadapi persoalan yang berat. Seolah-olah kalau kita berseru pada TUHAN maka TUHAN akan meredahkan persoalan kita. Seolah-olah TUHAN akan mengangkat beban-beban kita oleh sebab kesalehan dan kerajinan kita ke gereja. Sekalipun saya sendiri sering menikmati TUHAN menyingkirkan beban-beban kesulitan saya, namun tidak jarang juga TUHAN membiarkan "duri berada dalam daging" saya. Artinya, saya dibiarkan mengurus persoalan saya sendiri. Saya harus tetap menikmati pahitnya kopi atau tai kucing yang tetap tai kucing.

Yah, ada kalanya TUHAN menghardik angin ribut ketika di danau Galilea. Tapi ada kalanya ELOHIM YESHUA harus meminum cawan penderitaanNYA tanpa pertolongan BAPANYA sedikitpun. ELOHIM YESHUA harus menghadapi salib, ditinggalkan para murid, dan menghadapi kematianNYA. Kalau kopi boleh ditambahi gula atau tai kucing rasa coklat memang enak, seperti nasib baiknya Lalu Mohammad Zohri dan Yohanes Andigala, yang selama ini hidup di garis kemiskinan kini kaya mendadak. Lalu Mohammad Zohri, si juara dunia lari dan Yohanes Andigala, si bocah pemanjat tiang bendera, yang kini kebanjiran hadiah. Rasanya semua orang akan senang menjadi fakir miskin jika tahu bakalan kebanjiran hadiah seperti itu. Tapi bagaimana jika TUHAN menuntut supaya kita menikmati penderitaan seumur hidup atau berjangka waktu lama? Inilah yang harus kita persiapkan baik-baik. Kalau mendadak kebanjiran hadiah seperti Zohri dan Yohanes itu nggak perlu persiapan apa-apa. Senyum akan secara otomatis akan mengembang di bibir mereka.

Al Kitab menyatakan bahwa ELOHIM YAHWEH adalah ELOHIM PENOLONG dan JURUSELAMAT. Tapi Al Kitab juga mengajarkan supaya kita melawan segala tantangan dunia ini dan memenangkannya bagi kemuliaan TUHAN. Kita harus berjuang seperti Lalu Mohammad Zohri yang berjuang lari memperebutkan medali emas atau Yohanes Andigala yang berjuang melawan tingginya tiang bendera yang ia panjati. Mereka mendapatkan hadiah dan pujian adalah setelah mereka menyelesaikan segala tantangan mereka, bukannya oleh pertolongan di tengah jalan.

Di saat kedua orang itu mendapatkan rejekinya, di berbagai tempat di belahan Indonesia bahkan dunia ini masih banyak orang yang sedang berjuang dalam kesesakan hidupnya, dalam kemelaratannya, dalam problem-problem keluarganya, dalam sakit-penyakit, dalam kesendirian dan kesepiannya yang memerlukan dukungan moril maupun materiil kita, seperti saudara-saudara kita yang di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang secara bertubi-tubi dikejutkan oleh gempa bumi.

Hanya dalam waktu sekejap harta yang dikumpulkan selama bertahun-tahun lenyap oleh gempa bumi. Hanya dalam waktu sekejap orang yang segar bugar hidupnya diakhiri oleh kecelakaan maut. Hanya dalam waktu sekejap orang yang fisiknya sempurna menjadi cacad seumur hidup oleh bom teroris. Hanya dalam waktu sekejap Richard Muljadi yang hidupnya penuh kemewahan diringkus polisi karena narkoba. Hanya dalam waktu sekejap Iwan Adranacus, boss pabrik cat di Karanganyar harus mendekam di penjara karena membunuh orang dengan mobilnya.

Seperti debu yang diterbangkan angin ke sana ke mari. Ada yang dinaikkan dan ada yang diturunkan. Tapi tentang siapa dan kapannya masih merupakan misteri. Belum ada teknologi yang bisa meramalkan nasib kita. Tapi ada sebuah resep kuno yang memberikan solusi:

Mat. 6:33Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Carilah TUHAN, tentu saja TUHAN yang benar bukan tuhan yang palsu, supaya kita mempunyai sandaran, mempunyai tujuan berseru yang pasti. Dan dengan kebenaran yang sejati bukan "kebenaran" palsu, kita akan diajarkan cara-cara menghadapi masalah secara benarnya. Jika menghadapi masalah begini harusnya seperti apa atau benarnya kayak apa, jika menghadapi masalah begitu harusnya bagaimana atau benarnya seperti apa. Kita takkan bingung, takkan kaget, takkan gelisah, takkan kuatir, takkan cemas, dan takkan galau.

Di saat banjir harta seperti Richard Muljadi, tahu harus dikemanakan harta sebanyak itu. Tak mungkin kebingungan dalam membeli damai sejahtera buat jiwanya. Dibelikan rumah mewah masih gelisah. Dibelikan jet pribadi masih gelisah. Sudah ke luar negeri masih juga galau. Dibelikan pakaian dari kulit beruangpun masih kurang tenang sehingga dicobalah menenangkannya dengan narkoba. Eeh, malah hancur!

Jadi, ELOHIM YAHWEH tidak mengubah kopi pahit menjadi manis tapi mengajarkan supaya kita sanggup meminumnya, supaya kita tetap setia dalam JALAN TUHAN walau apapun yang terjadi.

2Petrus
1:3Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
1:4Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
1:5Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
1:6dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
1:7dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
1:8Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.
1:9Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.
1:10Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.

Iman perlu ditambah dengan kebajikan. Iman saja belum apa-apa. Dalam kebajikan kita perlu ditambahkan dengan pengetahuan, dengan hikmat, supaya kebajikan kita jangan sampai salah sasaran, supaya mencapai kemanfaatan bukan kesia-siaan seperti pengacara Hotman Paris yang suka menghambur-hamburkan uangnya.

Dalam pengetahuan atau hikmat perlu ditambahkan penguasaan diri supaya jangan sampai memiliki pengetahuan tapi liar dalam pengekangan dirinya, seperti mobil yang remnya blong. Pinter tapi suka emosi, kayak walikota Surabaya; Tri Risma atau mantan gubernur DKI: Ahok, yang punya kedudukan tinggi tapi kalau marah suka baper - bawa perasaan.

Dalam penguasaan diri perlu ditambahkan ketekunan atau kesetiaan. Pandai mengendalikan emosi tapi juga memiliki loyalitas yang kuat, tentunya pada JALAN TUHAN. Jangan karena bisa sabar sehingga kebablasan ikut arus kebanyakan orang. Bahwa sabar itu adalah tentang menahan amarah, bukannya tidak bisa marah dan tidak punya prinsip seperti Jokowi, yang sebentar pilih Mahfud MD, sebentar pilih Ma'ruf Amin.

Dalam ketekunan atau kesetiaan perlu ditambahkan dengan kesalehan. Memiliki prinsip-prinsip itu penting tapi harus dilandaskan pada prinsip TUHAN. Semua prinsip kita harus ditaklukkan pada Firman TUHAN. Kita yang harus masuk pada Firman TUHAN, jangan Firman TUHAN yang diseret untuk memenuhi selera kita.

Memiliki kesalehan jangan melupakan kasih, jangan melupakan tolong-menolong sesama. Yang pertama adalah saudara seiman baru kemudian masyarakat umum. Kebanyakan gereja dalam kepura-puraannya berbagi Sembako ke masyarakat luas secara besar-besaran tapi membiarkan jemaatnya sendiri yang miskin kekurangan.

Yah, menjadi Kristen itu meliputi segala bidang, segala yang diajarkan TUHAN, bukan cuma dibaptis saja yang diajarkan TUHAN. Jika semua persyaratan sudah kita penuhi barulah kita disebut sebagai anak-anak ELOHIM YAHWEH. Kita seperti diterima sebagai pegawai negeri, maka kita akan dikasih seragam dan berbagai fasilitas seorang pegawai negeri. Kita akan menerima pengampunan dosa, menerima pertolongan, keselamatan dan lain-lainnya.

Hasil gambar untuk gambar gelas kopi


Kamis, 23 Agustus 2018

PERUBAHAN EMAIL



Hari ini akun  e-mail saya: puteragembala_pg1@yahoo.co.id, terkunci, maka untuk komunikasi atau surat-menyurat saya alihkan ke: rudyanto@gmx.com, dan hakekatrudyanto@gmail.com,

Silahkan catat dan kunjungi blog alternatif saya: HAKEKAT HIDUPKU