Jumat, 07 September 2018

KABINET JOKOWI KABINET YOYO

Yoyo adalah permainan saya ketika kecil, yaitu kayu berbentuk bulat dikasih benang yang dimainkan berputar naik-turun. Naik-turun, naik-turun itulah mainan yoyo. Dan pemerintahan Jokowi seperti sedang bermain yoyo; presiden yang paling sering melakukan reshuffle kabinet. Empat tahun memerintah 4 kali melakukan reshuffle para menterinya, 4 kali memainkan dirjen pajak, 3 kali mengganti Kapolri, 3 kali mengganti panglima TNI, dan terakhir yoyo-nya adalah Mahfud MD yang ditukar dengan Ma'ruf Amin. Mungkin menurut Jokowi semua orang adalah buah catur yang bisa semau-maunya dilangkahkannya. Itulah ciri khas 3 tokoh pejabat yang merasa dirinya bersih dari korupsi, yaitu: Jokowi, Ahok dan Tri Risma, walikota Surabaya. Tukang copot dan gusur.

Tanggal 3 September 2018 saya menuliskan tentang burung Murai Batu yang dimasukkan sebagai satwa yang dilindungi:

MURAI BATU MENGANCAM PULUHAN RIBU ORANG


Eeh, tanggal 5 September diberitakan sudah dicabut. Burung-burung itu kini sudah tidak lagi dimasukkan sebagai satwa yang dilindungi. Saya senang mendengar kabar pencabutan itu. Cuma ini menyisakan suatu fenomena tentang kegegabahan seorang menteri, yang konon sudah dilengkapi dengan staf ahli nyatanya masih juga bisa melakukan kekhilafan. Sebentar dibuat peraturan yang meresahkan masyarakat pecinta burung, tapi kemudian dicabut. Betapa sederhananya arti sebuah peraturan? Seperti mainan yoyo!

Harusnya peristiwa seperti ini bisa dijadikan modal untuk mempertanyakan aturan-aturan yang dibuat pemerintah. Setiap aturan yang dibuat pemerintah tidak mutlak kebenaran yang harus dipertahankan. Jangan mengkultuskan suatu peraturan seolah-olah sudah pasti benarnya. Dan pemerintah perlu berhati-hati dalam mengeluarkan sebuah statement agar jangan menimbulkan gejolak dalam masyarakat.

Untunglah menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanannya yang sekarang ini berhati lunak, mau mendengarkan aspirasi masyarakat. Bagaimana jika kita kelak menjumpai seorang menteri yang bebal, yang berkepala batu, yang merasa gengsi untuk mundur atau mencabut kebijaksanaannya yang tidak bijaksana?

Hasil gambar untuk gambar anak bermain mainan yoyo


FKMI: Murai Batu, Cucak Rowo dan Jalak Suren Dikeluarkan dari Daftar Satwa Dilindungi

https://kumparan.com/trubus-id/fkmi-murai-batu-cucak-rowo-dan-jalak-suren-dikeluarkan-dari-daftar-satwa-dilindungi-1536155030192357385

Trubus.id -- Para penghobi burung berkicau atau kicau mania kini bisa sedikit bernafas lega. Pasalnya kini beberapa burung berkicau yang sebelumnya masuk dalam daftar satwa dilindungi dalam Permen LHK Nomor 20 tahun 2018, sudah dikeluarkan dari daftar tersebut.
Bang Boy, salah satu perwakilan dari Forum Kicau Mania Indonesia (FKMI) mengatakan, tiga jenis burung berkicau yang dikeluarkan dari daftar satwa dilindungi itu adalah burung jalak suren (Gracupica jalla), kucica hutan (Kittacincia malabarica) atau yang dikenal dengan nama murai batu dan cucak rowo. Keputusan itu sendiri dikeluarkan saat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pertemuan dengan perwakilan FKMI di Hotel Padjajaran Suite, Bogor, Selasa (4/9) malam.
"Hasilnya 3 jenis burung dari nota keberatan yang disampaikan saat audiensi 14 Agustus 2018 di kantor KLHK, murai batu, jalak suren dan cucak rowo dikeluarkan lampirannya dari Permen 20 2018 dari dilindungi jadi tidak dilindungi," jelas Bang Boy dalam pesan tertulisnya kepada Trubus.id, Rabu (5/9) malam. 
Bang Boy menambahkan, keputusan itu sendiri dikeluarkan setelah diserahkannya nota keberatan dan kajian sosial ekonomi yang disampaikan FKMI. Patut diketahui, FKMI sendiri adalah forum yang berisi gabungan 9 organisasi perburungan di Indonesia.
Sebenarnya, sejak tanggal 27 Agustus lalu, sesuai dengan audiensi dengan FKMI, KLHK telah mengeluarkan 2 jenis burung berkicau dari daftar satwa dilindungi. Kedua burung itu adalah burung jalak suren dan burung murai batu. Untuk perubahan terbaru terkait penambahan burung cucak rowo, berkasnya diakui masih berada di Kemenhumkam. 
"Masih di Menhumkam. Dalam waktu dekat sudah keluar. Sebenarnya tanggal 27 Agustus sudah keluar, tapi hanya murai dan jalak suren," jelas Bang Boy.
Bang Boy menambahkan, di surat keputusan yang baru nantinya, nama burung cucak rowo tidak akan ada lagi di dalam daftar satwa dilindungi dalam Permen LHk Nomor 20/2018.
"Terbaru keluar, yang tanggal 27 Agustus gugur," tukar pembina yayasan BnR tersebut.
Menanggapi sejumlah burung lain yang kerap dipelihara masyarakat, Bang boy mengatakan, FKMI masih tetap akan membuat kajian yang kemudian akan diserahkan ke KLHK untuk ditinjau lagi. Ia berharap, burung lain seperti pleci dan cucak hijau juga dikeluarkan dari lampiran dalam Permen LHK Nomor 20/2018 dari dilindungi jadi tidak dilindungi.
Sementara itu, untuk membantu pemerintah, dalam hal ini KLHK, FKMI sendiri juga sudah berkomitmen untuk membantu memerangi peredaran burung tangkapan hutan. Dari segi lomba, beberapa regulasi yang mengatur keikutsertaan burung tangkapan hutan juga akan diperketat.
"Ya kita kan buat aturan seperti akan kita wajibkan lomba burung hasil penangkaran. Kemudian kita juga sosialisasikan ke pedagang untuk tidak memperjualbelikan burung-burung tangkap hutan. Kita harus komit," terangnya lagi.

Terkait pendataan penangkar, Bang Boy menjelaskan, organisasi burung berkicau memang membutuhkan data tersebut. Karenannya, pendataan akan terus dilanjutkan.
"Tujuan pendataan (penangkar) tidak jelek dan gratis," tegas Bang Boy.
Terakhir, Bang Boy berharap agar seluruh pecinta burung berkicau termasuk sektor lain yang mendukungnya tetap ikut membantu pemerintah dalam menyelamatkan burung di alam dari kepunahan.
"Dunia burung milik semua. Banyak rantai yang terkait dari mulai penghobi, penangkar ataupun pedagang. jadi, jalin kesatuan sesamanya. Tetap selamatkan burung di alam ini dan ini wajib bagi kicaumania," tutup Bang Boy. [RN]
Posting Komentar