Selasa, 28 Agustus 2018

SPEAKER TOA MELIANA

Meliana, seorang perempuan dari Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada tanggal 21 Agustus 2018 kemarin divonis hakim 18 bulan karena dianggap menista agama Islam, memprotes suara speaker mesjid yang terlalu keras. Tentang kronologisnya ada 3 versi; ada versi pengacara Meliana, ada versi masyarakat dan versi kejaksaan.

Hasil gambar untuk gambar meliana tanjungbalai

Versi pengacara Meliana, pada tanggal 22 Juli 2016 ketika belanja di warungnya Kak Uwo, Meliana mengeluhkan suara speaker mesjid yang akhir-akhir ini suaranya semakin keras: "Kak, dulu suara Masjid kita tidak begitu besar ya, sekarang agak besar ya," kata Ranto menirukan ucapan meliana. Konon oleh Kak Uwo kata-kata keluhan itu diubah menjadi: "kak tolong bilang sama uak itu. kecilkan suara Masjid itu kak. Sakit kupingku, ribut," kata Meliana dalam tuntutan. Itu versi yang diungkapkan jaksa di persidangan. Sedangkan versi lain yang berkembang, ketika rumah Meliana didatangi para pengurus mesjid, Meliana marah-marah, berkata-kata kasar sambil menuding-nuding: "Lu...lu....ya (maksudnya kamu, sembari menunjuk dengan telunjuk ke arah muka Haris Tua Marpaung), kita sudah sama-sama dewasa ini negara hukum. Itu Masjid bikin telinga gua pekak, sakit kuping saya, hari-hari ribut, pagi rebut, siang rebut, malam ribu, bikin gua tidak tenang," kata Meliana seperti yang ada di surat pernyataan.

Kalau soal mengomentari vonis 18 bulan itu sudah banyak yang berkomentar. Wakil presiden Jusuf Kalla berpendapat bahwa masalah itu bukan termasuk intoleransi. PBNU menilai itu bukan penodaan agama. Din Syamsuddin berpendapat vonis itu terlalu berat. Komisi Yudisial berkomentar: harusnya hakim tidak buta keadilan. Bahkan ada yang membuat petisi untuk membebaskan ibu Meliana itu yang didukung oleh 48.000 orang lebih. Sedangkan pengacara Meliana sedang mengupayakan banding.

Tapi yang jelas hakim yang memvonis Meliana, Wahyu Prasetyo Wibowo, yang merupakan wakil ketua Pengadilan Negeri Medan, pada tanggal 27 Agustus 2018 kemarin ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan(OTT) KPK. Hakim yang bermental korupsi dijadikan hakim? Mungkinkah ayam bertelor bebek atau bebek bertelor ayam?!

Hasil gambar untuk gambar wahyu prasetyo wibowo


Kalau soal keadilan, sudahlah, jangan kecewa. Ini negara Indonesia yang Pancasilanya sedang digondol burung Garuda. Kasus Tanjung Priok, kasus mahasiswa Trisakti, kasus kematian Munir, kasus penyiraman air keras Novel Baswedan, kasus yang memenjarakan Ahok, kasus BLBI yang belum dilanjutkan oleh KPK, kasus rekening gendut Budi Gunawan yang juga macet total gara-gara "buaya"-nya marah pada "cecak". Dan masih banyak lagi. Lebih-lebih yang menyangkut fakir-miskin dan rakyat terlantar. Namun sekalipun demikian elektabilitas presiden Jokowi terus naik. Para pendukungnya makin kuat. Karena itu anggap saja ketidakadilan ini sebagai tumbal keselamatannya Jokowi. Sebab nyatanya sekalipun jabatannya sebagai presiden itu merupakan kepala negara, yaitu yang mengepalai segala aspek kehidupan bangsa ini, Jokowi sudah angkat tangan kalau soal keadilan. Beliau tidak mau intervensi soal hukum, katanya.

Padahal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sila ke-5 Pancasila merupakan salah satu amanah bangsa yang harus diembannya. Tapi Jokowi tidak seperti Yohanes Andigala, bocah SMP yang di kabupaten Belu, yang tersigap terhadap suatu kebutuhan. Jokowi mendiamkan saja ketika ada seorang perempuan sedang dianiaya di depan matanya, sama seperti masyarakat pada umumnya yang takut menghadapi resiko disangkutpautkan. "Tidak mau ikut campur, takut direpotkan jadi saksi".

Ketika masuk warung pingin ayam goreng, tapi yang ada hanya tahu dan tempe, ya saya nggak jadi beli. Begitulah sikap saya di pemilihan presiden nanti.

Tentang Meliana yang mau saya bahas hanya masalah speakernya. Sebab Islam sejak kenabian Muhammad hingga tahun 1876 ketika Alexander Graham Bell menemukan speakernya, praktis selama 1300 tahun Islam tanpa speaker. Kalau soal speaker di arahkan ke dalam mesjid, itu bukan masalah. Tapi jika suaranya diarahkan ke luar mesjid, ke udara bebas, itu adalah udara Indonesia, bukan udara Islam lagi. Ada 6 kelompok agama yang berhak atas udara Indonesia, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khong Hu Chu. Harusnya pihak mesjid mengantongi ijin dari masyarakat seputaran mesjid itu jika hendak mengudarakan suara adzannya, sama seperti ijin masyarakat setempat kalau hendak mendirikan gereja. Sebab masalahnya jelas bahwa Islam selama 1300 tahun tanpa speaker. Karena itu speaker bukanlah tanda Keislaman sebagaimana kitab suci Al Qur'an.

Memaksa orang mendengarkan sesuatu yang tidak diinginkannya apakah bukan termasuk penganiayaan dan pemerkosaan? Karena itu ijinkan orang-orang yang beragama lain merasa keberatan dengan speaker mesjid yang telah "menjajah" telinga masyarakat selama kurang lebih 150 tahun sejak 1876. Di saat situasi kemasyarakatan kita sedang kondusif, di saat pendidikan masyarakat sudah baik, di saat persatuan dan kesatuan di sini dalam situasi terbaik, mari kita bahas secara musyawarah perihal speaker ini. Sebab ini bukan berkenaan dengan keagamaan Islam. Kita bukan mengkritisi Al Qur'an, bukan mengkritisi sholat 5 waktu, bukan melarang orang beragama Islam, bukan melarang Islam berdakwah dan mensyiarkan agamanya.

Suara speaker keras jika perangkat sound systemnya bagus, penyetelannya bagus sehingga menghasilkan suara yang bersih dan jernih, lalu suara orang yang mengumandangkan adzannya merdu, saya yakin semua orang tak keberatan untuk mendengarkannya. Sebab percakapan bahasa Arab yang dilantunkan seperti lagu itu memiliki nilai-nilai seni yang enak didengar seperti kebiasaan orang Minang berpantun, atau seperti logat Madura. Saya sendiri, seorang penginjil Kristen kalau di kota Pekalongan suka sekali mendengarkan suara merdu orang Arab yang melantunkan ayat-ayat Al Qur'an. Bahkan di warnet tak jarang saya menyetel videonya Nissa Syaban, penyanyi gambus yang suaranya merdu itu. Tapi kebanyakan mesjid saya pikir sangat sembrono membiarkan sound system rusak yang suaranya kemresek, lalu suara adzannya suara anak-anak yang kadang-kadang dipakai senda-gurau. Bahkan tak jarang jantung saya sampai berdebar-debar karena kaget mendengar suara adzan yang dadakan. Lebih-lebih ketika sedang asyik membicarakan bisnis, suara orang di depan kitapun sampai tak kedengaran. Terganggu sekali. Dan gangguan demikian itu bukan semenit dua menit, tapi berjam-jam merampas pembicaraan orang.

Saya gusar sekali ketika sedang semangatnya memarahi anak atau mengomeli istri, mendadak dihantam oleh suara speaker mesjid itu. Orang marah menjadi tidak tuntas. Dongkol sekali rasanya. Saya yakin ini bukan hanya masalah Meliana saja, tapi masalah orang-orang beragama lainnya. Sebab kaum Muslim juga menuntut jika pembangunan gedung gereja harus dilengkapi dengan peredam suara supaya suaranya jangan sampai bocor ke luar. Tapi mengapa Islam justru secara sengaja mengumbar suaranya keras-keras kayak konsernya Iwan Fals? Dan jika semakin keras semakin banyak pahalanya, mengapa tidak menggunakan speaker yang besar seperti di pesta-pesta perkawinan?

Hasil gambar untuk gambar salon speaker gede untuk konser musik


Maksud saya, kalau niatnya publisitas mengapa tidak memperhatikan mutu, tetapi begitu sembrononya sehingga memancing komentar negatif orang? Coba seandainya berbobot siapakah yang tidak akan berdecak kagum, sebagaimana peribahasa ditakuti lawan, disegani kawan. Atau seperti slogan di kampung-kampung: "Anda sopan, kami segan".

Kalau Islam itu memikirkan kwalitas harusnya bukan hanya menuntut ketakutan orang tapi menginginkan disegani orang. Ketakutan itu hanya ada di lahiriah seperti ketakutan terhadap setan, terhadap teroris, terhadap perampok, sedangkan di dalam hatinya adalah kebencian. Tapi keseganan itu di dalam batin adanya. Ketakutan itu menipu tapi keseganan itu sejati.

Orang takut itu akan menikam dari belakang. Contohnya, ketika seorang istri tertekan oleh kegalakan suaminya, suatu ketika bisa jadi pembunuh suaminya itu. Ketika yang ditakuti lengah, maka ketakutannya menjadi hilang, menjadi berani. Tapi keseganan yang di dalam hati itu tak terbantahkan. Dulu Ali Mochtar Ngabalin, Hary Tanoesoedibjo, Tuan Guru Bajang, bahkan Deddy Mizwar dan Farhat Abbas yang dulunya lawan Jokowi, kini pro Jokowi. Nah, siapa tahu Fahri Hamzah, Fadlizon, Akhmad Dhanny dan Ratna Sarumpaet tak lama lagi bakal mendeklarasikan dirinya pro Jokowi? Apakah masih ajaib?!

Kapitra, pengacaranya habib Riezieq Shihab, yang diagendakan untuk menghabisi PDIP, kini malah masuk barisan PDIP untuk menjadi calon DPR-RI. Gimana?!
Posting Komentar