Kamis, 04 Oktober 2018

GARUDA SEDANG BANYAK MAKANAN

Namanya, Ratna Sarumpaet, seorang artis yang lebih banyak berkecimpung di panggung politik, tepatnya sejak zaman Orde Baru, yang akhir-akhir ini membikin berita heboh mengaku dirinya lebam-lebam karena dianiaya 3 orang laki-laki di Bandung. Di media sosial beredarlah photonya yang lebam, yang membuat geram kubu lawan-lawan politik Jokowi, sementara juga membuat dag-dig-dug jantung tim sukses kampanye Jokowi. Sebab secara langsung maupun tidak langsung kubu oposisi mengarahkan telunjuk ke arah pemerintahan Jokowi yang melakukannya karena Ratna Sarumpaet suka memprotes pemerintahannya.

Setidaknya Titiek Soeharto memberikan komentar yang membandingkan zaman pemerintahan bapaknya dengan pemerintahan Jokowi. Sebab ketika Ratna Sarumpaet mengangkat isue buruh Marsinah untuk menjatuhkan pemerintahan Soeharto nyatanya tak ada penganiayaan terhadap dirinya. Tapi kini koq ada kasus penganiayaan terhadap aktivis? (https://news.detik.com/berita/4239163/titiek-soeharto-bandingkan-cerita-ratna-sarumpaet-dengan-era-orba)

Rizal Ramli berkomentar kalau rezim Jokowi ini tega membelokkan isue penganiayaan ke kesimpulan operasi plastik. Kalau klinik kecantikan membuat wajah rusak begitu, ya bangkrut. "Orang digebukin, periksa yang benar dulu, baru ambil kesimpulan. Ini pendukung yang kuasa langsung bilang ini oplas, ah kejam banget," tutur eks Menko Maritim itu.

Hanum Salsabiela Rais, putrinya Amien Rais berkomentar:
Ancaman jika dirimu terus ‘bersuara’ maka anak dan cucu adalah tebusannya, sempat membuatmu luruh dalam kebimbangan berjuang. Namun, anak dan cucumu telah berbisik padamu, “Ibu, lanjutkan perjuangan. Bismillah Allah bersama Ibu dan kita, segera membuatmu bangkit dan berkisah penggal maut yang hampir menghampir
Kami yakin, satu dua Ratna dan Neno dibiadabi, akan menumbuhkan ribuan Ratna dan Neno yang siap memberdamai.

Kata Fadli Zon: "Ya saya tidak tahu, tapi dalam hari-hari seperti sekarang, mana ada yang tidak terkait dengan politik sih. Ya kan," kata Fadli di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (2/10).

Meski tidak mengetahui ada ancaman terhadap Ratna sebelum kejadian, namun Fadli menyebut perempuan itu sebagai sosok yang vokal dan kritis. Sikap itu, kata Fadli, wajar dalam iklim demokrasi.

"Demokrasi biasa-biasa saja untuk menyampaikan pandangan dan pendapat dan tapi tidak boleh ada satu eksekusi dengan tindakan-tindakan fisik yang brutal, biadab dan keji," kata Fadli.

"Menurut saya dan itu tentu saja menjadi ancaman untuk demokrasi kita, menjadi ancaman juga bagi pemilu damai kita, karena Mbak Ratna juga tidak bisa dipisahkan sebagai salah satu seorang jurkamnas," sambung Fadli yang juga dikenal sebagai Wakil Ketua DPR RI tersebut.


Prabowo Subianto menyebut sebagai penganiayaan bergaya PKI. Beliau akan mendatangi Kapolri untuk meminta diusut tuntas penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet tersebut.

Kubu Prabowo bukan hanya berkomentar-komentar negatif saja tentang pemerintahan Jokowi sehubungan dengan "penganiayaan" Ratna Sarumpaet, melainkan juga mendatangi rumah Ratna Sarumpaet untuk mendengarkan dongengnya. Setidaknya yang pernah ke rumah Ratna Sarumpaet antara lain; Spider Man, Bat Man, Super Hero, The Six Million Dollar Man dan Robin Hood. Semua orang itu geram sekali dengan pemerintahan Jokowi yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Cut Nyak Dhien-nya Amien Rais itu.

Tapi polisi yang melakukan penyelidikan diam-diam menemukan fakta bahwa Ratna Sarumpaet tidak pernah ke Bandung melainkan berada di sebuah rumahsakit di Jakarta untuk operasi plastik, penyedotan lemak di pipinya. Sehari setelah operasi plastik itu muka Ratna lebam-lebam yang konon reaksi yang wajar dari operasi itu. Itulah yang dijadikan momen Ratna untuk membuat cerita penganiayaan atas dirinya yang diduga dilakukan oleh rezim Jokowi.

Setelah tersudut dengan fakta-fakta temuan polisi, maka Ratnapun memberikan keterangan pers bahwa cerita penganiayaan itu benar-benar hoax yang dibuatnya. Bumipun gonjang-ganjing 10 Skala Richter dan menyebabkan tsunami bagi kubu Prabowo. Semua orang yang berkomentar negatif, yang bermaksud menjadikan cerita itu sebagai modal untuk #2019gantipresiden dibuat kebakaran jenggot, malu-malu kucing.

Kasihan si Ratna, kini dia harus menanggung caci-maki dari semua golongan. Baik kawan apalagi lawan. Pihak kawan merasa dikhianati sedangkan pihak lawan merasa nyaris kena fitnah. Ratna Sarumpaet sedang terjerembab ke dasar lumpur kehinaan. Bukan saja ketahuan kebohongan ceritanya tapi juga diduga menggelapkan sumbangan untuk bencana tenggelamnya kapal Sinar Bangun di danau Toba beberapa waktu yang lalu.

Kelihatannya masalah ini akan dilanjutkan ke ranah hukum. Setidaknya Farhat Abbas sudah melaporkan 17 tokoh nasional yang terlibat penyebaran berita hoax tersebut. Di dalam diri saya sendiri terjadi pertentangan batin antara senang dengan penindakan hukum itu atau saya harus membela orang-orang yang sedang terjerembab itu. Orang-orang yang sedang jatuh itu ditolong atau ditimpai tangga pula(peribahasa: "sudah jatuh ketimpa tangga)

Sebagai manusia tentu saja jiwa saya menginginkan keadilan. Mencuri ya dihukum, berbuat kesalahan apapun ya ada konsekwensinya. Tapi dalam dunia hukum dikenal pula peranan advokasi, yaitu pembela orang-orang yang sedang bermasalah hukum. Seberapa besarpun kesalahan orang itu harus dibela mati-matian oleh sang pembela.

Pekerjaan pembela berbeda dengan pekerjaan polisi. Jika polisi menuntut kejujuran tersangkanya supaya ia mau mengakui perbuatannya, tapi pembela tak dibenarkan menekan kliennya untuk jujur. Cerita bohongpun harus bisa dijadikan dasar untuk berargumentasi di depan persidangan. Jika polisi banyak memberikan pertanyaan terhadap tersangkanya, pembela akan lebih banyak mendengar saja. Jika polisi menguatkan bukti-bukti, pembela menguatkan pengakuan tersangkanya. Pekerjaan pembela memang berbanding terbalik dari pekerjaan polisi. Jika polisi menuntut secara hukum, pembela menuntut sisi-sisi belas kasihannya. Jika polisi mengungkap kesalahan orang, pembela justru menutupi kesalahan kliennya.

Pekerjaan pembela sama seperti pekerjaan TUHAN, yaitu menutupi kesalahan, pelanggaran dan dosa.

Mzm. 32:1Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!

1Ptr. 4:8Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

Yes. 1:18Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Saya ingin memaki Ratna Sarumpaet. Sebab saya selalu muak melihat sepak terjangnya. Saya juga muak dengan Neno Warisman. Saya muak dengan perempuan-perempuan yang bermain di panggung politik, lebih-lebih yang bersuara lantang. Sebab ini bukan bidangnya perempuan. Ini panggungnya preman-preman. Ini lingkungannya laki-laki kasar. Ini tempat berlaganya jagoan-jagoan yang mengandalkan otot. Kalau resikonya cuma digebukin orang, silahkan perempuan masuk. Tapi jika sampai diperkosa? Jangan kaget dan jangan nangis jika itu terjadi. Resiko-resiko sejauh itu harus diperhitungkan oleh setiap perempuan yang mau masuk ke arena laki-laki ini. Ingat reformasi 1998 ketika pecah kerusuhan. Orang-orang tidak berpolitikpun diperkosa. Itu 'kan masalah besar bagi kaum perempuan, melebihi penjara dan nyawa?!

Tapi ibarat mobil saya 'kan punya rem?

Ef. 4:26Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

Saya boleh marah tapi harus saya jaga jangan sampai membuat dosa. Jangan sampai emosi yang berlebihan, mengucapkan kata-kata yang tidak mendidik, lebih-lebih mengayunkan tangan untuk membunuh. Jika marah harus dalam konteks mendidik. Itu yang pertama. Yang kedua, yang lebih mulia lagi adalah apabila saya mengampuni kesalahan orang.

Ratna Sarumpaet sudah menikmati akibat perbuatannya membuat cerita hoaks. Dia dimusuhi orang dari segala penjuru bahkan termasuk menimbulkan dimusuhi oleh anak dan menantunya yang menanggung rasa malu. Dia juga harus menanggung kehilangan kepercayaan orang. Semua orang termasuk para tetangga pasti akan mencibirinya. Dia sudah terpuruk, sudah jatuh. Haruskah negara datang untuk menimpakan tangga pula? Apakah fungsi negara itu seperti blender yang menghancurkan gandum menjadi tepung terigu?

Siapakah orang yang tidak pernah mengalami kejatuhan yang sangat memalukan seperti itu? Maukah anda ditambahi dengan timpaan tangga? Jika Ratna Sarumpaet saat ini adalah anda, maka apakah yang anda inginkan? Dihukum penjara 10 tahun atau diampuni dengan kemurahan hati? Jika ada orang yang yakin dirinya takkan jatuh seperti Ratna, maka dia layak menghukum Ratna seberat-beratnya, sebab diri sendiri pasti aman. Tapi seorang Ahok yang garang menggusuri orang kita tahu nasibnya sekarang seperti apa. Begitu pula dengan habib Rizieq Shihab yang sok suci sekarang berada di mana dan seperti apa keadaannya?

Jika simbol keadilan adalah timbangan atau neraca yang seimbang kiri-kanannya, haruskah kita merubah simbol keadilan itu dengan selera Anita Wahid yang menghendaki "dihukum yang membuat jera"? Atau Anita Wahid bisa menunjukkan narapidana yang jera oleh hukuman yang berat? Siapakah yang masuk penjara dan bertobat? Simbol pengadilan apakah tidak perlu dirubah dulu dengan timbangan yang berat sebelah supaya sesuai teori dengan prakteknya; supaya tidak ada kebohongan hukum? Jangan sampai gambar dalam kemasannya roti hamburger tapi isinya roti beracun. Jangan sampai simbolnya timbangan yang seimbang tapi sesungguhnya timbangan yang berat sebelah. Hoaks juga itu. Ratna Sarumpaet juga itu. Jangan sampai terdakwanya Ratna Sarumpaet, hakimnya juga Ratna Sarumpaet. Kebohongan dihakimi dengan kebohongan pula. Lucu jadinya.

Kejadian Ratna Sarumpaet ini kayaknya hendak dijadikan pesta Garuda. Farhat Abbas sudah mengumpulkan 17 daging untuk makanan Garuda. Awas, kekenyangan bisa obesitas. Dan kalau masih kekurangan sebenarnya masih bisa ditambah dengan dagingnya Mahfud MD, yang diberitakan nyaris sebagai calon wakil presidennya Jokowi tapi mendadak diganti dengan Ma'ruf Amin. Apakah pemberitaan itu bukan hoaks dan sangat merugikan Mahfud MD?! Mudah-mudahan timbangannya tidak njomplang.

Mahfud MD ungkap kronologi dirinya batal jadi cawapres Jokowi

Merdeka.com - Mahfud MD akhirnya angkat bicara soal dirinya batal dipilih menjadi cawapres Joko Widodo. Mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu menjelaskan awalnya pada 1 Agustus sekitar pukul 23.00 WIB lalu, dirinya diundang ke kediaman Mensesneg Pratikno.

Di rumah Mensesneg ada Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki. Saat itu, Mahfud MD mengaku diberitahu soal pilihan cawapres Jokowi sudah mengerucut kepada dirinya.
"Lalu saya diberitahu bahwa pak Mahfud sekarang pilihan sudah mengerucut ke bapak harap bersiap-siap nanti pada saatnya akan diumumkan, syarat-syarat yang diperlukan segera mulai disiapkan tidak harus lengkap yang penting ada dulu. Itu tanggal 1 tengah malam jam 23.00 di Widya Chandra," kata Mahfud MD di acara Indonesian Lawyer Club yang disiarkan TvOne, Selasa (14/8).
Kemudian, kata Mahfud, Pratikno saat itu mengatakan segala sesuatunya sudah beres. Hanya saja, Mahfud diminta melakukan satu hal yakni melakukan komunikasi dengan PKB.
"Setelah itu saya lakukan komunikasi dengan orang-orangnya Cak Imin. Saya kan bukan calon dari PKB kenapa harus ke PKB nanti orang-orang Golkar sangka saya calon dari PKB, sebab itu saya menemui orang-orang yang dianggap berpengaruh terhadap Cak Imin ada berapa orang saya temui," katanya.
Kemudian, kata Mahfud, Rabu (8/8) malam dirinya kembali diundang Pratikno ke kediamannya. Di situ juga ada Teten Masduki. Mahfud kemudian diberi tahu bahwa esok hari akan diumumkan cawapres Jokowi.
"Sudah diputuskan Pak Mahfud. Sekarang semua sudah disiapkan. Upacaranya nanti berangkat dari Gedung Juang Pak Mahfud naik sepeda motor bersama Pak Jokowi bonceng. Pak Jokowi yang di depan. Terus saya bilang kenapa tidak naik sama-sama saja, saya satu pak Jokowi satu. Tidak kata Pak Teten nanti enggak bagus kalau misalnya Pak Mahfud terus belok ke kiri pak Jokowi belok ke kanan itu difoto sama wartawan jelek tuh katanya," cerita Mahfud.
Pada Kamis (9/8) Mahfud kemudian ditelepon Seskab Pramono Anung. Saat itu Pramono meminta Mahfud segera menyerahkan daftar riwayat hidup secara lengkap. Sebab, saat deklarasi nama harus sama persis dengan yang ada di daftar riwayat hidup.
"Pada saat yang bersamaan saya ditelepon oleh asisten ajudan Presiden, bapak ke sini mau ngukur baju. Waduh saya bilang bagaimana kalau tidak bisa mengukur baju agar tidak terlalu ribet saya waktunya sudah pendek. Oh kalau gitu bapak bawa saja baju yang bapak senang dan pas bawa ke sini nanti pakai ukuran itu saja tapi bikin modelnya yang sama dengan Pak Jokowi," katanya.
Kemudian sekitar pukul 13.00 WIB, dirinya berkomunikasi dengan Teten Masduki. Saat itu Teten memberitahu dirinya bahkan pengumuman cawapres Jokowi dilakukan pukul 16.00 WIB di Restauran Plataran, Menteng, Jakpus.
"Pak Mahfud nanti datang ke sana sambil menunggu nanti duduk apa namanya di ruang seberang begitu akan deklarasi nanti ya tampil tinggal menyeberang," kata Mahfud menirukan perkataan Teten.
Namun kemudian, saat pengumuman nama Mahfud MD ternyata tak dipilih. Jokowi saat itu menyebut nama KH Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya.
"Lalu saya diburu wartawan bagaimana pak? Ya tidak apa-apa saya menerima itu sebagai realitas politik. Pak Pratikno beri tahu pak ini ada perubahan silakan pulang dulu. Ya tidak apa-apa. Kecewa? Kaget saja," katanya. [dan]

Mengaku pencipta hoaks terbaik, ini pernyataan lengkap Ratna Sarumpaet

https://nasional.kontan.co.id/news/mengaku-pencipta-hoaks-terbaik-ini-pernyataan-lengkap-ratna-sarumpaet

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivis Ratna Sarumpaet akhirnya memberikan pengakuan mengejutkan perihal dugaan penganiayaan terhadap dirinya. Kabar heboh sejak Selasa (2/10) itu ternyata hoaks belaka.
Melalui jumpa pers di kediamannnya di kawasan Kampung Melayu Kecil V, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (3/10), Ratna mengakui dirinya telah berbohong. Berikut pernyataan Ratna selengkapnya;
Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran kawan-kawan wartawan. Pada saat saya merasa telah melakukan kesalahan, kalian tidak menjauh.
Saya mohon apa pun yang saya sampaikan hari ini sesuatu yang berguna yang membuat kegaduhan dalam dua hari terakhir ini mereda dan membuat kita semua bisa saling memaafkan.
Tanggal 21, saya mendatangi rumah sakit khusus bedah, menemui dokter Sidik Mihardja, ahli bedah plastik. Kedatangan saya ke situ karena kami sepakat beliau akan menyedot lemak di pipi kiri-kanan saya.
Dokter Sidik adalah dokter ahli bedah plastik yang saya percaya, saya sudah tiga-empat kali ke sana. Tetapi setelah operasi dijalankan pada tanggal 21, tanggal 22 pagi saya bangun saya melihat muka saya lebam-lebam secara berlebihan, atau secara tidak seperti yang saya alami biasanya.

Waktu dokter Sidik visit, saya tanya ini kenapa begini, dia bilang itu biasa. Intinya begitu, jadi apa yang saya katakan ini akan menyanggah bahwa ada penganiayaan, oke.
Bahwa betul saya ada di dokter Sidik pada hari itu, dan ketika saya dijadwalkan pulang, lebam-lebam di muka saya masih ada, seperti ada kebodohan yang saya enggak pernah bayangkan bisa saya lakukan dalam hidup saya.
Saya pulang seperti membutuhkan alasan pada anak saya di rumah, kenapa muka saya lebam-lebam dan memang saya ditanya kenapa, dan saya jawab dipukul orang.
Jawaban pendek itu dalam satu minggu ke depannya akan terus dikorek, namanya juga anak lihat muka ibunya lebam-lebam kenapa, dan saya enggak tahu kenapa dan saya enggak pernah membayangkan terjebak dalam kebodohan seperti ini, saya terus mengembangkan ide pemukulan itu dengan beberapa cerita seperti yang diceritakan.
Ada kebenarannya dengan apa yang saya katakan kepada anak-anak saya. Jadi selama seminggu lebih cerita itu hanya berputar-putar di keluarga saya dan hanya untuk kepentingan saya berhadapan dengan anak-anak saya, tidak ada hubungannya dengan politik, tidak ada hubungannya untuk luar.

Tapi setelah sakit di kepala saya mereda dan saya mulai berhubungan dengan pihak luar, saya enggak tahu bagaimana saya memaafkan ini kelak, kepada diri saya, tapi saya kembali dengan kesalahan itu bahwa saya dipukuli. Jangan dikira saya mencari pembenaran, enggak, ini salah.
Apa yang saya lakukan sesuatu yang salah. Ketika sampai ketemu Fadli Zon datang ke sini, cerita itu yang sampai ke dia. Iqbal saya panggil ke sini, cerita itu juga yang berkembang dalam percakapan.
Dan hari Selasa, tahu-tahu foto saya sudah beredar di seluruh media sosial, saya enggak sanggup baca itu, ada beberapa peristiwa yang membawa saya ke Pak Djoksan (Djoko Santoso), membawa saya ke Pak Prabowo, bahkan di depan Pak Prabowo, orang yang saya perjuangkan, orang yang saya cita-citakan memimpin bangsa ini ke depan, mengorek apa yang terjadi pada saya, saya juga masih melakukan kebohongan itu, sampai kita keluar dari lapangan polo kemarin, saya tetap diam, saya biarkan semua bergulir dengan cerita itu.
(Di) lapangan polo, saya merasa betul ini salah. Waktu saya berpisah dengan Pak Prabowo, Amien Rais, saya tahu dalam hati ini saya salah, tetapi saya enggak mencegat mereka, itu yang terjadi.

Jadi tidak ada penganiayaan, itu hanya cerita khayal entah diberikan oleh setan mana ke saya, dan berkembang seperti itu. Saya tidak sanggup melihat bagaimana Pak Prabowo membela saya dalam sebuah jumpa pers, saya enggak sanggup melihat sahabat-sahabat saya membela saya dalam pertemuan yang digelar di Cikini.

Saya shalat malam tadi malam berulang kali dan tadi pagi saya mengatakan kepada diri saya, setop. Saya panggil anak-anak saya, saya minta maaf kepada anak-anak saya, saya meminta maaf kepada orang-orang yang membantu saya di rumah ini yang selama sekian hari ini saya selalu bohongi.
Bohong itu perbuatan yang salah dan saya tidak punya jawaban bagaimana mengatasi kebohongan kecuali mengakui dan memperbaikinya.
Mudah-mudahan dengan itu, semua pihak yang terdampak dengan perbuatan saya ini mau menerima bahwa saya hanya manusia biasa, perempuan yang dikagumi banyak orang itu juga bisa tergelincir.
Untuk itu melalui forum ini juga saya dengan sangat memohon maaf kepada Pak Prabowo terutama, kepada Pak Prabowo Subianto yang kemarin dengan tulus membela saya, membela kebohongan yang saya buat.
Saya tidak tahu apa rencana Tuhan dari semua ini, tetapi saya berjanji akan memperbaiki semua ini, dan memulihkan perjuangan kami yang sekarang ini sedang terhenyak.

Saya mohon maaf kepada Bapak Amien Rais yang juga dengan sabar mendengar kebohongan saya kemarin dan ikut jumpa pers, saya minta maaf kepada teman-teman seperjuangan di koalisi 02, sekarang ini saya melukai hati kalian, saya ini membuat kalian marah, demi Allah saya tidak berniat seperti itu dan saya berharap Tuhan memberi saya kekuatan kepada kita semua agar kejadian ini tidak mempengaruhi perjuangan kita.
Saya juga minta maaf kepada ibu-ibu, emak-emak, yang selalu menyebut nama saya di dalam perjuangannya. Aku tahu kalian kecewa, tetapi begitulah hidup kita lihat, bukan bagaimana Anda melihat aku, tetapi bagaimana kita melihat rakyat.
Saya ingin tetap emak-emak berjuang di garis itu. Ratna could be somebody, could be nobody, tetapi kalian adalah emak-emak Indonesia yang terus berjuang.
Aku juga meminta maaf kepada semua pihak, semua yang terkena dampak dari apa yang saya lakukan, saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang selama ini mungkin dengan suara keras saya kritik, kali ini berbalik ke saya.
Kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata, menghebohkan sebuah negeri. Mari kita semua mengambil pelajaran dari semua ini, bangsa kita ini sedang dalam keadaan tidak baik.

Seperti yang saya lakukan ini, seperti yang kita hebohkan selama ini, adalah sesuatu yang tidak penting, mari kita hentikan.
Saya minta maaf saya tidak akan memberikan kesempatan tanya-jawab karena sensitifnya persoalan ini dan saya takut kita jadi salah mengerti.
Saya sudah memberikan pernyataan, tolong itu diterima dengan baik. Dengan adanya klarifikasi ini, saya meminta agar tidak ada lagi polemik setelah hari ini.


Posting Komentar