Selasa, 09 Oktober 2018

KUDA TROYA KUDA KPK

Kuda Troya adalah kuda kayu raksasa buatan orang-orang Yunani yang di dalamnya berisi beberapa orang untuk disusupkan masuk ke kota Troya untuk memenangkan peperangan. Setelah pengepungan selama 10 tahun yang tak menghasilkan apa-apa, orang-orang Yunani menyiapkan kuda kayu raksasa itu yang diletakkan di depan pintu gerbang kota Troya kemudian ditinggalkan pergi. Oleh orang Troya kuda itu dibawa masuk dianggap sebagai tanda kemenangan mereka. Tapi ketika malam hari orang-orang di dalam kuda itu keluar untuk membuka pintu gerbang bagi pasukan Yunani sehingga menyerang dan menaklukkan kota itu. Jadi, kuda Troya adalah istilah upaya penyusupan untuk menghancurkan kekuatan lawan.

Ketika para pimpinan KPK di zaman Abraham Samad dikasuskan oleh polisi, presiden Jokowi menunjuk Ruki menjadi pelaksana tugas ketua KPK menggantikan Abraham Samad. Di zaman inilah Ruki mengangkat Brigjen polisi Aris Budiman sebagai direktur penyidikan KPK, tanggal 16 September 2015. Novel Baswedan adalah bawahannya.

Aris Budiman mengusulkan penyidik dari kepolisian sebagaimana yang ditawarkan Kapolri Tito kepada KPK sehubungan dengan banyaknya stok berpangkat AKP dan Kompol. Usulan itu ditentang oleh pegawai KPK dibawah pimpinan Novel Baswedan yang lebih menghendaki penyidik independent, bukan dari polisi atau tentara sesuai dengan ketentuan yang berlaku di KPK.

Mungkin karena mengendus gerak-gerik yang mencurigakan dari Aris Budiman, mungkin sudah saking muaknya sehingga Novel-pun berterang-terangan menyatakan perasaan ketidaksukaannya melalui e-mail ke Aris dan menuduhnya sebagai kuda Troya yang hendak merusakkan KPK dari dalam.

Ketika Mei 2017 DPR-RI menggelar pansus hak angket KPK dan pihak KPK menolak menghadiri undangan hak angket itu, mendadak nyelononglah Aris Budiman ke acara itu. Semua orang dibuat terkaget-kaget oleh ulah "pengkhianatan" Aris Budiman itu yang ke DPR untuk membuka borok di tubuh KPK. Aris Budiman berhasil menancapkan kesan supaya orang tak lagi mempercayai KPK. Para pimpinan KPK telah menetapkan Novel Baswedan dan Aris Budiman bersalah namun hingga hari ini masih belum diputuskan apa bentuk sanksinya.

Bulan Oktober 2017 di KPK dihebohkan dengan dirusakkannya barang bukti kasus korupsi impor daging Basuki Hariman yang dilakukan oleh 2 orang penyidik KPK yang berasal dari kepolisian; Roland Ronaldi dan Harun. Di saat KPK hendak mengusut kasus itu ke-2 orang itu ditarik ke markas. Di markas bukannya dihukum malah dikasih jabatan Kapolres Cirebon.

7 April 2017
Roland bersama penyidik KPK lainnya, Komisaris Harun, ditengarai menghilangkan 15 lembar catatan keuangan dua perusahaan milik Basuki Hariman: PT Impexindo Pratama dan PT Aman Abadi Nusa Makmur.

Sekitar April 2017
Roland dan Harun dilaporkan kepada pengawas internal KPK karena membubuhkan tipp-ex dan merobek lembaran catatan bukti kasus suap.

13 Oktober 2017
Pengawas Internal KPK menyatakan Roland dan Harun bersalah. Dua penyidik itu lantas dijatuhi sanksi berat, yaitu dikembalikan ke kepolisian. KPK berharap kepolisian menindaklanjuti pelanggaran yang dilakukan Roland dan Harun.

27 Oktober 2017
Surat telegram dari kepolisian menyatakan Harun mendapat promosi sebagai perwira menengah di Kepolisian Daerah Metro Jaya.

8 Maret 2018
Melalui surat telegram kepolisian, Roland mendapat promosi diangkat menjadi Kepala Kepolisian Resor Cirebon.

8 Oktober 2018
Indonesialeaks, sebuah platform mandiri bagi informan publik, menguak kembali kasus ini. Roland yang diwawancarai Indonesialeaks menolak berkomentar atas kasus itu. Demikian juga Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang namanya disebut-sebut ada dalam catatan yang dirobek oleh bekas penyidik KPK asal Polri tersebut.


Sebelum Indonesialeaks membuka kembali kasus perusakan alat bukti, di bulan Agustus 2018 KPK melakukan rotasi 15 jabatan yang digugat oleh pegawai KPK sebagai menyalahi aturan. Tentang ini pegawai KPK melayangkan gugatan ke Peradilan Tata Usaha Negara. Di saat Aris Budiman masih menjabat direktur penyidikan yang kesalahannya masih belum diputuskan sanksinya itulah terjadinya rotasi jabatan di KPK yang menuai kecaman dari masyarakat yang peduli KPK.

Maklum, karena kasus impor daging itu menyeret keterlibatan Kepolri yang sekarang ini: Tito Karnavian beserta dengan 68 pejabat polisi lainnya. Sebuah berita yang lebih menggemparkan dari gempa bumi dan tsunami Palu. Bambang Widjojanto, mantan pimpinan KPK menantang keberanian pimpinan KPK untuk mengusut keterlibatan Kapolri.

Jadi, karena kudanya ada di gedung KPK, bukan di kota Troya, maka dinamailah kuda KPK. Lantai KPK sedang kotor. Jika presiden Jokowi tidak mau intervensi di masalah-masalah yang menyangkut kenegaraan, tidak mau mengepel lantai KPK, masakan Jokowi itu presiden sepeda doank?!

Saya bersedia membantu bagian bagi-bagi sepeda jika Jokowi sibuk membereskan kenegaraan.


Kapolri Minta KPK Borong Rekrut Perwira Menengah Kepolisian

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170329143752-12-203434/kapolri-minta-kpk-borong-rekrut-perwira-menengah-kepolisian

Rabu, 29/03/2017

Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian berharap Komisi Pemberantasan Korupsi merekrut banyak perwira menengah kepolisian. Tito beralasan, Polri saat ini kelebihan polisi berpangkat ajun komisaris besar dan komisaris besar.

"Kalau seandainya sebagian (komisaris besar) bisa ditarik KPK, saya akan berterima kasih sekali. Ajun komisaris besar juga begitu, kami kelebihan," kata Tito di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (29/3).

Tito menuturkan, sebanyak 200 personel Polri berpangkat komisaris besar baru saja menyelesaikan pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Tinggi Polri. Menurut Tito, jumlah tersebut melebih dari angka yang dibutuhkan di instansi kepolisian saat ini.


Di sisi lain, Tito menyebut Polri kekurangan perwira menengah berpangkat ajun komisaris. Untuk mengatasi kondisi itu, Tito akan menjaring banyak lulusan sekolah kepolisian pada rekrutmen perwira melati satu.

"Ajun komisaris kurang, makanya rekruitmen Polri untuk Akademi Kepolisian maupun untuk sekolah inspektur polisi tahun ini akan kami tambah untuk misi menambal kekurangan itu," ujarnya.


Ditemui pada kesempatan yang sama, Ketua KPK Agus Raharjo menyebut lembaganya belum mengajukan peminjaman personel polisi berpangkat ajun komisaris besar atau komisaris besar.

Agus mengatakan, yang dibutuhkan KPK adalah polisi berpangkat melati satu. "Yang sudah kami kirimkan itu adalah permintaan untuk ajun komisaris yang pengalamanya dua tahun," kata dia.

Namun, Agus berjanji akan mempertimbangkan tawaran Tito. Ia berkata, KPK akan memikirkan strategi sumber daya manusia, terutama kebutuhan penyidik senior berpangkat melati dua dan melati tiga.


Di luar konteks kelebihan perwira menengah Polri itu, kepolisian tengah pekan ini meneken nota kesepahaman dengan KPK. Polri berkomitmen meminjamkan personel mereka ke komisi antikorupsi, baik yang akan ditugaskan sebagai penyelidik, penyidik, maupun petugas lapangan.

"Saya sudah perintahkan seluruh jajaran kepolisian untuk wajib membantu KPK melakukan operasi di lapangan. Jadi mungkin (di lapangan) bakal ada empat orang KPK, Polri tambah 20 hingga 30 orang untuk back up," kata Tito.



Perjalanan Kasus Perusakan Barang Bukti Oleh 2 Eks Penyidik KPK

https://nasional.tempo.co/read/1134399/perjalanan-kasus-perusakan-barang-bukti-oleh-2-eks-penyidik-kpk/full&view=ok

TEMPO.CO, Jakarta - Kasus perusakan barang bukti yang dilakukan dua bekas penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi  atau KPK yaitu Roland Ronaldy dan Harun kembali mencuat setelah Indonesialeaks mengungkap adanya rekaman CCTV peristiwa perusakan tersebut.

Pada Oktober 2017 silam, pengawas internal KPK telah menyatakan Roland yang saat itu berpangkat Ajun Komisaris Besar dan rekannya Komisaris Harun terbukti merusak barang bukti KPK.
Mereka menghapus dan menyobek beberapa lembar catatan keuangan dua perusahaan milik Basuki Hariman yang berisi sejumlah pengeluaran uang ke pribadi dan lembaga untuk memuluskan impor daging sapi.
7 April 2017
Roland bersama penyidik KPK lainnya, Komisaris Harun, ditengarai menghilangkan 15 lembar catatan keuangan dua perusahaan milik Basuki Hariman: PT Impexindo Pratama dan PT Aman Abadi Nusa Makmur.
Sekitar April 2017
Roland dan Harun dilaporkan kepada pengawas internal KPK karena membubuhkan tipp-ex dan merobek lembaran catatan bukti kasus suap.
13 Oktober 2017
Pengawas Internal KPK menyatakan Roland dan Harun bersalah. Dua penyidik itu lantas dijatuhi sanksi berat, yaitu dikembalikan ke kepolisian. KPK berharap kepolisian menindaklanjuti pelanggaran yang dilakukan Roland dan Harun.
27 Oktober 2017
Surat telegram dari kepolisian menyatakan Harun mendapat promosi sebagai perwira menengah di Kepolisian Daerah Metro Jaya.
8 Maret 2018
Melalui surat telegram kepolisian, Roland mendapat promosi diangkat menjadi Kepala Kepolisian Resor Cirebon.
8 Oktober 2018
Indonesialeaks, sebuah platform mandiri bagi informan publik, menguak kembali kasus ini. Roland yang diwawancarai Indonesialeaks menolak berkomentar atas kasus itu. Demikian juga Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang namanya disebut-sebut ada dalam catatan yang dirobek oleh bekas penyidik KPK asal Polri tersebut.

BW Tantang KPK Periksa Tito Karnavian Atas Dugaan Suap dari Basuki Hariman

https://seruji.co.id/peristiwa/bw-tantang-kpk-periksa-tito-karnavian-atas-dugaan-suap-dari-basuki-hariman/

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupis (KPK), Bambang Widjajanto (BW) menantang pimpinan KPK yang saat ini dipimpin Agus Raharjo untuk memeriksa Kapolri, Jendral Pol Tito Karnavian terkait dugaan menerima aliran dana dari pengusaha Basuki Hariman.
“Kini, Pimpinan KPK tengah ‘diuji’ dan publik diseantero Republik sedang mengamati, apakah masih punya ‘sedikit’ nyali untuk membongkar kasus ini hingga tuntas, setidaknya memanggil dan memeriksa Tito Karnavian yang kala itu menjabat berbagai jabatan penting di Republik ini,” kata Bambang lewat keterangan tertulis yang diterima SERUJI, Senin (8/10) malam.
Tantangan ini diberikan Bambang menyusul laporan hasil investigasi sejumlah media yang tergabung dalam IndonesiaLeaks yang mengungkap terjadinya pengrusakan dan penghilangan barang bukti berupa catatan keuangan salah satu tersangka suap uji materi daging impor, Basuki Hariman, yang dilakukan dua orang mantan penyidik KPK, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Roland Ronaldy dan Komisaris Harun.

Image result for gambar jokowi bagi-bagi sepeda

Posting Komentar