Minggu, 30 September 2018

LOMBOK PALU PEDAS MEMUKUL

Beberapa hari yang lalu kita kembali dikejutkan dengan berita gempa bumi dan tsunami yang melanda kota Palu dan Donggala, yang sebelumnya adalah gempa Lombok. "Kebetulan" saya pingin menuliskan tentang gempa Lombok berkaitan dengan Lalu Mohammad Zohri dan Yohanes Andigala, namun masih saya tunda-tunda sampai akhirnya terjadilah gempa Palu tersebut sehingga saya pikir itu semakin menyempurnakannya. Dan ketika saya sedang menulis tentang "SABANG-MERAUKE DATANGLAH KE SURABAYA", seorang sobat meminta saya menuliskan tentang gempa Palu tersebut. Maka "kebetulan" lagi jadinya.

Berbicara tentang kebetulan; apakah kebetulan itu? Menurut kamus bahasa Indonesia, kebetulan adalah kejadian yang tidak disengaja tapi kena benar. Saya sempurnakan menjadi sesuatu yang salah tapi benar. Jadi, kebetulan adalah salah yang benar atau salah tapi benar. Misalnya, kalau saya ke rumah anda di hari kerja, harusnya saya nggak bakalan ketemu soalnya anda pasti berada di kantor. Ketemu itu sesuatu yang mustahil atau tidak mungkin. Tapi nyatanya ketika saya ke rumah anda di hari Senen saya bisa ketemu anda. Saya datang di hari yang salah tapi nyatanya benar. Itulah kebetulan.

Contoh lain adalah menembak burung secara ngawur tanpa dikeker atau tanpa diintai tapi kena. Ngawur tapi kena. Sama seperti cara berpikirnya Georges Lemaitre tentang teori terjadinya alam semesta karena ledakan dahsyat(teori bigbang), di mana bumi ini terjadi secara kebetulan bukan oleh sebab diciptakan TUHAN. Maksud saya, orang seperti Georges Lemaitre yang mengandalkan akal pikirannya sendiri saja mempercayai adanya faktor "kebetulan" atau sesuatu yang gambling, kejadian yang terjadi dari ketidakpastian atau di luar nalar.

Georges Lemaitre mempercayai hal-hal yang ghaib, yang tidak masuk akal, yang ajaib itu ada dan bisa diterima akal. "Yang tidak masuk akal itu masuk akal". "Yang tidak ada itu ada". Jadi, ada atau tidak ada itu ada. Begitulah yang harus kita baca dari teori bigbangnya itu. Itulah konsep keimanan bagaimana kita mengimani keberadaan TUHAN. Kita yang terbatas bisa menerima TUHAN yang tidak terbatas. Sama seperti kerja mata kita yang sekalipun mata kita itu kecil hanya sebesar kelereng namun mata bisa menerima gedung yang besar. Gedung yang besar bisa masuk ke dalam mata kita.

Jika ada dan tidak ada itu ada, maka sebenarnya tidak ada yang tidak ada. Baik A maupun B sama-sama adanya. Baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan sama-sama ada. Baik virus maupun gajah sama-sama ada. Nggak ada yang nggak ada, tapi semuanya ada. Karena itu "kebetulan" jika diartikan sebagai peristiwa yang ajaib, yang tidak masuk hitungan, yang ngawur, itu tidak benar. Bagi kita itu ajaib tapi bagi TUHAN tidak ada yang mustahil. Apa yang tidak bisa kita hitung itu masuk dalam perhitungan TUHAN.

Saya ketemu anda di hari kerja itu bukan "kebetulan" tapi sudah diperhitungkan TUHAN. Suatu kejutan dari TUHAN.

Setelah kita tahu arti kebetulan, saya akan mengajak anda menikmati kejadian-kejadian di Nusa Tenggara Barat dan di Sulawesi Tengah.

Dimulai dari tanggal 11 Juli 2018, seorang muda dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Zohri berhasil meraih medali emas dari kejuaraan lari 100 meternya. Ini menjadi berita mengejutkan bagi Indonesia di mana nama Zohri dielu-elukan seluruh masyarakat. Hadiah-hadiah mengalir dan rumahnya dibangun. Sebuah kejutan awal dari Lombok. Lombok yang adalah cabe, yang sebelumnya sudah menari-nari di harga Rp. 100.000,--an sekilo, sedang menarik perhatian. Cabe, buah yang rasanya pedas yang biasa dibikin sambal, yang penanamannya sangat mudah, yang dianggap remeh orang, nyatanya harganya bisa berulah naik-turun. Tentu saja semua mata menjadi tertuju ke cabe karena harganya yang mengejutkan, sama seperti semua mata tertuju ke pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, tempat kelahiran Zohri.

Zohri, lahirnya tanggal 1 Juli 2000, meraih juara tanggal 11 Juli 2018 dengan catatan waktunya; 10,18 detik.

>> Tanggal dominan angka 1

>> Bulan dominan bulan Juli atau 7

>> Jumlah kelahiran: 1 + 7 + 2 = 10, menunjuk ke catatan waktunya: 10,18 detik. Angka 18 dari usianya yang 18 tahun ketika itu.

Jadi, kita membacanya: Zohri adalah yang lahir di angka 10 dan di usia 18 tahun.

Setelah kejutan dari Zohri, 18 hari kemudian, tepatnya tanggal 29 Juli 2018, Lombok diguncang gempa bumi. Umur Zohri yang 18 tahun menunjuk ke kejadian 18 hari kemudian yaitu gempa Lombok yang menggemparkan. Lombok berseru meminta diperhatikan; "Perhatikanlah Lombok".

Dari gempa Lombok 29 Juli 2018, "18" hari kemudian, tepatnya tanggal 17 Agustus 2018, tetangganya Zohri, Yohanes Andigala membuat kejutan dengan memanjat tiang bendera. Yohanes Andigala dielu-elukan seluruh masyarakat sebagai pahlawan cilik di hari kemerdekaan RI. Kalau Zohri dari Nusa Tenggara Barat, Yohanes atau Joni dari Nusa Tenggara Timur. Yang menarik adalah sama-sama Nusa Tenggaranya, dibedakan Barat dan Timur saja.

>> Tanggal 29 Juli kalau dijumlah: 2 + 9 = 11, adalah tanggal kelahiran Zohri.

>> Kelahiran, kejuaraan dan gempa Lombok sama-sama terjadi di bulan Juli.

>> Tanggal lahir Joni Andigala: 10-10-2004. Apa yang menarik? Tanggal dan bulannya yang memberikan bayangan angka 11, kelahiran Zohri. Bahwa Joni ini ada hubungannya dengan Zohri. Di mana hubungannya dan apa pesannya?

Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, mengingatkan kita pada kata-kata: "nusantara" yang menunjuk ke negeri Indonesia ini. "Nusantara" dari bahasa Sansekerta; "nusa" = pulau, "antara" = luar, artinya pulau-pulau yang di luar kerajaan Majapahit. Jadi, Zohri dan Joni sedang berbicara tentang Indonesia.

Lalu Muhammad Zohri memberikan petunjuk tentang agamanya: Islam, sedangkan Yohanes memberikan petunjuk tentang agamanya: Kristen. "Kebetulan" masalah Islam-Kristen sedang menjadi pembicaraan hangat sehubungan dengan peristiwa teroris bom Surabaya dan vonis penistaan agama terhadap Meliana.

SPEAKER TOA MELIANA


Islam-Kristen adalah sama-sama Indonesianya.

Jika Lalu Muhammad Zohri melakukan lari, artinya dari sini ke sana, membentuk garis horizontal, memberikan pesan supaya Indonesia memperbaiki hubungan antara sesama manusia(horizontal). Yohanes Andigala yang melakukan memanjat tiang bendera, artinya dari bawah ke atas, membentuk garis vertikal menghubungkan kita dengan TUHAN. Bahwa Indonesia perlu memperbaiki hubungan dengan TUHAN.

Vertikal dan horizontal membentuk tanda salib ( + ), mungkin itu artinya TUHAN yang benar, atau bisa juga berarti kasih. Tapi yang jelas merupakan 2 hukum YESHUA ha MASHIA;

Matius 22:37

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
22:38Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
22:39Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
22:40Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."


Dari gempa Lombok tanggal 29 Juli, 2 bulan kemudian menunjuk ke tanggal 28 September dimana giliran kota Palu dan Donggala mengalami gempa bumi dan tsunami yang menggegerkan juga. Yang menarik adalah angka 2-nya;

>> 2 Nusa; Barat dan Timur

>> 2 agama: Islam dan Kristen

>> 2 hubungan kasih: TUHAN dan sesama

>> 2 selang waktu: Juli ke September(2 bulan)

>> 2 tanggal tua; 29 Juli dengan 28 September, artinya akhir zaman.

>> 2 lokasi; Nusa Tenggara dan Sulawesi Tengah

>> 2 maknanya; Lombok dan Palu.

Lombok memberi rasa pedas sedangkan palu memberikan pukulan. Lombok dan Palu mengartikan bahwa TUHAN sedang menegur keras Indonesia, dengan kata-kata yang pedas dan pukulan-pukulan.

Wahyu 3:19Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!

Bukan soal pergeseran lempeng bumi yang membuat gempa bumi dan tsunami, tapi dosa-dosamu! Dosa-dosa kita itu sudah kebangetan sekali. Bertobatlah!

Yesaya 59:1

Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;
59:2tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
59:3Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan.
59:4Tidak ada yang mengajukan pengaduan dengan alasan benar, dan tidak ada yang menghakimi dengan alasan teguh; orang mengandalkan kesia-siaan dan mengucapkan dusta, orang mengandung bencana dan melahirkan kelaliman.

Hasil gambar untuk gambar lombok cabe

Sabtu, 29 September 2018

SABANG-MERAUKE DATANGLAH KE SURABAYA

Kalau ada pejabat yang dimaki-maki orang, saya tak peduli. Saya akan cuek saja dengan pedoman bahwa sepantasnyalah pejabat yang arogan itu dihujat orang. Karena kebanyakan pejabat arogan dan belum ada obatnya, maka saya tak tertarik mencermatinya. Sesuatu yang biasa ya saya sikapi secara biasa pula. Tapi manakala ada pejabat yang mendadak dielu-elukan dan dipuja-puja banyak orang, maka inilah kejadian yang luarbiasa, kejadian yang aneh dan ajaib. Orang Etiopia koq kulitnya putih? Macan tutul koq kulitnya nggak belang-belang? Pasti itu hasil operasi plastik!

Gebrakan-gebrakan walikota Surabaya; Tri Rismaharini telah menggegerkan dunia internasional, terutamanya keberaniannya membongkar kawasan prostitusi Dolly yang merupakan kawasan prostitusi terbesar se Asia Tenggara, yang sudah ada sejak zaman Belanda, yang didirikan oleh seorang mami Belanda, bernama: Dolly Van Der Mart. Sesuai dengan kebesaran Dolly, maka nama Tri Rismaharinipun menjadi mencuat ke permukaan dunia, mengalirkan seabreg penghargaan untuknya. Tercatat Tri Rismaharini merupakan walikota terbaik ke-3 di dunia. Dan barusan saja diangkat menjadi presiden asosiasi pemerintah kota dan daerah se Asia Pasifik, periode 2018-2020, United Cities and Local Goverment (UCLG) Asia Pasific (Aspac).

Seabreg penghargaan itu memang patut diberikan kepadanya sesuai dengan prestasi-prestasinya dalam menata kota Surabaya. Semua orang yang pernah ke Surabaya dan lama meninggalkan Surabaya, pasti akan pangling, pasti akan kaget menyaksikan perkembangan kota Surabaya yang begitu pesat. Saya termasuk yang terkaget-kaget itu, sebab saya meninggalkan Surabaya terakhir tahun 2014. Tapi sebagaimana rumus aksi-reaksi, tentunya kita harus pula memperhitungkan dampak positif dan negatifnya. Kotanya memang indah, tapi apa dampaknya terhadap masyarakat?

Saya ambil contoh rumahnya Lalu Muhammad Zohri, pelari yang mendapatkan medali emas yang rumah gubugnya kini dibangun menjadi rumah bagus. Di lahan yang satu terdapat dua penglihatan yaitu rumah yang tadinya buruk sekarang menjadi bagus. Bukan tentang dua lahan dengan dua penglihatan, yaitu rumah yang buruk di sebelahnya dibangun rumah yang bagus. Karena itu ketika kita sekarang melihat rumah Zohri yang bagus, timbul pertanyaan mana rumah Zohri yang buruk? Pasti yang buruk sudah dibongkar. Karena pemilik rumah yang bagus itu satu orang saja, maka dampak yang dirasakannya juga cuma satu saja, yaitu: kesenangan. Lalu Muhammad Zohri pasti senang rumah gubugnya dibongkar dan dijadikan rumah yang bagus. Tapi bagaimana dengan dampak bagi penghuni lokalisasi Dolly yang dibongkar oleh walikota Tri Rismaharini?

Setelah tidak ada rumah pelacuran Dolly, ke mana para pelacur itu sekarang berada? Setelah tidak menjadi pelacur, menjadi apakah mereka? Kalau terjadi pertobatan, ya baguslah itu. Tapi kalau terjadi pengungsian ke kota-kota sekitarnya atau ke pelacuran online seperti GO JEK? Oh, apakah air setimba yang diambil dari sumur dipindahkan ke bak mandi terjadi pengurangan jumlahnya? Dolly memang tidak ada. Apakah berarti Surabaya sudah tidak ada pelacur?

Sebelum pemerintah menutup pelacuran Dolly, kondisi perekonomian di sana sudah memburuk. Jumlah pelacurnya semakin hari semakin bertambah sedangkan jumlah pengunjungnya semakin hari semakin berkurang, membuat persaingan sangat ketat di antara mereka. Banyak yang makan sehari puasa sehari oleh sebab tak memegang uang. Banyak yang terlilit utang dan kesulitan membayarnya. Kondisi punya pekerjaan saja mereka sudah kesulitan. Bagaimana pula kondisi tak bekerja lagi sebagai pelacur? Sekalipun pemerintah memberikan uang modal, jika mereka tak pandai mengelolahnya, apakah uang itu tidak habis menjadi bubur?

Walikotanya sendiri saja tidak berdagang, tidak bisa berdagang, memilih pekerjaan yang bergaji tetap. Memilih bersusah-susah melamar kerjaan daripada bersusah-susah mencari uang atau berdagang. Bagaimana Tri Rismaharini hendak menyuruh para pelacur itu untuk berdagang jika ujungnya kebangkrutan? Lain halnya jika Tri Rismaharini menggandeng pabrik-pabrik di PT. SIER atau Maspion supaya mereka bersedia menampung para pelacur itu. Dampak sosial perekonomiannya tidak sampai bocor ke masyarakat, tidak sampai menambah kemiskinan di kota Surabaya. Tapi apakah ada pertumbuhan perekonomian di pabrik-pabrik itu jika UMR di Surabaya tinggi sekali? Yah, mau nggak mau kembali lagi pada manajemen pemerintahan. Jika manajemen pemerintahannya berpijak pada keadilan sosial pasti kondisi perekonomian bisa mengarah pada kebaikan. Tapi jika manajemennya berpijak pada kepentingan suatu golongan saja, ya akibatnya morat-marit seperti sekarang ini.

Yah, jika walikota-walikota di seluruh dunia berdatangan ke Surabaya untuk melihat prestasi pembangunan Tri Rismaharini, saya sebaliknya mengundang seluruh masyarakat di Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke untuk melihat dampak negatif pembangunan itu bagi rakyat kecil, supaya masyarakat kita bisa melihat dan menilai sendiri seperti apakah Tri Rismaharini itu.

Saya mulai dari internal pemerintahannya, apa yang terjadi di kalangan pegawai-pegawainya Tri Rismaharini. Di bulan ramadhan yang lalu, menteri dalam negeri mengeluarkan surat edaran bertanggal 30 Mei 2018 yang menginstruksikan supaya pemerintah daerah mengeluarkan anggaran THR dan gaji ke-13 untuk karyawannya. Untuk gaji ke-13 supaya dibayarkan di akhir bulan Juli 2018.

Di saat semua daerah tak ada yang protes, tak ada yang keberatan, justru Tri Rismaharini menjadi satu-satunya walikota yang berkeberatan memberikan THR dan gaji ke-13 jika diambilkan dari APBD Surabaya. Padahal Surabaya adalah kota ke-2 terbesar setelah Jakarta yang juga ke-2 terbesar APBD-nya. Timbullah polemik antara Tri Rismaharini dengan menteri dalam negeri Tjahjo Kumolo yang ditengahi oleh presiden Jokowi yang menegaskan bahwa itu harus dibayar.

Kini, bulan September sudah nyaris habis namun THR dan gaji ke-13 itu masih juga belum dibayarkan oleh pemerintahan Surabaya. Pegawai-pegawai negeri yang bergaji kecil yang mengharapkan sekali rejeki itu secara sembunyi-sembunyi melapor ke DPRD Surabaya. Mereka sangat membutuhkan uang itu secepatnya. Meminta langsung ke Tri Rismaharini tak ada yang berani. Hah?! Kenapa mereka takut dengan sang walikota yang dikenal baik itu? Soalnya Tri Rismaharini suka bawa perasaannya, main pecat terhadap orang yang tak disukainya. Jabatan walikota rupanya untuk galak-galakan, ya?! Itu bukti!

Pihak DPRD menyetujui dan menyatakan uangnya ada. Bahkan sudah ada kesepakatan dengan wakil walikotanya; Wisnu Sakti Buana, untuk secepatnya membayarkan gaji itu. Artinya, sudah 99% siap cair. Lalu jika masih juga belum cair hingga sekarang kira-kira macet 1%-nya dari siapa?

Saya tidak setuju jika pegawai negeri, polisi dan TNI gajinya dinaik-naikkan terus, disejahtera-sejahterakan terus dengan alasan untuk mencegah korupsi di saat perekonomian nasional masih tidak bagus. Disamping memicu inflasi juga menimbulkan kesenjangan sosial yang lebih melebar. Pemerintah harusnya menyadari posisinya sebagai bapak bangsa yang mengayomi semua golongan, baik negeri maupun swasta, baik aparat maupun rakyat biasa. Jangan satu diperhatikan sedangkan yang satu dibiarkan. Jika perekonomian belum bagus ya biar dirasakan semuanya.

Di Surabaya, tukang sapu jalannya sudah bergaji sesuai UMR Surabaya, yaitu Rp. 3,5 juta perbulan. Tapi tenaga honorernya masih ada yang digaji Rp. 200.000,- sebulan. Tri Risma baru merencanakan tahun depan para honorer itu akan digaji sesuai UMR Surabaya. Baru rencana tahun depan, artinya selama ini masih belum. Guru kalah dengan tukang sapu, ya?! Ini artinya Tri Rismaharini hanya mencari popularitas belaka.

Sekarang saya ajak anda berjalan ke terminal-terminal yang ada di Surabaya, khususnya terminal angkutan kota seperti angkutan lyn-lyn dan buskota. Coba perhatikan suasana lalulalangnya orang di area terminal. Coba perhatikan raut wajah para sopirnya. Coba lihat kondisi body mobilnya. Coba lihat jumlah penumpangnya. Menurut saya, Surabaya telah menjadi kota mati bagi fakir miskin. Jalanan kota Surabaya hanya dimeriahkan oleh mobil-mobil pribadi yang bagus-bagus. Surabaya untuk orang kaya bukan untuk orang miskin.

Memang angkutan umum harus bersaing melawan kreditan motor dan mobil. Kemudahan kredit motor dan mobil memang menyebabkan menurunnya jumlah penumpang. Orang yang biasanya naik Angkot setelah punya motor tidak lagi naik Angkot ataupun ojekan. Tapi jangan ditambahi dengan ojek-ojek online yang lebih-lebih menawarkan tarif yang lebih murah, sekaligus beberapa perusahaan ojek dan sekaligus bekerja secara besar-besaran. Coba bayangkan kehadiran ojek-ojek online ini. Melalui beberapa perusahaan seperti GOJEK, GRAB dan UBER, yang memberikan tarif sangat menarik dan yang sekaligus berskala besar-besaran.

Dengan puluhan ribu driver ojek online yang diterjunkan sekaligus jelas sekali itu perampokan penumpang secara besar-besaran. Bagi angkutan umum dan ojek pangkalan kehadiran ojek online itu seperti Baygon yang disemprotkan ke nyamuk-nyamuk. Jelas mati semua nyamuk-nyamuknya. Kesepian penumpang dirasakan secara drastis. Dalam sehari saja angkutan umum di Surabaya sekarat. Lalulalang orang di terminal-terminal menjadi sepi seperti kuburan. Buskota-buskota hanya bisa terisi seperempat bangku, malah seringkali hanya terisi 2-3 orang penumpang saja. Angkutan lyn-lyn juga hanya bisa kebagian 2-3 orang penumpang.

Para sopir yang matanya memelototi orang-orang berdiri di sepanjang jalan dibuat kecele, sebab mereka adalah orang-orang yang sedang menunggu GOJEK. Mereka bukan lagi penumpangnya. Para sopir dibuat kalang kabut menghadapi setoran mobilnya. Para juragan mendadak kere, tak sanggup memperbaiki mobilnya. Cat body sudah mengelupas semuanya kayak mobil tahun 1945-an. Tangki-tangki bensin sudah bocor semuanya, diganti dengan jurigen plastik. Sebuah pemandangan yang berbanding terbalik dengan kemegahan kota Surabaya dan mobil-mobil berpelat merah dan hitam. Mobil pelat merah dan hitamnya keren-keren tapi pelat kuningnya memprihatinkan sekali.

Bagi warga Surabaya yang masih setia dengan Angkutan Kota seperti saya, untuk menunggu munculnya angkutan harus berdiri setengah jam. Tahun 2014 ketika saya di Surabaya, tidak seperti ini. Angkutan setiap menit pasti ada. Di zaman yang semakin maju justru semakin sulit mencari angkutan umum. Ini aneh. Orang harus kaya, harus milenial, harus berkartu untuk bisa mendapatkan fasilitas transportasi yang baik. Emak-emak dan engkong-engkong jalan kaki sajalah.

Kondisi penumpang sudah sepi seperti ini, sudah ditindas oleh kreditan motor dan mobil, ditindas oleh angkutan online, pemerintahan Tri Rismaharini masih juga tega mengadakan buskota Suroboyo Trans dan Trem. Bukan "badai yang pasti berlalu", tapi "Angkot juga bakal berlalu". Apa saja yang baunya kemiskinan berusaha disingkirkan oleh pemerintah yang katanya baik dan prorakyat. Harusnya kondisi miskinnya yang disingkirkan di muka bumi Indonesia. Tapi yang dikerjakan oleh pemerintah adalah mengenyahkan orang miskinnya.

Walikota bukannya bekerja untuk warga kota tapi untuk lokasi kotanya. Kotanya yang dipercantik. Walikota Tri Rismaharini memang hobinya meneteskan airmata. Tapi sekali saja walikota menangis, seribu hari fakir miskin menangis.

Seorang sopir, harusnya dia bersimpati pada calon presiden Jokowi. Tapi karena frustrasi sopir itu berkata: "Jika Jokowi seperti ini, sekalian hancur pilih Prabowo saja". Iya, saya setuju itu. Hanya orang gila saja yang sampai memilih Prabowo dan Sandiaga Uno, si anak mama yang baru disapih. Tapi zaman ini Jokowi telah membuat semua orang gila. Karena itu bukan mustahil jika Prabowo dan anak mama itu yang akan menang.

Hasil gambar untuk Ratusan GTT di Surabaya Cemas dan Gelisah, Honor dari Pemkot ...



Sabtu, 04 Agustus 2018

DPRD: Honorer di Surabaya Diperlakukan Tidak Manusiawi

https://www.wartaekonomi.co.id/read189903/dprd-honorer-di-surabaya-diperlakukan-tidak-manusiawi.html

Pimpinan DPRD Kota Surabaya menemukan banyak tenaga kontrak (honorer) atau alih daya (outsourcing) di sejumlah instansi yang ada di ibu kota Provinsi Jawa Timur diperlakukan tidak manusiawi.
"Gaji yang diperoleh honorer ini kecil, jauh jika dibandingkan dengan aparatur sipil negara (ASN). Tapi beban kerja honorer jauh lebih besar dari pada ASN. Ini yang saya temukan di lapangan," kata Wakil Ketua DPRD Surabaya Masduki Toha kepada Antara di Surabaya, Sabtu.
Menurut dia, perlakuan tidak manusiawi tersebut di antaranya diperlihatkan dengan memberikan pekerjaan tambahan kepada honorer yang semestinya itu dilakukan ASN.
Atas beban kerja tersebut, lanjut dia, tidak jarang di antara para honorer tersebut terpaksa harus merelakan waktu istirahatnya untuk kerja lembur di kantor hingga tengah malam.
"Mereka bahkan diberi pekerjaan rumah, sementara para ASN dengan enaknya tidak diberi tugas itu. Tidak hanya itu, masih banyak perlakuan diskrimintaif terhadap honorer seperti halnya kegiatan out bound di sekolah yang sengsara honorer, tapi yang ASN enak-enakkan," katanya.
Hingga saat ini, lanjut dia, pihaknya sudah mendapat keluhan adanya perlakukan yang tidak manusiawi terhadap tenaga honorer di 10 kecamatan di Kota Surabaya di antaranya di Kecamatan Krembangan, Pakal, Bubutan dan Dukuh pakis.
Kebanyakan honorer itu, lanjut dia, bekerja di instansi kesehatan seperti puskesmas maupun rumah sakit dan instansi pendidikan seperti sekolah-sekolah negeri maupun lembaga pendidikan lainnya.
"Ada beberapa honorer yang menemui saya langsung untuk mengutarakan apa yang dialami selama ini. Tapi mereka khawatir dan takut dipecat jika namanya dibeberkan," ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Seharusnya, kata Masduki, Pemkot Surabaya membuat petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (Juklak Juknis) apa yang seharusnya dikerjakan ASN dan apa yang mestinya dilakukan honorer.
Hal ini, lanjut dia, perlu dilakukan agar kepala instansi terkait dan ASN tidak semena-mena terhadap tenaga honorer. "Jangan menyengsarakan mereka. Apalagi hingga saat ini belum ada kepastian kapan mereka akan diangkat sebagai ASN," katanya.
Namun demikian, Masduki menilai perlakuan honorer yang ada di dinas atau kantor kecamatan dan kelurahan masih lebih baik, meskipun kadang-kadang masih ditemukan adanya diskriminasi. "Melalui komisi A, kami akan mengundang pihak-pihak terkait yang menangani masalah ini. Rencananya Senin depan akan kami laporkan," ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Forum Komunikasi Honorer Kategori Dua Indonesia, Eko Mardiono sebelumnya mengatakan ada sekitar 2.200 pegawai honorer di Surabaya yang belum jelas nasibnya untuk bisa diangkat menjadi ASN karena pemerintah belum mengeluarkan regulasi rekrutmen ASN khusus K2.
Tentunya, lanjut dia, kondisi membuat ribuan K2 harap-harap cemas karena sebentar lagi pemerintah pusat akan membuka rekrutmen ASN. Sedangkan UU ASN hanya memungkinkan K2 yang berusia di bawah 35 tahun yang bisa ikut seleksi calon ASN.

Bu Risma, Angkutan Kota Ini Kondisinya Mengenaskan

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-2562635/bu-risma-angkutan-kota-ini-kondisinya-mengenaskan

Surabaya - Upaya peremajaan angkutan kota di Surabaya tampaknya masih jauh dari harapan. Kondisi angkutan kota yang paling banyak dimanfaatkan warga Kota Pahlawan, saat ini banyak yang memprihatinkan.

Seperti angkutan kota atau di Surabaya disebut lyn tak sedikit ditemukan yang sudah tak laik jalan tapi tetap dipaksakan untuk mengangkut penumpang.

Misalnya saja Lyn TV yang melayani rute Joyoboyo, Balongsari, hingga Manukan ini. Lyn warna coklat pada body keluaran tahun 1984 pun sudah berkarat. Belum lagi lubang yang tersebar dibeberapa bagian, mulai dari kap mesin hingga atap yang mengelupas.

Mobil plat kuning berjenis station wagon buatan Jepang ini menjadi andalan bagi para sopir untuk mengais rejeki. Biaya perawatan kendaraan yang berumur 3 dekade ini pun ditanggung berdua pemilik angkot dan sopir.

Namun bila kerusakan besar, pendapatan sopir yang sudah dipotong setoran tak mampu menutupi biayanya, alhasil, pemilik atau juragan lyn harus mengucurkan dana untuk 'gerobak tuanya' ini agar bisa mengaspal di jalanan Kota Surabaya.

Namun, bila setoran sedang seret maka pemilik angkot akan melakukan beberapa "modifikasi" untuk menyulap kondisi mobil rentanya. Salah satu contoh Lyn TV yang disopiri Eko.

Saat ditemui di Terminal Joyoboyo, Rabu (23/4/2014), Eko memamerkan 'keunikan' kendaraan yang setiap hari digunakan mencari nafkah. Eko lantas membuka kap mesin. Betapa mengejutkan! Sebuah jeriken terselip di antara ruwetnya kabel.

"Jeriken ini untuk tempat bensin, tidak di tanki," kata Eko sambil tertawa bangga.

Menurut Eko, tanki bensin di kendaraannya sudah tak bisa dimanfaatkan karena kerusakan yang sudah parah. "Pinter-pinter ngakali aja, apalagi juragan sudah tak punya uang lagi," tambah Eko.

Nampaknya biaya reparasi murah adalah hal terpenting bagi para sopir lyn agar bisa terus mengaspal, meskipun mengabaikan keselamatan.

Ironisnya, kondisi lyn yang sebenarnya sudah masuk kandang itu justru tetap diminati. Alasannya, penumpang pun tidak mempunyai pilihan lain.

"Ya, sebenarnya ngeri naik angkot ini karena berlubang dan berkarat, tapi bagaimana lagi tidak ada pilihan lain," ujar Khosim, salah satu penumpang.

Menyikapi kondisi angkutan kota yang tak laik pakai dan mengancam keselamatan penumpangnya itu tentunya sangat dibutuhkan sentuhan cepat Pemerintah Kota Surabaya.

Bu Risma, Angkutan Kota Ini Kondisinya Mengenaskan

Rabu, 26 September 2018

JIKA BANGSA TANPA NEGARA

Umumnya sebuah bangsa itu memiliki sebuah negara atau kerajaan yang memerintah bangsanya. Karena umumnya seperti itu sehingga orangpun berpendapat bahwa kehadiran sebuah lembaga negara itu sesuatu yang mutlak diperlukan, dengan peribahasa seperti tubuh dengan pakaian. Namanya tubuh ya harus berpakaian. Namanya bangsa ya harus mempunyai negara. Itulah sebabnya semua orang tergila-gila pada kenegaraan dan berpikir bangsa ini akan kiamat kalau tidak ada negara.

Contoh yang barusan terjadi adalah kota Malang, Jawa Timur, sempat menjadi kota yang tak berpejabat karena semua pejabatnya, baik walikotanya maupun seluruh anggota DPRD-nya ditangkap KPK karena kasus korupsi. Keadaan kevakuman kepemimpinan itu oleh menteri dalam negeri segera diatasi dengan mengadakan penggantinya. Yang dikuatirkan adalah timbulnya chaos atau kekacauan jika suatu bangsa tak ada pengendalinya.

Bagi orang-orang itu negara telah menjadi agama sedangkan partai-partai politik adalah macam-macam agamanya. Sebagai warganegara yang baik, yang soleh, dia harus masuk ke dalam salah satu partai politik itu, seperti agama-agama: Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan lain-lainnya. Partai politik adalah agamanya, ketua partai adalah nabinya, sedangkan presiden adalah tuhan yang mahaesanya. Agama negara ini juga ada ritual-ritualnya, yaitu seperti pengibaran bendera di hari-hari keramatnya, ada kalimah syahadatnya yaitu Pancasila serta lagu rohaninya: Indonesia Raya dan Halo-halo Bandung.

Sorga bagi kader yang soleh adalah dijadikannya presiden atau wakil presiden atau walikota atau anggota DPR. Tapi bagi kader yang nakal akan dipecat dari partai itu. Itulah nerakanya.

Tapi bagi sebagian orang, yaitu orang-orang yang disebut pemberontak, yang ingin mendirikan negara sendiri, seperti Timor Timur(dulu), orang-orang di Papua yang ingin mendirikan negara Papua sendiri atau orang-orang di Aceh yang juga ingin mendirikan negara Aceh sendiri, kehadiran negara Indonesia yang menguasai mereka saat ini mereka anggap sebagai penjajah, seperti kita yang menganggap Belanda, Inggris dan Jepang sebagai penjajah. Keberadaan negara Indonesia tak mereka akui. Ada tapi mereka anggap tidak ada. Bagi yang setia pada Indonesia, Indonesia berarti sekali bagi mereka. Tapi bagi yang anti Indonesia, Indonesia bukan apa-apa.

Jadi, jangan dipikir bahwa kenegaraan itu penting bagi semua orang. Tidak semua orang menganggap penting arti lembaga negara. Sama seperti hal KETUHANAN. Bagi kita TUHAN itu ada dan nyata, tapi bagi orang-orang atheis, TUHAN itu bukan apa-apa. Sama seperti orang menganggap Indonesia ini penjajah, kaum atheis juga menyatakan bahwa agama itu racun.

Masalah di Timur Tengah antara Israel dengan Palestina juga begitu. Bagi Israel, Palestina bukanlah negara tapi pemberontak. Sebaliknya, bagi negara-negara yang pro Palestina, mereka mengakui Palestina sebagai negara, sebaliknya mereka menggugat kenegaraan Israel.

Di tahun 2012 PBB mengadakan pemungutan suara untuk kenegaraan Palestina. Hasilnya, 2/3 dari jumlah anggota PBB memberikan suara bagi kedaulatan Palestina. Tapi Amerika Serikat, dibawah pimpinan presiden Donald Trump justru memindahkan kedutaan besarnya di Yerusalem sebagai pengakuannya atas kenegaraan Israel. Kini Amerika Serikat secara terang-terangan memposisikan dirinya berada di belakang Israel.

Jadi, bangsa tanpa negara itu ada, bukannya tidak ada. Nyatanya juga tak masalah, sama seperti anak yatim-piatu, apakah masalah?! Kita sendiri sebelum 17 Agustus 1945 juga merupakan bangsa yang tak bernegara dan nyatanya kita bisa hidup normal. Asalkan kita tidak berperang dengan Belanda atau para penjajah, kita juga menikmati kehidupan yang normal. Kita bisa berjual-beli secara normal. Kita bisa membeli pakaian dan makanan atau segala keperluan hidup kita.

Di saat inipun sebenarnya banyak dari antara kita yang tanpa sadar berada dalam keadaan tak bernegara, yaitu seperti orang-orang yang tidak puas dengan pemerintahan saat ini, seperti kelompok Prabowo, Fadli Zon, Akhmad Dhanny, Neno Warisman, Ratna Sarumpaet, Fahri Hamzah, #2019gantipresiden, para teroris, dan orang-orang yang memilih golongan putih(Golput). Orang-orang yang malas membayar pajak, yang malas mengurus surat-surat identitas, yang mencemooh kinerja para pejabat, serta mereka yang tak menikmati kebaikan pemerintah.

Bagi orang-orang itu kehadiran pemerintah adalah menyebalkan dan menjengkelkan seperti kehadiran musuh bebuyutan. Sesuatu yang tidak dibutuhkan, malah menimbulkan ketidaknyamanan. Tapi bagi para fanatikus kenegaraan orang-orang itu dianggapnya sebagai pengacau atau tidak cinta Indonesia.

Tapi cobalah dipikir yang logis, bagaimana orang akan mengucapkan terimakasih kalau dirinya merasa tak menerima apa-apa? Bagaimana anda disebut ada jika anda tidak berada di depan saya, jika saya tidak melihat kehadiran anda? Bagaimana pemerintahan ini ada, bagaimana kementerian tenaga kerja itu ada jika ada pengangguran? Kalau ada apakah yang dikerjakannya? Kuatirnya tidur! Memangnya apa yang dikerjakan menteri pertanian, perdagangan, keuangan, ekonomi, dan lain-lainnya? Memangnya apa yang dikerjakan oleh menteri kehakiman sehingga keadilan tidak tegak-tegak?

Kalau yang kita lihat di depan kita adalah orang menari-nari, jelas itulah pertunjukan tari namanya. Nah, kalau yang kita lihat di depan mata setiap hari adalah pejabat-pejabat yang ditangkapi KPK, bukankah itu tontonan bajingan? Masak negara itu isinya bajingan? Katanya negara itu bupati, walikota, gubernur, presiden dan DPR. Mana pejabat-pejabat itu? Mana karyanya? Negara ini kumpulan maling atau kumpulan pejabat?

Dalam Al Kitab, sebelum Mesir kayaknya masih belum ada kenegaraan. Tanpa kenegaraan masing-masing orang hidup menurut caranya sendiri-sendiri. Ada cara damai dan ada cara peperangan. Cara damai dilakukan berdasarkan perjanjian atau kesepakatan sedangkan cara perang dilakukan dengan senjata. Jadi, tanpa negarapun bisa ada kedamaian. Sebaliknya, di zaman ini sekalipun ada negara nyatanya masih terjadi peperangan. Keberadaan negara menjadi tak ada artinya apa-apa.

Para pendiri Indonesia sendiri telah menandaskan bahwa ciri-ciri Indonesia itu adalah Pancasila. Karena itu jika ciri-ciri Pancasila tak kelihatan, jelas itu bukanlah Indonesia. Mungkin masih sedang didirikan, masih sedang dibangun, belum selesai. Karena itu masih belum Indonesia.

Keluarga Yakub sebelum menjadi suatu bangsa selama 430 tahun berkembang-biak di Mesir sebagai budak Mesir. Baru di zaman nabi Musa mereka menjadi suatu bangsa, yakni bangsa Israel. Dan selama 400 tahun pula mereka hidup di tanah perjanjian; Palestina, sebagai suatu bangsa yang tak bernegara. Di zaman kitab Hakim-hakim itulah Israel adalah bangsa yang tak bernegara. Lalu setelah sekitar 700 tahun bernegara, bangsa itu mengalami pembuangan ke Babilon. Nah, dari tahun 650 Sebelum Masehi sampai tahun 1948 ketika Israel memerdekakan diri, selama kurang lebih 2.200 tahun bangsa itu tak bernegara. Tak masalah!

Dari Keyahudian lalu berpindah ke Kekristenan yang bersifat internasional. Di Kristen semua orang dari berbagai bangsa dipersatukan menjadi satu bangsa dalam satu kerajaan, yaitu Kerajaan ELOHIM YAHWEH. Raja kita adalah ELOHIM YAHWEH, bukan raja manusia.

Kristen adalah satu kerajaan, kerajaan rohani yang tak kelihatan. Kita telah menetapkan pilihan pada ELOHIM YAHWEH sebagai RAJA segala raja dan TUAN segala tuan. Kita takkan menduahati dengan ilah-ilah yang lainnya. Itulah kehendak ELOHIM YAHWEH sejak mulanya sebelum bangsa Israel menuntut pada nabi Samuel agar mendirikan kerajaan manusia;

1Samuel 8:6

Waktu mereka berkata: "Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami," perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN.
8:7TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.

Itu adalah dasar pemerintahan ELOHIM YAHWEH, bahwa kita jangan menduahati dengan kerajaan duniawi. Kristen jangan masuk ke gelanggang politik. Kita bermitra dengan semua orang, dengan semua negara. Kita baik sama Indonesia, juga baik sama Malaysia, Korea, Jepang, Amerika, dan lain-lainnya. Kita tidak memihak Indonesia dan memusuhi Malaysia, sebab kita wajib mengampuni musuh. Kristen tak punya musuh, sedangkan saudara kita adalah saudara seiman. Kristen tak mungkin angkat senjata menembak orang sekalipun dengan alasan perang. Sebab peperangan kita bukan melawan darah dan daging melainkan melawan roh-roh jahat.

Ef. 6:12karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Kita bukan memerangi manusia secara fisik sebagaimana negara menembaki orang atau teroris. Yang kita perangi adalah paham atau jalan pikiran orangnya. Kita berperang melalui adu argumentasi atau diskusi. Yang kita pertanyakan dari jalan pikiran orang adalah kenapa kamu mencuri? Kenapa kamu membunuh? Kenapa kamu berdusta? Kenapa kamu menyembah patung? Kenapa kamu menolak TUHAN? Kita "bunuh" pahamnya yang salah supaya dia berganti dengan paham yang benar. Kita menyadarkan orang bukan menghukum orang sebagaimana negara merasa memiliki wewenang untuk membunuh tubuh. Sebab yang berhak atas nyawa orang adalah SANG PENCIPTA. Hukum ke-6 dengan jelas menuliskan: "Jangan membunuh".

Ajaran Kristen dengan jelas menentang konsep pemerintahan dunia yang memerintah dengan tangan besi;

Matius 20:25

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
20:26Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
20:27dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;
20:28sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Kata YESHUA ha MASHIA: "Tetapi kamu jangan seperti itu". Sebagai sama-sama manusia berdosanya jangan saling menghakimi;

Mat. 7:1"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

Kecuali kalau kamu suci;

Yoh. 8:7Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Kerajaan Israel di zaman raja Rehabeam, anak Salomo, orang-orang Israel mendemo raja Rehabeam, merasa keberatan dengan beban pajak yang dibebankan raja Salomo menuntut diringankan. Tapi jawaban Rehabeam justru menantang hendak memperberatnya seolah-olah negara begitu kuasanya;

1Raja-raja 12:10

Lalu orang-orang muda yang sebaya dengan dia itu berkata: "Beginilah harus kaukatakan kepada rakyat yang telah berkata kepadamu: Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, tetapi engkau ini, berilah keringanan kepada kami--beginilah harus kaukatakan kepada mereka: Kelingkingku lebih besar dari pada pinggang ayahku!
12:11Maka sekarang, ayahku telah membebankan kepada kamu tanggungan yang berat, tetapi aku akan menambah tanggungan kamu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi."

Mirip dengan kondisi pemerintahan Jokowi sekarang ini yang hidup semakin sulit. Presiden bukan saja tidak berdaya terhadap kehakiman(Yudikatif) sehingga memunculkan vonis-vonis yang nggak nalar, tapi juga nggak berdaya menekan pengangguran dan merosotnya perekonomian. Masak presiden itu bisanya cuma bagi-bagi sepeda saja?!

Kalau bagi masyarakat kelas menengah ke atas apa yang dilakukan Jokowi itu baik sekali. Sebab kelas tengah memang kelas yang aman. Harga barang-barang naik masih tidaklah begitu terasa. Asal Jokowi mempunyai alasan yang baik, maka baiklah itu. Tapi bagi masyarakat kelas bawah, harga nggak dinaikkan saja sudah berat, apalagi dinaikkan. Walaupun hanya naik Rp. 500,- itu sudah masalah. Dan karena tertekan sekali maka mereka tak mau tahu dengan alasannya. Yang mereka perlukan hanya kenyataannya, bukan alasannya.

Jika anda berpendapat air di atas kompor itu panas, itu penglihatan saja. Tapi jika saya berkata air di gelas itu panas, itu berdasarkan bukti. Nyatanya ketika saya pegang air di gelas itu panas. Nyatanya hidup di zaman ini semakin sulit.

Nah, ketika rakyat mendengar jawaban raja Rehabeam yang begitu arogan, Yerobeam, pimpinan demo mengajak orang-orangnya supaya tidak lagi ngurusi kenegaraan. Lebih baik ngurusi rumahtangga masing-masing daripada ngurusi pemerintahan;

1Raja-raja 12:16

Setelah seluruh Israel melihat, bahwa raja tidak mendengarkan permintaan mereka, maka rakyat menjawab raja: "Bagian apakah kita dapat dari pada Daud? Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu! Ke kemahmu, hai orang Israel! Uruslah sekarang rumahmu sendiri, hai Daud!" Maka pergilah orang Israel ke kemahnya,
12:17sehingga Rehabeam menjadi raja hanya atas orang Israel yang diam di kota-kota Yehuda.

Apa untungnya kehadiran pemerintah atau negara ini bagi kita? Apa untungnya kita membayar pajak ini dan itu? Jika pemerintah ini menguntungkan anda, ya ikutilah itu. Tapi bagi yang tidak diuntungkan, buat apa ngurusi pemerintahan ini?

Masak dari sejak merdeka tahun 1945 hingga sekarang masih juga belum muncul pemerintahan yang baik dan bersih? Masak masih begitu banyak pejabat yang korup? Masak masih belum juga mencapai keadilan? Masak sejak dulu para pemimpin itu hanya mengeluarkan janji-janji manis belaka? Siapa yang mau mengupah tukang kebun yang tidur? Siapa yang mau menggaji pegawai yang malas? Siapa yang suka dengan karyawan yang sukanya bikin alasan saja? Ngapain kita membuat orang menikmati gaji bupati, walikota, gubernur dan presiden? Lebih-lebih jika setelah terpilih lalu mencekik kita, menjadi senjata yang makan tuan?!

Beberapa hari yang lalu diberitakan ada seorang suporter Jakmania(kesebelasan Jakarta) dikeroyok oleh suporter Bobotoh(kesebelasan Bandung). Itulah ulah anak-anak muda yang kurang wawasan, yang kalau di Surabaya dikenal sebagai Bonek(bondo nekat - modal nekat). Ini saja tidak bisa kita maklumi, tidak bisa kita tolelir. Bandingkan dengan tingkah pola para calon pejabat yang sedang bertarung di pemilihan umum. Apakah anda melihat perbedaan antara anak-anak liar dengan pejabat-pejabat yang keren itu? Bagi saya bukan tontonan dan bukan berita yang bermutu.

Gatot: KSAD Pulang Kampung Saja Kalau Takut Gelar Nobar G30S

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180920190341-32-331869/gatot-ksad-pulang-kampung-saja-kalau-takut-gelar-nobar-g30s

Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menantang keberanian Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf Angakatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono untuk memutar kembali film peringatan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 30 September 1965 atau yang biasa dikenal dengan G-30S/PKI.

Menurut Gatot, jika KSAD tidak berani memerintahkan untuk menggelar acara nonton bareng (nobar) film G-30S/PKI, maka ia ragu KSAD akan mampu memimpin prajurit pemberani dan jagoan-jagoan seperti Kostrad, Kopassus, dan semua prajurit TNI AD.

"Kok KSAD-nya penakut. Ya sudah pantas lepas pangkat," tulis Gatot di akun Instagram pribadinya @nurmantyo_gatot, Kamis (20/9).


Gatot telah memberi klarifikasi kepada CNNIndonesia.com bahwa hal tersebut memang pernyataannya.


Gatot menekankan agar KSAD mengetahui tak ada hukuman mati untuk perintah nonton bareng PKI. Dia mengungkapkan hukuman paling tinggi terhadap KSAD adalah copot jabatan, bukan copot nyawa. Untuk itu, Gatot menyindir jika KSAD tetap takut, lebih baik sekalian pulang ke kampung halaman.

"Kalau takut, pulang kampung saja. Karena kasian nanti prajuritnya disamakan dengan pemimpin penakut," tegas Gatot.

Sifat penakut yang melekat pada KSAD yang takut untuk mengeluarkan perintah nonton bareng, imbuh Gatot, akan menjatuhkan harga diri prajurit TNI AD yang terkenal di dunia sebagai pemberani dan super nekat.

"Tapi saya yakin KSAD dan Panglima TNI bukan tipe penakut. Kita lihat saja pelaksanannya," pungkas Gatot.


CNNIndonesia.com masih berusaha meminta respons dari KSAD Jenderal Mulyono atas pemberitaan ini.

Pernyataan Gatot yang dia unggah di akun media sosialnya itu merupakan hasil kutipan wawancaranya dengan koran harian Rakyat Merdeka yang terbit, Rabu (20/9).

Saat masih menjadi panglima TNI, Gatot meminta agar pemutaran film G-30 S/PKI ditonton bersama para prajurit TNI hingga ke daerah-daerah di Indonesia.

Gatot kala itu mengatakan pemutaran ulang film tersebut bertujuan untuk mengingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia tentang peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 silam agar tidak terulang lagi di masa sekarang.


Gatot menyampaikan pemutaran film tersebut bukan bertujuan untuk mendeskreditkan atau menyalahkan salah satu pihak, tetapi untuk memberikan gambaran tentang peristiwa kelam yang pernah terjadi di masa lalu.

Lebih lanjut, Gatot menegaskan pemutaran film tidak untuk menumbuhkan dendam pada pihak-pihak tertentu.


6 Fakta Tentang Film G 30 S PKI yang Wajib Diketahui

https://nasional.tempo.co/read/910003/6-fakta-tentang-film-g-30-s-pki-yang-wajib-diketahui/full&view=ok

TEMPO.CO, Jakarta - Film Pengkhianatan G 30 S PKI yang di era Orde Baru dulu menjadi langganan wajib untuk ditonton setiap tanggal 30 September, kini akan diputar lagi. TNI Angkatan Darat (TNI AD) menginstruksikan seluruh prajuritnya untuk menggelar nonton bareng film itu. Instruksi yang ditujukan untuk seluruh jajaran TNI AD di daerah ini menyebar lewat pesan singkat.
"Tanggal 30 September merupakan momen yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Saat ini banyak sekali upaya pemutarbalikan fakta sejarah peristiwa 30 September 1965," kata Brigadir Jenderal Wuryanto, Kepala Pusat Penerangan TNI AD melalui pesan singkat, Jumat, 15 September 2017.

Wuryanto berpendapat pemutaran film ini penting untuk mengajak generasi muda membaca sejarah. Ia menilai, sejak era reformasi sejarah, Pancasila, dan budi pekerti kurang diajarkan di bangku sekolah. Dia juga menyebutkan sejumlah alasan lain yang mendasari lembaganya perlu mengajak masyarakat menonton film terseb
Ada sejumlah fakta mengenai film G 30 S PKI yang belum diketahui oleh mereka yang belum menonton. Terutama generasi yang kini berusia 20 tahun ke bawah mengingat film ini disetop penanyangannya sejak tahun 2002, usai masa reformasi. Berikut fakta-fakta yang perlu diketahui.

1. Film G30S/PKI Buatan Pemerintah Soeharto dan Jadi Tontonan wajib
Sejak ditayangkan tahun 1984, pemerintah Orde Baru memberlakukan setiap siswa di segala lapisan, pegawai negeri sipil, perusahaan daerah untuk wajib menonton film ini setiap tanggal 30 September. Selain diputar di layar lebar beberapa kali, film itu akhirnya diputar di TVRI setiap tanggal 30 September pukul 10.00 WIB.

Karena wajib tonton, termasuk pengerahan pelajar dan pegawai pemerintah untuk menonton, filmG 30 S PKI  ini terpilih menjadi film yang paling banyak diputar dan ditonton. Survei yang dilakukan Majalah TEMPO tahun 2002 menunjukkan, setidaknya 97 persen dari 1.101 siswa yang disurvei telah menyaksikannya dan sekitar 87 persen menontonnya lebih dari satu kali.

2. Bagian dari Rekayasa dan Selera Orde Baru
Film yang diproduseri Nugroho Notosusanto, dulu Menteri Pendidikan di era Soeharto dibuat dengan anggaran Rp 800 juta. Arifin C Noer, sutradara besar sejak masanya hingga kini, ditunjuk sebagai sutradara. Kepada Tempo yang mewawancarainya pada 1984, Arifin mengaku menyadur menyadur catatan sejarah dalam buku berjudul ‘Percobaan Kudeta Gerakan 30 September di Indonesia’. Kisah-kisah di dalamnya ditulis oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto dan investigator Ismail Saleh.

Sejak diluncurkan ke layar kaca, film ini langsung dinominasikan dalam ajang Festival Film Indonesia pada 1984. Meski akhirnya, hanya Arifin yang berhasil membawa pulang Piala Citra sebagai penulis skenario terbaik. Pada 1985, masih di Festival Film Indonesia, film Pengkhianatan G30S/PKI mendapat penghargaan Piala Antemas untuk kategori film unggulan terlaris 1984-1985 yang mencapai penonton sebanyak 699.282 orang. Rekor ini bertahan sampai tahun 1995.

Arifin, dalam wawancaranya kepada Tempo menyebut, ia sebetulnya memimpikan film Pengkhianatan G 30 S PKI bisa menjadi sebuah film pendidikan dan renungan tanpa pesan kebencian bagi setiap orang yang menontonnya. Arifin C Noer meninggal pada 28 Mei 1995 di usia 54 tahun.

3. Terfokus pada Soeharto dan Propaganda bahaya Komunis
Film G 30 S PKI  kian menampilkan sosok Soeharto saat menjadi Pangkopkamtib. Perannya dalam operasi penumpasan PKI di hari-hari kelam setelah 30 September. Film ini, bahkan sebelum ditayangkan secara resmi ternyata ditonton dulu oleh Presiden Soeharto dan mereka yang terlibat dalam operasi penumpasan itu.

Presiden bahwa saat itu mengatakan film itu dapat menggambarkan kekejaman para pendukung komunis terhadap para jenderal dan rakyat Indonesia. Sekaligus menjadi satu-satunya sumber sejarah yang dipergunakan di tanah air.  Sejak diputar terus menerus, masyarakat dilarang mendiskusikan isi film itu, bahkan di ruang kelas seklipun. Narasi penulisan sejarah di era itu, menjadikan versi film itu

4. Penuh Kekerasan dan darah
Film G 30 S PKI dengan durasi panjang: 3 jam 37 menit itu dipenuhi dengan kekerasan, ancaman, jeritan, tangis dan darah. Film itu dibuka dengan paparan rencana aksi DN Aidit untuk merebut kekuasaan dari tangan Soekarno. Mulai dari rapat-rapat rahasia, hingga tayangan yang memicu kemarahan umat Islam seperti pembakaran buku-buku agama dan Alquran.
Film ini, kian menunjukkan warna kekejian setelah adegan demi adegan penuh darah dipertontonkan dalam setiap adegan. Mulai ditembaknya Jenderal Ahmad Yani oleh pasukan Tjakrabirawa, hingga darah yang menetes dari tubuh Ade Irma Nasution, juga proses penyiksaan terhadap 4 pahlawan revolusi yang tertangkap hidup-hidup. Salah satu adegannya penyiletan ke wajah salah satu korbannya oleh Gerwani, sebelum dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya.


5. Melenceng dari Fakta Sejarah
Film G 30 S PKI itu menuai kritik dari para sejarawan, melenceng dari fakta sejarah. Misalnya Dr Asvi Warman Adam menuliskan adanya kelemahan historis film itu detail. Asvi menunjuk peta Indonesia yang berada di ruang Kostrad sudah memuat Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia. Faktanya, tahun 1965/1966 Timor Timur belum berintegrasi.

Fakta lainnya, protes dari perwira TNI salah satunya Marsekal Udara Saleh Basarah yang mewakili TNI Angkatan Udara. Saleh Basarah dan para perwira TNI AU keberatan karena film itu mengulangulang keterlibatan perwira AURI pada peristiwa 30 September. Basarah adalah Kepala Staf Angkatan Udara pada tahun 1973-1977. Saleh meninggal dunia pada 11 Februari 2010.

6. Tak Sesuai Semangat Reformasi
Penayangan film itu akhirnya dihentikan pada September 1998, empat bulan setelah Soeharto lengser. Yunus Yosfiah, Menteri Penerangan saat itu mengatakan, pemutaran film  bernuansa pengkultusan tokoh, seperti film Pengkhianatan G 30 S PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar tidak sesuai lagi dengan dinamika Reformasi. "Karena itu, tanggal 30 September mendatang, TVRI dan TV swasta tidak akan menayangkan lagi film Pengkhianatan G30S/PKI," ujar Yunus.
Sebagai gantinya,  Departemen Penerangan bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mempersiapkan sebuah film yang terdiri dari tiga episode. Film berjudul Bukan Sekadar Kenangan itu disutradarai Tatiek Mulyati Sihombing.


KontraS Kritik Instruksi Jenderal Gatot soal Film G30S/PKI


Minggu, 23 September 2018

PIYE KABARE? PENAK JAMANKU TOH?!

Salah satu dari 10 Hukum ELOHIM YAHWEH yang dituliskan oleh Jari TanganNYA sendiri, yaitu hukum ke-9, berbunyi: Keluaran 20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Lebih lanjut ditambahkan di:

Im. 19:11Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.

Mat. 5:37Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Berbohong atau berdusta adalah ucapan yang tidak benar dan tidak tepat. Pelanggaran terhadap hukum-hukum ini hukumannya adalah hukuman mati. Artinya, perbuatan bohong itu merupakan kejahatan serius. Dalam Islam, fitnah itu disebut lebih kejam dari pembunuhan. Sebab jika pembunuhan menggunakan pisau atau pistol, tapi fitnah menggunakan kata-kata yang tidak benar yang sering menciptakan kekacauan yang lebih besar. Banyak peristiwa kerusuhan yang diciptakan dari fitnah. Kalau zaman "now" istilah kerennya adalah "hoax".

Banyak sekali sekarang ini kasus-kasus penipuan, baik yang merugikan masyarakat secara perorangan maupun yang merugikan masyarakat secara massal. Tapi polisi telah menangkapi semuanya dan menjebloskan para pelakunya ke dalam penjara.

Datang dengan muka manis dan mengobral janji-janji manis, tapi setelah berhasil mempedayai korbannya, korbannya diikat, dianiaya dan dibunuh. Begitulah modus operandi para penipu.

Di Indonesia ini ada sekitar 500 kota. Artinya ada sekitar 500 bupati atau walikota yang dikepalai oleh seorang presiden. Semua pejabat itu, baik bupati, walikota maupun presiden, semuanya mendapatkan jabatan dari suara rakyat melalui pemilihan atau coblosan. Baik rakyat kaya maupun rakyat miskin semuanya diharapkan partisipasinya untuk ikut mencoblos.

Dari kalangan fakir-miskin ada yang pekerjaannya sebagai tukang becak, pedagang asongan, pedagang kakilima, loper koran, pedagang siomay, pedagang bakso, soto, nasi goreng, warung kopi, tambal ban, barang bekas, pemulung, pengamen, dan lain-lainnya. Sekarang coba hitung ada berapa orang yang mengayuh becak, berdagang asongan, berdagang bakso, dan lain-lainnya di kota anda saja. Lalu kalikan dengan jumlah keluarga yang mereka tanggung, lalu kalikan pula dengan jumlah 500 kota itu. Jika jumlahnya mencapai jutaan atau puluhan juta orang, jangan kaget, sebab Indonesia ini dihuni oleh 260 juta orang.

Kita jangan menganggap enteng dengan perbuatan pemerintah melalui SATPOL PP yang menghancurluluhkan penghidupan pedagang-pedagang kecil itu, oleh sebab yang kita lihat hanya puluhan orang dan terjadi di kota kita saja. Tapi lihatlah dalam skala 500 kota dan dalam rentang waktu beberapa tahun. Sebab pemerintah yang licin itu tidak melakukannya secara sekaligus, melainkan secara sedikit demi sedikit.

Dalam suatu berita, SATPOL PP Surabaya dalam kurun 3 bulan saja bisa menghancurkan 474 bangunan liar. Itu Surabaya saja dan itu 3 bulan saja. Kalau seluruh Indonesia dan selama setahun atau 5 tahun masa jabatan bupati atau walikota, bisa ketemu angka berapa itu?

Orang mengambil pisau itu umumnya untuk menyembelih ayam, bukan untuk bunuh diri. Nah, seandainya ketika waktu kampanye, calon walikota Tri Risma itu berkata: "Saudara-saudara, pilihlah saya sebagai walikota anda, supaya saya buatkan peraturan daerah yang menegakkan keindahan dan ketertiban kota, maka warung-warung anda dan rumah-rumah anda akan saya bongkar, kompleks prostitusi Dolly akan saya hancurkan, pengamen-pengamen dan pemulung-pemulung akan saya tangkapi", apakah kita akan tetap memilih walikota yang berkampanye seperti itu? Apa ada kata-kata seperti itu dalam pidato kampanye para calon walikota atau presiden?

Jika tidak ada kampanye yang seperti itu, artinya 'kan tidak ada rencana atau tidak ada pikiran untuk menjadikan itu sebagai program kerjanya? Artinya, akan dibiarkan sebagaimana dulunya, sebagaimana walikota-walikota terdahulu yang tidak pernah mengusik hal itu. Tapi kini setelah jabatan itu diperolehnya, mengapa kami ini dianiaya dan dihancurkannya? Masakan kami memilih untuk menusuk diri kami sendiri? Bagaimana walikota yang sekarang disebut lebih baik dari walikota yang dulu, jika nyatanya walikota yang dahulu membiarkan saya berjualan di situ, tapi walikota yang sekarang malah mendepak-depak saya?

Hasil gambar untuk gambar piye kabare enak jamanku toh


Masakan saya sebagai manusia direndahkan dari keindahan trotoar? Masakan saya yang tidak berbuat jahat hendak ditertibkan? Masakan kotanya indah tapi membiarkan penduduknya tertekan jiwanya? Masakan piagam-piagam penghargaan walikota lebih berarti daripada kegelisahan saya?

Orang yang sudah kaya, sudah mempunyai pekerjaan mapan saja masih bingung untuk meluaskan usahanya dan menambah kekayaannya. Bagaimana kami tidak lebih bingung jika pekerjaan satu-satunya dan harta yang belum banyak ini dirampas oleh pemerintah?

Sebelum saya berjualan bakso seperti sekarang ini, saya dulunya adalah pengangguran yang kebingungan. Bertahun-tahun saya mencoba melamar kerjaan tapi tak berhasil. Gagasan berusaha sesuatu belum muncul. Pemerintahpun sekalipun mempunyai menteri keuangan sekaliber Sri Mulyani yang berhasil membuat dolar meroket sampai Rp. 15.000,- nyatanya diam saja, tak pernah memberikan saya gagasan suatu pekerjaanpun. Sampai suatu kali saya berpikir untuk mencoba berjualan bakso. Gagasan sudah ada, tapi modalnya bagaimana? Dalam hal inipun pemerintah yang mempunyai koneksi dengan Tiongkok yang sanggup membiayai infrastruktur senilai ribuan trilyun, nyatanya tak satu rupiahpun disumbangkan ke saya untuk modal jualan bakso.

Setiap hari saya membaca di koran tentang angka-angka M(milyar) dan T(Trilyun). Namun yang sekecil sejutapun tak pernah saya ketahui ujudnya. Tapi betapa entengnya Jokowi setiap hari bagi-bagi sepeda? Betapa senjang sekali antara saya dengan Jokowi?

Dengan susah-payah akhirnya saya berhasil membuat rombong bakso. Sekarang pikiran saya adalah hendak berjualan di mana? Sebab sekalipun Jokowi bagi-bagi sertifikat tanah, nyatanya saya tak punya sejengkal tanahpun. Sekalipun orang Indonesia namun saya tak mempunyai tanah tumpah darah di sini. Mending orang-orang Bule, asal punya duit bisa beli pulau di sini. Bisa-bisa kelak negara ini akan dimiliki oleh orang asing, jika pemerintahnya mata duitan. Punya duit? Silahkan masuk ke sini!

Memilih tempat berjualan tentunya tidak bisa sembarangan jika pingin laris. Tidak mungkin jualan di kuburan atau di pasar-pasar bikinan pemerintah zaman "now" yang melemparkan lokasi pasar di pinggiran kota. Jiwa dagang saya menunjukkan suatu lokasi yang padat penduduk, yang banyak dilalui orang. Saya jualan pingin laris, pingin untung, pingin cepat kaya. Lebih-lebih berdagang di zaman "now", saya harus bersaing dengan "bakso online" atau GO-BAK, bukan GO-JEK.

Tapi sayangnya, justru di lokasi yang semakin menggiurkanlah di sana pemerintah melarang orang berjualan. Dilarang berjualan di tugu Monas, kata Ahok. Tentu saja saya pusing menetapkan lokasi berjualan ini. Jika jualan di tempat yang diijinkan, saya kuatir tidak laku. Jika jualan di tempat larangan, saya kuatir diobrak-abrik SATPOL PP. Gimana, nih? Apa jalan keluar dari bu Tri Risma?

Terpaksa saya nekat berjualan di atas trotoar yang dilarang. Alhamdulillah semakin hari semakin laris dagangan saya. Saya bisa beli televisi, pajaknya masuk pemerintah. Saya bisa beli rumah, pajaknya masuk pemerintah juga. Saya beli motor, pajaknya juga untuk pemerintah. Bandingkan dengan dulu. Saya tak punya apa-apa, maka apa yang saya sumbangkan untuk pemerintah? Dulu saya dikasih bantuan-bantuan fakir miskin dari pemerintah, tapi sekarang saya sudah bukan fakir-miskin lagi. Saya tak lagi merepotkan pemerintah, malahan berpartisipasi pada pemerintah. Saya tak lagi membeli LPG 3 kiloan yang disubsidi pemerintah. Sekarang saya membeli LPG tabung besar yang tak bersubsidi.

Tanpa terasa saya sudah berjualan bakso di situ selama 10 tahun. Selama itu pula tak pernah ada obrakan SATPOL PP. Tapi menginjak zamannya bu Tri Risma yang menjadi walikota, nasib saya menjadi terancam. Setiap hari pikiran selalu was-was, takut ada razia SATPOL PP. Saya menjadi terteror setiap hari, bukan oleh teroris, tapi oleh bu Tri Risma. Gebrakan-gebrakan bu Tri Risma seperti gebrakan setan yang dalam senyum manisnya menakutkan seperti kuntilanak.

Jika saya disebutnya merusakkan trotoar atau pemandangan, tidakkah bu Tri Risma bagi saya adalah perusak kehidupan rumahtangga saya? Coba, mana yang lebih jahat antara merusak pemandangan dengan merusakkan kehidupan keluarga? Coba, mana yang lebih jahat bagi saya antara walikota terdahulu yang mengijinkan saya berjualan dengan walikota yang sekarang yang melarang saya berjualan? Di mana itu Pancasila dan perikemanusiaannya jika ketertiban dan keindahan kota lebih diutamakan daripada kehidupan manusia? Di mana pasalnya dalam Pancasila dan UUD 1945 yang mengamanahkan supaya mempercantik kota melebihi mempercantik penduduknya?

Jika walikota jujur menghancurkan saya, tidakkah saya akan pilih walikota yang koruptor yang menghidupi saya? Kalaupun walikota koruptor itu mengenakan pungutan liar, tidakkah akan tetap saya bayar, daripada gratisan tapi saya dibuatnya pengangguran?!

Saya ketika menganggur tak dipedulikan. Tak diberinya gagasan suatu pekerjaan. Modal usaha sendiri. Lokasi cari sendiri. Semuanya adalah usaha saya sendiri. Tapi pemerintahan yang sekarang mencabik-cabiknya itu semua. Saya yang membangun, pemerintah yang merobohkan. Apakah seperti itu fungsi pemerintahan?

Untuk produk makanan, kementerian kesehatan mewajibkan mencantumkan komposisi bahan-bahannya. Misalnya: roti, bahannya ini dan itu. Pemerintah tak membiarkan perusahaan makanan melakukan penipuan kepada masyarakat, melainkan harus jujur, terbuka. Seperti yang sekarang ini sedang ramai dibicarakan adalah produk susu kental manis, dilarang menggunakan kata-kata: "susu" sebab sebenarnya itu bukan susu. Nah, jika dalam produk makanan harus jujur seperti itu, bagaimana dengan janji-janji kampanye calon walikota dan calon presiden? Sampai kapan para calon pejabat itu dibiar-biarkan mengobral janji-janji manis yang bukan saja tidak ditepatinya, malahan mengkhianati kepercayaan masyarakat, menjadi senjata yang memakan tuannya sendiri?

Masakan saya memilih walikota yang akan menggusuri rumah saya? Ini jelas ada unsur penipuan dan sifatnya massal. Merugikan jutaan masyarakat, masakan tidak diproses hukum jika First travel yang menipu banyak orang diproses hukum?! Tidak adil, donk!

Dulu, boleh-boleh saja para pejabat berbuat yang seperti itu. Sebab masyarakat masih bodoh dan zaman itu masih lebih dekat dengan zaman kerajaan. Tapi sekarang masyarakat sudah semakin mengerti akan hak-haknya sebagai pemilik negara ini. Rakyat adalah raja. Rakyatlah yang memilih Jokowi dan memberhentikan Soeharto. Rakyat memiliki kuasa seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat(MPR). Karena itu tindakan pembodohan ini harus dihentikan!

Ibu Tri Risma, kami, rakyat yang kamu gusuri adalah rakyat yang menjadikanmu walikota, sehingga kamu bisa menikmati gaji walikota, rumah dinas dan mobil dinas walikota. Masakan sekarang kamu hendak berbuat sewenang-wenang terhadap kami? Demikian pula dengan bapak Jokowi. Bukankah kami yang mencoblos namamu sehingga kamu sekarang bisa menikmati gaji presiden, pesawat presiden, rumah dinas, mobil dinas, bahkan kamu bisa keluyuran ke luar negeri? Masakan sekarang kamu hendak semakin menyusahkan dan menyengsarakan rakyat pemilihmu?

MONGGO DIPIKIRKAN!

Jokowi baik? Okey! Jika yang baik saja tak mampu mengendalikan negara, lebih-lebih yang kurang baik. Jika yang baik saja membuat cabe harganya Rp. 100.000,- bagaimana pula harga cabe di tangan yang kurang baik? Jika yang baik saja gombal, betapa gombalnya yang kurang baik? Pusing, deh!

Hasil gambar untuk gambar piye kabare enak jamanku toh

Jumat, 21 September 2018

ASIAN GAMES - MAHKAMAH AGUNG - BERAS

Perhelatan Asian Games 2018 yang barusan berakhir telah mengibarkan nama Indonesia dan sangat mencengangkan masyarakat. Sebab dari target 12 medali emas berhasil dilampaui 2,5 kali lipat menjadi 30 medali emas, membuat Indonesia berada di peringkat ke-4 setelah China, Jepang, dan Korea.

Itu terjadi di tanggal 2 September 2018. Dan sekalipun Jokowi adalah presiden, bukan atlet Asian Games, namun prestasi itu telah mengharumkan namanya sebagai pengendali negara Indonesia, termasuk menempatkan Imam Nahrawi sebagai menteri pemuda dan olahraganya. Artinya, dibawah kepemimpinan presiden Jokowilah Indonesia berprestasi di bidang olahraga.

Namun pada tanggal 13 September 2018, tepat di angka sial: "13", sial bagi Indonesia. Mahkamah Agung Republik Burung Garuda ini memutuskan membatalkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum(PKPU) nomor 20 tahun 2018 tentang pencalonan legislatif mantan terpidana kasus korupsi. Artinya, mantan koruptor berhak dipilih menjadi anggota legislatif. Kita lihat dulu nomor peraturan itu yang juga berjumlah 13: nomor 20 tahun 2018 = 2 + 2 + 1 + 8 = 13. Nomornya nomor sial, tanggalnya tanggal sial pula.

Mungkin Mahkamah Agung berpikir bahwa kejahatan korupsinya sudah dibersihkan melalui pemidanaannya sehingga setelah bebas dari penjara maka dia bukanlah koruptor. Dia orang baik seperti bayi yang suci. Kayaknya secara hukum itu kebenaran. Tapi apa betul itu kebenaran jika pemidanaannya adalah berdasarkan kasusnya, bukan berdasarkan tabiat atau mentalnya? Bahwa yang dihakimi atau ditebus dengan penjara itu hanya peristiwanya. Misalnya, Setya Novanto divonis 15 tahun penjara karena korupsi e-KTP senilai Rp. 108 milyar. Vonis itu dibuat berdasarkan peran dan besaran nilai korupsinya, bukan untuk menetralkan mentalnya yang korupsi. Vonis itu merupakan upaya "balas dendam" negara terhadap orang yang merugikan negara, bukan merupakan upaya negara mempertobatkan seorang penjahat.

Karena itu yang sudah diselesaikan oleh Setya Novanto ketika ia bebas dari penjara kelak adalah kasusnya. Setya Novanto dijamin tidak akan diungkit-ungkit soal kasus e-KTP itu lagi. Mahkamah Agung harusnya bisa memahami perasaan masyarakat dan tuntutan reformasi yang menginginkan pemerintahan yang bersih yang terbebas dari mental-mental korupsi. Harusnya mendukung kinerja KPK yang begitu giat memberantas korupsi di negeri ini. Tapi Mahkamah Agung yang sekarang ini: Muhammad Hatta Ali adalah ketua Mahkamah Agung yang ke-13, telah membuat keputusan "setan" yang mengecewakan banyak pihak. Mantan narapidana kasus korupsi, kasus bandar narkoba dan kasus seksual pada anak diperbolehkan menjadi anggota legislatif. Apa memang di Indonesia ini sudah kehabisan orang bersih sehingga bekas comberan dianggap bersih?

Mau tak mau keputusan setan itu bisa menurunkan citra Indonesia di mata internasional, dan mungkin akan berpengaruh pada elektabilitas Jokowi. Sebab jika di bidang atletik bisa mengharumkan nama Jokowi, betapa buruknya pemerintahan Jokowi ini di bidang hukum. Jika dunia hukum seperti ini betapa jauhnya dari cita-cita kemerdekaan untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tanggal 2 Indonesia diharumkan oleh Asian Games, tanggal 13 dibusukkan oleh keputusan Mahkamah Agung, kini tanggal 19-nya dikagetkan oleh kemarahan Budi Wasesa, direktur utama Badan Urusan Logistik(Bulog), yang menolak keras impor beras.

Menurut Budi Wasesa, Indonesia mempunyai stok beras yang cukup sampai bulan Juni 2019 untuk mengenyangkan Burung Garuda Pancasila. Negara agraris yang dilambangkan dengan padi dan kapas ini ngapain harus import beras? Malu-maluin! Di mana prestasi presiden Jokowi jika lagi-lagi harus melanggar janji-janji kampanyenya di tahun 2014? Masak negara agraris yang dibangga-banggakan ini harus mengimport beras, mengimport kedelai dan jagung? Keterlaluan sekali.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan, Indonesia merupakan negara besar dengan sektor pertanian yang menjanjikan. Hal itu pun membuat negeri ini dikenal sebagai negara agraris. Sayangnya, kata dia, Indonesia masih saja bergantung pada impor.
"Beras, dua tahun berturut-turut kita impor, jagung pun begitu. Dulu kita impor, maka sekarang kita kerjakan satu-satu," kata Amran di Makassar, Kamis, (15/2).
Untuk mengatur ekspor dan impor, Kementan pun mencoba mengeluarkan berbagai kebijakan di nasional. Pasalnya, kata dia, kementerian bertugas untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat.
Ia mengatakan, beberapa waktu lalu Presiden memintanya ke Taiwan, Korea Selatan, Jerman, dan sebagainya, demi melihat kondisi pertanian di masing-masing negara tersebut. "Lalu presiden tanya, apa beda di sana dan di sini. Saya bilang dia hanya satu bedanya yaitu di teknologi. Soal lahan, kita lebih besar," tutur Amran.
Di beberapa negara tersebut, matahari bersinar hanya sekitar enam bulan, sedangkan Indonesia bersinar hampir 12 bulan. "Justru mereka lakukan ekspor dan kita impor. Merekanya terlalu rajin dan kita terlalu malas," kata Amran.
Ia pun bercerita, saat di Taiwan sempat bertemu dengan salah satu petani. Petani itu mengaku berpendapatan Rp 3 miliar per bulan. "Padahal hanya tanam bayam organik," ujarnya.
Amran menegaskan, tahun ini presiden telah meminta Kementan siapkan bibit untuk petani Indonesia. "Kita akan kembalikan kejayaan petani Indonesia seperti 500 tahun lalu," ujarnya.


Budi Waseso blak-blakan soal impor beras hingga gudang Bulog penuh

https://www.merdeka.com/uang/budi-waseso-blak-blakan-soal-impor-beras-hingga-gudang-bulog-penuh.html

Merdeka.com - Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), Budi Waseso meminta agar persoalan impor beras jangan dijadikan polemik untuk mencari popularitas, tetapi bagaimana sama-sama mencari jalan keluar lewat koordinasi dan komunikasi yang baik.

"Kita harus berhitung betul, membiasakan cinta dalam negeri, produk negeri sendiri, memanfaatkan seefisien mungkin produk-produk dalam negeri, jiwa nasionalisme dibangun. Bagaimanapun untuk kepentingan bangsa ini, jangan mencari popularitas, yang dikerjakan untuk kepentingan negeri," kata Buwas di Kota Bogor seperti ditulis Antara, Rabu (19/9).
Buwas menjelaskan, izin impor sebanyak 1,8 juta ton merupakan izin yang diterbitkan dan dikeluarkan sebelum dirinya menjabat sebagai Dirut Bulog. Terkait yang 2 juta ton adalah perintah baru, yang belum ada izinnya.
"Itu ada perintah baru untuk kita impor 2 juta ton, tapi menurut saya tidak perlu karena kita punya stok 2,4 juta," katanya.
Dia berkeyakinan sampai tahun depan Indonesia tidak membutuhkan impor beras, berdasarkan analisis yang dilakukan oleh tim ahli yang berasal dari berbagai bidang ilmu yang dilakukan Bulog. Tim ini melibatkan ahli dari pertanian, ahli perekonomian, dari Bulog, Kepolisian dan BIN.
Menurutnya, keterlibatan BIN karena sesuai dengan bidangnya menganalisis bagaimana kemungkinan apabila stok beras betul-betul kurang dan apa dampaknya. "Itukan harus dianalisis berdasarkan beberapa situasi," katanya.
Hasil analisis tim tersebut menyatakan, produksi beras di Indonesia dalam prediksi cuaca kering, musim tanam yang kecil, bahkan hasil panen kecil, masih bisa menghasilkan antar 11 sampai 12 juta ton. Sementara kebutuhan nasional 2,4 juta ton. Berarti, lanjutnya, ada kelebihan berdasarkan hitungan riil, sehingga tidak harus impor.
Sementara itu, stok beras yang ada di Bulog yakni beras impor tidak bergerak karena tidak bisa diserap. "Kalau memang kenyataannya perlu impor ya kita impor. Benar-benar dibutuhkan, jangan sampai mengganggu petani, mengganggu pasar, mengganggu konsumen. Jadi Bulog terbebani, karena Bulog harus betul-betul berhitung secara riil," katanya.
Buwas juga mengklarifikasi data yang mengatakan setiap bulan dilakukan impor. Hal tersebut tidak benar, impor yang masuk adalah barang yang sudah diimpor sebelum dirinya menjadi Dirut Bulog yakni sebanyak 1,8 juta ton. Kedatangan beras impor tersebut dibuat bertahap, karena mengatur pasokan, selain itu beras impor yang masuk juga belum terserap semuanya.
"Kenapa saya atur bertahap, supaya tidak mengganggu produksi petani, situasi harus kita amankan jangan sampai gejolak," katanya.
Bulog saat ini sedang mencari gudang untuk menyimpan beras yang kualitasnya sudah menurun, dengan meminta bantuan TNI AU meminjamkan gudang sebagai tempat penyimpanan. Dia menyebutkan, untuk menjaga kualitas, beras yang ada di gudang harus dihabiskan terlebih dahulu. Tetapi belum habis karena tidak dibutuhkan mengingat produksi nasional masih ada. Oleh karena itu beras tersebut menjadi cadangan untuk beras pemerintah yang digunakan untuk beras sejahtera, bantuan sosial ketika ada bencana, dan operasi pasar.
"Tapi Operasi Pasar kita masih menggunakan beras dalam negeri," katanya.
Secara nasional produksi normal yakni 15 sampai 16 juta ton. Jika di musim kering menjadi 11 sampai 12 juta ton. Kebutuhan masyarakat Indonesia 2,4 juta ton. [idr]


Cerita Budi Waseso sering 'semprot' para pejabat

https://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-budi-waseso-sering-semprot-para-pejabat.html

Merdeka.com - Budi Waseso kerap kali membuat gebrakan di setiap tugas yang dijalankannya. Tak jarang, gebrakan-gebrakannya itu bertentangan dengan pejabat lainnya.

Meski begitu, mantan kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) tetap dengan pendiriannya. Bahkan dia tak segan 'menyemprot' para pejabat yang tak sejalan dengannya. Berikut pejabat yang kena 'semprot' Budi Waseso:

1. Budi Waseso sampai bilang: Matamu
Merdeka.com - Perum Bulog tidak akan melakukan impor beras hingga akhir tahun lantaran stok beras milik BUMN tersebut masih melimpah. Bahkan gudang penyimpanan beras telah penuh dan terpaksa menyewa gudang milik TNI AU.
Namun demikian, Kemendag yang memberi izin impor beras menyebut tidak mau mengurus soal gudang penyimpanan beras tersebut. Mengetahui hal itu Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengaku heran pada Kemendag yang seolah lepas tangan. Padahal tingginya pasokan beras yang masuk ke gudang akibat Kemendag mengizinkan beras impor masuk.
"Saya bingung ini berpikir negara atau bukan. Coba kita berkoordinasi itu samakan pendapat, jadi kalau keluhkan fakta gudang saya bahkan menyewa gudang itu kan cost tambahan. Kalau ada yang jawab soal Bulog sewa gudang bukan urusan kita, mata mu! Itu kita kan sama-sama negara," kata Budi Waseso.


2. Budi Waseso: Jangan jadi pengkhianat bangsa
Merdeka.com - Mantan Dirut Bulog Djarot Kusumayakti pernah mendorong Perum Bulog untuk melakukan impor beras. Padahal sangat jelas jika Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso tidak akan melakukan impor beras hingga akhir tahun lantaran stok masih melimpah.
Atas hal itu, Budi meminta mantan bos bulog tidak jadi pengkhiantan sehingga ikut campur soal impor beras. "Ada yang menyampaikan kalau Bulog itu harus impor, dia tidak mengerti. Ironisnya, ini mantan orang Bulog. Jangan jadi pengkhianat bangsa ini, darimana perhitungan itu?" katanya di Kantor Perum Bulog, Rabu (19/9)

3. Petugas lapas
Merdeka.com - Ketika menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Budi Waseso sempat murka dengan petugas lapas. Hal ini karena masih ada anggota lapas yang bersengkongkol dengan bandar narkoba di dalam penjara.
Menurutnya, petugas seperti itu adalah pengkhianat bangsa. Sehingga harus ditindak tegas oleh Kemenkum HAM.
"Kalau saya, saya cincang-cincang (petugas lapas). Kenapa? Itu penghianat negara loh. Jangan main-main. Dia aparat negara, tetapi mengkhianati negara," katanya beberapa waktu lalu.




Senin, 17 September 2018

LEMBU YANG SEDANG MENGIRIK

ELOHIM YAHWEH menyampaikan Firman kepada nabi Musa;

Ul. 25:4Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik."

Singkatnya saya artikan sebagai larangan untuk memberangus mulut lembu yang sedang makan. Lembu yang sedang makan jangan diganggu. Di Perjanjian Lama Firman itu memang berlaku secara harafiah, yaitu untuk lembu atau binatang. Tapi di Perjanjian Baru rasul Paulus mempertanyakan;

1Korintus
9:9Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!" Lembukah yang Allah perhatikan?
9:10Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.

Jadi, lebih dalam lagi itu mempunyai arti janganlah kita mengganggu makanan orang atau mata pencarian orang atau pekerjaan orang. Saya sangat gusar sekali jika melihat gubernur Ahok main gusur, main usir orang dari kampung yang sudah ditinggalinya selama puluhan tahun. Sebab rumah tinggal seringkali berkaitan erat dengan pekerjaan orang atau mata pencarian orang, sehingga ketika ia harus pindah rumah maka itu akan menggoyangkan pekerjaannya juga. Dan itu terbukti dari pedagang-pedagang kecil yang rumahnya dipindahkan ke rumah susunnya Ahok, mereka akhirnya menjadi pengangguran karena lokasinya jauh dan tak terjangkau angkutan umum. Terhadap orang-orang kaya saja saya tak setuju jika masalah pekerjaan mereka diganggu, apalagi terhadap orang-orang miskin. Dan fakta membuktikan Ahok sekarang kena kutukan perbuatannya sendiri, harus dipenjarakan sekalipun tidak terlalu bersalah.

Itu sebabnya semua korban gusuran marah dan mati-matian mempertahankan rumahnya. Mereka yang biasanya takut terhadap petugas menjadi berani menantang seperti bunyi peribahasa: "semutpun akan menggigit kalau diinjak".

Saya sedih dan gusar ketika menyaksikan SATPOL PP merazia pedagang dan mengangkuti modal dagangan mereka ke atas truknya karena dianggap melanggar peraturan daerah. Iya, jika dikenakan peraturan daerah mereka memang melanggar aturan. Mereka memang orang-orang berdosa. Tapi semua itu mereka lakukan semata-mata demi uang, demi membiayai hidup mereka. Mereka sebenarnya bukan ingin melanggar hukum tapi ingin mendapatkan uang untuk makan. Demi uang apa saja akan mereka lakukan. Jangankan yang halal, yang harampun akan dijalani orang.

Mencuri, maling ayam, jualan narkoba, curi motor, merampok, membunuh, melacur, berjudi, atau apapun akan dijalani demi uang. Itu sebabnya penjara selalu penuh ketika semua hotel kesepian. Jangankan cuma untuk berjualan di atas trotoar atau di badan jalan, bahkan di atas rel keretaapipun dijalani orang. Seperti di Thailand, ada pasar yang lokasinya di atas rel keretaapi yang masih aktif;

Hasil gambar untuk gambar pasar di atas rel


Apa sebabnya? Sebab ada pembelinya. Sebab ada kesepakatan tak tertulis antara penjual dengan pembelinya. Sebagaimana ungkapan "pembeli adalah raja", maka seperti apa selera pembeli itulah yang berusaha diusahakan pedagangnya. Coba seandainya sepi pembeli, para pedagang itupun pasti akan buyar dengan sendirinya tanpa menunggu peraturan daerah dan kedatangan SATPOL PP. Tapi jika semakin hari semakin ramai, semakin banyak pengunjungnya, maka para pedagangnya juga akan semakin banyak, seperti gula yang mengundang semut.

Para pedagang di pasar yang bersaing ketat, tanpa SATPOL PP-pun di antara mereka sudah biasa berantem. Hampir setiap hari antara pedagang dengan pedagang saling berantem, saling bermusuhan. Sebab mereka berebut pelanggan, berebut penglarisan, berebut uang. Di sana, di pasar, sekalipun semrawut, sekalipun berdesakan, sekalipun jalanannya becek, sekalipun bau sampah, namun nyatanya semakin hari semakin banyak orang yang ke pasar. Sejak dulu hingga sekarang tak pernah ada ketertiban di pasar. Segala usaha penertiban selalu gagal, selalu kembali semrawut. Tapi nyatanya baik penjual maupun pembelinya sama-sama menyukai keadaan demikian dan mereka bisa hidup, bisa mendapatkan uang.

Apa sebab orang lebih menyukai ketidaktertiban daripada ketertiban? Sebab dosa. Jiwa semua orang adalah jiwa berdosa. Jiwa yang sudah rusak ini sama seperti mesin rusak yang tak mungkin bisa bekerja normal sebagaimana mesin baru. Selama masih di dunia ya akan seperti ini selamanya. Manusia masih tetap manusia belum berubah menjadi malaikat;

Yer. 13:23Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?

Roma
3:10seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
3:11Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
3:23Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

Sebelum pemerintah melarang orang membunuh, ELOHIM YAHWEH sudah lebih dahulu mengeluarkan hukum: "Jangan membunuh". Tapi nyatanya semakin hari juga semakin banyak kasus pembunuhan. Demikian juga dengan semua larangan-larangan yang berbau kejahatan, semuanya tak ada gunanya. Sebab bagi TUHAN semua larangan-larangan itu bukan dimaksud untuk mengubah perilaku manusia tapi sebagai penanda dosa;

1Yoh. 2:1Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.

ELOHIM YAHWEH tidak menutup mata bahwa semua ajaranNYA akan dilanggar. ELOHIM YAHWEH tidak mensyaratkan keselamatan berdasarkan perbuatan, tapi membukakan jalan buat pengampunan melalui pekerjaan JURUSELAMAT; YESHUA ha MASHIA. Itu sebabnya ELOHIM YAHWEH melarang sesama manusia saling menghakimi. Sebab baik aku maupun kamu sama-sama berdosanya.

Memangnya kamu itu siapa? Bukankah kamu itu dulunya adalah murid yang bodoh di kelas? Bukankah kamu itu dulunya lontang-lantung pengangguran dan masuk menjadi pegawai negeri karena menyuap ratusan juta? Lalu untuk kenaikan jabatanmu, kamu menyogok ratusan juta lagi. Kamu, demi pekerjaan dan demi uangpun berkelakuan sebusuk itu. Apa saja kamu lakukan; baik kamu pegawai negeri sipil maupun polisi. Lebih-lebih lagi seorang bupati atau walikota atau gubernur atau presiden atau DPR yang dipilih melalui pemilihan umum. Berapa milyar atau bahkan trilyun biaya yang kamu keluarkan untuk kedudukan itu? Kedudukan yang kamu raih itu adalah karena uang bukan karena prestasi. Jika kamu adalah seperti itu, bagaimana kamu hendak menghakimi rakyatmu yang tidak tertib?

Polisi merazia kendaraan bermotor, memangnya pelanggaran lalulintas tidak berbau uang? Ratusan milyar hasil denda tilangan masuk ke kas negara. Semakin banyak pelanggaran semakin kaya negara. Jadi, bagaimana dilematis negara ini? Menegakkan disiplin atau mencari kekayaan untuk membayar utang negara? Apa yang dikehendaki negara sebenarnya? Mudah-mudahan bukan sebuah kemunafikan.

Memang peraturan dibuat untuk mengatur ketidakteraturan, sebab yang sudah teratur tidak memerlukan peraturan. Contohnya di kuburan. Hanya di kuburan saja yang tidak ada tata tertibnya, sebab semua penduduk kuburan sudah bisa tertib. Di kuburan tak ada mayat yang teriak-teriak, tak ada kasus pencurian, tak ada kasus pembunuhan dan lain-lainnya. Di sana sudah mencapai kemakmuran. Tapi di dunia orang hidup inilah yang bergejolak terus-menerus, dari sejak zaman Adam dan Hawa hingga zaman sekarang ini masih belum ada metode yang jitu untuk menertibkan makhluk hidup.

Semua orang menyebalkan bagi orang lainnya. Suami menyebalkan istri, istri menyebalkan suami. Anak-anak menyebalkan orangtua, orangtua menyebalkan anak-anak. Di sinilah pemerintah masuk mengambil peran sebagai orang yang mengatur. Pemerintah memposisikan dirinya sebagai orang-orang yang lebih baik dari orang-orang lainnya.

Yesaya
28:9Dan orang berkata: "Kepada siapakah dia ini mau mengajarkan pengetahuannya dan kepada siapakah ia mau menjelaskan nubuat-nubuatnya? Seolah-olah kepada anak yang baru disapih, dan yang baru cerai susu!
28:10Sebab harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini, tambah itu!"

ELOHIM YAHWEH mengejek orang-orang yang sok kuasa, yang menganggap dirinya lebih baik dan orang lain sebagai kanak-kanak. Jika pemerintah membedakan dirinya dengan masyarakat berdasarkan pedang atau senjata, itu namanya perampok. Jika sifatnya seperti perampok yang menang sendiri, ya jangan sebut-sebut Pancasila, jangan sebut-sebut Ketuhanan, jangan sebut-sebut keadilan.

Dan kalau mau jadi pahlawan, ya perangilah orang-orang jahat yang mengganggu keamanan masyarakat. Masyarakat membayar pajak seperti membayar tukang pukul, supaya pendekar melawan pendekar, jagoan melawan jagoan. Musuhilah para penjahat itu, jangan memusuhi orang-orang yang tidak jahat, yang mencari makan secara halal. Jangan mengusik mata pencarian orang.

Pedagang dikejar-kejar kayak maling. Mengapa tidak mengejar-ngejar maling? Memburu maling belum tuntas, mengapa pemerintah menambah permusuhan dengan masyarakat?! Saya salut dengan gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang berani menghidupkan becak beroperasi di Jakarta. Memangnya kenapa fakir miskin tidak boleh bekerja mengayuh becak jika itu masih bisa dijadikan uang dan kehidupan keluarganya? Memangnya Jakarta hanya untuk orang kaya? Memangnya Jakarta hanya untuk orang yang bekerja, sedangkan orang yang mencari-cari pekerjaan di Jakarta dilarang? Memangnya hidup di desa bisa hidup? Memangnya desa menarik? Memangnya hasil pertanian sudah bagus? Jika hasil pertanian bagus, petani bisa kaya, masih adakah orang yang lari ke kota-kota besar?! Pakai akal sehat, donk! Sebab semut itu mencari gula bukan mencari ibukota.

Ibu-ibu masih banyak yang membutuhkan keberadaan becak untuk belanjaan yang banyak atau untuk mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Kalaupun penghasilan becak minim sekali, biarlah para tukang becak itu sendiri yang memikirkan nasibnya, entah tetap membecak atau putar haluan kerja lainnya, biar itu terjadi secara alamiah bukan oleh paksaan pemerintah. Sebab nyatanya kalau musim kampanye tukang-tukang becak dibutuhkan untuk dibagikan kaos dan diajak pawai. Bahkan walikota Surabaya mengajak tamu-tamunya yang pejabat dari luar negeri naik becak keliling Surabaya. Becak-becak malah dihiasi bukannya dilemparkan ke laut.

Hasil gambar untuk tamu-tamu naik becak surabaya


Hasil gambar untuk tamu-tamu naik becak surabaya


Bagi pemerintah para tukang becak hanyalah bahan tontonan fakir miskin. Tapi bagi tukang becak uangnya bisa untuk menghidupi keluarganya. Jika "take and give"-nya seperti itu, ya udahlah! Jika musim kampanye fakir miskin disebut-sebut dan dijadikan "brand" sedangkan setelah jadi pejabat diuber-uber kayak maling, ya udahlah diterima saja nasibmu.

Jumat, 14 September 2018

MAKIN TUA KOQ MAKIN SEHAT?

Sampai dengan umur 40-an kondisi penglihatan mata saya jauh dan dekat sangat baik sekali. Baru di saat saya menjadi penginjil di tahun 2004-lah saya mulai berkacamata baca. Tapi melihat jauhnya masih tajam. 

Kalau tidak salah tahun 2015 ketika bangun tidur tiba-tiba mata ini kabur seperti tertutupi selaput tebal. Saya kaget dan panik juga ketika itu. Kayaknya selama beberapa hari saya menikmati keadaan itu sampai saya teringat pada khasiat air ludah untuk membersihkan penglihatan mata. Saya usapi air ludah sekitar 5 kali, baik yang kiri maupun yang kanan, maka keluarlah semacam lendir yang banyak sekali. Tapi ajaibnya penglihatan bisa terang benderang. Maka sejak saat itulah (2015) saya mulai melepaskan kacamata baca hingga tahun 2017. Kayaknya mata yang kiri sudah buta untuk membaca. Waktu itu saya bisa membaca koran dan internet tanpa kacamata. Tapi di pertengahan tahun 2017 hingga sekarang saya mulai memakai kacamata baca kembali tapi ukurannya menurun; dari plus 2,5 menjadi 2,25 dan terakhir plus 2.

Saya baru menyadari dan mengucapkan syukur pada TUHAN tadi malam setelah kurang-lebih sebulan ternyata saya sudah tidak perlu kacamata lagi. Malahan semula saya pikir saya perlu mengganti kacamata yang lebih besar karena pusing kalau menggunakan kacamata. Saya biasa membeli kacamata murahan yang Rp. 20.000,- an. Tapi menemukan pedagangnya yang sulit sehingga tanpa sadar sebenarnya saya sudah bisa melepaskan kacamata. Mula-mula saya paksa membaca tanpa kacamata dan kelihatan remang-remang sehingga itulah saya tidak menyadari kesembuhan mata saya tersebut. Baru tadi malam saya menyadari dan saya mengucap syukur pada TUHAN.

Dan sekitar semingguan yang lalu, waktu subuh ketika saya sedang tertidur pulas di depan garasi mobil, saya merasa tubuh ini seperti dipijati sehingga saya semakin terlelap sampai seorang ibu menjerit mengira saya mati karena dilindas ban depan mobilnya. Ibu itulah yang menyetir dan tidak melihat saya tidur di situ apalagi dilindas mobilnya. Dia baru tahu setelah turun dan bermaksud membuka rolling door garasinya. Rupanya tubuh saya sempat terdorong sampai setengah meteran dari tempat semula. Ibu itu ketakutan dan bersyukur mendapati saya tidak apa-apa. Saya dikasihnya Rp. 200.000,- Lumayan! Mau lagi, akh!

Hua..ha..ha.......

SEMBUH DARI AMBEIEN

http://bloghakekatku.blogspot.com/2015/10/sembuh-dari-ambeien.html
Hasil gambar untuk gambar orang berkacamata